Ayat 78:31
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا
Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًاinna li-l-muttaqiina mafaazansesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan
Terjemahan per kata (3 kata)
- إِنَّinnasesungguhnya
- لِلْمُتَّقِينَli-l-muttaqiinabagi orang-orang yang bertakwa
- مَفَازًاmafaazankemenangan
Inti bacaan
Transisi menuju hasil positif: 'sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan', kontras tajam setelah gambaran konsekuensi negatif, pengingat bahwa jalan berbeda membawa hasil yang sama sekali berlawanan.
Penjelasan pilihan kata
Kata (مَفَازًا, mafaazan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 27 ayat, antara lain 3:185, 9:20, 44:57, dan 85:11.
Arti dasar akar (مَفَازًا, mafaazan) adalah menang atau selamat dari yang ditakuti. Jadi yang dijanjikan bukan cuma tempat, melainkan hasil dari sebuah pertaruhan.
Kata (لِلْمُتَّقِينَ, lil-muttaqiin) muncul 18 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:2, 3:133, 25:74, dan 69:48. Jadi sebutan itu jauh lebih sering dipakai daripada kata pasangannya di ayat ini.
Perhatikan bahwa ayat ini memakai susunan yang sama persis dengan 78:21. Keduanya dibuka penegas, lalu menyebut pihak, lalu menyebut apa yang tersedia baginya.
Kesejajaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua bagian besar surah ini dibuka dengan kerangka kalimat yang sama.
Perbedaannya ada pada isinya. Di 78:21 yang disebut tempat yang mengintai, dan di sini yang disebut keselamatan yang diraih.
Perhatikan bahwa penegas yang sama juga dipakai di 78:17. Tiga kali di surah ini pernyataan besar dibuka dengan penegasan yang sama.
Ketiganya menyebut hal yang berbeda. Yang pertama hari pemisahan, yang kedua tempat bagi yang melampaui batas, dan yang ketiga kemenangan bagi yang bertakwa.
Ayat ini membuka bagian yang berjalan sampai 78:36. Enam ayat berturut-turut melukiskan apa yang tersedia, dan ayat ini memberi namanya lebih dulu.
Susunan itu kebalikan dari bagian sebelumnya. Di sana namanya datang belakangan di 78:26, dan di sini namanya datang di awal.
Perhatikan pula bahwa peralihan dari hukuman ke pemberian terjadi tanpa satu kata penghubung. Ayat sebelumnya menutup dengan tambahan hukuman, dan ayat ini langsung membuka dengan kemenangan.
Perpindahan tanpa penghubung itu berulang di surah ini. Cara yang sama sudah dipakai di 78:17, ketika daftar pemberian langsung disusul hari pemisahan.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut mereka lewat perbuatannya, bukan lewat namanya. Yang disebut adalah orang-orang yang menjaga diri, dan penjagaan itu tidak diterangkan bentuknya.
Cara yang sama dipakai di 78:22. Di sana yang disebut juga sikap, yaitu melampaui batas, dan bukan nama kelompok.
Jadi dua pihak yang dipertentangkan di surah ini sama-sama dinamai lewat sikap. Al-Qur'an tidak menyebut satu nama kelompok pun di antara keduanya.
Susunan itu membuat pembacanya tidak bisa lepas. Tidak ada keanggotaan yang bisa dipakai untuk merasa aman, dan tidak ada keanggotaan yang bisa dipakai untuk merasa tertuduh.
Perhatikan pula bahwa bagian ini jauh lebih pendek daripada bagian sebelumnya. Bagian tentang yang melampaui batas berjalan sepuluh ayat, dan bagian ini enam ayat.
Perbedaan panjang itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya tidak diberi ruang yang sama.
Perhatikan pula bahwa rangkaian (لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا, lil-muttaqiina mafaazan) tidak memuat satu perbuatan pun. Ia menyatakan bahwa sesuatu tersedia, tanpa menyebut siapa yang menyediakannya.
Ketiadaan pelaku itu sudah berjalan sejak 78:18. Tiga ayat di 78:28 sampai 78:30 sempat menamainya, lalu di sini ia kembali tidak dinamai.
Tafsiran
Ayat ini membuka bagian tentang yang bertakwa yang berjalan sampai 78:36. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 27 ayat, antara lain 3:185, 9:20, 44:57, dan 85:11.
Arti dasar akar itu adalah menang atau selamat dari yang ditakuti, sehingga yang dijanjikan bukan cuma tempat melainkan hasil dari sebuah pertaruhan. Kata keduanya muncul 18 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:2, 3:133, 25:74, dan 69:48.
Ayat ini memakai susunan yang sama persis dengan 78:21, karena keduanya dibuka penegas lalu menyebut pihak lalu menyebut apa yang tersedia baginya. Perbedaannya ada pada isinya, karena di 78:21 yang disebut tempat yang mengintai sedangkan di sini yang disebut keselamatan yang diraih.
