لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًا
Di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak pula dusta.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا وَلَا كِذَّابًاlaa yasma'uuna fiihaa laghwan wa-laa kidzdzaabandi sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak pula dusta
Terjemahan per kata (6 kata)
- لَاlaatidak
- يَسْمَعُونَyasma'uunamendengar
- فِيهَاfiihaadi dalamnya
- لَغْوًاlaghwanperkataan sia-sia
- وَلَاwa-laadan tidak pula
- كِذَّابًاkidzdzaabandengan pendustaan
Inti bacaan
Lingkungan komunikasi yang bersih: 'di sana mereka tidak mendengar percakapan yang sia-sia dan tidak pula (perkataan) dusta', standar interaksi sosial ideal tanpa kebohongan atau obrolan tak bermakna, kualitas lingkungan yang dijaga kemurniannya.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(perkataan)' tidak dipakai: redundan dengan 'dusta' yang sudah bermakna lengkap.
Rangkaian (لَا يَسْمَعُونَ فِيهَا لَغْوًا, laa yasma'uuna fiihaa laghwan) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 19:62, 56:25, dan 78:35. Ketiganya memakai susunan kata yang sama persis.
Jadi tiga surah yang berjauhan memuat kalimat yang sama. Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu dengan satu kalimat pun.
Kata (لَغْوًا, laghwan) muncul di tiga ayat yang sama itu. Akarnya dipakai di 11 ayat, antara lain 2:225, 23:3, 25:72, dan 88:11.
Kata (كِذَّابًا, kidzdzaaban) di ujung ayat ini cuma punya satu saudara di seluruh Al-Qur'an, yaitu di 78:28. Tidak ada surah lain mana pun yang memuatnya.
Perhatikan bahwa di 78:28 kata (كِذَّابًا, kidzdzaaban) menamai perbuatan yang dihukum. Di sini ia menamai apa yang tidak terdengar di tempat yang dijanjikan.
Jadi satu sebutan dipakai untuk kesalahan dan untuk ketiadaannya. Jarak antara keduanya tujuh ayat, dan tidak ada kalimat yang menghubungkannya.
Perhatikan bahwa ayat ini menyebut apa yang tidak ada, bukan apa yang ada. Empat ayat sebelumnya menyebut benda, dan ayat ini menyebut ketiadaan suara.
Pergantian itu mengubah jenis pemberiannya. Yang diberikan di sini bukan benda, melainkan keadaan yang bersih dari sesuatu.
Perhatikan bahwa cara yang sama dipakai di bagian sebelumnya. Di 78:24 juga disebut apa yang tidak dirasakan, bukan apa yang dirasakan.
Jadi dua bagian surah ini sama-sama memuat satu ayat penyangkalan. Al-Qur'an tidak menyatakan kesejajaran itu.
Perhatikan bahwa 52:23 memuat gelas dan juga memuat (لَغْوًا, laghwan) yang sama dengan di ayat ini. Susunan itu sejajar dengan 78:34 dan 78:35 yang berurutan.
Kesejajaran itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua sebutan yang berdampingan di satu ayat lain berdiri di dua ayat berurutan di sini.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut telinga, sedangkan empat ayat sebelumnya menyebut mata dan mulut. Kebun dilihat, buah dimakan, gelas diminum, dan di sini yang disebut apa yang didengar.
Susunan itu melengkapi indranya satu per satu. Al-Qur'an tidak menyatakan pelengkapan itu dengan satu kalimat pun.
Perhatikan pula bahwa dua hal yang disangkal di sini sama-sama berupa perkataan. Yang pertama perkataan yang sia-sia, dan yang kedua perkataan yang tidak benar.
Dua jenis itu berbeda. Yang satu tidak berguna meskipun tidak berbahaya, dan yang lain menyesatkan meskipun bisa terdengar berguna.
Perhatikan pula bahwa penyangkalannya dinyatakan dua kali, sama seperti di 78:24. Ada penyangkalan di awal, lalu penyangkalan lagi sebelum hal yang kedua.
Kesamaan susunan itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua bagian surah ini memakai penyangkalan berlapis yang sama.
Perhatikan pula bahwa ayat ini menutup daftar pemberian. Sesudahnya tidak ada lagi benda yang disebut, dan yang datang berikutnya adalah sumbernya.
Susunan itu sejajar dengan bagian sebelumnya. Di sana daftar juga ditutup lalu disusul ringkasan di 78:26.
Perhatikan pula bahwa yang ditiadakan di sini justru hal yang paling biasa di antara manusia. Perkataan sia-sia dan perkataan bohong terdengar hampir di mana saja.
Menyebut ketiadaannya sebagai bagian dari pemberian menandai betapa berat bebannya. Al-Qur'an tidak menerangkan penilaian itu.
Perhatikan pula bahwa ayat ini lebih panjang daripada tiga ayat sebelumnya. Tiga ayat itu masing-masing dua patah, dan ayat ini enam patah.
Perubahan panjang itu terjadi tepat di ayat penutup daftarnya. Iramanya melambat justru ketika daftarnya hendak berhenti.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan kesucian suasana bagi orang-orang bertakwa, bebas dari kesia-siaan dan dusta. Ayat ini menyebut apa yang tidak terdengar sesudah empat ayat menyebut benda. Rangkaian empat kata pertamanya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 19:62, 56:25, dan 78:35, dan ketiganya memakai susunan yang sama persis.
