فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍ

Lalu Kami menjadikannya di tempat yang kukuh,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَجَعَلْنَاهُ فِي قَرَارٍ مَكِينٍfa-ja'alnaahu fii qaraarin makiininlalu Kami menjadikannya di tempat yang kukuh

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَجَعَلْنَاهُfa-ja'alnaahumaka Kami menjadikannya
  2. فِيfiidi
  3. قَرَارٍqaraarintempat menetap
  4. مَكِينٍmakiininyang kokoh

Inti bacaan

Detail proses perlindungan awal: 'lalu Kami menjadikannya di tempat yang kukuh', penekanan pada keamanan lingkungan perkembangan awal, desain yang terlindungi bukan kebetulan.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (قَرَارٍ مَكِينٍ, qaraarin makiin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 23:13 dan 77:21. Di 23:13 rangkaian itu juga dipakai untuk tempat air asal manusia disimpan.

Jadi dua ayat itu menyebut hal yang sama dengan bunyi yang sama persis. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya.

Kata (قَرَارٍ, qaraarin) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 14:26, 23:13, 23:50, dan 77:21. Kata (مَكِينٍ, makiin) muncul 3 kali: 23:13, 77:21, dan 81:20.

Di 81:20 kata (مَكِينٍ, makiin) dipakai untuk kedudukan yang kokoh di sisi pemilik singgasana. Jadi kata yang sama menamai tempat yang terlindung dan kedudukan yang terhormat.

Al-Qur'an tidak menghubungkan dua pemakaian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu kata memuat perlindungan dan kehormatan.

Perhatikan bahwa 23:12 dan 23:13 memakai dua ayat untuk apa yang di sini dipadatkan menjadi dua ayat juga. Yang di sana bertahap panjang, dan yang di sini bertahap pendek.

Perhatikan bahwa ayat ini berlawanan dengan ayat sebelumnya. Yang di 77:20 disebut hina, dan yang di sini disebut terlindung.

Perbandingan itu tajam. Bahan yang rendah ditaruh di tempat yang kokoh, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perpaduan itu.

Perhatikan bahwa (فَجَعَلْنَاهُ, fa ja'alnaahu) menempelkan penanda kami di ujungnya, sama seperti tiga ayat sebelumnya. Sejak 77:16 pelakunya disebut terus-menerus.

Pergeseran itu berlawanan dengan 77:8 sampai 77:12. Di sana lima perbuatan berturut-turut tidak menamai pelaku, dan di sini empat ayat berturut-turut menamainya.

Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bagian tentang kehancuran diam soal pelaku, dan bagian tentang penciptaan tidak.

Perbedaan itu berlaku di seluruh surahnya. Yang menghancurkan tidak dinamai, dan yang mencipta dinamai berulang kali.

Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut tempat, bukan waktu. Waktunya baru disebut di ayat berikutnya.

Urutan itu bergerak dari bahan ke tempat lalu ke waktu. Tiga tahap disebut berturut-turut tanpa satu kalimat penghubung.

Perhatikan pula bahwa urutan seperti itu mengikuti jalannya kejadian. Bahan lebih dulu, tempat menyusul, dan waktu berjalan sesudah keduanya ada.

Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga ayat berurutan menyebut tiga hal yang memang berurutan.

Perhatikan pula bahwa tempat itu disebut kokoh, bukan luas atau nyaman. Yang ditonjolkan keamanannya, bukan kelapangannya.

Pilihan itu sejalan dengan bahan yang disebut di 77:20. Yang rapuh membutuhkan tempat yang kuat, bukan tempat yang besar.

Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa sifat bahannya dan sifat tempatnya saling melengkapi.

Perhatikan pula bahwa (قَرَارٍ مَكِينٍ, qaraarin makiin) muncul juga di 23:13. Dua surah menyebut tahap yang sama dengan pilihan yang tidak berbeda sedikit pun.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan bukti penciptaan dengan menyebut tempat penyimpanannya. Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 23:13 dan 77:21, dan di 23:13 rangkaian itu juga dipakai untuk tempat air asal manusia disimpan.

Kata ketiganya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 14:26, 23:13, 23:50, dan 77:21, sedangkan kata terakhirnya muncul 3 kali, yaitu 23:13, 77:21, dan 81:20. Di 81:20 kata terakhirnya dipakai untuk kedudukan yang kokoh di sisi pemilik singgasana, sehingga satu kata memuat perlindungan dan kehormatan.