Penegas yang sama juga dipakai di 78:17, sehingga tiga kali di surah ini pernyataan besar dibuka dengan penegasan yang sama, yaitu tentang hari pemisahan, tempat bagi yang melampaui batas, dan kemenangan bagi yang bertakwa.
Peralihan dari hukuman ke pemberian terjadi tanpa satu kata penghubung, sama seperti peralihan di 78:17. Ayat ini menyebut mereka lewat perbuatannya dan bukan lewat namanya, sama seperti 78:22 yang juga menyebut sikap dan bukan nama kelompok. Jadi dua pihak yang dipertentangkan di surah ini sama-sama dinamai lewat sikap, sehingga tidak ada keanggotaan yang bisa dipakai untuk merasa aman maupun untuk merasa tertuduh. Bagian ini juga jauh lebih pendek daripada bagian sebelumnya, karena yang satu berjalan sepuluh ayat dan yang ini enam ayat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya dipakai Allah cuma 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 27 ayat, antara lain 3:185, 9:20, 44:57, dan 85:11. Arti dasarnya menang atau selamat dari yang ditakuti, sehingga yang dijanjikan bukan cuma tempat melainkan hasil dari sebuah pertaruhan. Nama seperti itu mengandaikan ada yang dipertaruhkan lebih dulu. Nama seperti itu mengandaikan ada yang dipertaruhkan lebih dulu. Sesuatu tidak bisa disebut kemenangan kalau tidak pernah ada kemungkinan kalah, sehingga nama itu sendiri mengakui adanya taruhan.
- Ayat ini memakai susunan yang sama persis dengan 78:21, karena keduanya dibuka penegas lalu menyebut pihak lalu menyebut apa yang tersedia. Yang berbeda cuma isinya, karena di 78:21 yang disebut tempat yang mengintai dan di sini keselamatan yang diraih. Dua bagian besar surah ini berdiri di atas kerangka kalimat yang sama. Dua bagian besar surah ini berdiri di atas kerangka kalimat yang sama. Yang membedakannya cuma isinya, dan kerangkanya sendiri tidak bergeser sedikit pun, sehingga keduanya terdengar seperti dua sisi dari satu pernyataan.
- Penegas yang sama dipakai Allah di 78:17, 78:21, dan 78:31. Ketiganya menyebut hal yang berbeda, yaitu hari pemisahan, tempat bagi yang melampaui batas, dan kemenangan bagi yang bertakwa. Tiga penegasan di satu surah menandai tiga hal yang paling ingin ditanamkan kepada pembacanya. Tiga penegasan di satu surah menandai tiga hal yang paling ingin ditanamkan kepada pembacanya. Yang ditegaskan berulang biasanya yang paling mudah diragukan.
- Enam ayat berturut-turut sesudah ini melukiskan apa yang tersedia, dan Allah memberi namanya lebih dulu di sini. Susunan itu kebalikan dari bagian sebelumnya, karena di sana namanya baru datang di 78:26. Mengetahui nama lebih dulu mengubah cara membaca rincian yang menyusul. Mengetahui nama lebih dulu mengubah cara membaca rincian yang menyusul. Enam ayat sesudahnya dibaca sebagai isi dari sebuah nama yang sudah diketahui.
- Ayat sebelumnya menutup dengan tambahan hukuman, dan ayat ini langsung membuka dengan kemenangan tanpa satu kata penghubung. Cara yang sama sudah dipakai Allah di 78:17, ketika daftar pemberian langsung disusul hari pemisahan. Perpindahan yang mendadak menuntut pembacanya sadar sendiri bahwa bagiannya sudah berganti. Perpindahan yang mendadak menuntut pembacanya sadar sendiri bahwa bagiannya sudah berganti. Tidak ada satu kata penghubung pun yang menandainya, sehingga yang membaca sambil lalu bisa melewatkan pergantian sebesar itu.
- Kata keduanya dipakai Allah 18 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:2, 3:133, 25:74, dan 69:48, sedangkan kata terakhirnya cuma sekali. Sebutan yang sering dan kata yang cuma sekali berdiri berdampingan dalam satu ayat pendek. Apa yang terjadi pada sebuah janji ketika ia dinamai dengan kata yang belum pernah terdengar di tempat lain mana pun? Yang dikenal dipasangkan dengan yang belum pernah terdengar di dalam satu ayat pendek. Sebutan yang sering dipakai berdiri berdampingan dengan kata yang cuma sekali muncul.
