لَا ظَلِيلٍ وَلَا يُغْنِي مِنَ اللَّهَبِ

Yang tidak melindungi dan tidak mencukupi dari nyala api.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لَا ظَلِيلٍ وَلَا يُغْنِي مِنَ اللَّهَبِlaa zhaliilin wa-laa yughnii mina l-lahabiyang tidak melindungi dan tidak mencukupi dari nyala api

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. لَاlaatidak
  2. ظَلِيلٍzhaliilinyang teduh
  3. وَلَاwa-laadan tidak pula
  4. يُغْنِيyughniimencukupkan
  5. مِنَminadari
  6. اللَّهَبِl-lahabigejolak api

Inti bacaan

Ironi naungan yang tidak melindungi: 'yang tidak melindungi dan tidak mencukupkan (naungan) dari nyala api neraka', pembalikan konsep naungan yang biasanya memberikan perlindungan menjadi sesuatu yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(naungan)' dan kata 'neraka' (اللَّهَبِ, al-lahab) tidak dipakai: 'al-lahab' (nyala api/kobaran) tidak menyebut 'jahannam/jahiim' secara eksplisit di ayat ini. Kutip ditutup di akhir ayat ini: ayat berikutnya (77:32) kembali ke narasi orang ketiga ('innahaa tarmii').

Kata (ظَلِيلٍ, zhaliil) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata (اللَّهَبِ, al-lahab) juga muncul 1 kali.

Akar (اللَّهَبِ, al-lahab) cuma dipakai di 3 ayat: 77:31, 111:1, dan 111:3. Dua pemakaian lainnya berada di satu surah yang sama.

Perhatikan bahwa akar (ظَلِيلٍ, zhaliil) dipakai tiga kali di surah ini. Sekali di 77:30, sekali di sini, dan sekali di 77:41.

Di 77:41 bunyi dasar (ظَلِيلٍ, zhaliil) dipakai untuk naungan yang dijanjikan bagi yang bertakwa. Jadi ia dipakai untuk naungan yang menyiksa dan naungan yang menyenangkan di dalam satu surah.

Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa jarak antara keduanya sebelas ayat.

Kata (يُغْنِي, yughnii) muncul 14 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 10:36, 44:41, 53:28, dan 88:7. Artinya mencukupi atau menolak sesuatu.

Perhatikan bahwa ayat ini menyangkal dua hal sekaligus. Yang pertama sifat menaungi, dan yang kedua kemampuan menolak nyala.

Susunan penyangkalan ganda itu sudah dipakai di surah bertetangga. Di 78:24 juga disebut dua hal yang disangkal berturut-turut.

Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah bertetangga memakai bentuk penyangkalan yang sama.

Perhatikan bahwa ayat ini mencabut apa yang baru saja disebut. Naungan disebut di 77:30, dan sifat menaunginya disangkal di sini.

Cara seperti itu tidak lazim. Sebuah benda disebut namanya lalu segera dinyatakan tidak berfungsi sebagaimana namanya.

Al-Qur'an tidak menerangkan cara itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa nama dan fungsinya sengaja dipisahkan.

Perhatikan bahwa yang disangkal justru satu-satunya alasan orang mencari naungan. Naungan dicari untuk menghindari panas, dan yang ini tidak menghindarkan.

Jadi yang tersisa dari naungan itu cuma namanya. Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu dengan satu kalimat pun.

Perhatikan bahwa nyala disebut dengan sebutan yang cuma sekali dipakai. Yang dihadapi bukan api pada umumnya, melainkan sesuatu yang diberi nama tersendiri.

Kejarangan itu membuat gambarannya tidak tertukar. Tidak ada pemakaian lain yang bisa dipakai untuk melunakkannya.

Perhatikan bahwa dua sebutan sekali pakai berdiri di satu ayat lima patah. Kepadatan itu berulang di seluruh bagian ini.

Dari 77:30 sampai 77:33 ada lima sebutan yang cuma sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Al-Qur'an tidak menandai kepadatan itu.

Perhatikan pula bahwa penyangkalan di ayat ini datang segera. Tidak ada satu ayat pun yang memisahkannya dari penyebutan naungan.

Kedekatan itu membuat pencabutannya terasa cepat. Yang baru saja didengar langsung dinyatakan tidak berlaku.

Al-Qur'an tidak menerangkan kecepatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat berurutan menyebut dan mencabut hal yang sama.

Tafsiran

Ayat ini mencabut sifat naungan yang baru disebut di 77:30. Kedua kata pokoknya sama-sama muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akar kata terakhirnya cuma dipakai di 3 ayat: 77:31, 111:1, dan 111:3.