Ayat ini berlawanan dengan ayat sebelumnya, karena yang di 77:20 disebut hina sedangkan yang di sini disebut terlindung. Bahan yang rendah ditaruh di tempat yang kokoh, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perpaduan itu.

Ayat ini memakai bentuk kami, sama seperti tiga ayat sebelumnya, sehingga sejak 77:16 pelakunya disebut terus-menerus. Pergeseran itu berlawanan dengan 77:8 sampai 77:12 yang tidak menamai pelaku satu kali pun.

Perbedaan itu berlaku di seluruh surahnya, karena yang menghancurkan tidak dinamai sedangkan yang mencipta dinamai berulang kali. Ayat ini menyebut tempat dan bukan waktu, karena waktunya baru disebut di ayat berikutnya, sehingga urutannya bergerak dari bahan ke tempat lalu ke waktu tanpa satu kalimat penghubung. Urutan itu mengikuti jalannya kejadian, karena bahan lebih dulu, tempat menyusul, dan waktu berjalan sesudah keduanya ada. Tempat itu juga disebut kokoh dan bukan luas, sehingga yang ditonjolkan keamanannya, sejalan dengan sifat bahan yang disebut di 77:20.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 23:13 dan 77:21, dan di 23:13 ia juga menyebut tempat air asal manusia disimpan. Dua ayat itu menyebut hal yang sama dengan kata yang sama persis. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan cuma yang membandingkan akan menemukannya. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan cuma yang membandingkan akan menemukannya. Dua surah yang berjauhan menyebut tahap yang sama dengan pilihan kata yang tidak berbeda sedikit pun. Kesamaan seperti itu cuma terlihat oleh yang membaca keduanya berdampingan.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 23:13, 77:21, dan 81:20. Di 81:20 ia menamai kedudukan yang kokoh di sisi pemilik singgasana, sedangkan di sini tempat yang terlindung. Satu kata memuat perlindungan dan kehormatan, dan dua arti itu tidak pernah dipertemukan dalam satu kalimat. Satu kata memuat perlindungan dan kehormatan, dan dua arti itu tidak pernah dipertemukan dalam satu kalimat. Yang terlindung di dalam rahim dan yang terhormat di sisi singgasana dinamai dengan bunyi yang sama persis.
  • Yang di 77:20 disebut Allah hina, dan yang di sini disebut terlindung. Bahan yang rendah ditaruh di tempat yang kokoh, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perpaduan itu. Dua ayat berurutan menaruh dua penilaian yang berlawanan pada satu proses yang sama. Dua ayat berurutan menaruh dua penilaian yang berlawanan pada satu proses yang sama. Bahannya disebut rendah, dan tempatnya disebut kokoh, tanpa satu kalimat pun yang mendamaikan keduanya. Yang rapuh justru diberi penjagaan yang paling kuat.
  • Sejak 77:16 Allah menyebut pelakunya terus-menerus, sedangkan di 77:8 sampai 77:12 lima kata kerja berturut-turut tidak menamai siapa pun. Bagian tentang kehancuran diam soal pelaku, dan bagian tentang penciptaan tidak. Perbedaan itu berlaku di seluruh surahnya tanpa satu kalimat yang menjelaskannya. Perbedaan itu berlaku di seluruh surahnya tanpa satu kalimat yang menjelaskannya. Yang menghancurkan dibiarkan tidak dikenali, sedangkan yang mencipta menyebut diri-Nya berulang kali.
  • Kata ketiganya dipakai Allah cuma di 14:26, 23:13, 23:50, dan 77:21. Dua dari empat pemakaiannya berada di surah yang sama, yaitu surah 23. Sebuah kata yang cuma hidup di beberapa tempat membawa semuanya serta setiap kali ia dibaca. Sebuah kata yang cuma hidup di beberapa tempat membawa semuanya serta setiap kali ia dibaca. Dua dari empat pemakaiannya berada di surah yang sama, sehingga ikatan di antara keduanya makin rapat.
  • Tempat yang disebut Allah di sini melindungi sesuatu yang belum bisa meminta perlindungan. Kalau penjagaan sudah diberikan jauh sebelum seseorang sanggup memintanya, apa yang masih bisa diklaim sebagai hasil usahanya sendiri? Penjagaan sudah diberikan jauh sebelum seseorang sanggup memintanya. Tidak ada usaha yang bisa diakui atas perlindungan yang datang sebelum seseorang sadar bahwa dirinya ada. Yang paling menentukan hidupnya justru terjadi tanpa dia tahu.