إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًا
Sesungguhnya Jahanam itu adalah tempat mengintai,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ جَهَنَّمَ كَانَتْ مِرْصَادًاinna jahannama kaanat mirshaadansesungguhnya Jahanam itu adalah tempat mengintai
Terjemahan per kata (4 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- جَهَنَّمَjahannamaJahanam
- كَانَتْkaanatadalah
- مِرْصَادًاmirshaadantempat mengintai
Inti bacaan
Fungsi pengawasan Jahanam: 'sesungguhnya Jahanam itu adalah tempat mengintai', personifikasi yang menggambarkan kesiapan aktif menunggu kedatangan penghuninya, bukan tempat pasif tanpa tujuan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مِرْصَادًا, mirshaadan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 6 ayat: 9:5, 9:107, 72:9, 72:27, 78:21, dan 89:14.
Di 72:9 dan 72:27 akar (مِرْصَادًا, mirshaadan) dipakai untuk penjagaan yang mengintai, yaitu penjaga yang ditempatkan untuk mengawasi. Di 89:14 ia dipakai untuk Tuhan yang benar-benar mengawasi.
Jadi akar (مِرْصَادًا, mirshaadan) menamai pengawasan yang tidak lengah. Di sini ia dipakai untuk tempat yang menunggu, bukan untuk yang mengawasi.
Perpindahan itu patut dicatat. Yang di tempat lain berupa penjaga di sini berupa tempat, dan tempat itu dilukiskan seperti sesuatu yang mengintai.
Kata (جَهَنَّمَ, jahannama) berdiri sebagai pokok kalimatnya. Ini penyebutan pertamanya di surah ini, dan sesudahnya ia tidak disebut lagi dengan nama itu.
Kata (كَانَتْ, kaanat) berbentuk lampau, sedangkan yang dilukiskan belum terjadi. Bentuk itu sama dengan bentuk di 78:17, yang juga memakai lampau untuk yang akan datang.
Dua ayat itu berjarak empat ayat, dan keduanya sama-sama dibuka huruf penegas. Susunannya sejajar, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu.
Kata (إِنَّ, inna) memuat huruf penegas, sama seperti di 78:17 dan 78:31. Tiga kali di surah ini sebuah pernyataan besar dibuka dengan penegasan yang sama.
Ketiga tempat itu menyebut tiga hal: hari pemisahan, tempat bagi yang melampaui batas, dan kemenangan bagi yang bertakwa. Jadi tiga pernyataan pokok surah ini sama-sama ditegaskan.
Perhatikan bahwa ayat ini melukiskan tempat sebagai yang menunggu, bukan sebagai yang disiapkan. Yang menunggu bergerak lebih dulu; yang disiapkan cuma menerima.
Perbedaan itu berakibat. Sebuah tempat yang mengintai terbaca sebagai yang aktif, dan yang menujunya bukan satu-satunya pihak yang bergerak.
Ayat ini membuka enam ayat tentang tempat itu, yang berjalan sampai 78:26. Enam ayat itu seluruhnya tentang satu golongan, dan golongan lain baru disebut di 78:31.
Perhatikan pula bahwa (كَانَتْ, kaanat) berbentuk lampau untuk sesuatu yang belum dijumpai pembacanya. Cara yang sama sudah dipakai di 78:17, dan dipakai lagi di 78:19 serta 78:20.
Pengulangan itu mengerjakan satu hal. Seluruh bagian ini bercerita tentang yang akan datang seolah-olah sudah selesai terjadi.
Perhatikan pula bahwa tempat itu disebut sebagai yang menunggu, bukan sebagai yang disiapkan. Yang menunggu bergerak lebih dulu, sedangkan yang disiapkan cuma menerima kedatangan.
Perbedaan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa pilihan katanya menaruh gerakan pertama bukan pada manusia yang menuju ke sana.
Perhatikan pula bahwa ayat ini memutus daftar peristiwa yang sedang berjalan. Tiga ayat sebelumnya melukiskan langit dan gunung, lalu ayat ini berpindah ke tempat.
Peralihan itu ditandai (إِنَّ, inna) di awalnya. Satu-satunya penanda peralihan di bagian ini adalah penegasan, bukan kata penghubung.
Tafsiran
Ayat ini menyebut Jahanam sebagai tempat yang menunggu. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 6 ayat: 9:5, 9:107, 72:9, 72:27, 78:21, dan 89:14.
Di 72:9 dan 72:27 akar itu dipakai untuk penjagaan yang mengintai, dan di 89:14 untuk Tuhan yang benar-benar mengawasi. Jadi akar itu menamai pengawasan yang tidak lengah, sedangkan di sini ia dipakai untuk tempat yang menunggu.
