وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًا

Dan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَجَعَلْنَا سِرَاجًا وَهَّاجًاwa-ja'alnaa siraajan wahhaajandan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. وَجَعَلْنَاwa-ja'alnaadan Kami menjadikan
  2. سِرَاجًاsiraajanpelita
  3. وَهَّاجًاwahhaajanyang terang benderang

Inti bacaan

Sumber cahaya utama: 'dan Kami menjadikan pelita yang terang-benderang', rujukan pada matahari sebagai sumber energi dan cahaya, elemen esensial bagi kehidupan di bumi.

Penjelasan pilihan kata

Kata (سِرَاجًا, siraajan) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 25:61, 33:46, 71:16, dan 78:13. Akarnya cuma dipakai di 4 ayat itu, tidak lebih.

Di 33:46 kata (سِرَاجًا, siraajan) dipakai untuk seorang utusan yang disebut sebagai pelita yang menerangi. Di 25:61 dan 71:16 ia dipakai untuk matahari.

Jadi (سِرَاجًا, siraajan) yang cuma hidup di empat ayat memuat matahari dan seorang manusia. Yang menyatukan keduanya cuma satu tugas: menerangi yang di sekelilingnya.

Perbandingan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa sebutan yang dipakai untuk benda terbesar di langit juga dipakai untuk seorang yang berjalan di bumi.

Kata (وَهَّاجًا, wahhaajan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar tunggal pertama di surah ini.

Surah ini memuat tiga akar semacam (وَهَّاجًا, wahhaajan), yaitu di 78:13, 78:14, dan 78:34. Tiga akar yang tidak muncul di 6235 ayat lain berkumpul di satu surah.

Perhatikan bahwa dua di antaranya berdampingan, yaitu di 78:13 dan 78:14. Dua ayat berurutan sama-sama memuat kata yang akarnya tidak punya tempat lain.

Kata (وَهَّاجًا, wahhaajan) menyifati pelita itu sebagai yang menyala sangat panas. Jadi yang disebut bukan cuma terangnya, melainkan juga panasnya.

Perbedaan itu berakibat. Sebuah pelita yang cuma terang tidak menumbuhkan apa-apa; yang panas menumbuhkan. Ayat berikutnya menyebut air, dan sesudahnya tumbuhan.

Jadi tiga ayat berurutan menyusun satu rangkaian: panas, air, lalu yang tumbuh. Susunan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun.

Kata (وَجَعَلْنَا, wa ja'alnaa) diulang untuk keempat kalinya, sesudah 78:9, 78:10, dan 78:11. Empat ayat memakai kata kerja yang sama persis.

Ayat ini pemberian kedelapan di dalam daftarnya. Sesudah langit dibangun, yang disebut adalah apa yang ditaruh di dalamnya.

Perhatikan pula bahwa matahari tidak disebut namanya di ayat ini. Yang disebut cuma sifatnya, yaitu pelita yang menyala panas.

Cara itu berulang di daftarnya. Bumi disebut sebagai hamparan, gunung sebagai pasak, malam sebagai pakaian, dan matahari sebagai pelita.

Jadi hampir seluruh daftarnya menyebut benda lewat gunanya, bukan lewat namanya. Yang ditonjolkan apa yang dikerjakannya bagi manusia.

Susunan seperti itu mengubah cara pembacanya memandang. Yang biasanya dilihat sebagai benda kini terbaca sebagai pekerjaan yang sedang berlangsung.

Perhatikan pula bahwa pelita itu disebut sesudah langit dibangun. Yang menaunginya disebut lebih dulu, dan yang menerangi menyusul, sehingga urutannya mengikuti cara sebuah tempat disiapkan.

Tafsiran

Ayat ini menyebut pelita yang menyala panas. Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 25:61, 33:46, 71:16, dan 78:13, dan akarnya cuma dipakai di empat ayat itu.

Di 33:46 kata itu dipakai untuk seorang utusan yang disebut sebagai pelita yang menerangi, sedangkan di 25:61 dan 71:16 untuk matahari. Jadi satu kata yang cuma hidup di empat ayat memuat matahari dan seorang manusia, dan yang menyatukan keduanya cuma satu tugas: menerangi yang di sekelilingnya.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga ini akar tunggal pertama di surah ini. Surah ini memuat tiga akar semacam itu, yaitu di 78:13, 78:14, dan 78:34, dan dua di antaranya berdampingan.

