هَٰذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُونَ

Inilah hari mereka tidak berbicara,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. هَٰذَا يَوْمُ لَا يَنْطِقُونَhaadzaa yawmu laa yanthiquunainilah hari mereka tidak berbicara

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. هَٰذَاhaadzaaini
  2. يَوْمُyawmuhari
  3. لَاlaatidak
  4. يَنْطِقُونَyanthiquunamereka berbicara

Inti bacaan

Keheningan yang menyiksa: 'inilah hari mereka tidak berbicara', kontras dengan kebiasaan manusia yang selalu ingin membela diri, momen ketika kemampuan verbal itu sendiri direnggut.

Penjelasan pilihan kata

'Haadzaa' (dekat) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'inilah': draf sudah tepat.

Rangkaian (هَٰذَا يَوْمُ, haadzaa yaumu) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an: 5:119, 21:103, 30:56, 37:20, 37:21, 77:35, dan 77:38. Dua di antaranya ada di surah ini.

Perhatikan bahwa 37:20 dan 37:21 memakai rangkaian itu di dua ayat berurutan. Surah ini memakainya di dua ayat yang berjarak tiga ayat.

Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah sama-sama memakainya dua kali dengan jarak yang berbeda.

Kata (يَنْطِقُونَ, yanthiquun) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 21:63, 21:65, 27:85, dan 77:35. Akarnya dipakai di 11 ayat.

Di 21:63 dan 21:65 kata (يَنْطِقُونَ, yanthiquun) dipakai untuk patung yang tidak bisa berbicara. Di 27:85 ia dipakai untuk orang yang tidak sanggup membela diri.

Jadi tiga pemakaian lainnya menyangkut ketidakmampuan berbicara. Yang di sini juga begitu, dan Al-Qur'an tidak menandai kesamaan itu.

Perhatikan bahwa di 21:63 yang bisu adalah benda mati. Di sini yang bisu adalah manusia yang pernah berbicara panjang.

Perbandingan itu tajam. Yang dulu banyak membantah kini disamakan keadaannya dengan yang tidak pernah bisa bicara.

Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu kata dipakai untuk keduanya.

Perhatikan bahwa ayat ini membuka bagian yang cuma dua ayat. Dari 77:35 sampai 77:36, lalu refreinnya kembali di 77:37.

Bagian dua ayat itu yang terpendek sejauh ini. Bagian sebelumnya lima ayat, dan yang sesudahnya juga dua ayat.

Al-Qur'an tidak menandai pemendekan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bagiannya menyusut sesudah gambaran yang panjang.

Perhatikan bahwa isi bagian ini adalah kesunyian. Sesudah lima ayat yang penuh gerak dan warna, dua ayat ini menyebut mulut yang tidak berbunyi.

Perbedaan itu terasa. Yang ramai disusul yang sunyi, dan panjangnya pun ikut menyusut.

Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa isi dan panjangnya berubah bersamaan.

Perhatikan bahwa (هَٰذَا, haadzaa) menunjuk kepada yang dekat. Di 77:13 dan 77:14 hari itu masih disebut sebagai yang akan datang.

Jadi surah ini berpindah dari yang jauh ke yang dekat. Yang tadinya ditanyakan kini dinyatakan sedang berlangsung.

Al-Qur'an tidak menandai perpindahan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa jarak waktunya berubah tanpa satu kata penanda pun.

Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang tidak berbicara. Yang disebut cuma bahwa mereka tidak berbicara.

Ketiadaan nama itu membuat cakupannya luas. Tidak ada yang bisa merasa dikecualikan dari kesunyian itu.

Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa cara yang sama dipakai di sepanjang surahnya.

Tafsiran

Ayat ini menggambarkan kebisuan total para pendosa pada Hari Kiamat. Ayat ini membuka bagian tentang kesunyian pada hari itu. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 5:119, 21:103, 30:56, 37:20, 37:21, 77:35, dan 77:38, dan dua di antaranya ada di surah ini.

Perhatikan bahwa 37:20 dan 37:21 memakai rangkaian itu di dua ayat berurutan, sedangkan surah ini memakainya di dua ayat yang berjarak tiga ayat. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata terakhirnya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 21:63, 21:65, 27:85, dan 77:35, dan akarnya dipakai di 11 ayat. Di 21:63 dan 21:65 kata itu dipakai untuk patung yang tidak bisa berbicara, dan di 27:85 untuk orang yang tidak sanggup membela diri.

