وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًا
Dan Kami menurunkan dari awan air yang tercurah deras,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرَاتِ مَاءً ثَجَّاجًاwa-anzalnaa mina l-mu'shiraati maa'an tsajjaajandan Kami menurunkan dari awan air yang tercurah deras
Terjemahan per kata (5 kata)
- وَأَنْزَلْنَاwa-anzalnaadan Kami menurunkan
- مِنَminadari
- الْمُعْصِرَاتِl-mu'shiraatiawan yang mengandung hujan
- مَاءًmaa'anair
- ثَجَّاجًاtsajjaajanyang tercurah deras
Inti bacaan
Siklus air yang vital: 'dan Kami menurunkan dari awan air yang tercurah deras', pengakuan mekanisme presipitasi sebagai bagian dari sistem yang mendukung kehidupan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (الْمُعْصِرَاتِ, al-mu'shiraat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 5 ayat: 2:266, 12:36, 12:49, 78:14, dan 103:1.
Di 12:36 dan 12:49 akar (الْمُعْصِرَاتِ, al-mu'shiraat) dipakai untuk memeras anggur dan untuk tahun ketika orang memeras. Di 103:1 ia dipakai untuk masa yang disumpahkan.
Jadi akar (الْمُعْصِرَاتِ, al-mu'shiraat) yang cuma hidup di lima ayat memuat memeras buah, tahun yang subur, dan waktu yang disumpahkan. Yang menyatukan ketiganya cuma gambaran sesuatu yang diperas sampai keluar isinya.
Bacaan itu menerangkan pilihannya di sini. Awan disebut (الْمُعْصِرَاتِ, al-mu'shiraat) yang berarti memeras, sehingga hujan terbaca seperti sesuatu yang diperas keluar.
Kata (ثَجَّاجًا, tsajjaajan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar tunggal kedua di surah ini, dan letaknya tepat sesudah yang pertama di 78:13.
Dua akar tunggal seperti (ثَجَّاجًا, tsajjaajan) yang berdampingan jarang terjadi. Dua ayat berurutan sama-sama memuat kata yang tidak punya banding di seluruh kitab.
Kata (ثَجَّاجًا, tsajjaajan) menyifati air itu sebagai yang tercurah deras. Jadi yang disebut bukan cuma turunnya, melainkan juga kadarnya.
Perhatikan bahwa (الْمُعْصِرَاتِ, al-mu'shiraat) dan (ثَجَّاجًا, tsajjaajan) sama-sama menyatakan kadar yang kuat: memeras dan mencurah. Susunannya melukiskan tenaga, bukan sekadar peristiwa.
Kata (مَاءً, maa-an) tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya. Cakupannya dibiarkan seluas mungkin, dan tidak ada satu batas pun yang mempersempitnya.
Kata (وَأَنْزَلْنَا, wa anzalnaa) berbentuk berorang pertama jamak, sama seperti kata kerja di ayat-ayat sebelumnya. Tetapi kata kerjanya sendiri berbeda dari empat ayat yang memakai kata kerja menjadikan.
Ayat ini pemberian kesembilan. Perhatikan bahwa ia berpasangan dengan 78:13: yang satu memberi panas, dan yang lain memberi air.
Dua pemberian yang berlawanan sifatnya itu disebut berurutan. Tanpa keduanya, dua ayat berikutnya tentang tumbuhan tidak akan berarti apa-apa.
Perhatikan pula bahwa air disebut sesudah panas, bukan sebelumnya. Urutan itu menyusun sebab dan akibat tanpa menyebut satu pun di antaranya.
Panas menguapkan, uap mengumpul, dan yang terkumpul diperas keluar. Al-Qur'an tidak menyebut satu tahap pun dari rangkaian itu.
Yang disebut cuma dua ujungnya: pelita yang panas dan air yang tercurah. Tengahnya dibiarkan kosong.
Kekosongan itu tidak mengurangi apa-apa. Yang tidak diurai tetap bekerja, dan pembacanya menerima hubungannya tanpa perlu diberi tahu.
Tafsiran
Ayat ini menyebut air yang diturunkan deras dari awan. Kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 5 ayat: 2:266, 12:36, 12:49, 78:14, dan 103:1.
