وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًا
Dan langit dibuka, maka jadilah beberapa pintu,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَفُتِحَتِ السَّمَاءُ فَكَانَتْ أَبْوَابًاwa-futihati s-samaa'u fa-kaanat abwaabandan langit dibuka, maka jadilah beberapa pintu
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَفُتِحَتِwa-futihatidan dibukakan
- السَّمَاءُs-samaa'ulangit
- فَكَانَتْfa-kaanatmaka jadilah ia
- أَبْوَابًاabwaabanpintu-pintu
Inti bacaan
Transformasi struktur langit: 'dan langit dibuka, maka jadilah beberapa pintu', perubahan fungsi langit dari penghalang menjadi akses terbuka, bagian dari perubahan kosmik menyeluruh.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَفُتِحَتِ, wa futihat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 33 ayat, antara lain 7:96, 15:14, 21:96, dan 54:11.
Di 54:11 akar (وَفُتِحَتِ, wa futihat) dipakai untuk pintu langit yang dibuka dengan air yang tercurah pada zaman Nuh. Jadi akar itu pernah dipakai untuk langit yang terbuka membawa air.
Bandingkan dengan ayat ini. Di sini langit terbuka bukan membawa air, melainkan menjadi pintu-pintu itu sendiri.
Perbedaan itu tajam. Yang di 54:11 langit punya pintu yang dibuka; yang di sini langit berubah menjadi pintu seluruhnya.
Kata (أَبْوَابًا, abwaaban) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 43:34 dan 78:19. Akarnya dipakai di 24 ayat.
Di 43:34 kata (أَبْوَابًا, abwaaban) dipakai untuk pintu-pintu rumah yang diberikan kepada orang yang ingkar sebagai kesenangan dunia. Jadi satu kata memuat pintu rumah di dunia dan langit yang menjadi pintu pada hari itu.
Bentuk (وَفُتِحَتِ, wa futihat) tidak menyebut siapa yang membuka. Susunan itu sama dengan bentuk di 78:18, yang juga tidak menyebut pelakunya.
Dua ayat berurutan memakai bentuk yang sama dengan (وَفُتِحَتِ, wa futihat). Yang meniup dan yang membuka sama-sama tidak dinamai.
Kata (فَكَانَتْ, fa kaanat) menyatakan perubahan yang sudah selesai. Jadi langit tidak dilukiskan sedang berubah, melainkan sudah menjadi.
Bentuk (فَكَانَتْ, fa kaanat) diulang di 78:20 dengan kata yang sama persis. Dua ayat berurutan sama-sama menyebut sesuatu yang sudah berubah menjadi hal lain.
Ayat ini pasangan bagi 78:20. Yang satu tentang langit, dan yang lain tentang gunung, dan keduanya memakai susunan yang sama persis.
Perhatikan bahwa keduanya menyebut benda yang di 78:7 dan 78:12 disebut sebagai pemberian. Gunung yang dijadikan pasak dan langit yang dibangun kukuh di sini berubah bentuk.
Perhatikan pula bahwa langit disebut terbuka, bukan pecah. Yang dipilih gambaran pintu, dan pintu adalah benda yang memang dibuat untuk dilewati.
Pilihan itu berakibat. Sesuatu yang pecah terdengar rusak; sesuatu yang terbuka terdengar sedang dipakai sebagaimana mestinya.
Perhatikan pula bahwa langit di ayat ini adalah langit yang sama dengan di 78:12. Di sana ia dibangun kokoh, dan di sini ia menjadi pintu-pintu.
Dua ayat itu berjarak tujuh ayat, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Yang bisa dibaca cuma bahwa yang tadinya disebut kuat kini disebut terbuka.
Perhatikan pula bahwa bentuk kata (وَفُتِحَتِ, wa futihat) tidak menyebut siapa yang membuka. Sama seperti tiupan di 78:18, pekerjaannya disebut dan pelakunya tidak.
Ketiadaan pelaku itu berulang empat kali beruntun di 78:18 sampai 78:21. Yang berubah cuma bendanya, dan tangan yang bekerja tetap tidak dinamai.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan gambaran kehancuran kosmis dengan terbukanya langit. Ayat ini melukiskan langit yang terbuka menjadi pintu-pintu. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 33 ayat, antara lain 7:96, 15:14, 21:96, dan 54:11.
Di 54:11 akar itu dipakai untuk pintu langit yang dibuka dengan air yang tercurah pada zaman Nuh. Bedanya, di sana langit punya pintu yang dibuka, sedangkan di sini langit berubah menjadi pintu seluruhnya.
Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 43:34 dan 78:19, dan akarnya dipakai di 24 ayat. Di 43:34 kata itu dipakai untuk pintu-pintu rumah yang diberikan kepada orang yang ingkar sebagai kesenangan dunia.
Bentuk kata pertamanya tidak menyebut siapa yang membuka, sama seperti bentuk di 78:18 yang juga tidak menyebut pelakunya.
Kata keduanya menyatakan perubahan yang sudah selesai, dan bentuk itu diulang di 78:20 dengan kata yang sama persis. Keduanya juga menyebut benda yang di 78:7 dan 78:12 disebut sebagai pemberian. Langit disebut terbuka dan bukan pecah, sehingga yang dipilih gambaran pintu, yaitu benda yang memang dibuat untuk dilewati. Langit ini juga langit yang sama dengan di 78:12, yang di sana disebut dibangun kokoh dan di sini disebut menjadi pintu-pintu, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Bentuknya tidak menyebut siapa yang membuka, dan ketiadaan pelaku itu berulang empat kali beruntun di 78:18 sampai 78:21.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 33 ayat, antara lain 7:96, 15:14, 21:96, dan 54:11. Di 54:11 akar itu dipakai untuk pintu langit yang dibuka dengan air yang tercurah pada zaman Nuh. Di sana langit punya pintu yang dibuka, dan di sini langit berubah menjadi pintu seluruhnya. Langit yang tadinya disebut kokoh kini disebut terbuka lebar. Perubahan sebesar itu disampaikan dengan dua kata saja, tanpa satu kalimat peringatan dan tanpa satu keterangan tentang bagaimana ia terjadi.
- Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 43:34 dan 78:19, dan akarnya dipakai Allah di 24 ayat. Di 43:34 kata itu dipakai untuk pintu-pintu rumah yang diberikan kepada orang yang ingkar sebagai kesenangan dunia. Jadi satu kata memuat pintu rumah di dunia dan langit yang menjadi pintu pada hari itu. Gambaran pintu menyimpan sesuatu yang tidak disimpan gambaran pecah. Pintu dibuat untuk dilewati, sehingga terbukanya bukan kerusakan melainkan pemakaian yang memang sudah direncanakan sejak ia dipasang.
- Bentuk kata pertamanya tidak menyebut siapa yang membuka, sama seperti bentuk di 78:18 yang juga tidak menyebut pelakunya. Dua ayat berurutan memakai bentuk yang sama, sehingga yang meniup dan yang membuka sama-sama tidak dinamai Allah. Yang disorot peristiwanya, bukan tangannya. Bentuk yang tidak menyebut pelakunya sudah dipakai di ayat sebelumnya. Dua ayat beruntun menyebut pekerjaan besar tanpa menamai satu tangan pun, sehingga perhatian pembacanya tertahan pada peristiwanya sendiri.
- Kata keduanya menyatakan perubahan yang sudah selesai, sehingga langit tidak dilukiskan sedang berubah melainkan sudah menjadi. Bentuk itu diulang Allah di 78:20 dengan kata yang sama persis, sehingga dua ayat berurutan sama-sama menyebut sesuatu yang sudah berubah menjadi hal lain. Sebuah kata yang cuma dipakai dua kali menandai betapa jarang gambaran itu muncul. Kejarangan itu sendiri sudah menjadi penanda bagi yang membaca berulang, karena kata yang hampir tidak pernah muncul lebih mudah dikenali kembali.
- Ayat ini pasangan bagi 78:20: yang satu tentang langit, dan yang lain tentang gunung, dan keduanya memakai susunan yang sama persis. Susunan berpasangan seperti itu berulang di surah ini, dan Allah tidak menandai satu pun dengan kata penghubung. Kerangka kalimat yang sama di dua ayat berurutan mengikat keduanya jadi satu pasangan. Yang berbeda cuma bendanya, dan susunannya tidak bergeser sedikit pun, sehingga dua peristiwa besar itu terdengar seperti satu tarikan napas.
- Langit dan gunung di dua ayat ini adalah benda yang di 78:7 dan 78:12 disebut Allah sebagai pemberian. Gunung yang dijadikan pasak dan langit yang dibangun kukuh di sini berubah bentuk. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika yang tadi disebut sebagai jaminan kekukuhan justru yang pertama dilukiskan runtuh? Sesuatu yang paling dipercaya kekokohannya justru yang disebut pertama kali berubah. Urutan itu memilih contoh yang paling sulit dibantah, karena membantahnya berarti membantah benda yang selama ini dijadikan ukuran kekokohan.