كَلَّا سَيَعْلَمُونَ
Sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengetahui.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- كَلَّا سَيَعْلَمُونَkallaa sa-ya'lamuunasekali-kali tidak, kelak mereka akan mengetahui
Terjemahan per kata (2 kata)
- كَلَّاkallaasekali-kali tidak
- سَيَعْلَمُونَsa-ya'lamuunakelak mereka mengetahui
Inti bacaan
Peringatan pertama tentang pemahaman masa depan: 'sekali-kali tidak! Kelak mereka akan mengetahui', penolakan terhadap keraguan disertai janji bahwa kebenaran akan terungkap pada waktunya, kesabaran menunggu konfirmasi yang pasti akan datang.
Penjelasan pilihan kata
Kata (سَيَعْلَمُونَ, sa-ya'lamuun) muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an: 19:75, 54:26, 72:24, 78:4, dan 78:5. Dua dari lima pemakaiannya ada di surah ini, di dua ayat yang berurutan.
Di 54:26 kata (سَيَعْلَمُونَ, sa-ya'lamuun) dipakai untuk kaum Tsamud yang akan tahu siapa pendusta yang sombong. Di 72:24 ia dipakai untuk orang yang akan tahu siapa yang lebih lemah penolongnya.
Jadi di tiga tempat lain (سَيَعْلَمُونَ, sa-ya'lamuun) selalu berdiri sebagai jawaban atas keraguan. Di sini ia juga begitu, dan diulang dua kali berturut-turut.
Kata (كَلَّا, kallaa) membuka ayat ini dengan penolakan tegas. Yang ditolak tidak disebutkan, dan pembacanya menyimpulkan sendiri.
Yang paling masuk akal, yang ditolak adalah perselisihan mereka di 78:3. Letak kata itu tepat sesudahnya, dan tidak ada perkara lain di antaranya.
Kata (سَيَعْلَمُونَ, sa-ya'lamuun) didahului huruf yang menyatakan akan datang. Jadi pengetahuan itu dinyatakan pasti tiba, dan yang belum ada cuma waktunya.
Perhatikan bahwa yang dijanjikan bukan keterangan sekarang, melainkan pengetahuan nanti. Perselisihan mereka tidak diselesaikan dengan penjelasan, melainkan dengan kenyataan yang akan datang sendiri.
Susunan seperti itu memindahkan perkaranya. Yang tadinya soal pengetahuan berubah menjadi soal waktu. Bukan apakah mereka akan tahu, melainkan kapan.
Rangkaian (كَلَّا سَيَعْلَمُونَ, kallaa sa-ya'lamuun) cuma dua kata, sama seperti 78:1. Dua ayat terpendek di bagian pembuka ini, satu berupa pertanyaan dan satu berupa jawaban.
Kesejajaran itu membuat keduanya berhadapan. Pertanyaan dua kata dijawab (كَلَّا سَيَعْلَمُونَ, kallaa sa-ya'lamuun) yang juga dua kata, dan tidak ada satu keterangan pun di antaranya.
Ayat ini tidak menyebut apa yang akan mereka ketahui. Kekosongan itu sama dengan kekosongan di 78:2, yang juga tidak menyebut isi kabarnya.
Jadi tiga kekosongan bertumpuk di lima ayat pertama: siapa yang bertanya, apa kabarnya, dan apa yang akan mereka ketahui.
Perhatikan pula bahwa penolakan di ayat ini tidak disertai satu bantahan pun. Al-Qur'an tidak menyebut mengapa perselisihan mereka keliru.
Susunan itu jarang di dalam perdebatan. Sebuah pendapat yang salah biasanya dijawab dengan alasan; di sini ia dijawab dengan kepastian bahwa kenyataannya akan datang.
Cara seperti itu memindahkan bebannya. Yang harus membuktikan bukan yang menyampaikan, melainkan waktu yang akan berjalan sendiri.
Yang berselisih pun tidak diminta berhenti berselisih. Mereka cuma diberi tahu bahwa perselisihannya punya batas, dan batas itu bukan di tangan mereka.
Tafsiran
Ayat ini menjawab perselisihan mereka dengan penolakan dan janji bahwa mereka akan tahu. Kata terakhirnya muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an: 19:75, 54:26, 72:24, 78:4, dan 78:5, dan dua dari lima pemakaiannya ada di surah ini.