Di 12:36 dan 12:49 akar itu dipakai untuk memeras anggur dan untuk tahun ketika orang memeras, dan di 103:1 untuk masa yang disumpahkan. Jadi satu akar yang cuma hidup di lima ayat memuat memeras buah, tahun yang subur, dan waktu yang disumpahkan. Di sini awan disebut dengan kata yang berarti memeras, sehingga hujan terbaca seperti sesuatu yang diperas keluar.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga ini akar tunggal kedua di surah ini dan letaknya tepat sesudah yang pertama di 78:13.
Kata terakhirnya menyifati air itu sebagai yang tercurah deras, sehingga dua kata penting di ayat ini sama-sama menyatakan kadar yang kuat.
Ayat ini juga berpasangan dengan 78:13: yang satu memberi panas, dan yang lain memberi air. Air disebut sesudah panas, bukan sebelumnya, sehingga urutannya menyusun sebab dan akibat tanpa menyebut satu pun di antaranya. Yang disebut cuma dua ujungnya, dan tengahnya dibiarkan kosong tanpa mengurangi apa-apa. Api dan air tidak bisa berdampingan, dan keduanya justru sama-sama diperlukan supaya sesuatu tumbuh.
Renungan dan Hikmah
- Kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai Allah di 5 ayat: 2:266, 12:36, 12:49, 78:14, dan 103:1. Di 12:36 dan 12:49 akar itu dipakai untuk memeras anggur dan untuk tahun ketika orang memeras, dan di 103:1 untuk masa yang disumpahkan. Jadi satu akar yang jarang memuat tiga hal yang berjauhan.Satu akar yang menyimpan gambaran memeras di tiga tempat berjauhan menandai bahwa gambaran itu memang inti artinya. Yang berubah cuma apa yang diperas. Inti sebuah akar bertahan walau bendanya berganti-ganti.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Ini akar tunggal kedua di surah ini, dan letaknya tepat sesudah yang pertama di 78:13. Dua akar tunggal yang berdampingan seperti itu jarang, dan dua ayat berurutan sama-sama memuat kata yang tidak punya banding di seluruh kitab.Dua kata tanpa banding di dua ayat berurutan menandai bagian yang memakai kosakata paling khas di surahnya. Kekhasan itu tidak pernah diumumkan. Kosakata yang khas menandai bagian yang memang berdiri sendiri.
- Awan disebut Allah dengan kata yang berarti memeras, sehingga hujan terbaca seperti sesuatu yang diperas keluar. Gambaran itu berbeda dari sekadar turun, karena memeras menuntut ada yang memerasnya. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan kata itu, dan pembacanya menerima gambarannya tanpa satu penjelasan.Sesuatu yang diperas menuntut ada tangan yang memerasnya, dan tangan itu tidak disebut. Kekosongan itu justru mengarahkan pembacanya kepada satu pelaku yang sama. Kekosongan bisa mengarahkan, bukan cuma menghilangkan.
- Kata terakhirnya menyifati air itu sebagai yang tercurah deras, sehingga dua kata penting di ayat ini sama-sama menyatakan kadar yang kuat: memeras dan mencurah. Susunan Allah melukiskan tenaga, bukan sekadar peristiwa. Yang dilukiskan bukan hujan yang jatuh, melainkan hujan yang dikeluarkan dengan kuat.Melukiskan tenaga berbeda dari melaporkan peristiwa. Yang pertama membuat pembacanya merasakan, dan yang kedua cuma membuatnya tahu. Merasakan bertahan lebih lama di ingatan daripada mengetahui.
- Ayat ini berpasangan dengan 78:13: yang satu memberi panas, dan yang lain memberi air. Dua pemberian yang berlawanan sifatnya itu disebut Allah berurutan, dan tanpa keduanya dua ayat berikutnya tentang tumbuhan tidak akan berarti apa-apa. Susunan berpasangan itu tidak ditandai satu kata penghubung.Panas dan air adalah dua hal yang saling meniadakan kalau bertemu langsung, dan keduanya justru diperlukan bersama untuk menumbuhkan. Dua hal yang berlawanan bisa saling memerlukan tanpa saling bertemu.
- Kata keempatnya tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya dan cakupannya dibiarkan seluas mungkin. Allah tidak memberi satu batas pun yang mempersempitnya. Apa yang bertambah pada sebuah pemberian ketika jenisnya disebut tanpa batas, sehingga setiap air yang pernah ditemui pembacanya masuk ke dalamnya?Sebuah pemberian yang tidak dibatasi jenisnya mencakup juga yang belum pernah terpikirkan penerimanya. Batas yang tidak dipasang tidak bisa dilampaui oleh apa pun.