عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ

Tentang berita yang agung,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ'ani n-naba'i l-'azhiimitentang berita yang agung

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. عَنِ'anitentang
  2. النَّبَإِn-naba'iberita
  3. الْعَظِيمِl-'azhiimiyang agung

Inti bacaan

Identifikasi topik yang dimaksud: 'tentang berita yang agung', pengungkapan bahwa perbincangan tersebut berkaitan dengan hal yang sangat penting (kebangkitan), penegasan bobot topik yang layak mendapat perhatian serius.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(hari Kebangkitan)' tidak dipakai: identitas 'an-naba' al-azhiim' tidak dirinci eksplisit di ayat ini.

Kata (النَّبَإِ, an-naba-i) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini. Akarnya dipakai di 151 ayat, sehingga ia salah satu akar yang sering muncul.

Perbandingan itu patut dicatat. Akar (النَّبَإِ, an-naba-i) dipakai di ratusan ayat, dan di sini ia muncul dengan bentuk yang tidak pernah diulang. Bentuk itulah yang menjadi nama surahnya.

Kata (الْعَظِيمِ, al-'azhiim) menyifati kabar itu sebagai yang besar. Jadi yang diperselisihkan bukan kabar biasa, melainkan yang disebut besar.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut isi kabarnya. Yang disebut cuma bahwa ia besar dan diperselisihkan.

Kekosongan itu tidak diisi di ayat berikutnya. Bahkan sampai 78:5 isinya tidak disebut, dan surahnya langsung berpindah kepada bukti di 78:6.

Susunan seperti itu ganjil kalau dibaca sebagai jawaban. Sebuah pertanyaan tentang apa biasanya dijawab dengan menyebut bendanya; di sini bendanya cuma disifati.

Yang bisa dibaca cuma bahwa nama kabarnya tidak diperlukan. Kabar yang sudah diperselisihkan semua orang tidak perlu dinamai supaya dikenali.

Kata (النَّبَإِ, an-naba-i) memakai kata sandang, sehingga yang disebut kabar yang dianggap sudah dikenali. Susunan itu sejalan dengan ketiadaan penyebutan isinya.

Kata (عَنِ, 'ani) menyatakan tentang apa. Jadi ayat ini melengkapi pertanyaan di 78:1, dan dua ayat itu satu kalimat yang dipecah.

Pemecahan itu memperlambat jawabannya. Kalau keduanya digabung, pertanyaan dan pokoknya sampai bersamaan. Karena dipecah, ada jeda satu ayat di antaranya.

Perhatikan bahwa (عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ, 'ani an-naba-i al-'azhiim) cuma tiga kata. Dua ayat pertama surah ini seluruhnya lima kata, dan keduanya membentuk satu kalimat tanya.

Ayat ini memberi nama bagi surahnya. Dari seluruh empat puluh ayatnya, (النَّبَإِ, an-naba-i) yang dipakai untuk menamainya.

Perhatikan pula bahwa dua ayat pertama ini bersama-sama membentuk satu pertanyaan yang tidak pernah dijawab isinya sampai ayat terakhir surahnya. Pertanyaannya lengkap, dan jawabannya tidak pernah datang.

Yang datang di 78:4 dan 78:5 bukan isi kabarnya, melainkan janji bahwa mereka akan tahu. Jadi pertanyaannya dijawab dengan waktu, bukan dengan keterangan.

Susunan seperti itu memindahkan letak perkaranya. Yang tadinya soal apa berubah menjadi soal kapan, dan perpindahan itu tidak ditandai satu kata pun.

Pembacanya karena itu membaca tiga puluh lima ayat berikutnya tanpa pernah diberi tahu apa kabar besar yang dimaksud. Yang tersedia cuma buktinya, dan bukti selalu menunjuk tanpa menyebut.

Tafsiran

Ayat ini melengkapi pertanyaan tadi dengan menyebut kabar yang besar. Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, sedangkan akarnya dipakai di 151 ayat.

Jadi sebuah akar yang dipakai di ratusan ayat muncul di sini dengan bentuk yang tidak pernah diulang, dan bentuk itulah yang menjadi nama surahnya.

Kata terakhirnya menyifati kabar itu sebagai yang besar, sehingga yang diperselisihkan bukan kabar biasa. Tetapi ayat ini tidak menyebut isi kabarnya, dan kekosongan itu tidak diisi sampai 78:5. Surahnya langsung berpindah kepada bukti di 78:6.

Kata keduanya juga memakai kata sandang, sehingga yang disebut kabar yang dianggap sudah dikenali, dan susunan itu sejalan dengan ketiadaan penyebutan isinya.