Kata ketiganya berbentuk lampau, sedangkan yang dilukiskan belum terjadi, dan bentuk itu sama dengan bentuk di 78:17. Dua ayat itu berjarak empat ayat, dan keduanya sama-sama dibuka huruf penegas.
Kata pertamanya memuat huruf penegas, sama seperti di 78:17 dan 78:31, sehingga tiga kali di surah ini sebuah pernyataan besar dibuka dengan penegasan yang sama.
Ayat ini juga melukiskan tempat sebagai yang menunggu, bukan sebagai yang disiapkan. Ayat ini memakai bentuk lampau untuk sesuatu yang belum dijumpai pembacanya, sama seperti 78:17, 78:19, dan 78:20, sehingga seluruh bagian ini bercerita tentang yang akan datang seolah-olah sudah selesai. Tempat itu disebut sebagai yang menunggu dan bukan sebagai yang disiapkan, sehingga gerakan pertamanya tidak ditaruh pada manusia yang menuju ke sana. Ayat ini juga memutus daftar peristiwa yang sedang berjalan, dan satu-satunya penanda peralihannya adalah kata penegas di awalnya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai Allah di 6 ayat: 9:5, 9:107, 72:9, 72:27, 78:21, dan 89:14. Di 72:9 dan 72:27 akar itu dipakai untuk penjagaan yang mengintai, dan di 89:14 untuk Tuhan yang benar-benar mengawasi. Di sini yang di tempat lain berupa penjaga justru berupa tempat. Tempat yang mengintai terbaca sebagai yang bergerak lebih dulu. Yang menuju ke sana bukan satu-satunya pihak yang bergerak di dalam gambaran itu, dan itu membalik bayangan biasa tentang tempat yang cuma diam menanti.
- Kata ketiganya berbentuk lampau, sedangkan yang dilukiskan belum terjadi. Bentuk itu sama dengan bentuk di 78:17, yang juga memakai lampau untuk yang akan datang. Dua ayat itu berjarak empat ayat, dan keduanya sama-sama dibuka huruf penegas, sehingga susunannya sejajar tanpa satu penanda pun. Akar yang cuma hidup di sedikit ayat menandai pilihan kata yang tidak biasa. Kejarangan itu membuat gambarannya tidak tertukar dengan gambaran lain, karena tidak ada pemakaian lain yang cukup sering untuk menutupinya.
- Kata pertamanya memuat huruf penegas, sama seperti di 78:17 dan 78:31. Tiga kali di surah ini Allah membuka pernyataan besar dengan penegasan yang sama, dan ketiganya menyebut hari pemisahan, tempat bagi yang melampaui batas, dan kemenangan bagi yang bertakwa. Tanpa penegas itu ketiganya masih terbaca sebagai keterangan yang boleh ditawar. Bentuk lampau untuk yang belum dijumpai sudah dipakai berulang di bagian ini. Yang diulang sebanyak itu menjadi cara bercerita, bukan kebetulan tata bahasa, dan yang belum tiba pun terdengar seperti sudah selesai dibukukan.
- Ayat ini melukiskan tempat sebagai yang menunggu, bukan sebagai yang disiapkan. Yang menunggu bergerak lebih dulu, sedangkan yang disiapkan cuma menerima. Sebuah tempat yang mengintai terbaca sebagai yang aktif, sehingga yang menujunya bukan satu-satunya pihak yang bergerak. Satu kata penegas cukup untuk menandai bahwa bagian barunya sudah dimulai. Tanpa kata penghubung, penanda peralihannya cuma penegasan itu sendiri, sehingga pembacanya harus mengenali sendiri bahwa pokok pembicaraannya berganti.
- Kata keduanya berdiri sebagai pokok kalimatnya, dan ini penyebutan pertamanya di surah ini. Sesudah ayat ini Allah tidak menyebutnya lagi dengan nama itu, sehingga satu nama cukup dipakai sekali untuk enam ayat yang menyusul. Pembacanya harus membawanya sendiri sampai ke ujung bagiannya. Tiga penegasan di satu surah menandai tiga hal yang paling ingin ditanamkan. Yang ditegaskan berulang adalah yang paling mudah diragukan, dan penegasan dipasang justru di tempat bantahan paling sering datang.
- Ayat ini membuka enam ayat tentang tempat itu, yang berjalan sampai 78:26, dan golongan lain baru disebut Allah di 78:31. Apa yang dinyatakan sebuah susunan yang memberi enam ayat untuk satu golongan lalu enam ayat untuk golongan lain, sehingga keduanya diberi ruang yang setara? Nama tempat itu disebut di sini untuk pertama kalinya di dalam surahnya. Penyebutan pertama selalu menentukan bagaimana penyebutan berikutnya dibaca, karena kesan awal ikut terbawa setiap kali namanya muncul lagi.