فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًا
“Maka rasakanlah, maka Kami tidak akan menambah kepada kalian selain azab.”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَذُوقُوا فَلَنْ نَزِيدَكُمْ إِلَّا عَذَابًاfa-dzuuquu fa-lan naziidakum illaa 'adzaabanmaka rasakanlah, maka Kami tidak akan menambah kepada kalian selain azab
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَذُوقُواfa-dzuuquumaka rasakanlah kalian
- فَلَنْfa-lanmaka tidak akan
- نَزِيدَكُمْnaziidakumKami menambah kalian
- إِلَّاillaakecuali
- عَذَابًا'adzaabanazab
Inti bacaan
Konsekuensi yang tak terhindarkan dan tak berujung: 'rasakanlah, maka Kami tidak akan menambah kepada kalian selain azab', penegasan bahwa fase ini murni konsekuensi tanpa jalan keluar, penambahan yang hanya berupa penderitaan lanjutan.
Penjelasan pilihan kata
Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, ditandai bentuk imperatif orang kedua jamak langsung (فَذُوقُوا, fa dzuuquu).
Kata (فَذُوقُوا, fa dzuuquu) muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 3:106, 8:35, 32:14, dan 54:37. Akarnya dipakai di 61 ayat.
Perhatikan bahwa akar (فَذُوقُوا, fa dzuuquu) juga dipakai di 78:24 di dalam surah ini. Di sana ia disangkal, dan di sini ia diperintahkan.
Jadi satu bunyi dasar dipakai dua kali di surah ini dengan arah yang berlawanan. Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu dengan satu kalimat pun.
Jarak antara keduanya enam ayat. Yang tadinya tidak mereka rasakan kini diperintahkan untuk dirasakan.
Kata (عَذَابًا, 'adzaaban) muncul 39 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:18, 17:10, 33:57, dan 72:17. Dua di antaranya ada di surah ini: 78:30 dan 78:40.
Perhatikan bahwa dua kemunculan itu berdiri di dua tempat yang jauh. Di sini ia menutup bagian tentang yang melampaui batas, dan di 78:40 ia menutup seluruh surahnya.
Kata (نَزِيدَكُمْ, naziidakum) menyebut pelakunya sebagai kami. Ini penyebutan ketiga berturut-turut sesudah 78:28 dan 78:29.
Perhatikan bahwa yang disebut bukan menahan, melainkan menambah. Ayat ini tidak menyatakan hukuman itu tetap, melainkan bahwa yang bertambah cuma satu jenis.
Susunan itu memakai pengecualian. Yang disangkal adalah bertambahnya hal lain, bukan bertambahnya hukuman.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyapa mereka secara langsung. Sesudah tiga ayat yang bercerita tentang mereka, di sini mereka diajak bicara.
Perubahan sapaan itu terjadi tepat di ayat penutup bagiannya. Yang tadinya dibicarakan mendadak dihadapkan.
Cara seperti itu berulang di surah ini. Di 78:18 pembacanya juga mendadak disapa sesudah cerita yang berjalan dari jauh.
Perhatikan pula bahwa perintah di ayat ini tidak menuntut jawaban. Ia disampaikan kepada pihak yang sudah tidak punya pilihan untuk menolak.
Perintah seperti itu berbeda dari perintah biasa. Perintah biasa membuka dua kemungkinan, sedangkan yang ini cuma menyatakan apa yang sudah pasti terjadi.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menutup bagian yang dibuka di 78:21. Sepuluh ayat berjalan sejak sana, dan ayat ini memberi kata terakhirnya.
Penutupnya berupa perintah (فَذُوقُوا, fa dzuuquu), bukan keterangan. Bagiannya dibuka dengan pernyataan yang ditegaskan, dan ditutup dengan perintah yang dihadapkan langsung.
Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut lamanya. Yang disebut cuma bahwa yang bertambah tidak akan berupa hal lain.
Ketiadaan ukuran waktu itu sejalan dengan 78:23. Di sana disebut masa tinggal yang berkepanjangan tanpa satu angka pun.
Jadi bagian ini dibuka dan ditutup tanpa satu ukuran waktu yang pasti. Al-Qur'an tidak memberi satu bilangan pun di sepanjang sepuluh ayatnya.
Ketiadaan bilangan itu mencolok kalau dibandingkan dengan 78:12. Di daftar pemberian ada tujuh langit yang disebut jumlahnya, dan di bagian ini tidak ada satu angka pun.
Tafsiran
Ayat ini mencatat vonis final yang dijatuhkan kepada penghuni neraka. Ayat ini menutup bagian tentang yang melampaui batas dengan sapaan langsung. Kata pertamanya muncul 11 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 3:106, 8:35, 32:14, dan 54:37, dan akarnya dipakai di 61 ayat.
Akar itu juga dipakai di 78:24 di dalam surah ini, dan di sana ia disangkal sedangkan di sini ia diperintahkan. Jarak antara keduanya enam ayat, sehingga yang tadinya tidak mereka rasakan kini diperintahkan untuk dirasakan.
