لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًا

Mereka tidak merasakan di dalamnya kesejukan dan tidak pula minuman,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. لَا يَذُوقُونَ فِيهَا بَرْدًا وَلَا شَرَابًاlaa yadzuuquuna fiihaa bardan wa-laa syaraabanmereka tidak merasakan di dalamnya kesejukan dan tidak pula minuman

Terjemahan per kata (6 kata)

  1. لَاlaatidak
  2. يَذُوقُونَyadzuuquunamereka merasakan
  3. فِيهَاfiihaadi dalamnya
  4. بَرْدًاbardandingin
  5. وَلَاwa-laadan tidak pula
  6. شَرَابًاsyaraabanminuman

Inti bacaan

Ketiadaan kenyamanan sekecil apa pun: 'mereka tidak merasakan di dalamnya kesejukan dan tidak (pula) minuman', deprivasi total terhadap kebutuhan dasar yang biasanya memberikan kelegaan, bahkan hal paling sederhana pun tidak tersedia.

Penjelasan pilihan kata

Kata 'pula' (وَلَا, wa laa) dipertahankan tanpa kurung sebagai penghubung alami frasa negasi ganda 'wa-laa', bukan tambahan makna baru.

Kata (يَذُوقُونَ, yadzuuquuna) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 44:56 dan 78:24. Akarnya dipakai di 61 ayat, antara lain 3:106, 6:30, dan 32:14.

Di 44:56 kata (يَذُوقُونَ, yadzuuquuna) dipakai untuk penghuni surga yang tidak merasakan kematian. Di sini ia dipakai untuk penghuni neraka yang tidak merasakan kesejukan.

Jadi satu bunyi yang cuma hidup di dua ayat memuat dua penyangkalan yang berlawanan. Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun.

Kata (بَرْدًا, bardan) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 21:69 dan 78:24. Akarnya cuma dipakai di 5 ayat: 21:69, 24:43, 38:42, 56:44, dan 78:24.

Di 21:69 kata (بَرْدًا, bardan) dipakai untuk api yang diperintahkan menjadi dingin. Di sana dingin adalah keselamatan, dan di sini ketiadaan dingin adalah hukumannya.

Kata (شَرَابًا, syaraaban) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 76:21 dan 78:24. Di 76:21 ia dipakai untuk minuman suci yang diberikan kepada penghuni surga.

Perhatikan pola yang sama pada ketiganya. Masing-masing cuma muncul di dua ayat, dan kemunculan pasangannya selalu berupa pemberian.

Al-Qur'an tidak menandai pola itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa ketiga sebutan yang jarang itu di sini disebut sebagai yang tidak didapat.

Ayat ini menyangkal dua hal sekaligus, dan tidak menyebutkan satu pun yang didapat. Yang didapat baru muncul di 78:25.

Susunan itu menahan pembacanya sejenak. Ada jeda antara mengetahui apa yang tidak ada dan mengetahui apa yang ada.

Sesudah 78:18 menyapa pembacanya secara langsung, di sini pembicaraannya kembali menjauh. Yang disebut menjadi mereka, bukan kalian.

Pergantian jarak itu berulang di surah ini. Sapaan dekat dan cerita jauh berganti-ganti tanpa satu penanda pun.

Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut dua hal yang saling melengkapi. Yang satu meredakan panas dari luar tubuh, dan yang lain meredakannya dari dalam.

Susunan itu menutup dua jalan sekaligus. Tidak ada kelegaan yang datang dari sekeliling, dan tidak ada kelegaan yang datang dari yang ditelan.

Perhatikan pula bahwa penyangkalannya dinyatakan dua kali. Ada penyangkalan di awal kalimat, lalu ada penyangkalan lagi sebelum benda yang kedua.

Pengulangan itu tidak diperlukan untuk mengerti maksudnya. Ia diperlukan untuk memastikan pembacanya tidak menyangka penyangkalan pertama cuma berlaku pada yang pertama.

Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut apa yang dirasakan, bukan apa yang dilihat. Seluruh gambarannya bertumpu pada indra yang paling sulit ditawar.

Pilihan itu sejalan dengan bagian sebelumnya. Di 78:23 disebut lamanya tinggal, dan di sini disebut apa yang dirasakan selama tinggal itu.

Jadi dua ayat berurutan menjawab dua pertanyaan yang berbeda. Yang pertama menjawab berapa lama, dan yang kedua menjawab bagaimana rasanya.

Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keterangannya datang bertahap, satu segi di setiap ayat.

Tafsiran

Ayat ini menyangkal dua hal sekaligus tanpa menyebutkan satu pun yang didapat. Kata kerjanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 44:56 dan 78:24, dan di 44:56 ia dipakai untuk penghuni surga yang tidak merasakan kematian.

