إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِ

Sesungguhnya ia menyemburkan bunga api sebesar istana,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّهَا تَرْمِي بِشَرَرٍ كَالْقَصْرِinnahaa tarmii bi-syararin ka-l-qashrisesungguhnya ia menyemburkan bunga api sebesar istana

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. إِنَّهَاinnahaasesungguhnya ia
  2. تَرْمِيtarmiimelemparkan
  3. بِشَرَرٍbi-syararindengan bunga api
  4. كَالْقَصْرِka-l-qashriseperti istana

Inti bacaan

Skala kengerian yang digambarkan: 'sesungguhnya ia menyemburkan bunga api sebesar istana', perbandingan dengan objek familiar (istana) untuk menyampaikan skala yang sulit dibayangkan secara langsung.

Penjelasan pilihan kata

Narasi kembali ke orang ketiga, menandai kutip 77:29-31 telah tertutup.

Kata (بِشَرَرٍ, bisyararin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata (كَالْقَصْرِ, kal-qashr) juga muncul 1 kali.

Akar (بِشَرَرٍ, bisyararin) dipakai di 30 ayat, antara lain 2:216, 8:22, 21:35, dan 99:8. Ia akar yang menamai keburukan dan kejahatan.

Perhatikan bahwa di sini (بِشَرَرٍ, bisyararin) menamai benda, bukan perbuatan. Yang disebut adalah percikan api yang berhamburan.

Al-Qur'an tidak menerangkan perpindahan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bunyi dasar yang biasanya menamai keburukan di sini menamai benda yang berterbangan.

Akar (كَالْقَصْرِ, kal-qashr) dipakai di 11 ayat, antara lain 7:74, 25:10, 38:52, dan 55:72. Di beberapa ayat itu ia menamai bangunan besar.

Jadi percikannya dibandingkan dengan sesuatu yang besar. Perbandingan itu memakai benda yang dikenal untuk melukiskan ukuran yang tidak dikenal.

Perhatikan bahwa akar (تَرْمِي, tarmii) cuma dipakai di 7 ayat: 4:112, 8:17, 24:4, 24:6, 24:23, 77:32, dan 105:4. Kejarangan itu tidak lazim untuk perbuatan yang biasa.

Di 24:4, 24:6, dan 24:23 bunyi dasar (تَرْمِي, tarmii) dipakai untuk melemparkan tuduhan kepada orang lain. Jadi tiga dari tujuh pemakaiannya menyangkut lisan, bukan tangan.

Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa bunyi dasar yang dipakai untuk melempar tuduhan juga dipakai untuk melempar percikan api.

Perhatikan bahwa di 105:4 bunyi dasar (تَرْمِي, tarmii) dipakai untuk lemparan batu dari atas. Jadi dua dari tujuh pemakaiannya menyangkut lemparan yang menghukum.

Perhatikan bahwa (إِنَّهَا, innahaa) berdiri di awalnya sebagai penegas. Gambarannya ditegaskan, bukan sekadar diceritakan.

Penegasan itu berbeda dari dua ayat sebelumnya. Di sana yang ada cuma perintah dan penyangkalan.

Al-Qur'an tidak menerangkan pergantian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambaran yang paling rinci diberi penegas.

Perhatikan bahwa gambaran di ayat ini memakai perbandingan. Percikannya disamakan dengan sesuatu yang bisa dibayangkan pembacanya.

Cara itu berulang di ayat berikutnya. Di 77:33 percikannya disamakan lagi dengan sesuatu yang lain.

Jadi dua ayat berturut-turut memakai dua perbandingan untuk benda yang sama. Al-Qur'an tidak menerangkan penumpukan itu.

Yang bisa dibaca cuma bahwa satu benda diberi dua gambaran, yaitu ukurannya dan warnanya. Dua ayat pendek cukup untuk melukiskan keduanya.

Perhatikan pula bahwa gambaran di ayat ini bergerak. Percikannya tidak diam, melainkan dilemparkan ke luar.

Gerakan itu membedakannya dari dua ayat sebelumnya. Di sana yang disebut naungan yang diam, dan di sini yang disebut lemparan yang bergerak.

Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya berpindah dari yang diam ke yang bergerak.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan besarnya bunga api yang disemburkan. Ayat ini melukiskan percikan api dengan perbandingan yang bisa dibayangkan. Kedua kata pokoknya sama-sama muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akar kata ketiganya dipakai di 30 ayat, antara lain 2:216, 8:22, 21:35, dan 99:8.

Akar itu biasanya menamai keburukan dan kejahatan, sedangkan di sini ia dipakai untuk benda berupa percikan api yang berhamburan. Al-Qur'an tidak menerangkan perpindahan itu dengan satu kalimat pun.

