الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ

Yang mereka berselisih tentangnya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَalladzii hum fiihi mukhtalifuunayang mereka berselisih tentangnya

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. الَّذِيalladziiyang
  2. هُمْhummereka
  3. فِيهِfiihidi dalamnya
  4. مُخْتَلِفُونَmukhtalifuunaberselisih

Inti bacaan

Identifikasi sumber kontroversi: 'yang mereka berselisih tentangnya', pengenalan bahwa topik berita agung (kebangkitan) memang menjadi sumber perdebatan nyata, bukan konsensus universal, konteks yang menjelaskan mengapa penjelasan lebih lanjut diperlukan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مُخْتَلِفُونَ, mukhtalifuun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 116 ayat, antara lain 2:164, 10:19, 11:118, 16:69, dan 45:5.

Di 11:118 akar (مُخْتَلِفُونَ, mukhtalifuun) dipakai untuk manusia yang tidak berhenti berselisih. Di 10:19 ia dipakai untuk perselisihan yang muncul sesudah mereka dulunya satu umat.

Jadi akar (مُخْتَلِفُونَ, mukhtalifuun) sering menamai perselisihan yang berlarut. Di sini ia menamai perselisihan tentang satu kabar yang tidak disebut isinya.

Bentuk (مُخْتَلِفُونَ, mukhtalifuun) menyatakan perbuatan yang dikerjakan bersama-sama, sama seperti bentuk kata kerja di 78:1. Dua ayat berdekatan memakai bentuk kebersamaan yang sama.

Kesamaan itu memperlihatkan satu gambaran. Yang saling bertanya dan yang saling berselisih adalah orang yang sama, dan keduanya sedang mengerjakannya bersama-sama.

Kata (هُمْ, hum) berdiri sendiri sebagai pokok kalimat. Susunan seperti itu menonjolkan mereka, sehingga perselisihannya terbaca sebagai milik mereka sendiri.

Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut satu pun pihak yang tidak berselisih. Yang disebut cuma mereka yang berselisih, dan lawan mereka dibiarkan kosong.

Kekosongan itu berulang di seluruh lima ayat pertama. Tidak ada nama, tidak ada golongan, dan tidak ada isi kabarnya.

Kata (فِيهِ, fiihi) memakai kata ganti yang menunjuk kabar di 78:2. Jadi tiga ayat pertama terikat, dan kabarnya cuma disebut sekali.

Ikatan itu membuat ketiganya satu kalimat panjang. Membaca satu di antaranya sendirian meninggalkan pembacanya dengan potongan.

Ayat ini menutup pertanyaan mereka. Sesudahnya, 78:4 tidak menjawab isinya, melainkan menyatakan bahwa mereka akan tahu.

Susunan seperti itu ganjil kalau dibaca sebagai jawaban. Yang diberikan bukan keterangan, melainkan janji bahwa keterangan itu akan datang sendiri.

Perhatikan pula bahwa tiga ayat pertama ini seluruhnya berupa satu kalimat tanya. Tidak ada satu pernyataan pun di dalamnya, tidak ada satu kata kerja perintah, dan tidak ada satu nama pun.

Susunan itu membuat pembukanya terasa seperti percakapan, bukan seperti pengumuman. Yang membaca seolah menjawab, bukan sekadar mendengar.

Sesudah 78:3 bentuknya berubah seluruhnya. Empat ayat berikutnya berupa penolakan dan janji, dan sesudahnya sebelas ayat berupa daftar.

Jadi surah ini bergerak dari bertanya, ke menegaskan, lalu ke membuktikan. Tiga tahap itu tidak ditandai satu kalimat penghubung pun.

Perpindahan tanpa penghubung seperti itu berulang di seluruh surahnya. Pembacanya berpindah dari satu bagian ke bagian lain tanpa pernah diberi tahu bahwa ia sedang berpindah, dan yang menyambungkan cuma pokoknya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menutup pertanyaan dengan menyebut bahwa mereka berselisih tentangnya. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 116 ayat, antara lain 2:164, 10:19, 11:118, 16:69, dan 45:5.

Di 11:118 akar itu dipakai untuk manusia yang tidak berhenti berselisih, dan di 10:19 untuk perselisihan yang muncul sesudah mereka dulunya satu umat. Jadi akar itu sering menamai perselisihan yang berlarut, sedangkan yang di sini menyangkut kabar yang tidak disebut isinya.

Bentuk kata terakhirnya menyatakan perbuatan yang dikerjakan bersama-sama, sama seperti bentuk kata kerja di 78:1, sehingga dua ayat berdekatan memakai bentuk kebersamaan yang sama.