Kata terakhirnya menyifati pelita itu sebagai yang menyala sangat panas, sehingga yang disebut bukan cuma terangnya melainkan juga panasnya.

Kata pertamanya diulang untuk keempat kalinya, sesudah 78:9, 78:10, dan 78:11. Matahari tidak disebut namanya di ayat ini; yang disebut cuma sifatnya. Cara itu berulang di daftarnya, karena bumi disebut sebagai hamparan, gunung sebagai pasak, dan malam sebagai pakaian, sehingga hampir seluruh daftarnya menyebut benda lewat gunanya. Pelita itu disebut sesudah langit dibangun, sehingga yang menaungi disebut lebih dulu dan yang menerangi menyusul.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 25:61, 33:46, 71:16, dan 78:13, dan akarnya cuma dipakai di empat ayat itu. Di 33:46 Allah memakainya untuk seorang utusan yang disebut sebagai pelita yang menerangi, dan di 25:61 serta 71:16 untuk matahari. Jadi satu kata memuat benda terbesar di langit dan seorang yang berjalan di bumi.Satu sebutan untuk matahari dan untuk seorang utusan menyamakan keduanya lewat tugasnya, bukan lewat besarnya. Menerangi bisa dikerjakan benda raksasa dan bisa dikerjakan seorang manusia. Tugas bisa menyamakan dua hal yang ukurannya tidak sebanding.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Ini akar tunggal pertama di surah ini, dan surah ini memuat tiga akar semacam itu, yaitu di 78:13, 78:14, dan 78:34. Dua di antaranya berdampingan, sehingga dua ayat berurutan sama-sama memuat kata yang akarnya tidak punya tempat lain.Akar tunggal pertama di surah ini muncul di ayat tentang benda yang paling terang, dan letak itu tidak diberi satu penanda pun. Letak sebuah kelangkaan sering sama berartinya dengan kelangkaannya sendiri.
  • Kata terakhirnya menyifati pelita itu sebagai yang menyala sangat panas, sehingga yang disebut Allah bukan cuma terangnya melainkan juga panasnya. Perbedaan itu berakibat: sebuah pelita yang cuma terang tidak menumbuhkan apa-apa, sedangkan yang panas menumbuhkan. Ayat berikutnya menyebut air, dan sesudahnya tumbuhan.Terang tanpa panas tidak menumbuhkan apa-apa, dan susunannya menyebut keduanya sekaligus dalam satu kata. Yang hemat ternyata yang paling lengkap. Satu kata yang memuat dua sifat menghemat satu ayat penuh.
  • Tiga ayat berurutan, yaitu 78:13, 78:14, dan 78:15, menyusun satu rangkaian: panas, air, lalu yang tumbuh. Susunan itu tidak ditandai Allah dengan satu kata penghubung pun. Yang bisa dibaca cuma urutannya sendiri, dan urutan itu menyusun sebab dan akibat tanpa menyebut satu pun di antaranya.Sebab dan akibat yang tidak diucapkan tetap terbaca oleh yang membaca berurutan. Membaca berurutan menghasilkan pemahaman yang tidak didapat dari membaca sepotong. Hubungan yang tidak diucapkan tetap sampai kepada yang membaca berurutan.
  • Kata pertamanya diulang untuk keempat kalinya, sesudah 78:9, 78:10, dan 78:11. Empat ayat memakai kata kerja yang sama persis, sehingga daftar Allah terbaca berirama. Keseragaman itu menahan sebelas pemberian tetap terbaca sebagai satu deretan, bukan sebagai sebelas hal yang terpisah.Keseragaman irama menahan sebelas hal yang berlainan tetap terasa sebagai satu pemberian yang panjang. Bunyi yang tetap menahan bacaan tetap mengalir sampai ujung daftarnya.
  • Ayat ini pemberian kedelapan di dalam daftarnya, dan sesudah langit dibangun di 78:12 yang disebut adalah apa yang ditaruh di dalamnya. Apa yang dikerjakan sebuah urutan ketika wadahnya disebut lebih dulu, lalu isinya menyusul, sehingga pembacanya membangun gambarannya bertahap dari luar ke dalam?Membangun gambaran dari luar ke dalam membuat pembacanya menyusun sendiri, dan yang disusun sendiri lebih lekat. Pembaca yang ikut menyusun tidak mudah melupakan apa yang disusunnya.