إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا

Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًاinna li-l-muttaqiina mafaazansesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. إِنَّinnasesungguhnya
  2. لِلْمُتَّقِينَli-l-muttaqiinabagi orang-orang yang bertakwa
  3. مَفَازًاmafaazankemenangan

Inti bacaan

Transisi menuju hasil positif: 'sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa ada kemenangan', kontras tajam setelah gambaran konsekuensi negatif, pengingat bahwa jalan berbeda membawa hasil yang sama sekali berlawanan.

Penjelasan pilihan kata

Kata (مَفَازًا, mafaazan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 27 ayat, antara lain 3:185, 9:20, 44:57, dan 85:11.

Arti dasar akar (مَفَازًا, mafaazan) adalah menang atau selamat dari yang ditakuti. Jadi yang dijanjikan bukan cuma tempat, melainkan hasil dari sebuah pertaruhan.

Kata (لِلْمُتَّقِينَ, lil-muttaqiin) muncul 18 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:2, 3:133, 25:74, dan 69:48. Jadi sebutan itu jauh lebih sering dipakai daripada kata pasangannya di ayat ini.

Perhatikan bahwa ayat ini memakai susunan yang sama persis dengan 78:21. Keduanya dibuka penegas, lalu menyebut pihak, lalu menyebut apa yang tersedia baginya.

Kesejajaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua bagian besar surah ini dibuka dengan kerangka kalimat yang sama.

Perbedaannya ada pada isinya. Di 78:21 yang disebut tempat yang mengintai, dan di sini yang disebut keselamatan yang diraih.

Perhatikan bahwa penegas yang sama juga dipakai di 78:17. Tiga kali di surah ini pernyataan besar dibuka dengan penegasan yang sama.

Ketiganya menyebut hal yang berbeda. Yang pertama hari pemisahan, yang kedua tempat bagi yang melampaui batas, dan yang ketiga kemenangan bagi yang bertakwa.

Ayat ini membuka bagian yang berjalan sampai 78:36. Enam ayat berturut-turut melukiskan apa yang tersedia, dan ayat ini memberi namanya lebih dulu.

Susunan itu kebalikan dari bagian sebelumnya. Di sana namanya datang belakangan di 78:26, dan di sini namanya datang di awal.

Perhatikan pula bahwa peralihan dari hukuman ke pemberian terjadi tanpa satu kata penghubung. Ayat sebelumnya menutup dengan tambahan hukuman, dan ayat ini langsung membuka dengan kemenangan.

Perpindahan tanpa penghubung itu berulang di surah ini. Cara yang sama sudah dipakai di 78:17, ketika daftar pemberian langsung disusul hari pemisahan.

Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut mereka lewat perbuatannya, bukan lewat namanya. Yang disebut adalah orang-orang yang menjaga diri, dan penjagaan itu tidak diterangkan bentuknya.

Cara yang sama dipakai di 78:22. Di sana yang disebut juga sikap, yaitu melampaui batas, dan bukan nama kelompok.

Jadi dua pihak yang dipertentangkan di surah ini sama-sama dinamai lewat sikap. Al-Qur'an tidak menyebut satu nama kelompok pun di antara keduanya.

Susunan itu membuat pembacanya tidak bisa lepas. Tidak ada keanggotaan yang bisa dipakai untuk merasa aman, dan tidak ada keanggotaan yang bisa dipakai untuk merasa tertuduh.

Perhatikan pula bahwa bagian ini jauh lebih pendek daripada bagian sebelumnya. Bagian tentang yang melampaui batas berjalan sepuluh ayat, dan bagian ini enam ayat.

Perbedaan panjang itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya tidak diberi ruang yang sama.

Perhatikan pula bahwa rangkaian (لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا, lil-muttaqiina mafaazan) tidak memuat satu perbuatan pun. Ia menyatakan bahwa sesuatu tersedia, tanpa menyebut siapa yang menyediakannya.

Ketiadaan pelaku itu sudah berjalan sejak 78:18. Tiga ayat di 78:28 sampai 78:30 sempat menamainya, lalu di sini ia kembali tidak dinamai.

Tafsiran

Ayat ini membuka bagian tentang yang bertakwa yang berjalan sampai 78:36. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 27 ayat, antara lain 3:185, 9:20, 44:57, dan 85:11.

Arti dasar akar itu adalah menang atau selamat dari yang ditakuti, sehingga yang dijanjikan bukan cuma tempat melainkan hasil dari sebuah pertaruhan. Kata keduanya muncul 18 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:2, 3:133, 25:74, dan 69:48.

