كَأَنَّهُ جِمَالَتٌ صُفْرٌ
Seakan-akan iringan unta kuning.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَأَنَّهُ جِمَالَتٌ صُفْرٌka-annahu jimaalatun shufrunseakan-akan iringan unta kuning
Terjemahan per kata (3 kata)
- كَأَنَّهُka-annahuseakan-akan ia
- جِمَالَتٌjimaalatununta-unta
- صُفْرٌshufrunkuning
Inti bacaan
Perumpamaan visual tambahan: 'seakan-akan iringan unta kuning', citra kedua yang memperkaya deskripsi, menggunakan objek yang dikenal audiens untuk memvisualisasikan fenomena yang tidak biasa.
Penjelasan pilihan kata
Kata (جِمَالَتٌ, jimaalatun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata (صُفْرٌ, shufrun) juga muncul 1 kali.
Akar (جِمَالَتٌ, jimaalatun) dipakai di 11 ayat: 7:40, 12:18, 12:83, 15:85, 16:6, 25:32, 33:28, 33:49, 70:5, 73:10, dan 77:33. Sepuluh pemakaian lainnya tersebar di sembilan surah.
Di 15:85, 33:28, 70:5, dan 73:10 akar (جِمَالَتٌ, jimaalatun) dipakai untuk sesuatu yang baik dan indah. Di 7:40 dan 16:6 ia dipakai untuk hewan tunggangan.
Jadi satu bunyi dasar memuat keindahan dan hewan besar. Al-Qur'an tidak menerangkan hubungan dua arti itu.
Perhatikan bahwa pemakaiannya di sini berdiri di dalam gambaran hukuman. Bunyi yang biasanya menamai keindahan dipakai untuk melukiskan percikan api.
Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bunyi yang biasanya menyenangkan dipakai di tempat yang paling keras.
Akar (صُفْرٌ, shufrun) cuma dipakai di 5 ayat: 2:69, 30:51, 39:21, 57:20, dan 77:33. Kejarangan itu tidak lazim untuk sebuah warna.
Di 30:51 dan 39:21 bunyi dasar (صُفْرٌ, shufrun) dipakai untuk tanaman yang menguning lalu mengering. Di 57:20 ia dipakai untuk tanaman yang menguning sebagai gambaran kehidupan dunia.
Jadi tiga dari lima pemakaiannya menyangkut tumbuhan yang layu. Yang keempat, di 2:69, menyangkut warna hewan.
Perhatikan bahwa yang kelima, di ayat ini, menyangkut warna percikan api. Al-Qur'an tidak menghubungkan kelimanya.
Yang bisa dibaca cuma bahwa warna yang biasanya menandai kelayuan di sini menandai nyala. Dua keadaan yang berlawanan diberi warna yang sama.
Perhatikan bahwa (كَأَنَّهُ, ka-annahu) di awalnya menyatakan perbandingan. Percikannya tidak disebut sebagai hewan, melainkan seperti hewan.
Cara itu sama dengan 77:32. Dua ayat berturut-turut memakai perbandingan, bukan pernyataan langsung.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua gambaran terinci di surah ini keduanya berupa perbandingan.
Perhatikan bahwa perbandingan menuntut pembacanya sudah mengenal pembandingnya. Yang tidak pernah melihat pembandingnya tidak akan menangkap gambarannya.
Jadi gambaran ini bekerja lewat apa yang sudah ada di ingatan pembacanya. Al-Qur'an tidak menyediakan keterangan tambahan untuknya.
Perhatikan bahwa ayat ini menutup gambaran hukuman yang dibuka di 77:29. Lima ayat berjalan sejak sana, dan yang terakhir berupa perbandingan warna.
Sesudahnya refreinnya kembali di 77:34. Bagian lima ayat ini yang terpanjang di antara bagian-bagian bukti dan hukuman surahnya.
Perhatikan pula bahwa dua perbandingan di 77:32 dan 77:33 memakai dua sudut yang berbeda. Yang pertama menyangkut ukuran, dan yang kedua menyangkut warna.
Dua sudut itu melengkapi satu sama lain. Ukuran tanpa warna masih kabur, dan warna tanpa ukuran masih kabur juga.
Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat pendek cukup untuk memberi gambaran yang bisa dibayangkan.
Tafsiran
Ayat ini menutup gambaran hukuman dengan perbandingan yang kedua. Kedua kata pokoknya sama-sama muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akar kata keduanya dipakai di 11 ayat: 7:40, 12:18, 12:83, 15:85, 16:6, 25:32, 33:28, 33:49, 70:5, 73:10, dan 77:33.
Di 15:85, 33:28, 70:5, dan 73:10 akar itu dipakai untuk sesuatu yang baik dan indah, sedangkan di 7:40 dan 16:6 untuk hewan tunggangan. Jadi satu akar memuat keindahan dan hewan besar, dan pemakaiannya di sini berdiri di dalam gambaran hukuman.
