إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًا
Kecuali air mendidih dan nanah,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِلَّا حَمِيمًا وَغَسَّاقًاillaa hamiiman wa-ghassaaqankecuali air mendidih dan nanah
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِلَّاillaakecuali
- حَمِيمًاhamiimanair mendidih
- وَغَسَّاقًاwa-ghassaaqandan nanah
Inti bacaan
Substitusi yang menyiksa: 'kecuali air mendidih dan nanah', pembalikan total dari kebutuhan dasar (minuman menyegarkan) menjadi sumber penderitaan tambahan, ironi pahit dalam pemenuhan kebutuhan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (حَمِيمًا, hamiiman) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 47:15, 70:10, dan 78:25. Akarnya dipakai di 20 ayat, antara lain 6:70, 40:18, dan 56:42.
Kata (غَسَّاقًا, ghassaaqan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 4 ayat: 17:78, 38:57, 78:25, dan 113:3.
Perhatikan bahwa 38:57 memuat (حَمِيمًا, hamiiman) dan (غَسَّاقًا, ghassaaqan) berdampingan, sama seperti ayat ini. Jadi pasangan ini cuma hidup di dua tempat di seluruh Al-Qur'an.
Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah yang berjauhan memakai pasangan yang sama persis.
Di 17:78 dan 113:3 akar (غَسَّاقًا, ghassaaqan) dipakai untuk malam yang menjadi gelap. Jadi akar itu menamai gelap yang datang, bukan minuman.
Pemakaiannya di sini memindahkan gambaran gelap ke dalam sesuatu yang diminum. Al-Qur'an tidak menerangkan perpindahan itu.
Kata (إِلَّا, illaa) memuat pengecualian. Ayat sebelumnya menyangkal dua hal, dan ayat ini menyebut apa yang tetap ada.
Susunan seperti itu membuat pemberiannya terdengar seperti kekecualian, bukan seperti pemberian. Yang disebut bukan apa yang ditambahkan, melainkan apa yang tidak ikut disangkal.
Perhatikan bahwa (حَمِيمًا, hamiiman) dan (غَسَّاقًا, ghassaaqan) sama-sama berupa minuman. Ayat sebelumnya menyangkal minuman, dan ayat ini menyebut dua minuman.
Penyangkalan dan penyebutan itu berdiri di dua ayat berurutan. Al-Qur'an tidak memberi satu kata penjelas pun di antara keduanya.
Ayat ini cuma terdiri atas tiga patah. Kependekan itu sejalan dengan ayat-ayat di sekitarnya, yang rata-rata juga sangat pendek.
Kependekan seperti itu membuat setiap patahnya terasa berat. Tidak ada penyambung apa pun yang bisa melunakkan bunyinya.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut dua hal tanpa menerangkan satu pun. Tidak ada keterangan tentang suhunya, warnanya, atau bagaimana keduanya diperoleh.
Ketiadaan keterangan itu berlaku di seluruh bagian ini. Sejak 78:21 tidak ada satu pun benda yang dilukiskan bentuknya.
Perhatikan pula bahwa kedua benda di sini adalah minuman, sedangkan yang disangkal di 78:24 juga minuman. Yang ditolak dan yang diberikan berada dalam satu jenis.
Kesamaan jenis itu mempertajam perbedaannya. Kalau yang diberikan berbeda jenis, perbandingannya jadi kabur; karena sejenis, perbedaannya jadi tepat.
Perhatikan pula bahwa akar (غَسَّاقًا, ghassaaqan) menamai gelap yang datang perlahan di 17:78 dan 113:3. Gelap adalah keadaan yang tidak bisa dilawan dengan tenaga.
Pemakaiannya untuk sesuatu yang diminum memindahkan sifat itu ke dalam tubuh. Al-Qur'an tidak menyatakan pemindahan itu dengan satu kalimat pun.
Perhatikan pula bahwa ayat ini berdiri sebagai kelanjutan, bukan sebagai kalimat baru. Ia tidak punya kata kerja sendiri, dan bergantung penuh kepada 78:24.
Ikatan itu membuat dua ayat harus dibaca sekaligus. Memenggalnya membuat pengecualiannya kehilangan apa yang dikecualikan.
Tafsiran
Ayat ini menyebut apa yang tetap ada sesudah 78:24 menyangkal dua hal. Kata pertamanya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 47:15, 70:10, dan 78:25, sedangkan kata keduanya muncul 1 kali saja.
Akar kata keduanya cuma dipakai di 4 ayat: 17:78, 38:57, 78:25, dan 113:3. Di 17:78 dan 113:3 akar itu dipakai untuk malam yang menjadi gelap, sehingga pemakaiannya di sini memindahkan gambaran gelap ke dalam sesuatu yang diminum.