Ayat ini memakai susunan yang sama persis dengan 78:21, karena keduanya dibuka penegas lalu menyebut pihak lalu menyebut apa yang tersedia baginya. Perbedaannya ada pada isinya, karena di 78:21 yang disebut tempat yang mengintai sedangkan di sini yang disebut keselamatan yang diraih.

Penegas yang sama juga dipakai di 78:17, sehingga tiga kali di surah ini pernyataan besar dibuka dengan penegasan yang sama, yaitu tentang hari pemisahan, tempat bagi yang melampaui batas, dan kemenangan bagi yang bertakwa.

Peralihan dari hukuman ke pemberian terjadi tanpa satu kata penghubung, sama seperti peralihan di 78:17. Ayat ini menyebut mereka lewat perbuatannya dan bukan lewat namanya, sama seperti 78:22 yang juga menyebut sikap dan bukan nama kelompok. Jadi dua pihak yang dipertentangkan di surah ini sama-sama dinamai lewat sikap, sehingga tidak ada keanggotaan yang bisa dipakai untuk merasa aman maupun untuk merasa tertuduh. Bagian ini juga jauh lebih pendek daripada bagian sebelumnya, karena yang satu berjalan sepuluh ayat dan yang ini enam ayat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 27 ayat, antara lain 3:185, 9:20, 44:57, dan 85:11. Arti dasarnya menang atau selamat dari yang ditakuti, sehingga yang dijanjikan bukan cuma tempat melainkan hasil dari sebuah pertaruhan. Nama seperti itu mengandaikan ada yang dipertaruhkan lebih dulu. Nama seperti itu mengandaikan ada yang dipertaruhkan lebih dulu. Sesuatu tidak bisa disebut kemenangan kalau tidak pernah ada kemungkinan kalah, sehingga nama itu sendiri mengakui adanya taruhan.
  • Ayat ini memakai susunan yang sama persis dengan 78:21, karena keduanya dibuka penegas lalu menyebut pihak lalu menyebut apa yang tersedia. Yang berbeda cuma isinya, karena di 78:21 yang disebut tempat yang mengintai dan di sini keselamatan yang diraih. Dua bagian besar surah ini berdiri di atas kerangka kalimat yang sama. Dua bagian besar surah ini berdiri di atas kerangka kalimat yang sama. Yang membedakannya cuma isinya, dan kerangkanya sendiri tidak bergeser sedikit pun, sehingga keduanya terdengar seperti dua sisi dari satu pernyataan.
  • Penegas yang sama dipakai Allah di 78:17, 78:21, dan 78:31. Ketiganya menyebut hal yang berbeda, yaitu hari pemisahan, tempat bagi yang melampaui batas, dan kemenangan bagi yang bertakwa. Tiga penegasan di satu surah menandai tiga hal yang paling ingin ditanamkan kepada pembacanya. Tiga penegasan di satu surah menandai tiga hal yang paling ingin ditanamkan kepada pembacanya. Yang ditegaskan berulang biasanya yang paling mudah diragukan.
  • Enam ayat berturut-turut sesudah ini melukiskan apa yang tersedia, dan Allah memberi namanya lebih dulu di sini. Susunan itu kebalikan dari bagian sebelumnya, karena di sana namanya baru datang di 78:26. Mengetahui nama lebih dulu mengubah cara membaca rincian yang menyusul. Mengetahui nama lebih dulu mengubah cara membaca rincian yang menyusul. Enam ayat sesudahnya dibaca sebagai isi dari sebuah nama yang sudah diketahui.
  • Ayat sebelumnya menutup dengan tambahan hukuman, dan ayat ini langsung membuka dengan kemenangan tanpa satu kata penghubung. Cara yang sama sudah dipakai Allah di 78:17, ketika daftar pemberian langsung disusul hari pemisahan. Perpindahan yang mendadak menuntut pembacanya sadar sendiri bahwa bagiannya sudah berganti. Perpindahan yang mendadak menuntut pembacanya sadar sendiri bahwa bagiannya sudah berganti. Tidak ada satu kata penghubung pun yang menandainya, sehingga yang membaca sambil lalu bisa melewatkan pergantian sebesar itu.
  • Kata keduanya dipakai Allah 18 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 2:2, 3:133, 25:74, dan 69:48, sedangkan kata terakhirnya cuma sekali. Sebutan yang sering dan kata yang cuma sekali berdiri berdampingan dalam satu ayat pendek. Apa yang terjadi pada sebuah janji ketika ia dinamai dengan kata yang belum pernah terdengar di tempat lain mana pun? Yang dikenal dipasangkan dengan yang belum pernah terdengar di dalam satu ayat pendek. Sebutan yang sering dipakai berdiri berdampingan dengan kata yang cuma sekali muncul.