وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُونَ

Dan tidak diizinkan bagi mereka sehingga mereka meminta maaf.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَلَا يُؤْذَنُ لَهُمْ فَيَعْتَذِرُونَwa-laa yu'dzanu lahum fa-ya'tadziruunadan tidak diizinkan bagi mereka sehingga mereka meminta maaf

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَلَاwa-laadan tidak pula
  2. يُؤْذَنُyu'dzanudiizinkan
  3. لَهُمْlahumbagi mereka
  4. فَيَعْتَذِرُونَfa-ya'tadziruunamaka mereka meminta maaf

Inti bacaan

Ketiadaan kesempatan pembelaan: 'tidak diizinkan bagi mereka sehingga mereka meminta maaf', penegasan bahwa fase argumentasi atau permintaan maaf sudah lewat, waktu untuk itu telah berakhir sebelum momen ini tiba.

Penjelasan pilihan kata

Kata (يُؤْذَنُ, yu'dzanu) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 16:84 dan 77:36. Di 16:84 kata itu juga dipakai untuk izin yang tidak diberikan.

Jadi dua pemakaiannya sama-sama berupa penyangkalan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata (فَيَعْتَذِرُونَ, fa ya'tadziruun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 11 ayat, dan dua di antaranya ada di surah ini.

Perhatikan bahwa yang satu lagi ada di 77:6. Di sana alasan disebut sebagai maksud dari peringatan yang disampaikan.

Jadi surah ini membuka pembicaraan tentang alasan di ayat keenam dan menutupnya di ayat ketiga puluh enam. Jarak antara keduanya tiga puluh ayat.

Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu bunyi dasar berdiri di dua ujung yang berlawanan.

Perhatikan bahwa yang di 77:6 masih berupa kemungkinan. Peringatan disampaikan supaya alasan bisa diajukan atau supaya peringatan sampai.

Yang di sini sudah tertutup. Izin untuk mengajukan alasan dinyatakan tidak diberikan.

Perbandingan itu tajam. Kesempatan yang dibuka di awal surah dinyatakan habis di tengahnya.

Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat itu memakai bunyi dasar yang sama untuk dua keadaan yang berlawanan.

Perhatikan bahwa ayat ini menyangkal dua lapis sekaligus. Lapis pertama izin berbicara, dan lapis kedua kesempatan mengajukan alasan.

Susunan berlapis itu sudah dipakai di surah bertetangga. Di 78:38 juga disebut dua syarat yang harus dipenuhi sebelum seseorang boleh berbicara.

Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah bertetangga sama-sama menyusun aturan bicara berlapis dua.

Perhatikan bahwa yang di 78:38 masih menyisakan celah. Di sana ada yang diizinkan, dan di sini tidak disebutkan satu pun yang diizinkan.

Perbedaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu surah menyisakan pengecualian dan yang lain tidak.

Perhatikan bahwa ayat ini menutup bagian dua ayat. Refreinnya kembali di 77:37.

Dua ayat itu seluruhnya berisi penyangkalan. Tidak ada satu pun hal yang dinyatakan ada di bagian ini.

Perhatikan pula bahwa dua penyangkalan di ayat ini berurutan. Yang kedua menyusul yang pertama tanpa satu kata pemisah.

Susunan itu membuat penutupannya terdengar rapat sekali. Tidak ada satu celah pun yang tersisa di antara keduanya, dan tidak ada jeda untuk menyela.

Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua pintu ditutup dalam satu tarikan.

Tafsiran

Ayat ini menutup pintu terakhir bagi pembelaan diri. Kata keduanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 16:84 dan 77:36, dan di 16:84 kata itu juga dipakai untuk izin yang tidak diberikan.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 11 ayat dengan dua di antaranya ada di surah ini. Yang satu lagi ada di 77:6, dan di sana alasan disebut sebagai maksud dari peringatan yang disampaikan.

Jadi surah ini membuka pembicaraan tentang alasan di ayat keenam dan menutupnya di ayat ketiga puluh enam, sehingga jarak antara keduanya tiga puluh ayat. Yang di 77:6 masih berupa kemungkinan, sedangkan yang di sini sudah tertutup.