Akar kata terakhirnya cuma dipakai di 5 ayat: 2:69, 30:51, 39:21, 57:20, dan 77:33. Di 30:51, 39:21, dan 57:20 akar itu dipakai untuk tanaman yang menguning lalu mengering, sehingga tiga dari lima pemakaiannya menyangkut tumbuhan yang layu.
Warna yang biasanya menandai kelayuan di sini menandai nyala, sehingga dua keadaan yang berlawanan diberi warna yang sama. Al-Qur'an tidak menghubungkan kelimanya dengan satu kalimat pun.
Ayat ini memakai kata perbandingan, sama seperti 77:32, sehingga dua gambaran terinci di surah ini keduanya berupa perbandingan. Bagian lima ayat yang dibuka di 77:29 ditutup di sini, dan refreinnya kembali di 77:34. Dua perbandingan di 77:32 dan 77:33 memakai dua sudut yang berbeda, karena yang pertama menyangkut ukuran dan yang kedua menyangkut warna. Dua sudut itu melengkapi satu sama lain, sebab ukuran tanpa warna masih kabur dan warna tanpa ukuran kabur juga. Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu, dan dua ayat pendek ternyata cukup untuk memberi gambaran yang bisa dibayangkan.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata keduanya dipakai Allah di 11 ayat, dan di 15:85, 33:28, 70:5, serta 73:10 ia menamai sesuatu yang baik dan indah. Di 7:40 dan 16:6 ia menamai hewan tunggangan. Akar yang biasanya menamai yang indah dipakai di sini untuk melukiskan percikan api, dan Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu. Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa bunyinya sendiri tidak memihak. Bunyi dasar yang menamai keindahan dipakai untuk melukiskan sesuatu yang paling tidak diinginkan siapa pun.
- Akar kata terakhirnya cuma dipakai Allah di 5 ayat: 2:69, 30:51, 39:21, 57:20, dan 77:33. Tiga di antaranya menyangkut tanaman yang menguning lalu mengering. Warna yang biasanya menandai kelayuan di sini menandai nyala, sehingga dua keadaan yang berlawanan diberi warna yang sama. Warna yang biasanya menandai kelayuan di sini menandai nyala. Dua keadaan yang berlawanan diberi warna yang sama, dan tidak ada satu kalimat pun yang menerangkan penggabungan itu.
- Allah memakai kata perbandingan di sini, sehingga percikannya tidak disebut sebagai hewan melainkan seperti hewan. Cara itu sama dengan 77:32, sehingga dua gambaran terinci di surah ini keduanya berupa perbandingan. Perbandingan menyisakan jarak antara gambarannya dan kenyataannya. Perbandingan selalu menyisakan jarak antara gambarannya dan kenyataan yang digambarkannya. Yang dikatakan bukan bahwa ia hewan, melainkan bahwa ia menyerupainya dari satu sisi tertentu saja.
- Perbandingan menuntut pembacanya sudah mengenal pembandingnya lebih dulu. Yang tidak pernah melihat pembandingnya tidak akan menangkap gambaran yang dimaksud Allah. Gambaran ini bekerja lewat apa yang sudah ada di ingatan pembacanya, dan Al-Qur'an tidak menyediakan keterangan tambahan untuknya. Gambaran ini bekerja lewat apa yang sudah tersimpan di ingatan pembacanya, dan Al-Qur'an tidak menyediakan keterangan tambahan. Yang belum pernah melihat pembandingnya harus mencari tahu sendiri lebih dulu sebelum gambarannya sampai.
- Ayat ini menutup gambaran hukuman yang dibuka Allah di 77:29, dan lima ayat berjalan sejak sana. Bagian lima ayat itu yang terpanjang di antara bagian-bagian surahnya. Bagian yang paling panjang justru yang isinya paling rinci melukiskan, dan itu berlawanan dengan kependekan bagian-bagian lain. Bagian yang paling panjang justru yang isinya paling rinci melukiskan, dan itu berlawanan dengan kependekan bagian-bagian lain. Lima ayat dipakai untuk satu pemandangan saja, sedangkan bagian lain di surah ini cukup dengan tiga.
- Warna yang dipakai Allah di sini juga dipakai di 57:20 untuk melukiskan kehidupan dunia yang menguning lalu hancur. Kalau warna yang sama menandai layunya dunia dan nyalanya api, apa yang sedang dihubungkan oleh bunyi yang sama itu? Warna yang sama menandai layunya dunia di 57:20 dan nyalanya api di sini. Apa yang sedang dihubungkan oleh bunyi yang sama itu, dan mengapa keduanya diberi tanda yang tidak berbeda?