وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

Dan Kami menjadikan siang untuk penghidupan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًاwa-ja'alnaa n-nahaara ma'aasyandan Kami menjadikan siang untuk penghidupan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَجَعَلْنَاwa-ja'alnaadan Kami menjadikan
  2. النَّهَارَn-nahaarasiang
  3. مَعَاشًاma'aasyanpenghidupan

Inti bacaan

Fungsi produktif siang: 'dan Kami menjadikan siang untuk penghidupan', kontras dengan malam yang menutupi, siang berfungsi sebagai waktu aktivitas dan pencarian nafkah, pembagian waktu yang terstruktur.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مَعَاشًا, ma'aasyan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 8 ayat: 7:10, 15:20, 20:124, 28:58, 43:32, 69:21, 78:11, dan 101:7.

Di 7:10 dan 15:20 akar (مَعَاشًا, ma'aasyan) dipakai untuk sarana penghidupan yang disediakan di bumi. Di 20:124 ia dipakai untuk kehidupan yang sempit bagi yang berpaling.

Di 69:21 dan 101:7 akar (مَعَاشًا, ma'aasyan) dipakai untuk kehidupan yang menyenangkan di akhirat. Jadi satu akar memuat penghidupan di dunia, kesempitan hidup, dan kesenangan di akhirat.

Tiga kedudukan itu berjauhan. Yang menyatukannya cuma akar (مَعَاشًا, ma'aasyan): hidup yang dijalani, entah lapang, entah sempit, entah di sana.

Kata (النَّهَارَ, an-nahaar) memakai kata sandang, sama seperti kata di 78:10. Dua ayat berdampingan memakai penakrifan yang sama untuk dua waktu yang berlawanan.

Perhatikan bahwa malam dan siang tidak disebut sebagai dua benda, melainkan sebagai dua kegunaan. Yang satu menutupi, dan yang lain menyediakan penghidupan.

Susunan itu ganjil kalau ditimbang biasa. Malam dan siang biasanya dijelaskan sebagai pergantian; di sini keduanya dijelaskan lewat apa yang bisa dikerjakan manusia di dalamnya.

Ayat ini berpasangan dengan 78:9, yang menyebut tidur sebagai waktu berhenti. Jadi berhenti dan bekerja disebut di dua ayat yang dipisahkan satu ayat.

Perhatikan pula bahwa ketiganya membentuk satu rangkaian: tidur, malam, siang. Yang di tengah adalah waktu, dan yang di dua ujung adalah keadaan manusia di dalamnya.

Susunan seperti itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga ayat berurutan menyusun satu putaran hari yang lengkap.

Kata (وَجَعَلْنَا, wa ja'alnaa) diulang untuk ketiga kalinya, sesudah 78:9 dan 78:10. Tiga ayat berturut-turut memakai kata kerja yang sama persis.

Ayat ini menutup tiga pemberian yang menyangkut waktu dan keadaan manusia. Sesudahnya, 78:12 berpindah ke langit, dan pandangannya naik ke atas.

Perhatikan pula bahwa tiga ayat ini tidak menyebut satu ukuran waktu pun. Tidak ada jam, tidak ada lama, dan tidak ada bilangan hari.

Ketiadaan ukuran itu berlaku di seluruh daftarnya. Sebelas pemberian disebut tanpa satu angka pun, kecuali tujuh langit di 78:12.

Jadi satu-satunya bilangan di seluruh daftar ini ada di ayat tentang langit. Yang paling jauh dari jangkauan justru yang diberi angka.

Al-Qur'an tidak menerangkan kekhususan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa apa yang bisa dihitung manusia dibiarkan tanpa hitungan, dan yang tidak terjangkau justru dihitungkan.

Perhatikan pula bahwa siang disebut sebagai waktu mencari penghidupan, bukan sebagai waktu terang. Yang ditonjolkan lagi-lagi apa yang bisa dikerjakan manusia di dalamnya, bukan sifat waktunya sendiri.

Tafsiran

Ayat ini menyebut siang yang dijadikan waktu penghidupan. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 8 ayat: 7:10, 15:20, 20:124, 28:58, 43:32, 69:21, 78:11, dan 101:7.

Di 7:10 dan 15:20 akar itu dipakai untuk sarana penghidupan yang disediakan di bumi, di 20:124 untuk kehidupan yang sempit bagi yang berpaling, dan di 69:21 serta 101:7 untuk kehidupan yang menyenangkan di akhirat. Jadi satu akar memuat tiga kedudukan yang berjauhan.