Kata keduanya berdiri sendiri sebagai pokok kalimat, sehingga perselisihannya terbaca sebagai milik mereka sendiri.

Kata ketiganya memakai kata ganti yang menunjuk kabar di 78:2, sehingga tiga ayat pertama terikat dan kabarnya cuma disebut sekali. Satu kalimat tanya dibelah menjadi tiga ayat, dan ketiganya tidak bisa dibaca sendiri-sendiri. Surah ini bergerak dari bertanya, ke menegaskan, lalu ke membuktikan, dan tiga tahap itu tidak ditandai satu kalimat penghubung pun. Tiga ayat pertama ini seluruhnya berupa satu kalimat tanya, tanpa satu pernyataan pun. Susunan itu membuat pembukanya terasa seperti percakapan dan bukan seperti pengumuman, sehingga yang membaca seolah diajak menjawab.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 116 ayat, antara lain 2:164, 10:19, 11:118, 16:69, dan 45:5. Di 11:118 akar itu dipakai untuk manusia yang tidak berhenti berselisih, dan di 10:19 untuk perselisihan yang muncul sesudah mereka dulunya satu umat. Jadi yang dihadapi di sini bukan keraguan sesaat, melainkan pertikaian yang sudah lama berjalan. Perselisihan yang berlarut tidak selesai dengan satu penjelasan, dan itu sebabnya jawabannya berupa waktu. Yang sudah mengakar butuh waktu untuk dicabut, bukan argumen untuk dipatahkan. Waktu mencabut apa yang tidak bisa dicabut oleh alasan.
  • Bentuk kata terakhirnya menyatakan perbuatan yang dikerjakan bersama-sama, sama seperti bentuk kata kerja di 78:1. Dua ayat berdekatan memakai bentuk kebersamaan yang sama, dan kesamaan itu memperlihatkan satu gambaran: yang saling bertanya dan yang saling berselisih adalah orang yang sama. Bertanya bersama dan berselisih bersama ternyata dikerjakan orang yang sama. Kebersamaan dalam bertanya berubah jadi kebersamaan dalam menolak. Satu kelompok yang sama mengerjakan dua hal yang saling menguatkan.
  • Kata keduanya berdiri sendiri sebagai pokok kalimat, dan susunan seperti itu menonjolkan mereka. Perselisihannya karena itu terbaca sebagai milik mereka sendiri, bukan sesuatu yang menimpa dari luar. Allah menaruh mereka di depan kalimat, dan penonjolan itu tidak ditambahi satu kata penjelas pun. Menonjolkan pelakunya membuat perselisihan itu terbaca sebagai pilihan, bukan sebagai nasib. Menaruh pelaku di depan kalimat membuat tanggung jawabnya tidak bisa dialihkan. Tanggung jawab yang tidak bisa dialihkan menutup jalan bagi pembelaan.
  • Ayat ini tidak menyebut satu pun pihak yang tidak berselisih. Yang disebut Allah cuma mereka yang berselisih, dan lawan mereka dibiarkan kosong. Kekosongan itu berulang di seluruh lima ayat pertama: tidak ada nama, tidak ada golongan, dan tidak ada isi kabarnya. Lawan yang tidak disebut membuat pembacanya tidak bisa memihak lebih dulu. Tidak menyebut lawan membuat pembacanya tidak tahu di pihak mana ia berdiri. Memeriksa diri sendiri selalu lebih sulit daripada menunjuk pihak yang salah.
  • Kata ketiganya memakai kata ganti yang menunjuk kabar di 78:2, sehingga tiga ayat pertama terikat dan kabarnya cuma disebut Allah sekali. Ikatan itu membuat ketiganya satu kalimat panjang, dan membaca satu di antaranya sendirian meninggalkan pembacanya dengan potongan yang tidak berdiri. Ikatan kata ganti sepanjang tiga ayat menolak dibaca sepotong-sepotong. Ikatan yang rapat menuntut ketiga ayatnya dibaca sekaligus atau tidak sama sekali. Satu kalimat yang dibelah tiga tetap satu kalimat, betapapun jauh jaraknya.
  • Ayat ini menutup pertanyaan mereka, dan 78:4 tidak menjawab isinya melainkan menyatakan bahwa mereka akan tahu. Apa yang dikerjakan sebuah jawaban ketika Allah tidak memberi keterangan, melainkan janji bahwa keterangan itu akan datang sendiri kepada yang bertanya? Jawaban berupa janji menuntut kesabaran, sedangkan jawaban berupa keterangan cuma menuntut pemahaman. Menunggu lebih sulit daripada memahami, dan yang dituntut di sini yang pertama. Menunggu tanpa kepastian waktu adalah ujian yang berbeda dari ujian memahami.