وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ
Celakalah pada hari itu bagi para pendusta.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَwaylun yawma'idzin li-l-mukadzdzibiinacelakalah pada hari itu bagi para pendusta
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَيْلٌwayluncelakalah
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- لِلْمُكَذِّبِينَli-l-mukadzdzibiinabagi para pendusta
Inti bacaan
Refrein kesepuluh dan terakhir: 'celakalah pada hari itu bagi para pendusta', penutup rangkaian refrein yang telah muncul sepuluh kali, puncak penekanan sebelum pertanyaan retoris final.
Penjelasan pilihan kata
Kalimat (وَيْلٌ يَوْمَئِذٍ لِلْمُكَذِّبِينَ, wailun yauma-idzin lil-mukadzdzibiin) muncul untuk kesepuluh dan terakhir kalinya di surah ini. Kalimat yang ditutup (لِلْمُكَذِّبِينَ, lil-mukadzdzibiin) itu muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 52:11, 77:15, 77:19, dan 83:10. Sepuluh di antaranya ada di surah ini.
Perhatikan bahwa jaraknya dari refrein sebelumnya cuma satu ayat, sama seperti jarak sebelumnya. Dua jarak satu ayat berturut-turut menutup surahnya.
Al-Qur'an tidak menandai keadaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa refreinnya berhenti pada kerapatan yang paling tinggi.
Perhatikan bahwa surahnya tidak ditutup dengan refrein ini. Masih ada satu ayat lagi sesudahnya, yaitu 77:50.
Jadi refreinnya berhenti satu ayat sebelum ujung. Al-Qur'an tidak menerangkan penghentian itu.
Perhatikan bahwa penghentian itu membuat ayat terakhir berdiri tanpa penutup yang biasa. Sembilan kali sebelumnya, apa pun isinya, refreinnya selalu datang.
Yang terakhir tidak. Susunan itu membuat 77:50 terdengar berbeda dari semua ayat sebelumnya.
Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pola yang dibangun sepuluh kali diputus tepat di ayat penghabisan.
Perhatikan bahwa sepuluh refrein menempati seperlima surahnya. Lima puluh ayat dibagi sepuluh menghasilkan tepat lima.
Perbandingan itu bulat. Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu dengan satu kalimat pun.
Perhatikan bahwa sepuluh kemunculannya tersebar dengan jarak yang berubah-ubah. Berturut-turut tiga, empat, tiga, lima, dua, dua, empat, satu, dan satu ayat.
Jumlah seluruh jarak itu dua puluh lima. Ditambah sepuluh refrein dan lima belas ayat pembuka sebelum refrein pertama, genap lima puluh.
Al-Qur'an tidak menyatakan hitungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa susunannya bisa dihitung sampai habis tanpa sisa.
Perhatikan bahwa jaraknya memendek secara keseluruhan meskipun tidak berurutan. Lima jarak pertama rata-rata lebih panjang daripada empat jarak terakhir.
Al-Qur'an tidak menandai kecenderungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa peringatannya makin sering menjelang penutup.
Perhatikan pula bahwa refrein terakhir ini menutup ayat tentang penolakan membungkuk. Bagian yang ditutupnya berisi satu perbuatan yang tidak dikerjakan.
Susunan itu mengikat seluruh surahnya. Yang dibuka dengan sumpah tentang yang diutus berakhir pada penolakan atas satu gerakan sederhana.
Al-Qur'an tidak menyatakan ikatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa jarak antara pembuka dan penutupnya empat puluh delapan ayat.
Perhatikan pula bahwa sepuluh refrein itu tidak pernah menyebut nama satu orang pun. Sepuluh kali kalimat yang sama menyebut pihak yang dikenali cuma lewat perbuatannya.
Al-Qur'an tidak menandai kekhususan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini menutup sepuluh bagiannya tanpa satu nama diri.
Tafsiran
Ayat ini adalah kemunculan kesepuluh dan terakhir refrein di surah ini. Kalimat yang ditutup (لِلْمُكَذِّبِينَ, lil-mukadzdzibiin) itu muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 52:11, 77:15, 77:19, dan 83:10. Sepuluh di antaranya ada di surah ini.
Jaraknya dari refrein sebelumnya cuma satu ayat, sama seperti jarak sebelumnya, sehingga dua jarak satu ayat berturut-turut menutup surahnya. Refreinnya berhenti pada kerapatan yang paling tinggi.
Surahnya tidak ditutup dengan refrein ini, karena masih ada satu ayat lagi sesudahnya di 77:50. Jadi refreinnya berhenti satu ayat sebelum ujung, dan Al-Qur'an tidak menerangkan penghentian itu.
