جَزَاءً وِفَاقًا
Sebagai pembalasan yang setimpal.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- جَزَاءً وِفَاقًاjazaa'an wifaaqansebagai pembalasan yang setimpal
Terjemahan per kata (2 kata)
- جَزَاءًjazaa'anbalasan
- وِفَاقًاwifaaqanyang setimpal
Inti bacaan
Prinsip proporsionalitas yang ditegaskan: 'sebagai pembalasan yang setimpal', penegasan bahwa konsekuensi yang diterima sepadan dengan tingkat pelanggaran, keadilan yang terukur bukan hukuman sewenang-wenang.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وِفَاقًا, wifaaqan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 4 ayat: 4:35, 4:62, 11:88, dan 78:26.
Di 4:35 akar (وِفَاقًا, wifaaqan) dipakai untuk pertemuan yang dipertemukan Allah antara dua pihak yang berselisih. Di 4:62 dan 11:88 ia dipakai untuk keselarasan yang diberikan Allah.
Jadi tiga dari empat pemakaiannya berupa pemberian yang baik. Yang keempat, di ayat ini, menamai hukuman yang sepadan.
Al-Qur'an tidak menerangkan pergeseran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa bunyi yang biasanya menamai keselarasan di sini menamai kesesuaian antara perbuatan dan balasannya.
Kata (جَزَاءً, jazaa-an) muncul 15 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 5:38, 9:82, 32:17, 56:24, dan 76:9. Dua di antaranya ada di surah ini: 78:26 dan 78:36.
Perhatikan bahwa dua kemunculan itu berdiri di dua tempat yang berlawanan. Di sini ia membuka ringkasan hukuman, dan di 78:36 ia membuka ringkasan pemberian.
Kesejajaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan yang sama dipakai untuk menutup dua bagian yang isinya bertolak belakang.
Ayat ini cuma terdiri atas dua patah. Ia tidak memuat satu perbuatan pun, dan tidak menyebut siapa yang membalas.
Ketiadaan pelaku itu berulang di seluruh bagian ini. Sejak 78:18 hampir tidak ada satu pun pelaku yang dinamai.
Ayat ini menutup rangkaian yang dimulai di 78:21. Enam ayat berturut-turut melukiskan tempat, isi, dan balasannya, lalu ayat ini memberi namanya.
Susunan seperti itu menaruh kesimpulan di akhir. Pembacanya melihat dulu apa yang terjadi, baru mengetahui namanya.
Nama yang dipilih menyebut kesesuaian, bukan beratnya. Yang ditonjolkan bukan seberapa keras, melainkan seberapa pas.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menutup bagian yang panjang dengan dua patah saja. Enam ayat sebelumnya melukiskan tempat dan isinya, lalu semuanya diringkas di sini.
Perbandingan panjangnya mencolok. Yang dilukiskan enam ayat diberi nama dalam dua patah, dan namanya tidak memuat satu keterangan tambahan pun.
Perhatikan pula bahwa nama yang dipilih tidak memuat unsur kemarahan. Tidak ada kata murka, tidak ada kata benci, dan tidak ada satu pun kata yang menyebut perasaan.
Yang disebut cuma kesesuaian. Sebuah hukuman yang dinamai lewat kesesuaian menempatkan sebabnya pada perbuatan, bukan pada suasana hati yang menghukum.
Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut siapa yang menerima balasan itu. Penerimanya baru diterangkan di ayat berikutnya lewat keterangan sebab.
Susunan itu menaruh nama lebih dulu dan alasan menyusul. Pembacanya mengetahui apa dulu, baru mengetahui mengapa.
Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga ayat sesudahnya seluruhnya berisi alasan.
Jadi ayat pendek ini menjadi poros. Ia menutup apa yang di belakangnya dan membuka apa yang di depannya.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa siksaan tersebut setimpal dengan perbuatan mereka. Ayat ini memberi nama kepada seluruh rangkaian yang dimulai di 78:21. Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 4 ayat: 4:35, 4:62, 11:88, dan 78:26.
Di 4:35 akar itu dipakai untuk pertemuan yang dipertemukan Allah antara dua pihak yang berselisih, sedangkan di 4:62 dan 11:88 ia dipakai untuk keselarasan yang diberikan Allah. Jadi tiga dari empat pemakaiannya berupa pemberian yang baik, dan yang keempat menamai hukuman yang sepadan.
Kata pertamanya muncul 15 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 5:38, 9:82, 32:17, 56:24, dan 76:9, dan dua di antaranya ada di surah ini, yaitu 78:26 dan 78:36. Di sini ia membuka ringkasan hukuman, dan di 78:36 ia membuka ringkasan pemberian.
