إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًا
Sesungguhnya mereka dahulu tidak mengharapkan perhitungan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّهُمْ كَانُوا لَا يَرْجُونَ حِسَابًاinnahum kaanuu laa yarjuuna hisaabansesungguhnya mereka dahulu tidak mengharapkan perhitungan
Terjemahan per kata (5 kata)
- إِنَّهُمْinnahumsesungguhnya mereka
- كَانُواkaanuumereka adalah
- لَاlaatidak
- يَرْجُونَyarjuunamereka mengharapkan
- حِسَابًاhisaabanperhitungan
Inti bacaan
Akar penyebab dari ketidakpedulian: 'sesungguhnya mereka dahulu tidak mengharapkan perhitungan', identifikasi bahwa ketiadaan kepercayaan terhadap akuntabilitas masa depan menjadi dasar dari seluruh perilaku bermasalah yang berujung pada konsekuensi ini.
Penjelasan pilihan kata
Kata (حِسَابًا, hisaaban) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 65:8, 78:27, 78:36, dan 84:8. Dua di antaranya ada di surah ini.
Perhatikan bahwa dua kemunculan di surah ini berdiri di dua tempat yang berlawanan. Di sini ia menamai perhitungan yang tidak mereka harapkan, dan di 78:36 ia menamai pemberian yang cukup.
Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan yang jarang dipakai dua kali di satu surah dengan peran yang berbeda.
Kata (يَرْجُونَ, yarjuuna) muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:218, 10:7, 17:57, dan 35:29. Artinya mengharapkan atau menantikan.
Perhatikan bahwa yang disangkal bukan pengetahuan mereka, melainkan harapan mereka. Ayat ini tidak menyebut bahwa mereka tidak tahu, melainkan bahwa mereka tidak menanti.
Perbedaan itu tajam. Tidak tahu adalah kekurangan keterangan, sedangkan tidak menanti adalah sikap terhadap keterangan yang sudah ada.
Kata (إِنَّهُمْ, innahum) memuat huruf penegas. Ayat ini menerangkan sebab, dan sebabnya ditegaskan seperti sebuah pernyataan pokok.
Susunan itu mengikat ayat ini kepada 78:26. Balasan yang sepadan disebut lebih dulu, dan alasan kesepadanannya menyusul di sini.
Kata (كَانُوا, kaanuu) berbentuk lampau berkelanjutan. Yang disebut bukan satu perbuatan, melainkan kebiasaan yang berlangsung lama.
Perhatikan bahwa dua ayat berikutnya melanjutkan daftar sebab itu. Di 78:28 disebut pendustaan, dan di 78:29 disebut pencatatan.
Jadi tiga ayat berturut-turut menerangkan mengapa balasannya sepadan. Al-Qur'an menyusunnya sebagai daftar, bukan sebagai satu kalimat panjang.
Daftar seperti itu memudahkan pembacanya menghitung. Setiap sebab berdiri di ayatnya sendiri, dan tidak ada yang tertutupi oleh yang lain.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut sikap batin, bukan perbuatan yang terlihat. Yang disebut adalah apa yang tidak mereka harapkan, dan harapan tidak bisa disaksikan orang lain.
Pilihan itu berbeda dari ayat berikutnya. Di 78:28 yang disebut perbuatan yang terlihat, yaitu mendustakan.
Jadi dua ayat berurutan menyebut dua lapis yang berbeda. Yang pertama di dalam dada, dan yang kedua di luar.
Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa alasannya disusun dari yang tersembunyi ke yang tampak.
Perhatikan pula bahwa urutan itu masuk akal kalau dibaca sebagai sebab dan akibat. Orang yang tidak menanti pemeriksaan lebih mudah menolak kabar tentang pemeriksaan itu.
Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan sebab itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berdiri berurutan, dan pembacanya dibiarkan menyimpulkan sendiri.
Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut mereka menolak. Yang disebut cuma bahwa mereka tidak menanti.
Perbedaan itu halus tetapi berakibat. Menolak menuntut sikap aktif, sedangkan tidak menanti bisa terjadi tanpa satu keputusan pun yang pernah diambil.
Tafsiran
Ayat ini menerangkan sebab dari balasan yang disebut sepadan di 78:26. Kata terakhirnya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 65:8, 78:27, 78:36, dan 84:8, dan dua di antaranya ada di surah ini.
Dua kemunculan di surah ini berdiri di dua tempat yang berlawanan, karena di sini ia menamai perhitungan yang tidak mereka harapkan sedangkan di 78:36 ia menamai pemberian yang cukup. Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu dengan satu kalimat pun.