Ayat 78:32
حَدَائِقَ وَأَعْنَابًا
Kebun-kebun dan anggur,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- حَدَائِقَ وَأَعْنَابًاhadaa'iqa wa-a'naabankebun-kebun dan anggur
Terjemahan per kata (2 kata)
- حَدَائِقَhadaa'iqakebun-kebun
- وَأَعْنَابًاwa-a'naabandan anggur
Inti bacaan
Detail kekayaan alam surgawi: '(yaitu) kebun-kebun dan anggur', spesifikasi konkret jenis kenikmatan yang menanti, bukan gambaran abstrak tanpa substansi.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(yaitu)' tidak dipakai: fragmen apositif lanjutan dari 78:31, tanpa menambahkan kata pembuka.
Kata (حَدَائِقَ, hadaa-iqa) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 27:60, 78:32, dan 80:30. Akarnya juga cuma dipakai di tiga ayat yang sama persis.
Jadi akar (حَدَائِقَ, hadaa-iqa) tidak punya satu pun pemakaian di luar tiga tempat itu. Kejarangan seperti itu tidak lazim untuk benda sehari-hari.
Di 27:60 kata (حَدَائِقَ, hadaa-iqa) dipakai untuk kebun yang tumbuh karena air yang diturunkan. Di sana ia benda di dunia, dan di sini ia bagian dari yang dijanjikan.
Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa benda yang sama dipakai untuk dua tempat yang berbeda.
Kata (وَأَعْنَابًا, wa a'naaban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 11 ayat, antara lain 6:99, 16:11, 18:32, dan 36:34.
Perhatikan bahwa 80:30 juga memuat kebun yang sama, dan 80:28 memuat buah dari akar yang sama. Dua surah yang berdekatan memakai pasangan benda yang sama.
Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua surah memakai dua benda yang sama dalam urutan yang mirip.
Perhatikan bahwa daftar ini dibuka dengan kebun. Yang pertama disebut bukan makanan dan bukan minuman, melainkan tempat.
Urutan itu sejalan dengan daftar di 78:6 sampai 78:16. Di sana yang pertama disebut juga tempat, yaitu bumi yang dihamparkan.
Jadi dua daftar di surah ini sama-sama dibuka dengan tempat. Al-Qur'an tidak menyatakan kesejajaran itu dengan satu kalimat pun.
Ayat ini cuma terdiri atas dua patah, sama seperti 78:26 dan 78:22. Ayat sependek itu berulang di sepanjang surahnya.
Kependekan itu membuat daftarnya berjalan cepat. Empat ayat berturut-turut menyebut empat hal tanpa satu keterangan tambahan pun.
Perhatikan pula bahwa daftar ini berjalan empat ayat tanpa satu kalimat penjelas. Dari 78:32 sampai 78:34 disebut benda, lalu 78:35 menyebut suara.
Susunan berjajar seperti itu sudah dipakai di bagian pertama surahnya. Sebelas pemberian di 78:6 sampai 78:16 juga disebut berjajar tanpa penjelas.
Perhatikan pula bahwa dua daftar itu berbeda arah. Yang pertama menyebut apa yang sudah ada sekarang, dan yang kedua menyebut apa yang dijanjikan nanti.
Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu surah memakai bentuk yang sama untuk dua waktu yang berbeda.
Perhatikan pula bahwa (حَدَائِقَ, hadaa-iqa) berbunyi jamak, bukan tunggal. Yang dijanjikan bukan satu kebun, melainkan beberapa.
Al-Qur'an tidak menyebut jumlahnya. Yang bisa dibaca cuma bahwa bilangannya lebih dari satu dan tidak ditentukan berapa.
Perhatikan pula bahwa buah yang disebut sesudah kebun berasal dari benda yang tumbuh di dalam kebun itu. Urutannya bergerak dari yang menampung ke yang ditampung.
Urutan seperti itu berulang di daftar pertama surahnya. Di sana bumi disebut lebih dulu, lalu gunung yang berdiri di atasnya.
Perhatikan pula bahwa daftar ini jauh lebih pendek daripada daftar pertamanya. Yang satu sebelas ayat, dan yang ini empat ayat.
Perbedaan panjang itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya tidak diberi ruang yang sama meskipun bentuknya sama.
Perhatikan pula bahwa daftar ini tidak memuat satu pun perintah. Tidak ada ajakan, dan tidak ada peringatan di dalam keempat ayatnya.
Ketiadaan perintah itu membuat daftarnya terbaca sebagai kabar. Yang disampaikan bukan tuntutan, melainkan keterangan tentang apa yang tersedia.
Tafsiran
Ayat ini membuka rincian dari kemenangan yang dinamai di 78:31. Kata pertamanya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 27:60, 78:32, dan 80:30, dan akarnya juga cuma dipakai di tiga ayat yang sama persis.
