وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًا
Dan mereka benar-benar mendustakan tanda-tanda Kami.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَكَذَّبُوا بِآيَاتِنَا كِذَّابًاwa-kadzdzabuu bi-aayaatinaa kidzdzaabandan mereka benar-benar mendustakan tanda-tanda Kami
Terjemahan per kata (3 kata)
- وَكَذَّبُواwa-kadzdzabuudan mendustakan
- بِآيَاتِنَاbi-aayaatinaapada tanda-tanda Kami
- كِذَّابًاkidzdzaabandengan pendustaan
Inti bacaan
Penolakan tegas terhadap bukti yang jelas: 'mereka benar-benar mendustakan tanda-tanda Kami', penegasan bahwa setelah seluruh rangkaian bukti alam yang dipaparkan, penolakan tetap terjadi secara disengaja, bukan karena kekurangan informasi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (كِذَّابًا, kidzdzaaban) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 78:28 dan 78:35. Keduanya ada di surah ini, dan tidak ada di surah lain mana pun.
Perhatikan bahwa dua kemunculan itu berdiri di dua tempat yang berlawanan. Di sini ia menamai perbuatan mereka, dan di 78:35 ia menamai apa yang tidak terdengar di tempat yang dijanjikan.
Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu sebutan yang cuma hidup di satu surah dipakai untuk kesalahan dan untuk ketiadaannya.
Kata (وَكَذَّبُوا, wa kadzdzabuu) muncul 48 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk yang sama, antara lain 6:5, 7:36, 10:39, dan 54:3. Jadi perbuatannya sendiri sering disebut.
Perhatikan bahwa (وَكَذَّبُوا, wa kadzdzabuu) dan (كِذَّابًا, kidzdzaaban) berasal dari akar yang sama. Keduanya berdiri berturut-turut di dalam satu ayat pendek.
Pengulangan seperti itu menguatkan. Yang disebut bukan sekadar mendustakan, melainkan mendustakan dengan pendustaan.
Al-Qur'an tidak menerangkan penguatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu bunyi dasar dipakai dua kali dalam satu ayat pendek.
Kata (بِآيَاتِنَا, bi aayaatinaa) menyebut pemiliknya sebagai kami. Ini penyebutan pertama pelaku ilahi di seluruh bagian ini sejak 78:18.
Sesudah sepuluh ayat tanpa pelaku yang dinamai, pemiliknya muncul di sini. Yang muncul bukan namanya, melainkan kepemilikan atas tanda-tandanya.
Perhatikan bahwa penyebutan itu berlanjut di dua ayat berikutnya. Di 78:29 disebut kami menghitung, dan di 78:30 disebut kami menambah.
Jadi tiga ayat berturut-turut memuat penyebutan pelakunya. Sesudah sepuluh ayat yang diam, tiga ayat ini berturut-turut menamainya.
Susunan itu membuat perubahan suaranya terasa. Cerita yang tadinya berjalan tanpa pemilik tiba-tiba punya pemilik yang berbicara.
Perhatikan pula bahwa yang didustakan disebut sebagai tanda-tanda, bukan sebagai perkataan. Tanda adalah sesuatu yang menunjuk kepada hal lain di luar dirinya.
Pilihan itu memperluas cakupannya. Yang didustakan bukan cuma kalimat yang didengar, melainkan juga segala hal yang menunjuk kepada pemiliknya.
Perhatikan pula bahwa daftar pemberian di 78:6 sampai 78:16 juga berupa tanda. Sebelas hal disebut di sana tanpa satu pun diberi nama tanda.
Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini memuat sebelas tanda yang tidak dinamai lalu menyebut pendustaan terhadap tanda-tanda.
Perhatikan pula bahwa (بِآيَاتِنَا, bi aayaatinaa) menempelkan penanda milik pada ujungnya. Tanda-tanda itu disebut sebagai milik pembicaranya, bukan sebagai benda yang berdiri sendiri.
Kepemilikan itu mengubah beratnya. Mendustakan sesuatu yang tak bertuan berbeda dari mendustakan sesuatu yang jelas ada pemiliknya.
Perhatikan pula bahwa ayat ini adalah alasan kedua dari tiga. Alasan pertama di 78:27, dan yang ketiga di 78:29 berupa pencatatan.
Ketiganya berdiri di tiga ayat berurutan dengan panjang yang hampir sama. Susunan berjajar seperti itu memudahkan pembacanya menghitung tanpa harus mengingat.
Tafsiran
Ayat ini menyebut sebab kedua sesudah 78:27 menyebut sebab pertama. Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 78:28 dan 78:35, dan keduanya ada di surah ini serta tidak ada di surah lain mana pun.
Dua kemunculan itu berdiri di dua tempat yang berlawanan, karena di sini ia menamai perbuatan mereka sedangkan di 78:35 ia menamai apa yang tidak terdengar di tempat yang dijanjikan. Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu dengan satu kalimat pun.
