يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًا

Pada hari sangkakala ditiup, lalu kalian datang berbondong-bondong,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ فَتَأْتُونَ أَفْوَاجًاyawma yunfakhu fii sh-shuuri fa-ta'tuuna afwaajanpada hari sangkakala ditiup, lalu kalian datang berbondong-bondong

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. يَوْمَyawmahari
  2. يُنْفَخُyunfakhuditiup
  3. فِيfiipada
  4. الصُّورِsh-shuurisangkakala
  5. فَتَأْتُونَfa-ta'tuunamaka kalian datang
  6. أَفْوَاجًاafwaajanberbondong-bondong

Inti bacaan

Momen pengumpulan massal: 'pada hari sangkakala ditiup, lalu kalian datang berbondong-bondong', gambaran skala besar peristiwa yang melibatkan seluruh manusia secara bersamaan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (يُنْفَخُ, yunfakhu) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 6:73, 20:102, 27:87, dan 78:18. Akarnya dipakai di 18 ayat.

Kata (الصُّورِ, ash-shuur) muncul 10 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 18:99, 23:101, 36:51, 39:68, dan 69:13. Akarnya dipakai di 17 ayat.

Perhatikan bahwa 6:73, 20:102, dan 27:87 memuat (الصُّورِ, ash-shuur) bersama kata kerja yang sama, sama seperti ayat ini. Jadi empat tempat memakai pasangan yang sama persis.

Kesejajaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu peristiwa dilukiskan dengan pasangan kata yang sama di empat surah berbeda.

Bentuk (يُنْفَخُ, yunfakhu) tidak menyebut siapa yang meniup. Susunan seperti itu membiarkan pelakunya tidak dinamai, dan Al-Qur'an tidak melengkapinya di surah ini.

Kata (أَفْوَاجًا, afwaajan) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 78:18 dan 110:2. Akarnya cuma dipakai di 5 ayat.

Di 110:2 kata (أَفْوَاجًا, afwaajan) dipakai untuk manusia yang masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong. Jadi satu kata memuat orang yang datang beriman dan orang yang datang dihadapkan.

Perbandingan itu tajam. Yang satu berbondong menuju, dan yang lain berbondong digiring. Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya.

Kata (فَتَأْتُونَ, fa ta-tuuna) memakai bentuk berorang kedua jamak. Jadi yang datang itu adalah yang disapa, bukan pihak ketiga.

Sapaan itu melanjutkan sapaan di daftar sebelumnya. Yang tadinya diberi bumi, tidur, dan langit di sini disebut datang berbondong-bondong.

Ayat ini menyebut waktu bagi 78:17, dan keduanya terikat. Yang satu menyebut hari, dan yang lain menyebut apa yang terjadi pada hari itu.

Perhatikan bahwa tiupan disebut lebih dulu daripada kedatangan. Sebab dan akibat disusun berurutan tanpa satu kata penghubung di antaranya.

Perhatikan pula bahwa tiupan itu disebut sebagai penanda waktu, bukan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Ayat sebelumnya menyebut hari, dan ayat ini menyebut apa yang menandai hari itu.

Susunan seperti itu memaksa dua ayat dibaca sebagai satu tarikan. Memenggalnya di antara keduanya membuat tiupan itu kehilangan tempatnya.

Perhatikan pula bahwa yang disapa berubah di tengah ayat. Bagian awalnya bercerita tentang sesuatu yang ditiup, lalu bagian akhirnya langsung menyebut "kalian".

Perpindahan ke (فَتَأْتُونَ, fa ta-tuuna) tidak diberi kata penghubung apa pun. Pembacanya sedang menonton dari jauh, lalu tiba-tiba berdiri di dalam kejadiannya.

Perhatikan pula bahwa yang datang berbondong-bondong tidak dilukiskan wajahnya. Tidak ada kata sedih, tidak ada kata gentar, dan tidak ada satu pun keterangan tentang keadaan mereka.

Yang disebut cuma jumlahnya yang berkelompok-kelompok. Kekosongan keterangan itu membiarkan pembacanya mengisi sendiri apa yang terasa di barisan itu.

Tafsiran

Ayat ini menyebut tiupan sangkakala dan kedatangan berbondong-bondong. Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 6:73, 20:102, 27:87, dan 78:18, sedangkan kata keempatnya muncul 10 kali.

Perhatikan bahwa 6:73, 20:102, dan 27:87 memuat kedua kata itu sekaligus, sama seperti ayat ini. Jadi empat tempat memakai pasangan yang sama persis, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.

