لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًا

Agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لِنُخْرِجَ بِهِ حَبًّا وَنَبَاتًاli-nukhrija bihi habban wa-nabaatanagar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. لِنُخْرِجَli-nukhrijaagar Kami mengeluarkan
  2. بِهِbihidengannya
  3. حَبًّاhabbanbiji-bijian
  4. وَنَبَاتًاwa-nabaatandan tumbuhan

Inti bacaan

Tujuan langsung dari hujan: 'agar Kami menumbuhkan dengannya biji-bijian, tanam-tanaman', kaitan sebab-akibat antara air hujan dan pertumbuhan vegetasi, desain yang terhubung untuk mendukung rantai kehidupan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (حَبًّا, habban) dipakai juga di 6:99, 36:33, dan 80:27, dan tidak di tempat lain mana pun. Akarnya dipakai di 85 ayat, tetapi sebagian besar pemakaiannya menyangkut cinta, bukan biji.

Di 80:27 kata (حَبًّا, habban) juga disebut sesudah air yang diturunkan, sama seperti di sini. Dua surah bertetangga memakai urutan yang sama: air lebih dulu, lalu biji.

Kesejajaran itu bukan satu-satunya antara dua surah tersebut. Keduanya sama-sama memuat daftar pemberian yang berakhir pada tumbuhan, dan keduanya sama-sama berbicara tentang hari kiamat.

Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Yang bisa menemukannya cuma pembaca yang membaca keduanya berdampingan.

Kata (وَنَبَاتًا, wa nabaatan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 23 ayat, antara lain 3:37, 18:45, 26:7, dan 71:17.

Di 71:17 akar (وَنَبَاتًا, wa nabaatan) dipakai untuk manusia yang ditumbuhkan dari bumi. Jadi satu akar dipakai untuk tumbuhan dan untuk manusia.

Perbandingan itu patut dicatat. Manusia dan tumbuhan dinamai akar (وَنَبَاتًا, wa nabaatan) yang sama, dan yang menyatukannya cuma gambaran sesuatu yang keluar dari tanah.

Kata (لِنُخْرِجَ, li-nukhrija) memakai huruf yang menyatakan tujuan. Jadi air di 78:14 tidak diturunkan tanpa maksud, melainkan untuk sesuatu yang disebut di sini.

Susunan itu mengikat dua ayat menjadi satu. Yang satu menyebut sebab, dan yang lain menyebut tujuannya, dan keduanya tidak bisa dibaca terpisah.

Perhatikan bahwa ini satu-satunya tujuan yang disebut di seluruh daftar. Sepuluh pemberian lain disebut tanpa satu kata pun tentang maksudnya.

Kekhususan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dari sebelas pemberian, cuma satu yang diberi keterangan tujuan.

Ayat ini pemberian kesepuluh. Sesudahnya cuma tersisa satu pemberian lagi, dan daftarnya ditutup di 78:16.

Perhatikan pula bahwa ini satu-satunya ayat di daftarnya yang menyebut untuk apa sesuatu diberikan. Sepuluh pemberian lain disebut tanpa satu kata pun tentang maksudnya.

Kekhususan itu berdampingan dengan kekhususan lain di 78:12, yang satu-satunya memuat bilangan. Jadi dua ayat di daftar ini punya sesuatu yang tidak dimiliki sembilan lainnya.

Al-Qur'an tidak menandai satu pun dari dua kekhususan itu. Yang bisa menemukannya cuma pembaca yang memeriksa seluruh daftarnya.

Susunan seperti itu menuntut dibaca utuh. Sebuah kekhususan cuma terlihat kalau yang biasa sudah dikenali lebih dulu.

Perhatikan pula bahwa yang dikeluarkan disebut dua macam: biji dan tumbuhan. Yang satu bisa disimpan dan ditanam lagi, dan yang lain habis dipakai, sehingga keduanya tidak sejenis walau berdampingan.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan tujuan turunnya hujan bagi pertumbuhan tanaman. Ayat ini menyebut biji dan tumbuhan yang dikeluarkan dengan air itu. Kata ketiganya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 6:99, 36:33, 78:15, dan 80:27, dan akarnya dipakai di 85 ayat.

