لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا
Mereka tinggal di dalamnya dalam masa yang lama,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًاlaabitsiina fiihaa ahqaabanmereka tinggal di dalamnya dalam masa yang lama
Terjemahan per kata (3 kata)
- لَابِثِينَlaabitsiinaorang-orang yang tinggal
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- أَحْقَابًاahqaabanberabad-abad
Inti bacaan
Durasi yang panjang tanpa kepastian akhir: 'mereka tinggal di dalamnya dalam masa yang lama', penegasan bahwa konsekuensi ini bukan hukuman sesaat, melainkan periode yang berkepanjangan. Tak terlihat fajar, tak terdengar pergantian, dan tak seorang pun menghitung sisa harinya.
Penjelasan pilihan kata
Kata (لَابِثِينَ, laabitsiin) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 27 ayat, antara lain 2:259, 10:45, 20:40, 46:35, dan 79:46.
Di 79:46 akar (لَابِثِينَ, laabitsiin) dipakai untuk orang yang merasa cuma tinggal sebentar di dunia. Jadi akar itu di surah tetangganya menamai masa yang terasa pendek.
Bandingkan dengan ayat ini. Di sini akar (لَابِثِينَ, laabitsiin) menamai masa yang panjang. Satu akar memuat waktu yang terasa sekejap dan waktu yang berkepanjangan.
Perbandingan itu tajam karena dua surah bertetangga memakainya untuk dua ujung yang berlawanan. Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya.
Kata (أَحْقَابًا, ahqaaban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat: 18:60 dan 78:23.
Di 18:60 akar (أَحْقَابًا, ahqaaban) dipakai untuk Musa yang menyatakan akan terus berjalan walau harus bertahun-tahun. Jadi akar itu di sana menamai kesungguhan menempuh perjalanan panjang.
Bandingkan dengan ayat ini. Di sini akar (أَحْقَابًا, ahqaaban) menamai masa tinggal yang panjang di tempat yang tidak diinginkan.
Jadi akar (أَحْقَابًا, ahqaaban) yang cuma hidup di dua ayat memuat perjalanan yang dipilih dan tinggal yang tidak dipilih. Keduanya sama-sama panjang, dan yang membedakan cuma kerelaannya.
Kata (أَحْقَابًا, ahqaaban) berbentuk jamak, sehingga yang disebut banyak masa, bukan satu. Bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya tanpa satu angka pun.
Rangkaian (لَابِثِينَ فِيهَا أَحْقَابًا, laabitsiina fiihaa ahqaaban) juga tidak memuat satu kata kerja pun. Kata kerjanya masih yang di 78:21, sehingga tiga ayat berturut-turut terikat kepada satu perbuatan.
Rangkaian sepanjang itu memaksa ketiganya dibaca sekaligus. Memetik satu ayat darinya akan menghilangkan siapa yang dibicarakan.
Perhatikan bahwa ayat ini tidak menyebut apakah masa itu berakhir. Yang disebut cuma bahwa mereka tinggal berkurun-kurun, dan batasnya tidak diberikan.
Kekosongan itu tidak diisi di ayat mana pun di surah ini. Yang bisa dibaca cuma bahwa masanya panjang dan ujungnya tidak disebut.
Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut siksa. Yang disebut cuma tinggal, dan lamanya tinggal itulah yang ditonjolkan.
Pilihan itu berakibat. Menyebut siksa memusatkan perhatian pada rasa sakitnya; menyebut lama tinggal memusatkan perhatian pada waktunya.
Perhatikan pula bahwa (لَابِثِينَ, laabitsiin) menyambung tiga ayat berturut-turut yang terikat kepada satu kata kerja saja. Kata kerjanya ada di 78:21, lalu 78:22 dan 78:23 menyambung tanpa kata kerja baru.
Rangkaian sepanjang itu jarang. Sebuah kalimat yang bernapas melewati tiga ayat menuntut pembacanya tidak berhenti di ujung tiap ayat.
Perhatikan pula bahwa bagian ini ditutup dengan waktu, sama seperti ia dibuka dengan waktu. Di 78:17 disebut waktu yang sudah ditetapkan, dan di sini disebut masa tinggal yang berkepanjangan.
Al-Qur'an tidak menyatakan kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tujuh ayat ini berdiri di antara dua penyebutan waktu.
Tafsiran
Ayat ini menyebut mereka tinggal di sana berkurun-kurun. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 27 ayat, antara lain 2:259, 10:45, 20:40, 46:35, dan 79:46.
Di 79:46 akar itu dipakai untuk orang yang merasa cuma tinggal sebentar di dunia, sehingga di surah tetangganya ia menamai masa yang terasa pendek. Di sini akar yang sama menamai masa yang panjang, dan dua surah bertetangga memakainya untuk dua ujung yang berlawanan.
Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat: 18:60 dan 78:23. Di 18:60 akar itu dipakai untuk Musa yang menyatakan akan terus berjalan walau harus bertahun-tahun, sehingga satu akar memuat perjalanan yang dipilih dan tinggal yang tidak dipilih.
Kata terakhirnya juga berbentuk jamak, sehingga yang disebut banyak masa tanpa satu angka pun.
Ayat ini tidak memuat satu kata kerja pun, dan ia juga tidak menyebut apakah masa itu berakhir. Ayat ini tidak menyebut siksa; yang disebut cuma tinggal, dan lamanya tinggal itulah yang ditonjolkan, sehingga perhatian pembacanya dibawa ke waktunya dan bukan ke rasa sakitnya. Tiga ayat berturut-turut di sini terikat kepada satu kata kerja saja yang berada di 78:21, sehingga kalimatnya bernapas melewati tiga ayat. Bagian ini juga ditutup dengan waktu sebagaimana ia dibuka dengan waktu di 78:17.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 27 ayat, antara lain 2:259, 10:45, 20:40, 46:35, dan 79:46. Di 79:46 akar itu dipakai untuk orang yang merasa cuma tinggal sebentar di dunia. Jadi satu akar memuat waktu yang terasa sekejap dan waktu yang berkepanjangan, dan dua surah bertetangga memakainya untuk dua ujung yang berlawanan. Menyebut lama tinggal berbeda jauh dari menyebut rasa sakit. Yang pertama membawa perhatian ke waktunya, dan yang kedua ke tubuhnya, sehingga pilihan katanya menentukan apa yang paling dirasakan pembacanya.
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai Allah di 2 ayat: 18:60 dan 78:23. Di 18:60 akar itu dipakai untuk Musa yang menyatakan akan terus berjalan walau harus bertahun-tahun. Jadi satu akar yang cuma hidup di dua ayat memuat perjalanan yang dipilih dan tinggal yang tidak dipilih, dan yang membedakan cuma kerelaannya. Satu akar yang memuat waktu sekejap dan waktu berkepanjangan menyimpan dua ukuran yang berlawanan. Yang menentukan bukan akarnya, melainkan tempat ia dipakai, dan satu bunyi yang sama bisa terasa sekejap di satu ayat dan tak berujung di ayat lain.
- Kata terakhirnya berbentuk jamak, sehingga yang disebut banyak masa dan bukan satu. Bilangannya terbawa di dalam bentuk katanya tanpa satu angka pun dari Allah. Cara itu berulang di surah ini, dan tiap kali jumlah dinyatakan tanpa angka pembacanya menerimanya tanpa merasa sedang dihitungkan. Akar yang cuma hidup di dua ayat menandai kata yang hampir tidak pernah dipakai. Kejarangan sebesar itu membuat pemakaiannya terasa dipilih dengan sengaja, karena masih ada banyak kata lain yang bisa dipakai untuk menamai waktu yang panjang.
- Ayat ini tidak memuat satu kata kerja pun, karena kata kerjanya masih yang di 78:21. Tiga ayat berturut-turut terikat kepada satu perbuatan Allah, dan rangkaian sepanjang itu memaksa ketiganya dibaca sekaligus. Memetik satu ayat darinya akan menghilangkan siapa yang dibicarakan. Kalimat yang bernapas melewati tiga ayat menuntut satu tarikan bacaan yang utuh. Ujung ayat di sini bukan ujung kalimat, dan tanda berhentinya tidak berada di tempat yang biasa.
- Ayat ini tidak menyebut apakah masa itu berakhir. Yang disebut Allah cuma bahwa mereka tinggal berkurun-kurun, dan batasnya tidak diberikan di ayat mana pun di surah ini. Yang bisa dibaca cuma bahwa masanya panjang, dan ujungnya dibiarkan kosong. Bagian ini dibuka dengan waktu dan ditutup dengan waktu. Tujuh ayat di antaranya berdiri di antara dua penyebutan itu, dan susunan seperti itu membuat bagiannya punya awal dan akhir yang jelas.
- Apa yang dirasakan seseorang ketika Allah menyebut masa yang panjang tanpa menyebut ujungnya, sehingga yang tersisa cuma kepastian bahwa ia panjang? Sebuah masa yang tidak diberi batas tidak bisa dihitung mundur, dan yang tidak bisa dihitung tidak bisa dinanti dengan tenang. Perjalanan yang dipilih dan tinggal yang tidak dipilih dinamai satu akar. Bahasa menyimpan hubungan yang tidak pernah diucapkan siapa pun, dan hubungan itu baru terlihat kalau kedua ayatnya dibaca berdampingan.