Akar kata pertamanya dipakai tiga kali di surah ini, yaitu di 77:30, 77:31, dan 77:41. Di 77:41 akar itu dipakai untuk naungan yang dijanjikan bagi yang bertakwa, sehingga satu akar dipakai untuk naungan yang menyiksa dan naungan yang menyenangkan di dalam satu surah.

Kata ketiganya muncul 14 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 10:36, 44:41, 53:28, dan 88:7, dan artinya mencukupi atau menolak sesuatu. Ayat ini menyangkal dua hal sekaligus, yaitu sifat menaungi dan kemampuan menolak nyala.

Susunan penyangkalan ganda itu sudah dipakai di surah bertetangga, karena 78:24 juga menyebut dua hal yang disangkal berturut-turut. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Yang disangkal justru satu-satunya alasan orang mencari naungan, sehingga yang tersisa dari naungan itu cuma namanya. Dari 77:30 sampai 77:33 ada lima kata yang cuma sekali dipakai di seluruh Al-Qur'an. Penyangkalan di ayat ini datang segera, karena tidak ada satu ayat pun yang memisahkannya dari penyebutan naungan di 77:30. Kedekatan itu membuat pencabutannya terasa cepat, sebab yang baru saja didengar langsung dinyatakan tidak berlaku. Al-Qur'an tidak menerangkan kecepatan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat berurutan menyebut lalu mencabut hal yang sama.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata pertamanya dipakai Allah tiga kali di surah ini, yaitu di 77:30, 77:31, dan 77:41. Di 77:41 akar itu menamai naungan yang dijanjikan bagi yang bertakwa, sedangkan di sini naungan yang menyiksa. Jarak antara keduanya sebelas ayat, dan Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Jarak antara kedua pemakaiannya sebelas ayat, dan Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu sama sekali. Satu bunyi dasar dipakai untuk yang menyiksa dan yang menyenangkan di dalam satu surah yang sama, tanpa satu penunjuk pun.
  • Akar kata terakhirnya cuma dipakai Allah di 77:31, 111:1, dan 111:3, dan dua pemakaian lainnya berada di satu surah yang sama. Yang dihadapi bukan api pada umumnya, melainkan sesuatu yang diberi nama tersendiri. Kejarangan itu membuat gambarannya tidak tertukar dengan gambaran mana pun. Kejarangan sebesar itu membuat gambarannya tidak mungkin tertukar dengan gambaran mana pun. Dua pemakaian lainnya berada di satu surah yang sama, sehingga bunyinya hampir tidak pernah terdengar di surah mana pun yang lain.
  • Naungan disebut Allah di 77:30, dan sifat menaunginya disangkal di sini. Sebuah benda disebut namanya lalu segera dinyatakan tidak berfungsi sebagaimana namanya. Yang tersisa dari naungan itu cuma namanya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu dengan satu kalimat pun. Yang tersisa dari naungan itu ternyata cuma namanya, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu dengan satu kalimat pun. Sebuah nama yang tidak lagi cocok dengan isinya justru menambah beratnya, karena ia mengingatkan pada apa yang seharusnya ada.
  • Allah menyangkal dua hal sekaligus di sini, yaitu sifat menaungi dan kemampuan menolak nyala. Susunan penyangkalan ganda itu sudah dipakai di 78:24, yang juga menyebut dua hal yang disangkal berturut-turut. Dua surah bertetangga memakai bentuk yang sama tanpa satu penunjuk pun. Dua surah yang bertetangga memakai susunan yang sama tanpa satu penunjuk pun di antaranya. Penyangkalan berlapis membuat pembacanya menutup dua kemungkinan sekaligus di dalam satu tarikan napas.
  • Dari 77:30 sampai 77:33 Allah memakai lima kata yang cuma sekali muncul di seluruh Al-Qur'an. Dua di antaranya berdiri di satu ayat lima patah ini. Kepadatan seperti itu berulang di seluruh bagian ini, dan Al-Qur'an tidak menandainya. Kepadatan seperti itu berulang di sepanjang bagian ini, dan Al-Qur'an tidak menandainya sama sekali. Empat ayat berturut-turut memuat lima sebutan yang tidak dipakai lagi di tempat lain mana pun di seluruh korpusnya.
  • Yang disangkal Allah justru satu-satunya alasan orang mencari naungan, yaitu menghindari panas. Naungan yang tidak menaungi bukan lagi naungan, meskipun namanya tetap. Apa yang tersisa dari sebuah harapan ketika yang tinggal cuma sebutannya saja? Naungan yang tidak menaungi bukan lagi naungan, meskipun namanya tetap dipakai. Berapa banyak hal di sekitar kita yang masih dipanggil dengan nama lamanya, padahal gunanya sudah lama sekali hilang?