Kata pertamanya menyatakan tentang apa, sehingga ayat ini melengkapi pertanyaan di 78:1 dan dua ayat itu satu kalimat yang dipecah. Pembacanya membaca tiga puluh lima ayat berikutnya tanpa pernah diberi tahu apa kabar besar yang dimaksud. Dua ayat pertama ini bersama-sama membentuk satu pertanyaan yang tidak dijawab isinya. Yang datang di 78:4 dan 78:5 bukan isi kabarnya melainkan janji bahwa mereka akan tahu, sehingga pertanyaannya dijawab dengan waktu dan bukan dengan keterangan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk ini, sedangkan akarnya dipakai Allah di 151 ayat. Jadi sebuah akar yang dipakai di ratusan ayat muncul di sini dengan bentuk yang tidak pernah diulang. Dari seluruh empat puluh ayat surahnya, bentuk yang tunggal itulah yang dipakai untuk menamainya. Bentuk yang tunggal untuk akar yang dipakai ratusan kali menandai susunan yang tidak ada bandingnya. Nama surahnya sendiri lahir dari kelangkaan itu. Kelangkaan bentuk di tengah akar yang sering dipakai selalu patut diperiksa. Nama sebuah surah biasanya diambil dari kata yang paling menonjol di dalamnya.
  • Kata terakhirnya menyifati kabar itu sebagai yang besar, sehingga yang diperselisihkan bukan kabar biasa. Tetapi Allah tidak menyebut isi kabarnya di ayat ini, dan kekosongan itu tidak diisi sampai 78:5. Sebuah pertanyaan tentang apa biasanya dijawab dengan menyebut bendanya; di sini bendanya cuma disifati. Menyifati tanpa menyebut membuat pembacanya mencari sendiri. Pencarian itu bagian dari cara ayatnya bekerja. Yang dicari sendiri lebih lekat daripada yang diberikan jadi. Pencarian meninggalkan bekas yang tidak ditinggalkan pemberitahuan.
  • Kata keduanya memakai kata sandang, sehingga yang disebut kabar yang dianggap sudah dikenali. Susunan itu sejalan dengan ketiadaan penyebutan isinya. Yang bisa dibaca cuma bahwa nama kabarnya memang tidak diperlukan, karena kabar yang sudah diperselisihkan semua orang tidak perlu dinamai supaya dikenali. Sesuatu yang sudah diperselisihkan semua orang tidak perlu diperkenalkan ulang. Kata sandangnya sudah menyatakan hal itu. Yang dianggap sudah dikenal tidak lagi bisa diaku sebagai hal yang belum terdengar. Mengakui sudah tahu berarti kehilangan hak untuk berdalih.
  • Kata pertamanya menyatakan tentang apa, sehingga ayat ini melengkapi pertanyaan di 78:1 dan dua ayat itu satu kalimat yang dipecah Allah menjadi dua. Pemecahan itu memperlambat jawabannya, karena kalau digabung pertanyaan dan pokoknya akan sampai bersamaan. Jeda satu ayat itu bagian dari cara ayatnya bekerja. Memecah satu kalimat menjadi dua ayat menambahkan jeda yang tidak ada di dalam kalimatnya sendiri. Membelah kalimat adalah cara memberi tekanan tanpa menambah satu kata pun. Tekanan bisa diberikan lewat letak, bukan cuma lewat pilihan kata.
  • Ayat ini cuma tiga kata, dan bersama 78:1 dua ayat pertama surah ini seluruhnya lima kata. Allah menyusun satu kalimat tanya dari lima kata saja, lalu membelahnya menjadi dua ayat. Kependekan itu membuat pembukanya masuk sebelum pembacanya sempat menyiapkan diri. Lima kata untuk satu kalimat tanya adalah pembuka yang paling hemat yang bisa dibayangkan. Hemat kata bukan berarti hemat isi, dan sering justru sebaliknya. Sedikit kata untuk banyak isi menuntut pembacanya membaca perlahan.
  • Kata di ayat inilah yang dipakai untuk menamai surahnya, dari seluruh empat puluh ayat yang ada. Apa yang dinyatakan sebuah penamaan ketika yang dipilih justru kata yang isinya tidak pernah disebutkan Allah, sehingga nama surahnya sendiri menunjuk kepada sesuatu yang dibiarkan kosong? Judul yang dipilih dari kata yang isinya kosong adalah pilihan yang tidak biasa. Judul yang menunjuk kepada yang tidak dijelaskan menuntut pembacanya membaca sampai habis. Membaca sampai ujung adalah satu-satunya cara menemukan apa yang tidak disebut.