Di 27:60 kata itu dipakai untuk kebun yang tumbuh karena air yang diturunkan, sehingga di sana ia benda di dunia sedangkan di sini ia bagian dari yang dijanjikan. Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 11 ayat, antara lain 6:99, 16:11, 18:32, dan 36:34. Perhatikan bahwa 80:30 juga memuat kebun yang sama dan 80:28 memuat buah dari akar yang sama, sehingga dua surah yang berdekatan memakai pasangan benda yang sama.
Daftar ini dibuka dengan tempat, bukan dengan makanan atau minuman, sejalan dengan daftar di 78:6 sampai 78:16 yang juga dibuka dengan tempat berupa bumi yang dihamparkan.
Ayat ini cuma terdiri atas dua patah, sama seperti 78:22 dan 78:26, sehingga daftarnya berjalan cepat tanpa satu keterangan tambahan pun. Daftar ini berjalan empat ayat tanpa satu kalimat penjelas, sama seperti sebelas pemberian di 78:6 sampai 78:16 yang juga disebut berjajar. Dua daftar itu berbeda arah, karena yang pertama menyebut apa yang sudah ada sekarang dan yang kedua menyebut apa yang dijanjikan nanti, dan Al-Qur'an tidak menyatakan perbedaan itu. Kebun di sini disebut dalam bentuk jamak tanpa satu bilangan pun, dan daftar ini tidak memuat satu perintah pun sehingga ia terbaca sebagai kabar dan bukan sebagai tuntutan.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya dipakai Allah cuma di 27:60, 78:32, dan 80:30, dan akarnya tidak punya satu pun pemakaian di luar tiga tempat itu. Kejarangan seperti itu tidak lazim untuk benda yang terdengar sehari-hari. Sebuah kata yang cuma hidup di tiga ayat membawa ketiganya serta ke mana pun ia dibaca. Kata yang cuma hidup di tiga ayat tidak punya cukup pemakaian untuk menjadi biasa. Setiap kemunculannya masih terasa sebagai pilihan, bukan sebagai kebiasaan berbahasa yang terpakai begitu saja.
- Di 27:60 Allah memakai kata itu untuk kebun yang tumbuh karena air yang diturunkan, sehingga di sana ia benda di dunia. Di sini ia bagian dari yang dijanjikan, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Satu nama untuk dua tempat membuat yang jauh terbayang lewat yang sudah pernah dilihat. Satu nama untuk dua tempat membuat yang jauh terbayang lewat yang sudah pernah dilihat. Bahasa tidak punya cara lain untuk menyebut sesuatu yang belum pernah dijumpai siapa pun, kecuali meminjam nama dari yang sudah dikenal.
- Allah memakai kebun yang sama di 80:30 dan buah dari akar yang sama di 80:28. Dua surah yang berdekatan memuat pasangan benda yang sama dalam urutan yang mirip, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Pengulangan seperti itu cuma terlihat oleh yang membaca dua surah itu berdampingan. Pengulangan seperti itu cuma terlihat oleh yang membaca dua surah itu berdampingan. Yang membaca satu surah saja tidak akan pernah tahu bahwa pasangannya ada di tempat lain, karena tidak ada satu penunjuk pun yang dipasang.
- Daftar ini dibuka Allah dengan tempat, bukan dengan makanan atau minuman. Daftar di 78:6 sampai 78:16 juga dibuka dengan tempat, yaitu bumi yang dihamparkan. Dua daftar di satu surah sama-sama menaruh tempat di urutan pertama, dan tempat memang yang pertama dibutuhkan sebelum apa pun bisa diletakkan di dalamnya. Tempat memang yang pertama dibutuhkan sebelum apa pun bisa diletakkan di dalamnya. Urutan seperti itu mengikuti cara orang membayangkan sesuatu, dari wadahnya lalu ke isinya.
- Ayat ini cuma terdiri atas dua patah, sama seperti 78:22 dan 78:26. Ayat sependek itu berulang di sepanjang surahnya, sehingga daftarnya berjalan cepat tanpa satu keterangan tambahan pun. Kecepatan seperti itu membuat pembacanya menerima banyak hal dalam waktu yang pendek. Kecepatan seperti itu membuat pembacanya menerima banyak hal dalam waktu yang pendek. Yang cepat lewat lebih mudah diingat sebagai satu kesatuan daripada sebagai bagian-bagian.
- Kata keduanya dipakai Allah cuma 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 11 ayat, antara lain 6:99, 16:11, 18:32, dan 36:34. Kalau sebuah benda yang biasa disebut lewat akarnya tiba-tiba dipakai dalam bentuk yang cuma sekali muncul, apa yang berubah pada cara kita mendengarnya? Buah yang cuma sekali disebut dalam bentuk itu berdiri di daftar yang seluruhnya berisi benda jarang. Kejarangan yang menumpuk membuat daftarnya tidak terdengar seperti daftar biasa.