Kata keduanya memakai kata sandang, sama seperti kata di 78:10, sehingga dua ayat berdampingan memakai penakrifan yang sama untuk dua waktu yang berlawanan.

Malam dan siang tidak disebut sebagai dua benda, melainkan sebagai dua kegunaan: yang satu menutupi, dan yang lain menyediakan penghidupan.

Ayat ini juga berpasangan dengan 78:9, dan ketiganya menyusun satu putaran hari yang lengkap. Tiga ayat ini tidak menyebut satu ukuran waktu pun: tidak ada jam, lama, maupun bilangan hari. Ketiadaan ukuran itu berlaku di seluruh daftarnya kecuali di 78:12, sehingga satu-satunya bilangan justru ada di ayat tentang yang paling jauh dari jangkauan. Siang disebut sebagai waktu mencari penghidupan, bukan sebagai waktu terang, sehingga yang ditonjolkan apa yang bisa dikerjakan manusia di dalamnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai Allah di 8 ayat: 7:10, 15:20, 20:124, 28:58, 43:32, 69:21, 78:11, dan 101:7. Di 7:10 dan 15:20 akar itu dipakai untuk sarana penghidupan di bumi, di 20:124 untuk kehidupan yang sempit, dan di 69:21 serta 101:7 untuk kehidupan yang menyenangkan di akhirat.Satu akar yang memuat hidup lapang, hidup sempit, dan hidup di akhirat menyatakan bahwa ketiganya satu perjalanan. Yang membedakan cuma di bagian mana seseorang sedang berada. Satu perjalanan dengan tiga bagian tetap satu perjalanan.
  • Malam dan siang tidak disebut Allah sebagai dua benda, melainkan sebagai dua kegunaan: yang satu menutupi, dan yang lain menyediakan penghidupan. Susunan itu ganjil kalau ditimbang biasa, karena malam dan siang biasanya dijelaskan sebagai pergantian. Di sini keduanya dijelaskan lewat apa yang bisa dikerjakan manusia di dalamnya.Menyebut waktu lewat kegunaannya mengubah pergantian yang berulang menjadi pemberian yang perlu disyukuri. Yang berulang biasanya berhenti disadari. Kebiasaan menumpulkan perhatian, dan penyebutan mengasahnya kembali.
  • Ayat ini berpasangan dengan 78:9, yang menyebut tidur sebagai waktu berhenti, sehingga berhenti dan bekerja disebut Allah di dua ayat yang dipisahkan satu ayat. Susunan berpasangan seperti itu berulang di daftar surah ini, dan tidak satu pun ditandai dengan kata penghubung.Berhenti dan bekerja adalah dua sisi dari satu hidup, dan menghilangkan salah satunya merusak keduanya. Susunannya menaruh keduanya sederajat. Menghilangkan satu sisi merusak sisi yang lain juga.
  • Tiga ayat berurutan, yaitu 78:9, 78:10, dan 78:11, membentuk satu rangkaian: tidur, malam, siang. Yang di tengah adalah waktu, dan yang di dua ujung adalah keadaan manusia di dalamnya. Susunan itu tidak ditandai Allah, dan yang bisa dibaca cuma bahwa ketiganya menyusun satu putaran hari yang lengkap.Satu putaran hari yang lengkap disusun dari tiga ayat, dan tidak satu pun menyebut kata hari. Yang dilukiskan isinya, bukan namanya. Melukiskan isi lebih kuat daripada menyebut namanya.
  • Kata keduanya memakai kata sandang, sama seperti kata di 78:10, sehingga dua ayat berdampingan memakai penakrifan yang sama untuk dua waktu yang berlawanan. Allah tidak membedakan keduanya lewat cara menyebut, melainkan cuma lewat kegunaannya. Yang berlawanan diperlakukan setara di dalam susunannya.Memperlakukan dua hal yang berlawanan dengan cara yang sama menyatakan bahwa keduanya sama-sama diperlukan. Tidak ada yang lebih utama. Kesetaraan perlakuan menyatakan kesetaraan keperluan.
  • Ayat ini menutup tiga pemberian yang menyangkut waktu dan keadaan manusia, dan 78:12 berpindah ke langit. Apa yang dikerjakan sebuah daftar yang menaikkan pandangan bertahap, dari bumi di kaki, ke keadaan diri sendiri, lalu ke langit di atas kepala?Menaikkan pandangan bertahap menyiapkan pembacanya menerima yang lebih besar. Yang langsung disodorkan yang terbesar sering tidak tertangkap. Bertahap adalah cara mengajar yang menyesuaikan diri dengan yang diajar.