Bentuk kata keduanya tidak menyebut siapa yang meniup, sehingga pelakunya dibiarkan tidak dinamai dan tidak dilengkapi di surah ini.

Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 78:18 dan 110:2, dan akarnya cuma dipakai di 5 ayat. Di 110:2 kata itu dipakai untuk manusia yang masuk ke dalam agama Allah berbondong-bondong, sehingga satu kata memuat orang yang datang beriman dan orang yang datang dihadapkan.

Kata kelimanya memakai bentuk berorang kedua jamak, sehingga yang datang itu adalah yang disapa. Tiupan itu disebut sebagai penanda waktu dan bukan sebagai peristiwa yang berdiri sendiri, sehingga 78:17 dan ayat ini harus dibaca sebagai satu tarikan. Yang disapa juga berubah di tengah ayat tanpa satu kata penghubung, karena bagian awalnya bercerita dari jauh lalu bagian akhirnya langsung menyebut kalian. Yang datang berbondong-bondong tidak dilukiskan wajahnya, dan yang disebut cuma bahwa mereka datang berkelompok-kelompok.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 6:73, 20:102, 27:87, dan 78:18, dan tiga tempat pertama memuat pasangan kata yang sama persis dengan ayat ini. Jadi satu peristiwa dilukiskan Allah dengan pasangan yang sama di empat surah berbeda. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu, dan pembacanya yang harus mengumpulkannya. Satu pasangan kata yang dipakai di empat tempat berbeda memudahkan pembacanya mengenali peristiwa yang sama. Pengulangan seperti itu bekerja seperti tanda yang dipasang di beberapa jalan menuju satu tempat yang sama.
  • Bentuk kata keduanya tidak menyebut siapa yang meniup, sehingga susunannya membiarkan pelakunya tidak dinamai Allah. Cara itu berulang di banyak ayat tentang hari kiamat, dan yang disorot selalu peristiwanya. Pembacanya tidak diberi satu nama pun untuk dipegang, dan yang tersisa cuma suaranya. Bentuk yang tidak menyebut pelakunya memindahkan perhatian ke peristiwanya. Yang penting bukan siapa yang meniup, melainkan bahwa tiupannya pasti terjadi.
  • Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 78:18 dan 110:2, dan akarnya cuma dipakai Allah di 5 ayat. Di 110:2 kata itu dipakai untuk manusia yang masuk ke dalam agama-Nya berbondong-bondong. Jadi satu kata memuat orang yang berbondong menuju dan orang yang berbondong digiring, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Satu kata yang memuat orang yang datang beriman dan orang yang datang dihadapkan menyimpan dua keadaan yang berjauhan. Berbondong-bondong bisa berarti berlomba, dan bisa berarti digiring.
  • Kata kelimanya memakai bentuk berorang kedua jamak, sehingga yang datang itu adalah yang disapa dan bukan pihak ketiga. Sapaan itu melanjutkan sapaan di daftar sebelumnya, sehingga yang tadinya diberi bumi, tidur, dan langit di sini disebut Allah datang berbondong-bondong. Penerima pemberian dan yang dihadapkan ternyata orang yang sama. Sapaan berorang kedua menghapus jarak antara pembaca dan kejadiannya. Yang tadinya menonton mendadak berdiri di dalam barisan itu.
  • Tiupan disebut lebih dulu daripada kedatangan, sehingga sebab dan akibat disusun Allah berurutan tanpa satu kata penghubung di antaranya. Susunan seperti itu berulang di surah ini, dan pembacanya menerima hubungannya tanpa perlu diberi tahu. Yang tidak diucapkan tetap sampai. Peristiwa yang disebut sebagai penanda waktu tidak berdiri sendiri. Ia terikat kepada hari yang sudah disebut di ayat sebelumnya, dan memenggalnya menghilangkan tempatnya.
  • Ayat ini menyebut waktu bagi 78:17, dan keduanya terikat: yang satu menyebut hari, dan yang lain menyebut apa yang terjadi pada hari itu. Apa yang dikerjakan sebuah susunan ketika nama hari diberikan lebih dulu, lalu isinya menyusul, sehingga pembacanya sudah tahu namanya sebelum tahu apa yang terjadi di dalamnya? Keterangan yang sengaja dikosongkan mengundang pembacanya mengisi sendiri. Yang tidak dilukiskan sering tinggal lebih lama daripada yang dilukiskan lengkap.