انْطَلِقُوا إِلَىٰ مَا كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ
“Pergilah menuju apa yang dahulu kalian dustakan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- انْطَلِقُوا إِلَىٰ مَا كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَinthaliquu ilaa maa kuntum bihi tukadzdzibuunapergilah menuju apa yang dahulu kalian dustakan
Terjemahan per kata (6 kata)
- انْطَلِقُواinthaliquuberangkatlah kalian
- إِلَىٰilaamenuju
- مَاmaaapa yang
- كُنْتُمْkuntumkalian selalu
- بِهِbihipadanya
- تُكَذِّبُونَtukadzdzibuunakalian mendustakan
Inti bacaan
Perintah eksekusi yang tegas: 'pergilah menuju apa yang dahulu kalian dustakan', konfrontasi langsung antara penolakan verbal masa lalu dan realitas yang kini harus dihadapi, ironi antara skeptisisme dan kenyataan yang tak terelakkan.
Penjelasan pilihan kata
Kutip dibuka di sini tanpa verba qaala eksplisit (انْطَلِقُوا, inthaliquu): ditandai pergeseran ke bentuk imperatif orang kedua jamak langsung ('intaliquu'), acuan sama dengan kutip perintah 69:30-32.
Kata (انْطَلِقُوا, inthaliquu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya ada di surah ini: 77:29 dan 77:30. Tidak ada surah lain yang memuatnya.
Akar (انْطَلِقُوا, inthaliquu) dipakai di 21 ayat, antara lain 2:229, 18:71, 26:13, dan 68:23. Di 18:71 dan 68:23 akar itu dipakai untuk berangkat bersama.
Perhatikan bahwa dua kemunculan di surah ini berdiri di dua ayat berurutan. Perintah yang sama diulang persis di ayat berikutnya.
Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu perintah diucapkan dua kali beruntun dengan tujuan yang berbeda.
Yang pertama menyebut tujuan berupa apa yang mereka dustakan. Yang kedua menyebut tujuan berupa naungan bercabang tiga.
Rangkaian (كُنْتُمْ بِهِ تُكَذِّبُونَ, kuntum bihii tukadzdzibuun) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 32:20, 37:21, 77:29, dan 83:17. Keempatnya menyebut apa yang dulu didustakan.
Perhatikan bahwa 37:21 memakai rangkaian itu sesudah menyebut hari pemisahan. Surah ini juga menyebut hari pemisahan, yaitu di 77:13, 77:14, dan 77:38.
Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai rangkaian yang sama di dekat nama hari yang sama.
Perhatikan bahwa surah 37 sudah muncul dua kali sebagai pembanding di surah ini. Rumus di 77:18 juga dipakai di 37:34.
Jadi tiga rangkaian di surah ini berbagi tempat dengan surah 37. Yang ketiga ada di 77:44.
Al-Qur'an tidak menandai hubungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai tiga rumus yang sama.
Perhatikan bahwa ayat ini membuka bagian yang isinya bukan bukti lagi. Empat bagian sebelumnya memberi alasan, dan bagian ini memberi akibat.
Perubahan itu terjadi tepat sesudah refrein keempat. Al-Qur'an tidak memberi satu kalimat pun untuk menandainya.
Perhatikan bahwa perintah di ayat ini tidak menuntut jawaban. Ia ditujukan kepada pihak yang sudah tidak punya pilihan.
Perintah seperti itu sudah dipakai di 78:30, yang juga menyuruh merasakan tanpa membuka kemungkinan menolak. Dua surah bertetangga sama-sama memakai perintah yang tidak bisa ditolak.
Perhatikan pula bahwa perintah di ayat ini tidak menyebut siapa yang memerintah. Yang terdengar cuma suaranya, dan pemiliknya tidak dinamai.
Ketiadaan nama itu berbeda dari empat bagian sebelumnya. Sejak 77:16 pelakunya disebut berulang kali, dan di sini ia kembali diam.
Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa suara yang tadinya menamai diri kini cuma memerintah.
Perhatikan pula bahwa yang diperintah tidak diberi kesempatan menjawab. Tidak ada satu kalimat pun dari pihak mereka di sepanjang bagian ini.
Kesunyian pihak mereka berlanjut sampai 77:36. Di sana dinyatakan bahwa mereka memang tidak diizinkan berbicara.
Tafsiran
Ayat ini membuka bagian yang isinya akibat, bukan lagi bukti. Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya ada di surah ini, yaitu 77:29 dan 77:30, sehingga tidak ada surah lain yang memuatnya.