Di 80:27 kata itu juga disebut sesudah air yang diturunkan, sama seperti di sini, sehingga dua surah bertetangga memakai urutan yang sama: air lebih dulu, lalu biji. Kesejajaran itu bukan satu-satunya, karena keduanya sama-sama memuat daftar pemberian yang berakhir pada tumbuhan.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 23 ayat, antara lain 3:37, 18:45, 26:7, dan 71:17. Di 71:17 akar itu dipakai untuk manusia yang ditumbuhkan dari bumi, sehingga satu akar dipakai untuk tumbuhan dan untuk manusia.

Kata pertamanya memakai huruf yang menyatakan tujuan, sehingga air di 78:14 tidak diturunkan tanpa maksud. Ini satu-satunya tujuan yang disebut di seluruh daftar, karena sepuluh pemberian lain disebut tanpa satu kata pun tentang maksudnya. Ini satu-satunya ayat di daftarnya yang menyebut untuk apa sesuatu diberikan, dan kekhususan itu berdampingan dengan kekhususan di 78:12 yang satu-satunya memuat bilangan. Jadi dua ayat di daftar ini punya sesuatu yang tidak dimiliki sembilan lainnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata ketiganya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 6:99, 36:33, 78:15, dan 80:27. Di 80:27 Allah juga menyebutnya sesudah air yang diturunkan, sama seperti di sini. Dua surah bertetangga memakai urutan yang sama, yaitu air lebih dulu lalu biji, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.Dua surah bertetangga yang memakai urutan yang sama menandai satu pola yang tidak pernah diumumkan. Urutan mushaf sendiri menaruh keduanya berdekatan. Letak dua surah yang berdekatan bukan hal yang bisa diabaikan.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 23 ayat, antara lain 3:37, 18:45, 26:7, dan 71:17. Di 71:17 akar itu dipakai untuk manusia yang ditumbuhkan dari bumi. Jadi satu akar dipakai untuk tumbuhan dan untuk manusia, dan yang menyatukannya cuma gambaran sesuatu yang keluar dari tanah.Manusia dan tumbuhan dinamai satu akar, dan keduanya sama-sama keluar dari tanah lalu kembali ke sana. Kesamaan itu tidak pernah diucapkan. Asal dan akhir yang sama menyamakan dua hal yang tampak berjauhan.
  • Kata pertamanya memakai huruf yang menyatakan tujuan, sehingga air di 78:14 tidak diturunkan Allah tanpa maksud. Ini satu-satunya tujuan yang disebut di seluruh daftar, karena sepuluh pemberian lain disebut tanpa satu kata pun tentang maksudnya. Kekhususan itu tidak diterangkan di mana pun.Maksud yang disebutkan itu berdiri sendirian di tengah sepuluh pemberian lain yang tidak diberi keterangan. Kekhususan cuma terlihat kalau yang biasa sudah dikenali. Menemukan pengecualian menuntut hafal lebih dulu apa yang lazim.
  • Susunan itu mengikat dua ayat menjadi satu: yang satu menyebut sebab, dan yang lain menyebut tujuannya. Allah menyusun keduanya sehingga tidak bisa dibaca terpisah, dan membaca satu di antaranya sendirian meninggalkan pembacanya dengan potongan yang tidak lengkap.Sebab dan tujuan yang dipisah dua ayat menuntut keduanya dibaca sekaligus. Memisahkannya menghilangkan salah satu ujung. Dua ujung yang dipisah tetap satu kalimat, betapapun jauh jaraknya.
  • Akar kata ketiganya dipakai Allah di 85 ayat, tetapi sebagian besar pemakaiannya menyangkut cinta dan bukan biji. Jadi bunyi yang sama dipakai untuk yang menumbuhkan tubuh dan untuk yang menggerakkan hati. Al-Qur'an tidak pernah menghubungkan keduanya, dan pembacanya yang menemukan kesamaan itu sendiri.Bunyi yang sama untuk biji dan untuk cinta dibiarkan berdampingan, dan bahasa menyimpan hubungan yang tidak pernah diucapkan. Akar kata sering lebih tua daripada pemakaian yang kita kenal sekarang.
  • Apa yang dinyatakan sebuah daftar ketika Allah menyebut maksud cuma satu kali dari sebelas pemberian? Sepuluh yang lain berdiri tanpa keterangan, dan pembacanya diminta menyimpulkan sendiri untuk apa semuanya, sedangkan yang satu ini diberi tahu terang-terangan.Menyimpulkan sendiri untuk apa sepuluh pemberian lain diberikan adalah kerja yang memang diserahkan kepada pembacanya. Menyimpulkan sendiri membuat kesimpulannya jadi milik yang menyimpulkan.