Perhatikan bahwa 38:57 memuat kedua kata ini berdampingan, sama seperti ayat ini, sehingga pasangannya cuma hidup di dua tempat di seluruh Al-Qur'an. Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Kata pembukanya memuat pengecualian, sehingga apa yang disebut di sini terdengar sebagai yang tidak ikut disangkal dan bukan sebagai yang ditambahkan.
Ayat ini terdiri atas tiga kata saja, dan kependekan itu membuat setiap katanya terasa berat karena tidak ada kata sambung yang melunakkan bunyinya. Ayat ini menyebut dua hal tanpa menerangkan satu pun, karena tidak ada keterangan tentang suhu, warna, maupun cara memperolehnya, dan ketiadaan keterangan itu berlaku sejak 78:21. Kedua benda di sini adalah minuman, sama seperti yang disangkal di 78:24, sehingga yang ditolak dan yang diberikan berada dalam satu jenis dan perbandingannya menjadi tepat. Ayat ini juga tidak punya kata kerja sendiri dan bergantung penuh kepada ayat sebelumnya, sehingga memenggalnya membuat pengecualiannya kehilangan apa yang dikecualikan.
Renungan dan Hikmah
- Allah memakai kedua kata ini berdampingan cuma di 38:57 dan 78:25. Dua surah yang berjauhan memuat pasangan yang sama persis, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu dengan satu kalimat pun. Pasangan kata yang cuma hidup di dua tempat lebih mudah dikenali daripada kata yang berdiri sendiri. Dua benda yang selalu muncul bersama di dua tempat saja lebih mudah diingat sebagai pasangan daripada sebagai dua hal terpisah. Ingatan bekerja lewat pasangan, bukan lewat daftar, dan pasangan yang cuma hidup di dua tempat lebih kuat melekat daripada kata yang tersebar di banyak surah.
- Akar kata keduanya cuma dipakai Allah di 4 ayat: 17:78, 38:57, 78:25, dan 113:3. Di 17:78 dan 113:3 akar itu menamai malam yang menjadi gelap, sedangkan di sini ia menamai sesuatu yang diminum. Gambaran gelap dipindahkan ke dalam benda cair, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perpindahan itu. Sifat gelap dan sifat cair digabungkan dalam satu kata yang cuma sekali dipakai. Menggabungkan dua sifat yang biasanya terpisah membuat gambarannya sulit dibayangkan sekaligus sulit dilupakan.
- Kata pembukanya memuat pengecualian, sehingga isinya terdengar sebagai yang tidak ikut disangkal dan bukan sebagai yang ditambahkan. Ayat sebelumnya menyangkal dua hal, lalu ayat ini menyebut dua hal. Menyebut sesuatu lewat pengecualian membuatnya terdengar berbeda daripada menyebutnya lewat pemberian. Sesuatu yang datang lewat pengecualian terasa seperti sisa, bukan seperti bagian. Yang tersisa selalu terdengar lebih kecil daripada yang memang disiapkan, meskipun keduanya bisa saja sama banyaknya.
- Di 78:24 Allah menyangkal minuman, dan di sini Allah menyebut dua minuman. Penyangkalan dan penyebutan itu berdiri di dua ayat berurutan tanpa satu kata penjelas di antaranya. Jawaban yang datang secepat itu tidak memberi ruang bagi pembacanya untuk menebak lebih dulu. Jawaban yang datang di ayat berikutnya tidak memberi jeda untuk menebak. Pertanyaan dan jawabannya berdempetan, dan pembacanya tidak sempat menyiapkan dugaan sendiri.
- Kata keduanya muncul cuma 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan kata pertamanya muncul 3 kali, yaitu 47:15, 70:10, dan 78:25. Kata yang cuma sekali dipakai tidak punya pembanding di dalam korpusnya sendiri. Artinya cuma bisa dicari lewat akarnya, dan akar itu pun cuma hidup di empat ayat. Kata yang cuma sekali dipakai tidak punya pembanding di dalam korpusnya sendiri. Artinya cuma bisa didekati lewat akarnya, dan akar itu pun cuma hidup di empat ayat.
- Ayat ini terdiri atas tiga kata saja, sejalan dengan ayat-ayat di sekitarnya yang juga sangat pendek. Tidak ada kata sambung yang bisa melunakkan bunyinya, sehingga setiap kata terasa berat. Apa yang terjadi pada sebuah kabar ketika ia disampaikan sependek ini, tanpa satu kata pun yang melunakkannya? Tiga patah tanpa satu penyambung membuat bunyinya jatuh keras. Kalimat sependek itu tidak memberi tempat untuk berhenti di tengah, sehingga seluruh isinya sampai sekaligus dalam satu tarikan.