Di 21:63 yang bisu adalah benda mati, sedangkan di sini yang bisu adalah manusia yang pernah berbicara panjang. Yang dulu banyak membantah kini disamakan keadaannya dengan yang tidak pernah bisa bicara.

Ayat ini juga menyebut hari itu dengan kata penunjuk dekat, sedangkan di 77:13 dan 77:14 hari itu masih disebut sebagai yang akan datang. Surah ini karena itu berpindah dari yang jauh ke yang dekat tanpa satu kata penanda pun. Ayat ini tidak menyebut siapa yang tidak berbicara, dan yang disebut cuma bahwa mereka tidak berbicara. Ketiadaan nama itu membuat cakupannya luas, sehingga tidak ada yang bisa merasa dikecualikan dari kesunyian itu. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa cara yang sama dipakai di sepanjang surahnya.

Renungan dan Hikmah

  • Rangkaian dua kata pertamanya dipakai Allah 7 kali di seluruh Al-Qur'an, dan dua di antaranya ada di surah ini. Di 37:20 dan 37:21 rangkaian itu berdiri di dua ayat berurutan, sedangkan di sini jaraknya tiga ayat. Dua surah sama-sama memakainya dua kali dengan jarak yang berbeda, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Dua surah sama-sama memakai rangkaian itu dua kali, dan yang membaca keduanya berurutan akan mengenali gemanya. Rangkaian yang berulang di tujuh tempat menjadi penanda yang sudah dikenali pembacanya sebelum isinya sampai.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 21:63, 21:65, 27:85, dan 77:35. Di 21:63 dan 21:65 ia menamai patung yang tidak bisa berbicara, dan di 27:85 orang yang tidak sanggup membela diri. Yang dulu banyak membantah kini disamakan keadaannya dengan yang tidak pernah bisa bicara sama sekali. Yang dulu banyak membantah kini disamakan keadaannya dengan yang tidak pernah bisa bicara sama sekali. Perbandingan seperti itu tidak pernah diucapkan Al-Qur'an, dan ia cuma terbaca dari pemakaian kata yang sama.
  • Bagian ini cuma dua ayat, dari 77:35 sampai 77:36, dan itu yang terpendek sejauh ini di surahnya. Bagian sebelumnya lima ayat, dan Allah menyusutkannya menjadi dua. Panjang bagiannya menyusut tepat sesudah gambaran yang paling panjang, dan Al-Qur'an tidak menandai pemendekan itu. Panjang bagiannya menyusut tepat sesudah gambaran yang paling panjang, dan Al-Qur'an tidak menandai pemendekan itu. Yang ramai memakai lima ayat penuh, sedangkan yang sunyi ternyata cukup dengan dua ayat saja.
  • Sesudah lima ayat yang penuh gerak dan warna, Allah menaruh dua ayat tentang mulut yang tidak berbunyi. Yang ramai disusul yang sunyi, dan panjangnya pun ikut menyusut. Isi dan panjangnya berubah bersamaan, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu. Isi dan panjangnya berubah bersamaan, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu. Susunan surahnya sendiri ikut menirukan apa yang sedang dilukiskannya, sehingga bentuk dan isinya berjalan seiring.
  • Allah menyebut hari itu dengan penunjuk dekat di sini, sedangkan di 77:13 dan 77:14 hari itu masih disebut sebagai yang akan datang. Surah ini berpindah dari yang jauh ke yang dekat tanpa satu kata penanda pun. Yang tadinya ditanyakan kini dinyatakan sedang berlangsung di hadapan pembacanya. Yang tadinya ditanyakan kini dinyatakan sedang berlangsung di hadapan pembacanya. Perpindahan jarak waktu seperti itu terjadi tanpa satu kata penanda pun yang dipasang di antaranya.
  • Yang disebut Allah di sini bukan hilangnya kekuatan, melainkan hilangnya suara. Kemampuan berbicara adalah alat pertama yang dipakai orang untuk membela diri. Apa yang tersisa bagi seseorang ketika alat pembelaannya yang paling dasar justru dicabut pada saat ia paling membutuhkannya? Kemampuan berbicara adalah alat pertama yang dipakai orang untuk membela diri. Ketika alat itu dicabut, yang tersisa cuma apa yang sudah dikerjakan seseorang sebelum hari itu tiba.