Kata kerjanya muncul 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:218, 10:7, 17:57, dan 35:29, dan artinya mengharapkan atau menantikan. Yang disangkal di sini bukan pengetahuan mereka melainkan harapan mereka, sehingga yang disebut adalah sikap dan bukan kekurangan keterangan.
Kata pembukanya memuat huruf penegas, sehingga keterangan sebab ini ditegaskan seperti sebuah pernyataan pokok. Bentuk lampau berkelanjutan di dalamnya menyebut kebiasaan yang berlangsung lama, bukan satu perbuatan.
Dua ayat berikutnya melanjutkan daftar sebab itu, karena 78:28 menyebut pendustaan dan 78:29 menyebut pencatatan. Ayat ini menyebut sikap batin dan bukan perbuatan yang terlihat, karena harapan tidak bisa disaksikan orang lain, sedangkan 78:28 menyebut perbuatan yang tampak. Dua ayat berurutan itu menyebut dua lapis yang berbeda, yaitu yang di dalam dada dan yang di luar, dan Al-Qur'an tidak menyatakan pembagian itu. Yang disebut juga bukan bahwa mereka menolak melainkan bahwa mereka tidak menanti, dan menolak menuntut sikap aktif sedangkan tidak menanti bisa terjadi tanpa satu keputusan pun yang pernah diambil.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 4 ayat: 65:8, 78:27, 78:36, dan 84:8, dan dua di antaranya ada di surah ini. Di sini ia menamai perhitungan yang tidak diharapkan, dan di 78:36 ia menamai pemberian yang cukup. Satu kata yang jarang dipakai dua kali di satu surah dengan peran yang berbeda. Satu kata yang muncul di dua tempat berlawanan di satu surah membuat pembacanya menimbang keduanya sekaligus. Perhitungan yang tidak dinanti dan pemberian yang cukup dinamai dengan bunyi yang sama.
- Kata kerjanya dipakai Allah 12 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:218, 10:7, 17:57, dan 35:29, dan artinya mengharapkan atau menantikan. Yang disangkal di sini bukan pengetahuan mereka melainkan harapan mereka. Tidak tahu adalah kekurangan keterangan, sedangkan tidak menanti adalah sikap terhadap keterangan yang sudah ada. Sikap terhadap keterangan lebih menentukan daripada ada atau tidaknya keterangan itu. Orang bisa mengetahui sesuatu dan tetap hidup seolah-olah ia tidak mengetahuinya, dan jarak antara tahu dan menanti itulah yang disebut di sini.
- Bentuk yang dipakai Allah di sini menyebut kebiasaan yang berlangsung lama, bukan satu perbuatan yang terjadi sekali. Yang dihitung bukan satu peristiwa, melainkan cara hidup yang berulang. Kebiasaan lebih sulit disadari daripada perbuatan tunggal, justru karena ia tidak pernah terasa sebagai keputusan. Kebiasaan lebih sulit disadari daripada perbuatan tunggal, justru karena ia tidak pernah terasa sebagai keputusan. Yang berulang lama-lama berhenti terasa sebagai pilihan, dan pada titik itu ia sudah menjadi bagian dari cara hidupnya.
- Kata pembukanya memuat huruf penegas, sehingga keterangan sebab ini ditegaskan seperti sebuah pernyataan pokok. Allah tidak menyampaikannya sebagai catatan tambahan, melainkan sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Sebuah alasan yang ditegaskan sekuat itu menutup ruang untuk menawar kesepadanannya. Sebuah alasan yang ditegaskan sekuat pernyataan pokok tidak disampaikan sebagai catatan tambahan. Ia berdiri sendiri, dan menutup ruang untuk menawar kesepadanannya.
- Tiga ayat berturut-turut menerangkan mengapa balasannya sepadan, karena 78:28 menyebut pendustaan dan 78:29 menyebut pencatatan. Allah menyusunnya sebagai daftar, bukan sebagai satu kalimat panjang. Setiap sebab berdiri di ayatnya sendiri, sehingga tidak ada yang tertutupi oleh yang lain. Daftar yang dipecah ke beberapa ayat lebih mudah dihitung daripada satu kalimat panjang. Setiap sebab berdiri di tempatnya sendiri dan tidak tertutupi oleh yang lain, sehingga tidak ada satu pun yang bisa dilewati begitu saja.
- Yang disebut Allah di sini adalah orang yang tidak pernah menanti perhitungan sama sekali. Apa bedanya hidup seseorang yang menanti diperiksa dari hidup seseorang yang tidak pernah membayangkan pemeriksaan itu akan datang? Yang disebut di sini bukan penolakan, melainkan ketiadaan penantian. Dua hal itu terlihat mirip dari luar, tetapi yang satu menuntut keputusan dan yang lain tidak menuntut apa pun.