Akarnya dipakai di 21 ayat, antara lain 2:229, 18:71, 26:13, dan 68:23, dan di 18:71 serta 68:23 akar itu dipakai untuk berangkat bersama. Dua kemunculan di surah ini berdiri di dua ayat berurutan, sehingga perintah yang sama diulang persis di ayat berikutnya dengan tujuan yang berbeda.
Rangkaian tiga kata terakhirnya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 32:20, 37:21, 77:29, dan 83:17, dan keempatnya menyebut apa yang dulu didustakan. Perhatikan bahwa 37:21 memakai rangkaian itu sesudah menyebut hari pemisahan, dan surah ini juga menyebut hari pemisahan di 77:13, 77:14, dan 77:38.
Surah 37 sudah muncul dua kali sebagai pembanding di surah ini, karena rumus di 77:18 juga dipakai di 37:34, dan yang ketiga ada di 77:44. Jadi tiga rangkaian di surah ini berbagi tempat dengan surah 37.
Perintah di ayat ini tidak menuntut jawaban dan ditujukan kepada pihak yang sudah tidak punya pilihan, sama seperti perintah di 78:30. Perintah di ayat ini tidak menyebut siapa yang memerintah, sehingga yang terdengar cuma suaranya sedangkan pemiliknya tidak dinamai. Ketiadaan nama itu berbeda dari empat bagian sebelumnya, karena sejak 77:16 pelakunya disebut berulang kali dan di sini ia kembali diam. Yang diperintah juga tidak diberi kesempatan menjawab, dan kesunyian pihak mereka berlanjut sampai 77:36.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya dipakai Allah 2 kali di seluruh Al-Qur'an, dan keduanya ada di surah ini. Tidak ada surah lain yang memuatnya, dan dua kemunculannya berdiri di dua ayat berurutan. Satu perintah diucapkan dua kali beruntun dengan tujuan yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu. Satu perintah diucapkan dua kali beruntun dengan tujuan yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menerangkan pengulangan itu. Dua kemunculannya di dua ayat berurutan adalah seluruh hidup kata itu di dalam Al-Qur'an, tanpa satu pemakaian lain.
- Rangkaian tiga kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 32:20, 37:21, 77:29, dan 83:17, dan keempatnya menyebut apa yang dulu didustakan. Di 37:21 rangkaian itu berdiri sesudah nama hari pemisahan, dan surah ini juga menyebut nama itu tiga kali. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Di 37:21 rangkaian itu berdiri sesudah nama hari pemisahan, dan surah ini juga menyebut nama itu tiga kali. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan kesejajaran itu harus dilihat sendiri oleh pembaca yang membandingkan.
- Tiga rangkaian di surah ini berbagi tempat dengan surah 37, yaitu di 77:18, 77:29, dan 77:44. Allah tidak menandai hubungan itu dengan satu kalimat pun. Dua surah yang berjauhan memakai tiga rumus yang sama, dan kesamaan sebanyak itu sulit disebut kebetulan. Dua surah yang berjauhan memakai tiga rumus yang sama, dan kesamaan sebanyak itu sulit disebut kebetulan. Yang membaca kedua surah itu berurutan akan mendengar gema yang tidak pernah ditunjuk oleh satu kalimat pun.
- Empat bagian sebelumnya memberi alasan, dan Allah memakai bagian ini untuk memberi akibat. Perubahan itu terjadi tepat sesudah refrein keempat tanpa satu kalimat penanda. Pembacanya berpindah dari memeriksa bukti ke melihat hasilnya, dan perpindahan itu tidak diumumkan. Pembacanya berpindah dari memeriksa bukti ke melihat hasilnya, dan perpindahan itu sama sekali tidak diumumkan. Yang menandainya cuma isinya sendiri, bukan satu kata penghubung dan bukan pula satu kalimat pengantar.
- Perintah di ayat ini tidak menuntut jawaban dan ditujukan kepada pihak yang sudah tidak punya pilihan. Allah memakai cara yang sama di 78:30, yang juga menyuruh merasakan tanpa membuka kemungkinan menolak. Dua surah bertetangga sama-sama memakai perintah yang tidak bisa ditolak. Dua surah bertetangga sama-sama memakai perintah yang tidak bisa ditolak. Perintah seperti itu bukan lagi tawaran pilihan, melainkan cara menyampaikan sesuatu yang sudah pasti terjadi.
- Yang dituju bukan tempat yang asing, melainkan tepat apa yang dulu mereka dustakan. Kalau seseorang digiring menuju hal yang selama ini ia katakan tidak ada, apa yang paling berat pada saat itu: hukumannya, atau kenyataan bahwa ia salah? Yang dituju bukan tempat yang asing, melainkan tepat apa yang dulu mereka katakan tidak ada. Menghadapi apa yang pernah disangkal sendiri adalah beban yang jauh berbeda daripada sekadar menerima hukuman.