Kata keduanya juga muncul 2 kali, yaitu 21:69 dan 78:24, dan akarnya cuma dipakai di 5 ayat: 21:69, 24:43, 38:42, 56:44, dan 78:24. Di 21:69 ia dipakai untuk api yang diperintahkan menjadi dingin, sehingga di sana dingin adalah keselamatan dan di sini ketiadaannya adalah hukuman.

Kata terakhirnya juga muncul 2 kali, yaitu 76:21 dan 78:24, dan di 76:21 ia dipakai untuk minuman suci yang diberikan kepada penghuni surga.

Ketiga kata itu sama-sama jarang, dan kemunculan pasangannya selalu berupa pemberian. Al-Qur'an tidak menandai pola itu dengan satu kalimat pun.

Yang didapat baru disebut di 78:25, sehingga ada jeda antara mengetahui apa yang tidak ada dan mengetahui apa yang ada. Ayat ini menyebut dua hal yang saling melengkapi, karena yang satu meredakan panas dari luar tubuh dan yang lain dari dalam, sehingga dua jalan kelegaan ditutup sekaligus. Penyangkalannya juga dinyatakan dua kali, dan pengulangan itu memastikan pembacanya tidak menyangka penyangkalan pertama cuma berlaku pada benda yang pertama. Seluruh gambarannya bertumpu pada apa yang dirasakan dan bukan pada apa yang dilihat, sehingga 78:23 menjawab berapa lama sedangkan ayat ini menjawab bagaimana rasanya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata kerjanya dipakai Allah cuma di 2 ayat, yaitu 44:56 dan 78:24. Di 44:56 ia menyangkal kematian bagi penghuni surga, dan di sini ia menyangkal kesejukan bagi penghuni neraka. Satu kata yang sama memuat dua penyangkalan yang berlawanan arah, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun. Kata yang cuma dipakai di dua tempat menahan keduanya berdampingan setiap kali salah satunya dibaca. Yang jarang tidak punya cukup pemakaian untuk menutupi kemunculannya yang lain, sehingga kedua tempat itu selalu terbawa bersama.
  • Kata keduanya dipakai Allah cuma di 21:69 dan 78:24, dan akarnya cuma hidup di 5 ayat: 21:69, 24:43, 38:42, 56:44, dan 78:24. Di 21:69 dingin adalah perintah yang menyelamatkan, dan di sini ketiadaannya adalah hukuman. Benda yang sama bisa menjadi penyelamat di satu tempat dan kehilangan di tempat lain. Yang sama bisa menjadi penyelamat di satu tempat dan kehilangan di tempat lain, dan yang menentukan bukan bendanya melainkan siapa yang membutuhkannya. Kelegaan cuma terasa oleh yang sedang tertekan, dan tanpa tekanan itu ia tidak akan disebut sebagai pemberian sama sekali.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 76:21 dan 78:24. Di 76:21 ia menamai minuman suci yang diberikan kepada penghuni surga, dan di sini ia menamai apa yang tidak dirasakan. Sebuah kata yang cuma muncul dua kali membawa serta kemunculannya yang satu lagi ke mana pun ia dibaca. Ayat ini menyebut kelegaan yang tidak didapat, sedangkan 76:21 menyebut kelegaan yang diberikan. Dua ayat itu berdiri di dua surah berbeda tanpa satu kalimat pun yang menghubungkannya.
  • Tiga kata pokok di ayat ini sama-sama cuma muncul dua kali di seluruh Al-Qur'an: kata kerjanya di (44:56, 78:24), kata keduanya di (21:69, 78:24), dan kata terakhirnya di (76:21, 78:24). Kemunculan pasangan masing-masing selalu berupa pemberian, sedangkan di sini ketiganya disebut sebagai yang tidak didapat. Kepadatan kata jarang seperti itu tidak lazim di ayat sependek ini. Tiga kata jarang berdesakan di dalam ayat yang cuma terdiri atas beberapa patah. Kepadatan seperti itu membuat setiap katanya menanggung beban yang biasanya dibagi ke banyak ayat.
  • Allah menyangkal dua hal di sini tanpa menyebutkan satu pun yang didapat, dan yang didapat baru muncul di 78:25. Susunan itu menahan pembacanya sejenak di antara dua pengetahuan. Mengetahui apa yang tidak ada lebih dulu membuat apa yang ada terasa berbeda ketika akhirnya disebut. Mendengar apa yang tidak ada lebih dulu menyiapkan pembacanya untuk apa yang ada. Urutan seperti itu mengatur rasa, dan bukan cuma mengatur keterangan.
  • Sesudah 78:18 menyapa pembacanya secara langsung, di sini pembicaraannya kembali menjauh dan yang disebut menjadi mereka. Pergantian jarak itu berulang di surah ini tanpa satu penanda pun. Apa yang berubah pada sebuah kabar ketika ia berhenti menyapa kita dan mulai bercerita tentang orang lain? Sapaan yang datang lalu pergi membuat pembacanya berpindah tempat tanpa pernah diberi tahu. Kadang ia berdiri di dalam kejadiannya, dan kadang ia menonton dari kejauhan.