Akar kata terakhirnya dipakai di 11 ayat, antara lain 7:74, 25:10, 38:52, dan 55:72, dan di beberapa ayat itu ia menamai bangunan besar. Jadi percikannya dibandingkan dengan sesuatu yang besar dan dikenal.

Akar kata keduanya cuma dipakai di 7 ayat: 4:112, 8:17, 24:4, 24:6, 24:23, 77:32, dan 105:4. Di 24:4, 24:6, dan 24:23 akar itu dipakai untuk melemparkan tuduhan kepada orang lain, sehingga tiga dari tujuh pemakaiannya menyangkut lisan dan bukan tangan.

Ayat ini juga memakai kata penegas di awalnya, berbeda dari dua ayat sebelumnya yang cuma memuat perintah dan penyangkalan. Gambarannya ditegaskan, dan perbandingannya diteruskan di 77:33 dengan gambaran yang lain. Gambaran di ayat ini bergerak, karena percikannya tidak diam melainkan dilemparkan ke luar. Gerakan itu membedakannya dari dua ayat sebelumnya, sebab di sana yang disebut naungan yang diam sedangkan di sini lemparan yang bergerak. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya berpindah dari yang diam ke yang bergerak.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata ketiganya dipakai Allah di 30 ayat, antara lain 2:216, 8:22, 21:35, dan 99:8, dan ia biasanya menamai keburukan serta kejahatan. Di sini akar itu dipakai untuk benda, yaitu percikan api yang berhamburan. Al-Qur'an tidak menerangkan perpindahan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa satu bunyi dasar menampung keduanya. Al-Qur'an tidak menerangkan perpindahan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa satu bunyi dasar ternyata menampung keduanya. Bunyi yang menamai kejahatan ternyata juga menamai benda yang berterbangan keluar dari api.
  • Akar kata keduanya cuma dipakai Allah di 7 ayat: 4:112, 8:17, 24:4, 24:6, 24:23, 77:32, dan 105:4. Tiga di antaranya menyangkut melemparkan tuduhan kepada orang lain, jadi menyangkut lisan dan bukan tangan. Akar yang dipakai untuk melempar tuduhan juga dipakai untuk melempar percikan api. Bunyi dasar yang dipakai untuk melempar tuduhan juga dipakai untuk melempar percikan api. Dua lemparan itu sama-sama mengenai orang lain, dan yang satu memakai lisan sedangkan yang lain memakai percikan api.
  • Di 105:4 Allah memakai akar ini untuk lemparan batu dari atas. Jadi dua dari tujuh pemakaiannya menyangkut lemparan yang menghukum. Sebuah akar yang cuma hidup di tujuh ayat membawa ketujuhnya serta setiap kali ia dibaca, dan kejarangan itu membuat gambarannya melekat. Sebuah akar yang cuma hidup di tujuh ayat akan membawa ketujuhnya serta setiap kali ia dibaca orang. Kejarangan itu membuat gambarannya melekat jauh lebih lama daripada gambaran yang memakai kata sehari-hari.
  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 11 ayat, antara lain 7:74, 25:10, 38:52, dan 55:72, dan di beberapa ayat itu ia menamai bangunan besar. Percikannya dibandingkan dengan sesuatu yang besar dan dikenal. Perbandingan memakai benda yang dikenal untuk melukiskan ukuran yang tidak dikenal. Perbandingan memakai benda yang dikenal untuk melukiskan ukuran yang tidak dikenal. Tanpa pembanding itu, pembacanya tidak punya cara sama sekali untuk membayangkan seberapa besar yang dimaksud.
  • Ayat ini memakai kata penegas di awalnya, berbeda dari dua ayat sebelumnya yang cuma memuat perintah dan penyangkalan. Allah menegaskan gambarannya, bukan sekadar menceritakannya. Gambaran yang paling rinci di bagian ini justru yang diberi penegas. Gambaran yang paling rinci di sepanjang bagian ini justru yang diberi penegas di awalnya. Penegasan di awal kalimat menyatakan bahwa isinya bukan perkiraan, melainkan keterangan yang sudah dipastikan.
  • Dua ayat berturut-turut memakai dua perbandingan untuk benda yang sama, yaitu ukurannya di sini dan warnanya di 77:33. Dua ayat pendek cukup untuk melukiskan keduanya. Kalau satu benda perlu dua perbandingan sekaligus, seberapa jauh ia sebenarnya dari apa yang pernah dilihat manusia? Dua ayat pendek cukup untuk melukiskan ukuran sekaligus warnanya. Mengapa satu benda perlu dibandingkan dua kali dengan dua hal yang sama sekali tidak sejenis?