وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًا

Dan gunung-gunung dijalankan, maka jadilah fatamorgana.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَسُيِّرَتِ الْجِبَالُ فَكَانَتْ سَرَابًاwa-suyyirati l-jibaalu fa-kaanat saraabandan gunung-gunung dijalankan, maka jadilah fatamorgana

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. وَسُيِّرَتِwa-suyyiratidan dijalankan
  2. الْجِبَالُl-jibaalugunung-gunung
  3. فَكَانَتْfa-kaanatmaka jadilah ia
  4. سَرَابًاsaraabanfatamorgana

Inti bacaan

Ilusi optik pada gunung yang bergerak: 'dan gunung-gunung dijalankan, maka jadilah fatamorgana', deskripsi transformasi visual yang dramatis, benda paling stabil berubah menjadi ilusi yang tidak nyata.

Penjelasan pilihan kata

Kata (وَسُيِّرَتِ, wa suyyirat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 25 ayat, antara lain 3:137, 12:10, 18:47, dan 27:69.

Di 18:47 akar (وَسُيِّرَتِ, wa suyyirat) juga dipakai untuk gunung yang dijalankan pada hari kiamat. Jadi dua tempat memakai akar yang sama untuk gambaran yang sama.

Di 12:10 dan 27:69 akar (وَسُيِّرَتِ, wa suyyirat) dipakai untuk manusia yang berjalan di bumi. Jadi satu akar memuat manusia yang berjalan dan gunung yang dijalankan.

Perbandingan itu tajam. Yang biasanya berjalan adalah yang kecil, dan yang biasanya diam adalah yang besar. Di sini kebalikannya.

Kata (سَرَابًا, saraaban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 4 ayat: 13:10, 18:61, 24:39, dan 78:20.

Di 24:39 akar (سَرَابًا, saraaban) dipakai untuk amal orang yang ingkar, yang disamakan dengan fatamorgana di padang. Jadi akar itu pernah dipakai untuk sesuatu yang terlihat ada tetapi tidak ada.

Bandingkan dengan ayat ini. Di sini gunung yang benar-benar ada berubah menjadi yang terlihat ada tetapi tidak ada.

Al-Qur'an tidak menyandingkan dua tempat itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa amal yang sia-sia dan gunung pada hari itu dinamai dengan akar yang sama.

Kata (الْجِبَالُ, al-jibaal) di sini bertakrif, sedangkan di 78:7 ia disebut sebagai pasak. Benda yang sama disebut dua kali di satu surah dengan dua keadaan yang berlawanan.

Perbandingan itu patut dicatat. Yang di awal disebut menahan bumi di sini berubah menjadi bayangan yang tidak menahan apa pun.

Kata (فَكَانَتْ, fa kaanat) diulang dari 78:19, sehingga dua ayat berurutan memakai kata yang sama persis. Keduanya menyebut perubahan yang sudah selesai.

Ayat ini menutup dua ayat tentang perubahan alam. Sesudahnya, 78:21 berpindah kepada tempat yang menanti, dan peralihan itu terjadi tanpa satu kalimat penghubung.

Perhatikan pula bahwa gunung di ayat ini adalah gunung yang sama dengan di 78:7. Di sana ia disebut pasak yang memancangkan bumi, dan di sini ia berjalan lalu menjadi bayangan air.

Jarak keduanya tiga belas ayat, dan Al-Qur'an tidak menandai hubungan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa benda yang paling melambangkan tetap justru yang dilukiskan berjalan.

Perhatikan pula bahwa yang tersisa dari gunung bukan puing, melainkan penglihatan yang keliru. Ayat ini tidak menyebut hancur, dan tidak menyebut runtuh.

Pilihan itu tajam. Puing masih bisa disentuh, sedangkan bayangan air di padang pasir tidak ada sama sekali ketika didekati.

Perhatikan pula bahwa dua ayat berurutan memakai kerangka kalimat yang sama persis. Langit dibuka lalu menjadi sesuatu, dan gunung dijalankan lalu menjadi sesuatu.

Pengulangan (فَكَانَتْ, fa kaanat) membuat keduanya terbaca sebagai satu pasangan. Yang paling tinggi dan yang paling berat disebut berubah dengan susunan kata yang tidak berbeda sedikit pun.

Tafsiran

Ayat ini menutup gambaran kehancuran kosmis dengan gunung-gunung yang lenyap bagai fatamorgana. Ayat ini melukiskan gunung yang dijalankan sehingga menjadi fatamorgana. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 25 ayat, antara lain 3:137, 12:10, 18:47, dan 27:69.

Di 18:47 akar itu juga dipakai untuk gunung yang dijalankan pada hari kiamat, sedangkan di 12:10 dan 27:69 untuk manusia yang berjalan di bumi. Jadi satu akar memuat manusia yang berjalan dan gunung yang dijalankan.

Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 4 ayat: 13:10, 18:61, 24:39, dan 78:20. Di 24:39 akar itu dipakai untuk amal orang yang ingkar, yang disamakan dengan fatamorgana di padang, sehingga ia menamai sesuatu yang terlihat ada tetapi tidak ada.

Kata keduanya di sini bertakrif, sedangkan di 78:7 ia disebut sebagai pasak, sehingga benda yang sama disebut dua kali di satu surah dengan dua keadaan yang berlawanan.

Kata ketiganya diulang dari 78:19, sehingga dua ayat berurutan memakai kata yang sama persis. Gunung di ayat ini adalah gunung yang sama dengan di 78:7, yang di sana disebut pasak yang memancangkan bumi dan di sini dilukiskan berjalan lalu menjadi bayangan air. Yang tersisa darinya bukan puing melainkan penglihatan yang keliru, karena puing masih bisa disentuh sedangkan bayangan air tidak ada sama sekali ketika didekati. Dua ayat berurutan ini memakai kerangka kalimat yang sama persis, sehingga yang paling tinggi dan yang paling berat disebut berubah dengan susunan yang tidak berbeda sedikit pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 25 ayat, antara lain 3:137, 12:10, 18:47, dan 27:69. Di 18:47 akar itu juga dipakai untuk gunung yang dijalankan pada hari kiamat, dan di 12:10 serta 27:69 untuk manusia yang berjalan. Jadi satu akar memuat yang kecil yang berjalan dan yang besar yang dijalankan, dan di sini kebalikan dari kebiasaan. Gunung yang tadinya disebut pasak kini disebut berjalan. Dua penyebutan itu berjarak tiga belas ayat di dalam satu surah yang sama, dan tidak ada satu kalimat pun yang mengingatkan pembacanya akan yang pertama.
  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai Allah di 4 ayat: 13:10, 18:61, 24:39, dan 78:20. Di 24:39 akar itu dipakai untuk amal orang yang ingkar, yang disamakan dengan fatamorgana. Jadi amal yang sia-sia dan gunung pada hari itu dinamai dengan akar yang sama, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Bayangan air di padang pasir bukan benda yang rusak, melainkan benda yang tidak pernah ada. Yang hilang bukan bentuknya saja, melainkan seluruh kenyataannya, sehingga tidak ada sisa apa pun yang bisa dijadikan bukti bahwa ia pernah ada.
  • Akar kata terakhirnya menamai sesuatu yang terlihat ada tetapi tidak ada. Di sini gunung yang benar-benar ada berubah menjadi yang cuma terlihat ada. Allah tidak menerangkan perubahan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa yang paling padat pun bisa berpindah ke sisi yang lain. Akar yang dipakai untuk manusia yang berjalan di bumi dipakai di sini untuk gunung. Pemakaian yang sama untuk dua hal yang berjauhan menyimpan hubungan yang tidak diucapkan, dan bahasa menahannya jauh lebih lama daripada ingatan siapa pun.
  • Kata keduanya di sini bertakrif, sedangkan di 78:7 ia disebut sebagai pasak. Benda yang sama disebut Allah dua kali di satu surah dengan dua keadaan yang berlawanan. Yang di awal disebut menahan bumi di sini berubah menjadi bayangan yang tidak menahan apa pun. Bentuk yang tidak menyebut pelakunya berulang untuk ketiga kalinya di bagian ini. Pengulangan sebanyak itu tidak mungkin kebetulan bagi yang membaca berurutan, karena empat ayat beruntun sama-sama menahan nama pelakunya.
  • Kata ketiganya diulang dari 78:19, sehingga dua ayat berurutan memakai kata yang sama persis. Keduanya menyebut perubahan yang sudah selesai, bukan yang sedang berlangsung. Allah tidak melukiskan prosesnya, dan pembacanya langsung dihadapkan pada hasilnya. Benda yang paling melambangkan tetap dipilih untuk melukiskan yang paling berubah. Gunung adalah benda yang paling sering dipakai orang untuk menamai apa yang tidak bergerak, sehingga membantah ayat ini berarti membantah ukuran kekokohan yang dipegang sendiri.
  • Ayat ini menutup dua ayat tentang perubahan alam, dan 78:21 berpindah kepada tempat yang menanti tanpa satu kalimat penghubung. Apa yang tersisa bagi seseorang ketika dua benda yang paling dipercaya kekukuhannya, yaitu langit dan gunung, justru yang pertama dilukiskan berubah bentuk? Penglihatan yang keliru menuntut ada yang melihat. Gambaran itu menaruh pembacanya sebagai saksi, bukan sebagai pendengar cerita, sehingga yang keliru melihat bukan orang lain melainkan dirinya sendiri.