Kata kerjanya muncul 48 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk yang sama, antara lain 6:5, 7:36, 10:39, dan 54:3. Ayat ini memakai dua kata dari akar yang sama secara berturut-turut, sehingga yang disebut bukan sekadar mendustakan melainkan mendustakan dengan pendustaan.
Kata ketiganya menyebut pemiliknya sebagai kami, dan ini penyebutan pertama pelaku ilahi di bagian ini sejak 78:18. Yang muncul bukan namanya, melainkan kepemilikan atas tanda-tandanya.
Penyebutan itu berlanjut di 78:29 dan 78:30, sehingga tiga ayat berturut-turut memuat pelakunya sesudah sepuluh ayat yang diam. Yang didustakan disebut sebagai tanda-tanda dan bukan sebagai perkataan, sehingga cakupannya meluas ke segala hal yang menunjuk kepada pemiliknya. Daftar pemberian di 78:6 sampai 78:16 juga berupa tanda meskipun tidak satu pun diberi nama tanda di sana, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Ayat ini juga menyebut tanda-tanda itu sebagai milik pembicaranya, sehingga beratnya berbeda dari mendustakan sesuatu yang tak bertuan. Ini alasan kedua dari tiga, dan ketiganya berdiri berurutan dengan panjang yang hampir sama.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya dipakai Allah cuma 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 78:28 dan 78:35, dan keduanya ada di surah ini. Tidak ada satu surah lain pun yang memuatnya. Sebuah kata yang seluruh hidupnya berada di dalam satu surah mengikat dua ujung surah itu tanpa perlu satu kalimat penghubung. Sebuah kata yang seluruh hidupnya berada di dalam satu surah mengikat dua ujung surah itu tanpa satu kalimat penghubung. Ikatan seperti itu cuma terbaca oleh yang membaca surahnya sampai habis, karena tujuh ayat memisahkan kemunculan pertamanya dari yang kedua.
- Di sini kata itu menamai perbuatan mereka, dan di 78:35 Allah memakainya untuk menamai apa yang tidak terdengar di tempat yang dijanjikan. Satu kata yang sama dipakai untuk kesalahan dan untuk ketiadaan kesalahan itu. Yang dihukum karenanya dan yang dijauhkan darinya dinamai dengan bunyi yang sama persis. Yang dihukum karenanya dan yang dijauhkan darinya dinamai dengan bunyi yang sama persis. Satu kata memuat kesalahan sekaligus ketiadaan kesalahan itu, tergantung di mana ia berdiri.
- Allah memakai dua kata dari akar yang sama secara berturut-turut, sehingga yang disebut bukan sekadar mendustakan melainkan mendustakan dengan pendustaan. Al-Qur'an tidak menerangkan penguatan itu. Mengulang akar yang sama dalam satu ayat pendek adalah cara menekan tanpa menambah satu keterangan pun. Mengulang akar yang sama dalam satu ayat pendek adalah cara menekan tanpa menambah satu keterangan pun. Yang bertambah bukan isinya, melainkan bobotnya, dan bobot itu ditambahkan tanpa satu keterangan baru pun yang masuk ke dalam kalimatnya.
- Kata ketiganya menyebut pemiliknya sebagai kami, dan ini penyebutan pertama pelaku ilahi di bagian ini sejak 78:18. Sesudah sepuluh ayat tanpa pelaku yang dinamai, pemiliknya muncul di sini lewat kepemilikan atas tanda-tandanya. Yang tampil bukan namanya, melainkan hubungannya dengan apa yang didustakan. Yang tampil di sini bukan nama pemiliknya, melainkan hubungannya dengan apa yang didustakan. Kepemilikan itu yang membuat pendustaannya berat, bukan isi kalimatnya sendiri.
- Penyebutan pelakunya berlanjut di 78:29 dan 78:30, sehingga tiga ayat berturut-turut memuatnya sesudah sepuluh ayat yang diam. Cerita yang tadinya berjalan tanpa pemilik tiba-tiba memuat suara Allah sendiri. Perubahan suara sebesar itu terasa justru karena ia datang sesudah kesunyian yang panjang. Perubahan suara sesudah kesunyian yang panjang terasa lebih keras daripada suara yang hadir sejak awal. Sepuluh ayat tanpa pelaku menyiapkan tiga ayat yang bersuara.
- Perbuatan yang disebut di sini muncul 48 kali di seluruh Al-Qur'an dalam bentuk yang sama, antara lain 6:5, 7:36, 10:39, dan 54:3. Kalau satu perbuatan disebut sebanyak itu, apa yang membuatnya begitu mudah diulang oleh manusia dari zaman ke zaman? Perbuatan yang disebut di sini muncul di puluhan ayat dari zaman ke zaman. Yang berulang sebanyak itu tidak mungkin cuma kebetulan pada satu kelompok orang saja.