Penghentian itu membuat ayat terakhir berdiri tanpa penutup yang biasa, padahal sembilan kali sebelumnya refreinnya selalu datang apa pun isinya. Pola yang dibangun sepuluh kali diputus tepat di ayat penghabisan.
Sepuluh refrein menempati seperlima surahnya, karena lima puluh ayat dibagi sepuluh menghasilkan tepat lima. Sepuluh kemunculannya tersebar dengan jarak berturut-turut tiga, empat, tiga, lima, dua, dua, empat, satu, dan satu ayat, dan jumlah seluruh jarak itu dua puluh lima. Refrein terakhir ini menutup ayat tentang penolakan membungkuk, sehingga bagian yang ditutupnya berisi satu perbuatan yang tidak dikerjakan. Susunan itu mengikat seluruh surahnya, karena yang dibuka dengan sumpah tentang yang diutus berakhir pada penolakan atas satu gerakan sederhana, dengan jarak empat puluh delapan ayat. Sepuluh refrein itu juga tidak pernah menyebut nama satu orang pun.
Renungan dan Hikmah
- Jarak refrein ini dari yang sebelumnya cuma satu ayat, sama seperti jarak sebelumnya. Dua jarak satu ayat berturut-turut menutup surahnya, dan refreinnya berhenti pada kerapatan yang paling tinggi. Al-Qur'an tidak menandai keadaan itu dengan satu kalimat pun. Dua jarak satu ayat berturut-turut menutup surahnya, dan refreinnya berhenti pada kerapatan yang paling tinggi. Sesudah ini tidak ada lagi kalimat itu sampai surahnya habis. Kesepuluh kalinya sekaligus yang penghabisan, dan sesudahnya tinggal satu ayat.
- Surahnya tidak ditutup dengan refrein ini, karena masih ada satu ayat lagi sesudahnya di 77:50. Allah menghentikan refreinnya satu ayat sebelum ujung. Penghentian itu membuat ayat terakhir berdiri tanpa penutup yang biasa, padahal sembilan kali sebelumnya refreinnya selalu datang. Penghentian itu membuat ayat terakhir berdiri tanpa penutup yang biasa, padahal sembilan kali sebelumnya refreinnya selalu datang. Yang terbiasa mendengarnya akan merasakan ada yang hilang di ujungnya. Kekosongan itu justru menarik perhatian lebih daripada kehadirannya.
- Pola yang dibangun Allah sepuluh kali diputus tepat di ayat penghabisan. Susunan itu membuat 77:50 terdengar berbeda dari semua ayat sebelumnya. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan pembacanya merasakannya sebagai kesunyian yang mendadak. Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu, dan pembacanya merasakannya sebagai kesunyian yang mendadak. Pola yang dibangun sepuluh kali diputus tepat di ayat penghabisan. Yang diputus di ujung selalu terasa lebih tajam daripada yang tidak pernah ada.
- Sepuluh refrein menempati seperlima surahnya, karena lima puluh ayat dibagi sepuluh menghasilkan tepat lima. Perbandingan itu bulat tanpa sisa. Allah tidak menyatakan perbandingan itu dengan satu kalimat pun, dan ia cuma terlihat kalau ayatnya dihitung. Perbandingan itu bulat tanpa sisa, dan Allah tidak menyatakannya dengan satu kalimat pun. Sepuluh refrein di dalam lima puluh ayat menghasilkan tepat satu banding lima. Perbandingan sebulat itu jarang terjadi tanpa disengaja.
- Sepuluh kemunculannya tersebar dengan jarak berturut-turut tiga, empat, tiga, lima, dua, dua, empat, satu, dan satu ayat, dan jumlah seluruh jarak itu dua puluh lima. Ditambah sepuluh refrein dan lima belas ayat sebelum refrein pertama, genap lima puluh. Susunannya bisa dihitung sampai habis tanpa sisa. Ditambah sepuluh refrein dan lima belas ayat sebelum refrein pertama, genap lima puluh. Susunannya bisa dihitung sampai habis tanpa sisa oleh siapa pun yang mau. Angka-angkanya cocok tanpa ada satu ayat pun yang terlewat.
- Lima jarak pertama rata-rata lebih panjang daripada empat jarak terakhir, sehingga peringatannya makin sering menjelang penutup. Allah tidak menandai kecenderungan itu. Kalau sebuah peringatan datang makin cepat menjelang akhir, apa yang sedang ditirukan oleh percepatan itu? Sepuluh refrein itu tidak pernah menyebut nama satu orang pun. Surah ini menutup sepuluh bagiannya tanpa satu nama diri, dan yang disebut selalu perbuatan. Tidak ada kelompok yang bisa merasa dirinya tidak termasuk.