Kata ketiganya muncul di tiga ayat yang sama itu, dan akarnya dipakai di 11 ayat, antara lain 2:225, 23:3, 25:72, dan 88:11. Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 78:28 dan 78:35, dan keduanya ada di surah ini.
Di 78:28 kata itu menamai perbuatan yang dihukum, sedangkan di sini ia menamai apa yang tidak terdengar di tempat yang dijanjikan. Jarak antara keduanya tujuh ayat, dan tidak ada satu kalimat pun yang menghubungkannya.
Yang diberikan di sini bukan benda melainkan keadaan yang bersih dari sesuatu, dan cara yang sama sudah dipakai di 78:24 yang juga menyebut apa yang tidak dirasakan.
Perhatikan bahwa 52:23 memuat gelas dan juga memuat kata yang sama dengan di ayat ini, sehingga dua kata yang berdampingan di sana berdiri di dua ayat berurutan di sini. Ayat ini menyebut telinga, sedangkan empat ayat sebelumnya menyebut apa yang dilihat, dimakan, dan diminum, sehingga indranya dilengkapi satu per satu tanpa satu kalimat yang menyatakannya. Dua hal yang disangkal di sini sama-sama berupa perkataan, yaitu yang sia-sia dan yang tidak benar, dan keduanya berbeda karena yang satu tidak berguna sedangkan yang lain menyesatkan. Penyangkalannya dinyatakan dua kali, sama seperti di 78:24. Ayat ini juga lebih panjang daripada tiga ayat sebelumnya, sehingga iramanya melambat tepat ketika daftarnya hendak berhenti.
Renungan dan Hikmah
- Rangkaian empat kata pertamanya dipakai Allah 3 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 19:62, 56:25, dan 78:35, dengan susunan yang sama persis. Tiga surah yang berjauhan memuat kalimat yang sama, dan Al-Qur'an tidak menandai pengulangan itu. Kalimat yang berulang utuh lebih mudah dikenali daripada gagasan yang diulang dengan kata berbeda. Kalimat yang berulang utuh lebih mudah dikenali daripada gagasan yang diulang dengan kata berbeda. Yang mendengarnya di satu surah akan mengenalinya lagi di surah yang lain, meskipun jarak keduanya puluhan surah.
- Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 78:28 dan 78:35, dan keduanya ada di surah ini. Di 78:28 ia menamai perbuatan yang dihukum, dan di sini ia menamai apa yang tidak terdengar. Satu sebutan dipakai untuk kesalahan dan untuk ketiadaannya, dengan jarak tujuh ayat dan tanpa satu kalimat penghubung. Satu sebutan dipakai untuk kesalahan dan untuk ketiadaannya dengan jarak tujuh ayat. Yang membaca surahnya utuh akan mendengar bunyi yang sama datang dua kali dari dua arah yang berlawanan.
- Empat ayat sebelumnya menyebut benda, dan di sini Allah menyebut ketiadaan suara. Yang diberikan bukan benda, melainkan keadaan yang bersih dari sesuatu. Ada pemberian yang bentuknya justru berupa hilangnya sesuatu, dan pemberian seperti itu baru terasa oleh yang pernah mengalami kebalikannya. Ada pemberian yang bentuknya justru berupa hilangnya sesuatu. Pemberian seperti itu baru terasa oleh yang pernah menanggung kebalikannya setiap hari, dan tidak terasa sama sekali oleh yang belum pernah.
- Di 78:24 Allah juga menyebut apa yang tidak dirasakan, bukan apa yang dirasakan. Jadi dua bagian surah ini sama-sama memuat satu ayat penyangkalan di tengah daftarnya. Al-Qur'an tidak menyatakan kesejajaran itu, dan ia cuma terlihat oleh yang membandingkan dua bagian itu berdampingan. Al-Qur'an tidak menyatakan kesejajaran itu, dan ia cuma terlihat oleh yang membandingkan dua bagian berdampingan. Kesejajaran yang tidak ditandai menuntut pembaca yang mau menghitung sendiri, dan ia lewat begitu saja bagi yang membaca sambil lalu.
- Allah memakai gelas dan kata ini berdampingan di 52:23, sedangkan di sini keduanya berdiri di dua ayat berurutan. Susunan yang sama dipecah menjadi dua tempat, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu. Isi yang sama bisa disusun rapat di satu ayat atau direntang ke dua ayat. Isi yang sama bisa disusun rapat di satu ayat atau direntang ke dua ayat. Perbedaan susunan itu mengubah irama bacaannya tanpa mengubah apa yang disampaikan, sehingga isinya tetap sedangkan rasanya berbeda.
- Kata ketiganya dipakai Allah di 19:62, 56:25, dan 78:35, dan akarnya dipakai di 11 ayat, antara lain 2:225, 23:3, 25:72, dan 88:11. Kalau ketiadaan omong kosong disebut sebagai bagian dari pemberian, seberapa besar sebenarnya beban yang ditanggung manusia dari suara yang tidak berguna? Perkataan sia-sia dan perkataan bohong terdengar hampir di mana saja di antara manusia. Menyebut ketiadaan keduanya sebagai bagian dari pemberian menandai betapa berat bebannya, meskipun beban itu jarang dihitung orang.