لِلطَّاغِينَ مَآبًا
Bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai tempat kembali,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لِلطَّاغِينَ مَآبًاli-th-thaaghiina ma'aabanbagi orang-orang yang melampaui batas sebagai tempat kembali
Terjemahan per kata (2 kata)
- لِلطَّاغِينَli-th-thaaghiinabagi orang-orang yang melampaui batas
- مَآبًاma'aabantempat kembali
Inti bacaan
Target spesifik penghuni: 'bagi orang-orang yang melampaui batas sebagai tempat kembali', identifikasi jelas kategori yang dituju, konsekuensi yang terkait langsung dengan perilaku melampaui batas.
Penjelasan pilihan kata
Kata (لِلطَّاغِينَ, li-th-thaaghiin) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 38:55 dan 78:22. Akarnya dipakai di 39 ayat.
Di 38:55 kata (لِلطَّاغِينَ, li-th-thaaghiin) juga dipakai untuk golongan yang mendapat tempat kembali yang buruk. Jadi dua tempat memakai kata yang sama untuk golongan yang sama dan akibat yang sama.
Kesejajaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa (لِلطَّاغِينَ, li-th-thaaghiin) yang cuma hidup di dua ayat sama-sama disusul penyebutan tempat kembali.
Akar (لِلطَّاغِينَ, li-th-thaaghiin) juga dipakai di 79:17 dan 79:37, yaitu di surah tetangganya. Di sana ia menamai Firaun dan golongan pada hari kiamat.
Jadi tiga surah yang berdekatan memakai akar (لِلطَّاغِينَ, li-th-thaaghiin) untuk sikap yang sama. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun.
Kata (مَآبًا, ma-aaban) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 78:22 dan 78:39. Kedua-duanya di surah ini, dan tidak di surah lain mana pun.
Perhatikan apa yang dikerjakan pengulangan itu. Di sini (مَآبًا, ma-aaban) menyebut tempat kembali bagi yang melampaui batas. Di 78:39 ia menyebut jalan kembali kepada Tuhan bagi yang mau.
Jadi (مَآبًا, ma-aaban) yang cuma hidup di dua tempat memuat kembali yang ditakuti dan kembali yang diinginkan. Yang membedakan bukan katanya, melainkan ke mana ia menuju.
Akar (مَآبًا, ma-aaban) dipakai di 17 ayat, antara lain 3:14, 13:29, 38:25, dan 40:3. Jadi tempat kembali salah satu pokok yang berulang.
Rangkaian (لِلطَّاغِينَ مَآبًا, li-th-thaaghiina ma-aaban) tidak memuat satu kata kerja pun. Kata kerjanya masih yang di 78:21, dan dua ayat itu terikat kepada satu perbuatan.
Ikatan itu berulang di surah ini, dan beberapa ayatnya memang tidak bisa berdiri sendiri. Pembacanya harus membawa kata kerjanya dari ayat sebelumnya.
Perhatikan bahwa golongan itu disebut tanpa nama dan tanpa jumlah. Yang disebut cuma sifatnya, dan sifat itu bisa dimiliki siapa saja.
Perhatikan pula bahwa (لِلطَّاغِينَ, li-th-thaaghiin) berdiri di ayat yang terlalu pendek untuk sendirian. Dua kata saja, dan keduanya bergantung penuh kepada ayat sebelumnya.
Susunan seperti itu memaksa 78:21 dan 78:22 dibaca sekaligus. Membaca ayat ini terpisah membuatnya kehilangan pokok kalimatnya.
Perhatikan pula bahwa yang disebut di sini bukan nama orang, bukan suku, dan bukan golongan. Yang disebut cuma sikap, yaitu melampaui batas.
Pilihan itu membuat ayatnya terbuka. Siapa pun yang berbuat begitu masuk ke dalamnya, dan tidak seorang pun bisa merasa aman karena bukan bagian dari kelompok tertentu.
Perhatikan pula bahwa surah ini menyebut (مَآبًا, ma-aaban) dua kali dengan bunyi yang sama persis. Yang pertama di sini, dan yang kedua di 78:39.
Jarak keduanya tujuh belas ayat, dan Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu kata dipakai untuk dua tujuan yang berlawanan di dalam satu surah.
Tafsiran
Ayat ini menyebut tempat kembali bagi yang melampaui batas. Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 38:55 dan 78:22, dan akarnya dipakai di 39 ayat.
