إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًا

Sesungguhnya hari Keputusan itu adalah waktu yang ditetapkan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّ يَوْمَ الْفَصْلِ كَانَ مِيقَاتًاinna yawma l-fashli kaana miiqaatansesungguhnya hari Keputusan itu adalah waktu yang ditetapkan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. يَوْمَyawmahari
  3. الْفَصْلِl-fashlikeputusan
  4. كَانَkaanaadalah
  5. مِيقَاتًاmiiqaatanwaktu yang ditentukan

Inti bacaan

Kepastian waktu hari Keputusan: 'sesungguhnya hari Keputusan itu adalah waktu yang ditetapkan', transisi dari bukti-bukti alam menuju penegasan tentang kepastian momen pertanggungjawaban, waktu yang telah ditentukan bukan spekulasi.

Penjelasan pilihan kata

Rangkaian (يَوْمَ الْفَصْلِ, yauma al-fashl) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 44:40 dan 78:17. Di 44:40 rangkaian itu juga dipakai sebagai nama hari yang dijanjikan.

Jadi dua tempat memakai nama yang sama untuk hari yang sama. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Akar (الْفَصْلِ, al-fashl) dipakai di 42 ayat, antara lain 6:57, 7:52, 32:25, 42:21, dan 60:3. Arti dasarnya memisahkan, sehingga hari itu dinamai lewat pekerjaan memisahkan.

Perhatikan bahwa nama itu menjawab perselisihan di 78:3. Yang berselisih dipisahkan pada hari yang dinamai pemisahan.

Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah yang dibuka perselisihan menyebut hari itu dengan nama yang berarti memisahkan.

Kata (مِيقَاتًا, miiqaatan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 13 ayat, antara lain 2:189, 7:142, 7:143, dan 56:50.

Di 56:50 akar (مِيقَاتًا, miiqaatan) dipakai untuk waktu yang sudah ditentukan bagi hari yang dikenal. Jadi akar itu menamai waktu yang sudah dipatok, bukan waktu yang mengambang.

Bacaan itu menjawab pertanyaan yang tersirat di 78:1. Yang saling ditanyakan mereka ternyata punya waktu yang sudah ditetapkan.

Kata (كَانَ, kaana) berbentuk lampau, sedangkan hari itu belum tiba. Bentuk lampau untuk yang belum terjadi menyatakan kepastian, bukan waktu.

Kata (إِنَّ, inna) memuat huruf penegas. Jadi ayat ini bukan keterangan biasa, melainkan pernyataan yang menutup kemungkinan bantahan.

Ayat ini membuka bagian ketiga surahnya, sesudah lima ayat pembuka dan sebelas ayat daftar. Sesudahnya empat belas ayat berjalan tentang hari itu.

Perhatikan bahwa peralihan dari daftar ke hari kiamat terjadi tanpa satu kalimat penghubung. Kebun yang rimbun di 78:16 langsung disusul hari pemisahan di sini.

Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang memisahkan. Yang disebut cuma harinya, dan pekerjaannya melekat pada nama hari itu.

Cara seperti itu berulang di seluruh bagian ini. Empat ayat berturut-turut sesudahnya juga menyebut peristiwa tanpa menyebut pelakunya.

Perhatikan pula bahwa hari itu dinamai lewat pekerjaannya, bukan lewat rasanya. Tidak ada kata takut, tidak ada kata dahsyat, dan tidak ada satu pun kata yang melukiskan perasaan.

Pilihan itu berakibat. Sebuah hari yang dinamai lewat perasaan bisa ditawar oleh orang yang merasa berani; sebuah hari yang dinamai lewat pekerjaan tidak bisa ditawar sama sekali.

Perhatikan pula bahwa ayat ini menjawab tanpa terdengar menjawab. Surah ini dibuka dengan pertanyaan di 78:1 sampai 78:3, lalu berhenti bertanya sejak 78:6.

Sesudah sebelas ayat daftar, jawabannya datang di sini. Yang ditanyakan mereka ternyata punya nama dan punya waktu, dan keduanya disebut dalam satu ayat pendek.

Tafsiran

Ayat ini beralih menegaskan kepastian hari Keputusan sebagai jawaban atas berita besar yang diperselisihkan. Ayat ini berpindah ke hari pemisahan yang waktunya sudah ditetapkan. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 44:40 dan 78:17, dan di 44:40 rangkaian itu juga dipakai sebagai nama hari yang dijanjikan.

Akar kata keduanya dipakai di 42 ayat, antara lain 6:57, 7:52, 32:25, 42:21, dan 60:3, dan arti dasarnya memisahkan. Jadi hari itu dinamai lewat pekerjaan memisahkan, dan nama itu menjawab perselisihan yang dibuka di 78:3.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 13 ayat, antara lain 2:189, 7:142, 7:143, dan 56:50. Di 56:50 akar itu dipakai untuk waktu yang sudah ditentukan, sehingga ia menamai waktu yang dipatok dan bukan yang mengambang.