Kata terakhirnya muncul 39 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:18, 17:10, 33:57, dan 72:17, dan dua di antaranya ada di surah ini, yaitu 78:30 dan 78:40. Di sini ia menutup bagian tentang yang melampaui batas, dan di 78:40 ia menutup seluruh surahnya.
Yang disebut di sini bukan menahan melainkan menambah, sehingga yang disangkal adalah bertambahnya hal lain dan bukan bertambahnya hukuman. Kata kerjanya menyebut pelakunya sebagai kami untuk ketiga kalinya berturut-turut sesudah 78:28 dan 78:29.
Sesudah tiga ayat yang bercerita tentang mereka, di sini mereka diajak bicara secara langsung, sama seperti yang terjadi di 78:18. Perintah di ayat ini tidak menuntut jawaban, karena ia disampaikan kepada pihak yang sudah tidak punya pilihan untuk menolak, sehingga ia menyatakan apa yang pasti terjadi dan bukan membuka dua kemungkinan. Ayat ini menutup bagian yang dibuka di 78:21, dan bagiannya dibuka dengan pernyataan yang ditegaskan lalu ditutup dengan perintah yang dihadapkan langsung. Ayat ini juga tidak menyebut lamanya, sejalan dengan 78:23, sehingga sepuluh ayat bagian ini berjalan tanpa satu bilangan pun, berbeda dari 78:12 yang menyebut tujuh langit.
Renungan dan Hikmah
- Akar kata pertamanya dipakai Allah di 78:24 dan di 78:30 di dalam surah yang sama. Di 78:24 ia disangkal, dan di sini ia diperintahkan, sehingga yang tadinya tidak mereka rasakan kini diperintahkan untuk dirasakan. Jarak enam ayat memisahkan penyangkalan dari perintahnya, dan Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Jarak enam ayat memisahkan penyangkalan dari perintahnya, dan Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu. Yang membacanya berurutan akan mendengar gemanya, sedangkan yang membaca sepotong tidak akan pernah tahu bahwa gema itu ada.
- Kata terakhirnya dipakai Allah 39 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 4:18, 17:10, 33:57, dan 72:17, dan dua di antaranya ada di surah ini. Di sini ia menutup bagian tentang yang melampaui batas, dan di 78:40 ia menutup seluruh surahnya. Satu kata yang sama dipakai untuk mengunci dua bangunan yang berbeda ukurannya. Satu kata yang sama dipakai untuk mengunci dua bangunan yang berbeda ukurannya. Bunyi penutup di 78:30 bergema lagi di 78:40, dan yang membacanya berurutan akan mengenali kembaliannya.
- Yang disebut Allah di sini bukan menahan, melainkan menambah. Ayat ini tidak menyatakan hukuman itu tetap, melainkan bahwa yang bertambah cuma satu jenis. Yang disangkal adalah bertambahnya hal lain, dan susunan seperti itu jauh lebih keras daripada menyebut hukumannya tidak berkurang. Menyebut yang bertambah lebih keras daripada menyebut yang tidak berkurang. Kalimatnya tidak menjanjikan kepastian yang tetap, melainkan arah yang cuma satu, dan arah yang cuma satu tidak menyisakan harapan pada perubahan.
- Kata kerjanya menyebut pelakunya sebagai kami untuk ketiga kalinya berturut-turut sesudah 78:28 dan 78:29. Sesudah sepuluh ayat tanpa pelaku yang dinamai, tiga ayat beruntun memuatnya. Suara yang muncul di bagian penutup terdengar lebih tegas daripada suara yang hadir sejak awal. Suara yang muncul di bagian penutup terdengar lebih tegas daripada suara yang hadir sejak awal. Tiga ayat beruntun memuatnya sesudah sepuluh ayat yang diam, dan susunan seperti itu menaruh suaranya tepat di tempat yang paling terdengar.
- Sesudah tiga ayat yang bercerita tentang mereka, di sini Allah mengajak mereka bicara secara langsung. Perubahan sapaan itu terjadi tepat di ayat penutup bagiannya, sama seperti yang terjadi di 78:18. Yang tadinya dibicarakan mendadak dihadapkan, dan tidak ada satu kata pun yang menyiapkannya. Yang tadinya dibicarakan mendadak dihadapkan, dan tidak ada satu kata pun yang menyiapkannya. Perubahan sapaan di ayat penutup membuat penutupnya terasa seperti panggilan.
- Kata pertamanya berupa perintah, tetapi perintah itu tidak menuntut satu jawaban pun. Apa yang tersisa dari sebuah perintah ketika yang diperintah tidak punya pilihan untuk menolaknya? Perintah yang tidak menuntut jawaban bukan lagi perintah dalam arti biasa. Ia menyatakan apa yang sudah pasti, dan bentuk perintahnya cuma cara menyampaikannya kepada pihak yang tidak lagi bisa memilih.