Ayat ini terdiri atas dua kata saja, tidak memuat kata kerja, dan tidak menyebut siapa yang membalas. Ketiadaan pelaku itu berulang sejak 78:18.
Nama yang dipilih menyebut kesesuaian dan bukan beratnya, sehingga yang ditonjolkan bukan seberapa keras melainkan seberapa pas. Ayat ini menutup bagian yang panjang dengan dua patah saja, karena enam ayat sebelumnya melukiskan tempat dan isinya lalu semuanya diringkas di sini. Nama yang dipilih tidak memuat unsur kemarahan, sebab tidak ada kata murka maupun kata benci, sehingga sebab hukumannya ditempatkan pada perbuatan dan bukan pada suasana hati yang menghukum. Ayat ini juga tidak menyebut siapa penerimanya, dan penerimanya baru diterangkan di 78:27, sehingga ayat pendek ini menjadi poros yang menutup apa yang di belakangnya dan membuka apa yang di depannya.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata keduanya cuma dipakai Allah di 4 ayat: 4:35, 4:62, 11:88, dan 78:26. Tiga di antaranya berupa keselarasan yang diberikan, dan yang keempat menamai hukuman yang sepadan. Satu akar yang biasanya menamai kebaikan dipakai di sini untuk kesesuaian antara perbuatan dan balasannya. Akar yang tiga kali menamai keselarasan dan sekali menamai hukuman menyimpan satu gagasan di dua keadaan. Yang cocok bisa menyenangkan dan bisa menakutkan, tergantung apa yang dicocokkan dengan apa, dan kecocokan itu sendiri tidak memihak.
- Kata pertamanya dipakai Allah 15 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 5:38, 9:82, 32:17, 56:24, dan 76:9, dan dua di antaranya ada di surah ini. Di sini ia membuka ringkasan hukuman, dan di 78:36 ia membuka ringkasan pemberian. Satu kata yang sama menutup dua bagian yang isinya bertolak belakang. Satu kata yang membuka dua ringkasan berlawanan mengikat keduanya tanpa perlu satu kalimat penghubung. Pembacanya mengenali ikatannya cuma kalau ia membaca surahnya utuh, karena jarak sepuluh ayat cukup jauh untuk membuat kata yang sama terlewat.
- Nama yang dipilih Allah menyebut kesesuaian, bukan beratnya. Yang ditonjolkan bukan seberapa keras hukumannya, melainkan seberapa pas ia dengan perbuatannya. Sebuah hukuman yang disebut sepadan lebih sulit dibantah daripada hukuman yang disebut berat. Hukuman yang dinamai sepadan menempatkan sebabnya pada perbuatan, bukan pada suasana hati yang menghukum. Yang diperiksa jadi apa yang dilakukan, bukan seberapa marah yang membalas, dan itu memindahkan seluruh beban kepada yang berbuat.
- Ayat ini terdiri atas dua kata saja, tidak memuat kata kerja, dan tidak menyebut siapa yang membalas. Ketiadaan pelaku itu berulang sejak 78:18 di hampir setiap ayat. Kalimat tanpa kata kerja tidak punya waktu, sehingga isinya tidak terikat pada kapan ia terjadi. Kalimat tanpa kata kerja tidak terikat pada waktu tertentu. Ia terbaca sebagai keadaan yang berlaku, bukan sebagai peristiwa yang terjadi pada satu saat, sehingga isinya tidak bisa dianggap sudah lewat.
- Enam ayat berturut-turut sejak 78:21 melukiskan tempat, isi, dan balasannya, lalu ayat ini baru memberi namanya. Allah menaruh kesimpulannya di akhir, sehingga pembacanya melihat dulu apa yang terjadi. Menamai sesuatu sesudah melihatnya berbeda dari menamainya sebelum melihatnya. Menamai sesuatu sesudah melihatnya berbeda dari menamainya sebelum melihatnya. Nama yang datang belakangan diuji lebih dulu oleh apa yang sudah dilihat pembacanya.
- Allah memakai (وِفَاقًا, wifaaqan) 1 kali di seluruh Al-Qur'an untuk menamai kesepadanan itu. Apa yang harus dilakukan seseorang terhadap perbuatannya sendiri kalau balasannya memang dijanjikan pas, bukan dilebih-lebihkan? Dua patah saja dipakai untuk meringkas enam ayat yang penuh gambaran. Ringkasan sependek itu menuntut pembacanya mengingat sendiri apa yang diringkas, dan yang tidak mengingatnya cuma mendengar dua patah tanpa isi.