Kata ketiganya berbentuk lampau, sedangkan hari itu belum tiba, sehingga bentuk lampau untuk yang belum terjadi menyatakan kepastian.

Ayat ini membuka bagian ketiga surahnya, dan peralihan dari daftar ke hari kiamat terjadi tanpa satu kalimat penghubung. Ayat ini tidak menyebut siapa yang memisahkan; yang disebut cuma harinya, dan pekerjaannya melekat pada nama hari itu. Hari itu juga dinamai lewat pekerjaannya dan bukan lewat rasanya, sehingga tidak ada kata takut maupun kata dahsyat di dalamnya. Sebuah hari yang dinamai lewat perasaan bisa ditawar oleh orang yang merasa berani, sedangkan hari yang dinamai lewat pekerjaan tidak bisa ditawar sama sekali. Ayat ini juga menjawab tanpa terdengar menjawab, karena surah ini berhenti bertanya sejak 78:6 dan jawabannya baru datang di sini sesudah sebelas ayat daftar.

Renungan dan Hikmah

  • Akar kata keduanya dipakai Allah di 42 ayat, antara lain 6:57, 7:52, 32:25, 42:21, dan 60:3, dan arti dasarnya memisahkan. Jadi hari itu dinamai lewat pekerjaan memisahkan, dan nama itu menjawab perselisihan yang dibuka di 78:3. Yang berselisih dipisahkan pada hari yang dinamai pemisahan, dan Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu dengan satu kalimat pun. Nama yang diambil dari pekerjaan menutup jalan untuk menawarnya. Yang bisa ditawar adalah perasaan, sedangkan pekerjaan yang sudah dijadwalkan berjalan tanpa menunggu persetujuan siapa pun.
  • Rangkaian dua kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 44:40 dan 78:17. Di 44:40 Allah juga memakainya sebagai nama hari yang dijanjikan, sehingga dua tempat memakai nama yang sama untuk hari yang sama. Sebuah nama yang cuma dipakai dua kali lebih mudah diingat daripada nama yang dipakai puluhan kali. Sebuah nama yang cuma muncul dua kali menuntut pembacanya mengingat keduanya sekaligus. Yang jarang justru lebih menuntut perhatian daripada yang sering terdengar, karena tidak ada kesempatan kedua untuk membiasakan diri dengannya.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 13 ayat, antara lain 2:189, 7:142, 7:143, dan 56:50. Di 56:50 akar itu dipakai untuk waktu yang sudah ditentukan bagi hari yang dikenal, sehingga ia menamai waktu yang dipatok dan bukan yang mengambang. Bacaan itu menjawab pertanyaan yang tersirat di 78:1. Waktu yang sudah dipatok berbeda jauh dari waktu yang cuma diperkirakan. Yang dipatok tidak bergeser oleh alasan apa pun, termasuk oleh yang tidak mempercayainya.
  • Kata ketiganya berbentuk lampau, sedangkan hari itu belum tiba. Bentuk lampau untuk yang belum terjadi menyatakan kepastian, bukan waktu. Allah menyampaikan kepastian itu lewat bentuk kata saja, dan kata penegas di awal ayatnya menutup kemungkinan bantahan sebelum bantahannya sempat diajukan. Kepastian yang disampaikan lewat bentuk kata tidak menuntut satu kalimat penjelas pun. Cara itu bekerja diam-diam, dan yang menangkapnya adalah yang membaca dengan teliti.
  • Ayat ini membuka bagian ketiga surahnya, sesudah lima ayat pembuka dan sebelas ayat daftar. Peralihan dari daftar ke hari kiamat terjadi tanpa satu kalimat penghubung, sehingga kebun yang rimbun di 78:16 langsung disusul hari pemisahan di sini. Allah tidak memberi satu kata pun untuk menyiapkan pembacanya. Perpindahan yang mendadak menuntut pembacanya sadar bahwa bagian barunya sudah dimulai. Tanpa penanda apa pun, yang membedakan cuma isinya sendiri.
  • Surah ini dibuka dengan orang-orang yang berselisih, dan di sini Allah menamai harinya dengan kata yang berarti memisahkan. Apa yang tersisa dari sebuah perselisihan ketika harinya sendiri dinamai hari pemisahan, sehingga yang menyelesaikannya bukan siapa yang paling kuat berdalil? Perselisihan yang panjang bisa selesai bukan karena salah satu pihak menyerah. Ia selesai karena datang hari yang memang bertugas memisahkan.