Di 54:26 kata itu dipakai untuk kaum Tsamud yang akan tahu siapa pendusta yang sombong, dan di 72:24 untuk orang yang akan tahu siapa yang lebih lemah penolongnya. Jadi di tiga tempat lain kata itu selalu berdiri sebagai jawaban atas keraguan.
Kata pertamanya membuka ayat dengan penolakan tegas, dan yang ditolak tidak disebutkan. Letaknya tepat sesudah 78:3, dan tidak ada perkara lain di antaranya.
Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan akan datang, sehingga pengetahuan itu dinyatakan pasti tiba dan yang belum ada cuma waktunya. Perselisihan mereka tidak diselesaikan dengan penjelasan, melainkan dengan kenyataan yang akan datang sendiri.
Ayat ini cuma dua kata, sama seperti 78:1, dan ia juga tidak menyebut apa yang akan mereka ketahui. Penolakan di ayat ini tidak disertai satu bantahan pun, karena Al-Qur'an tidak menyebut mengapa perselisihan mereka keliru. Cara itu memindahkan bebannya: yang harus membuktikan bukan yang menyampaikan, melainkan waktu yang akan berjalan sendiri.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an: 19:75, 54:26, 72:24, 78:4, dan 78:5. Di 54:26 Allah memakainya untuk kaum Tsamud yang akan tahu siapa pendusta yang sombong, dan di 72:24 untuk orang yang akan tahu siapa yang lebih lemah penolongnya. Jadi di tiga tempat lain kata itu selalu berdiri sebagai jawaban atas keraguan, dan di sini ia diulang dua kali berturut-turut. Sebuah kata yang selalu muncul sebagai jawaban atas keraguan sudah membawa muatannya sendiri. Sebuah kata yang selalu dipakai untuk satu maksud membawa maksud itu ke mana pun ia pergi.
- Kata pertamanya membuka ayat dengan penolakan tegas, dan Allah tidak menyebutkan apa yang ditolak. Pembacanya menyimpulkan sendiri, dan yang paling masuk akal adalah perselisihan mereka di 78:3. Letak kata itu tepat sesudahnya, dan tidak ada perkara lain di antaranya yang bisa menjadi sasarannya. Penolakan tanpa sebutan memaksa pembacanya menengok ke belakang untuk mencarinya. Menengok ke belakang untuk mencari yang ditolak adalah kerja yang diserahkan kepada pembacanya.
- Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan akan datang, sehingga pengetahuan itu dinyatakan Allah pasti tiba dan yang belum ada cuma waktunya. Perselisihan mereka tidak diselesaikan dengan penjelasan, melainkan dengan kenyataan yang akan datang sendiri. Susunan itu memindahkan perkaranya dari apakah menjadi kapan. Yang tinggal menunggu waktu tidak lagi bisa dibantah dengan alasan apa pun. Menunggu adalah satu-satunya sikap yang tersisa ketika bantahan sudah tidak berguna.
- Ayat ini cuma dua kata, sama seperti 78:1. Dua ayat terpendek di bagian pembuka ini berhadapan: satu berupa pertanyaan dan satu berupa jawaban. Allah menjawab pertanyaan dua kata dengan dua kata pula, dan tidak menyisipkan satu keterangan pun di antara keduanya. Panjang jawaban yang setara dengan panjang pertanyaannya membuat keduanya terbaca sepadan. Panjang yang sepadan membuat pertanyaan dan jawabannya terbaca berhadapan.
- Ayat ini tidak menyebut apa yang akan mereka ketahui, dan kekosongan itu sama dengan kekosongan di 78:2. Jadi tiga kekosongan bertumpuk di lima ayat pertama: siapa yang bertanya, apa kabarnya, dan apa yang akan mereka ketahui. Allah tidak mengisi satu pun di antaranya sepanjang surah ini. Tiga kekosongan yang bertumpuk di lima ayat menandai bahwa yang penting bukan isinya. Isi kabarnya tidak pernah dituliskan, dan surahnya tetap berjalan sampai selesai.
- Perselisihan yang dibuka di 78:1 sampai 78:3 tidak dijawab dengan bukti maupun bantahan di ayat ini. Apa yang dinyatakan sebuah jawaban ketika Allah menyerahkan penyelesaiannya kepada kenyataan yang akan datang, sehingga yang berselisih akan berhenti bukan karena diyakinkan, melainkan karena menyaksikan? Menyaksikan mengubah orang lebih dalam daripada diyakinkan, dan yang menyaksikan tidak bisa berdalih. Menyaksikan menutup perdebatan dengan cara yang tidak bisa dilakukan penjelasan mana pun.