Di 38:55 kata itu juga dipakai untuk golongan yang mendapat tempat kembali yang buruk, sehingga dua tempat memakai kata yang sama untuk golongan dan akibat yang sama. Akarnya juga dipakai di 79:17 dan 79:37, yaitu di surah tetangganya, sehingga tiga surah berdekatan memakai akar yang sama untuk sikap yang sama.
Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 78:22 dan 78:39, dan kedua-duanya di surah ini. Di sini kata itu menyebut tempat kembali bagi yang melampaui batas, dan di 78:39 jalan kembali kepada Tuhan bagi yang mau. Jadi satu kata memuat kembali yang ditakuti dan kembali yang diinginkan.
Ayat ini tidak memuat satu kata kerja pun, karena kata kerjanya masih yang di 78:21.
Golongan itu juga disebut tanpa nama dan tanpa jumlah. Ayat ini terlalu pendek untuk berdiri sendiri, karena dua katanya bergantung penuh kepada ayat sebelumnya dan kehilangan pokok kalimatnya kalau dipisah. Yang disebut di sini bukan nama orang, suku, maupun golongan, melainkan sikap melampaui batas, sehingga tidak seorang pun bisa merasa aman karena bukan bagian dari kelompok tertentu. Surah ini juga menyebut tempat kembali dua kali dengan kata yang sama, di sini dan di 78:39, dan dua tujuan yang berlawanan itu dinamai satu kata.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 38:55 dan 78:22. Di 38:55 Allah juga memakainya untuk golongan yang mendapat tempat kembali yang buruk, sehingga dua tempat memakai kata yang sama untuk golongan dan akibat yang sama. Kesejajaran itu tidak ditandai, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya sama-sama disusul penyebutan tempat kembali. Ayat sependek ini tidak bisa berdiri sendiri. Dua katanya menggantung pada ayat sebelumnya, dan memisahkannya menghilangkan pokok kalimatnya sekaligus membuat ayatnya terdengar seperti potongan.
- Akar kata pertamanya juga dipakai Allah di 79:17 dan 79:37, yaitu di surah tetangganya, dan di sana ia menamai Firaun dan golongan pada hari kiamat. Jadi tiga surah yang berdekatan memakai akar yang sama untuk sikap yang sama. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun. Yang disebut sikap, bukan nama kelompok. Cara itu membuat ayatnya terbuka bagi siapa pun, dan menutup jalan untuk merasa aman karena keanggotaan, sebab yang diperiksa perbuatan dan bukan nama.
- Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 78:22 dan 78:39, dan kedua-duanya di surah ini. Di sini kata itu menyebut tempat kembali bagi yang melampaui batas, dan di 78:39 jalan kembali kepada Allah bagi yang mau. Jadi satu kata memuat kembali yang ditakuti dan kembali yang diinginkan, dan yang membedakan bukan katanya melainkan arahnya. Satu kata yang memuat kembali yang ditakuti dan kembali yang diinginkan menyimpan dua arah di satu bunyi. Arah mana yang berlaku ditentukan oleh siapa yang kembali, dan katanya sendiri tidak memihak salah satu di antara keduanya.
- Ayat ini tidak memuat satu kata kerja pun, karena kata kerjanya masih yang di 78:21 dan dua ayat itu terikat kepada satu perbuatan. Ikatan seperti itu berulang di surah ini, dan beberapa ayatnya memang tidak bisa berdiri sendiri. Pembacanya harus membawa kata kerjanya dari ayat sebelumnya. Dua penyebutan yang berjarak tujuh belas ayat menuntut pembacanya mengingat yang pertama sampai yang kedua datang. Ikatan sejauh itu cuma terbaca kalau surahnya dibaca utuh.
- Golongan itu disebut Allah tanpa nama dan tanpa jumlah, dan yang disebut cuma sifatnya. Sifat itu bisa dimiliki siapa saja, sehingga tidak seorang pun bisa memastikan bahwa dirinya berada di luar jangkauannya. Yang tidak dinamai tidak bisa ditunjuk kepada orang lain. Tiga surah yang berdekatan memakai akar yang sama untuk sikap yang sama. Kesamaan itu tidak ditandai satu kalimat pun, dan cuma terlihat kalau ketiganya dibaca berurutan.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 17 ayat, antara lain 3:14, 13:29, 38:25, dan 40:3, sehingga tempat kembali salah satu pokok yang berulang. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika dua tujuan yang paling berlawanan dinamai dengan satu kata, dan yang membedakan keduanya cuma ke arah mana seseorang melangkah? Kembali selalu berarti pulang ke tempat asal. Menamai tempat itu sebagai tempat kembali menyatakan bahwa yang tiba di sana tidak sedang tersesat.