Ayat ini menyangkal dua lapis sekaligus, yaitu izin berbicara dan kesempatan mengajukan alasan. Susunan berlapis itu sudah dipakai di 78:38, yang juga menyebut dua syarat sebelum seseorang boleh berbicara.

Yang di 78:38 masih menyisakan celah karena di sana ada yang diizinkan, sedangkan di sini tidak disebutkan satu pun yang diizinkan. Dua ayat bagian ini seluruhnya berisi penyangkalan tanpa satu hal pun yang dinyatakan ada. Dua penyangkalan di ayat ini berurutan, karena yang kedua menyusul yang pertama tanpa satu kata pemisah. Susunan itu membuat penutupannya terdengar rapat, sebab tidak ada celah yang tersisa di antara keduanya. Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa dua pintu ditutup dalam satu tarikan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya dipakai Allah cuma di 16:84 dan 77:36, dan di 16:84 ia juga dipakai untuk izin yang tidak diberikan. Dua pemakaiannya sama-sama berupa penyangkalan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan sebuah kata yang cuma hidup di dua tempat membawa keduanya serta setiap kali ia dibaca. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya, dan sebuah kata yang cuma hidup di dua tempat membawa keduanya serta setiap kali ia dibaca. Dua pemakaiannya sama-sama berupa penyangkalan izin, dan tidak satu pun di antaranya berupa pemberian.
  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 11 ayat, dan dua di antaranya ada di surah ini, yaitu 77:6 dan 77:36. Di 77:6 alasan disebut sebagai maksud peringatan, dan di sini kesempatan mengajukannya dinyatakan tertutup. Jarak antara keduanya tiga puluh ayat, dan Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Jarak antara keduanya tiga puluh ayat, dan Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Yang dibuka di ayat keenam ditutup di ayat ketiga puluh enam tanpa satu kalimat penghubung sama sekali.
  • Yang di 77:6 masih berupa kemungkinan, dan yang di sini sudah tertutup sama sekali. Kesempatan yang dibuka Allah di awal surah dinyatakan habis di tengahnya. Sebuah pintu yang disebut terbuka lalu disebut tertutup di surah yang sama menandai bahwa waktunya memang terbatas. Sebuah pintu yang disebut terbuka lalu dinyatakan tertutup di surah yang sama menandai bahwa waktunya memang terbatas. Yang membaca kedua ayat itu berurutan akan merasakan sendiri betapa sempit waktu yang sebenarnya tersedia.
  • Allah menyangkal dua lapis sekaligus di sini, yaitu izin berbicara dan kesempatan mengajukan alasan. Susunan berlapis itu sudah dipakai di 78:38, yang juga menyebut dua syarat sebelum seseorang boleh berbicara. Dua surah bertetangga sama-sama menyusun aturan bicara berlapis dua tanpa satu penunjuk pun. Dua surah bertetangga sama-sama menyusun aturan bicara berlapis dua tanpa satu penunjuk pun. Yang satu menyebut syarat-syaratnya, dan yang lain menyebut penutupan pintunya sama sekali.
  • Yang di 78:38 masih menyisakan celah karena di sana ada yang diizinkan berbicara. Di sini Allah tidak menyebutkan satu pun yang diizinkan. Satu surah menyisakan pengecualian dan yang lain tidak, dan perbedaan itu tidak diterangkan di mana pun. Satu surah menyisakan pengecualian dan yang lain tidak, dan perbedaan itu tidak diterangkan di mana pun. Yang membandingkan kedua ayat itu akan menemukan bahwa keduanya sama sekali tidak saling membantah.
  • Dua ayat bagian ini seluruhnya berisi penyangkalan, dan Allah tidak menyebut satu pun hal yang ada di dalamnya. Kalau sebuah bagian dibangun sepenuhnya dari apa yang tidak ada, apa yang sebenarnya hendak ditinggalkan pada pembacanya? Sebuah bagian yang dibangun sepenuhnya dari apa yang tidak ada akan meninggalkan kesan yang sangat berbeda. Yang tertinggal di ingatan bukan sebuah gambaran, melainkan ruang kosong yang tidak bisa diisi apa pun.