رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَٰنِ ۖ لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًا

Tuhan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, Ar-Rahman. Mereka tidak memiliki pembicaraan dari-Nya.

Terjemahan bertahap (2 jeda)

  1. رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الرَّحْمَٰنِrabbi s-samaawaati wa-l-ardhi wa-maa baynahumaa r-rahmaaniTuhan langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, Ar-Rahman
  2. لَا يَمْلِكُونَ مِنْهُ خِطَابًاlaa yamlikuuna minhu khithaabanmereka tidak memiliki pembicaraan dari-Nya

Terjemahan per kata (10 kata)

  1. رَبِّrabbiTuhan
  2. السَّمَاوَاتِs-samaawaatilangit
  3. وَالْأَرْضِwa-l-ardhidan bumi
  4. وَمَاwa-maadan apa yang
  5. بَيْنَهُمَاbaynahumaaantara keduanya
  6. الرَّحْمَٰنِr-rahmaaniAr-Rahman
  7. لَاlaatidak
  8. يَمْلِكُونَyamlikuunamereka memiliki
  9. مِنْهُminhudarinya
  10. خِطَابًاkhithaabanperkataan

Inti bacaan

Otoritas mutlak tanpa negosiasi: '(yaitu) Tuhan (pemelihara) langit, bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, Ar-Rahman. Mereka tidak memiliki (hak) berbicara dengan-Nya', penegasan hierarki yang jelas, tidak ada ruang bagi makhluk untuk berdebat atau bernegosiasi dengan otoritas tertinggi tanpa izin.

Penjelasan pilihan kata

'Ar-Rahman' dipertahankan sebagai nama diri (apositif terhadap 'rabbi'), tidak diganti 'Sang Pengasih', konsisten pola nama-diri-bukan-gelar.

Kata (خِطَابًا, khithaaban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 12 ayat, antara lain 2:235, 20:95, 25:63, dan 38:20.

Di 38:20 akar (خِطَابًا, khithaaban) dipakai untuk kemampuan memutuskan perkara lewat perkataan. Jadi akar itu menamai bicara yang punya kedudukan, bukan bicara biasa.

Pemakaiannya di sini menyangkal kedudukan itu. Yang disangkal bukan kemampuan bersuara, melainkan kemampuan mengajukan perkataan yang diperhitungkan.

Rangkaian (وَمَا بَيْنَهُمَا, wa maa bainahumaa) muncul 21 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 5:17, 20:6, 26:24, 44:7, dan 50:38. Rangkaian itu menutup penyebutan langit dan bumi.

Perhatikan bahwa penyebutan itu memuat tiga wilayah sekaligus. Tidak ada ruang yang tersisa di luar ketiganya.

Cakupan mutlak seperti itu sejalan dengan 78:29. Di sana disebut segala sesuatu, dan di sini disebut seluruh ruang.

Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa surah ini dua kali menyebut cakupan yang tidak menyisakan apa pun.

Nama (الرَّحْمَٰنِ, ar-rahmaan) disebut 2 kali di surah ini: di ayat ini dan di 78:38. Tidak ada penyebutan nama itu di tiga puluh enam ayat lainnya.

Perhatikan bahwa kedua penyebutan itu berdiri di dua ayat berurutan. Keduanya juga berdiri di ayat yang menyebut pembatasan bicara.

Al-Qur'an tidak menandai kedekatan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa nama yang berarti pengasih muncul tepat di dua ayat tentang mulut yang terkunci.

Perhatikan bahwa ayat ini adalah ayat pertama surah ini yang panjang. Sepuluh ayat sebelumnya rata-rata cuma dua atau tiga patah.

Perubahan panjang itu terjadi tepat di bagian penutup. Empat ayat terakhir surah ini jauh lebih panjang daripada ayat-ayat sebelumnya.

Perhatikan pula bahwa ayat ini menerangkan siapa yang disebut di 78:36. Ayat sebelumnya menyebut hubungan, dan ayat ini menyebut cakupan kekuasaannya.

Susunan itu bergerak dari yang dekat ke yang luas. Yang pertama disebut hubungannya dengan satu orang, lalu kepemilikan atas seluruh ruang.

Perhatikan pula bahwa penyebutan itu memakai tiga bagian. Langit disebut, bumi disebut, lalu apa yang di antara keduanya disebut.

Pembagian tiga itu menutup kemungkinan ada yang terlewat. Tidak ada tempat yang bisa dibayangkan berada di luar ketiganya.

Perhatikan pula bahwa nama yang dipilih di sini berarti pengasih. Dari sekian banyak sebutan yang mungkin, yang dipakai adalah yang menyebut kasih.

Pilihan itu berdiri di ayat yang menyangkal hak bicara. Al-Qur'an tidak menerangkan mengapa kedua hal itu disandingkan.

Perhatikan pula bahwa penyangkalannya menyebut mereka, bukan kalian. Yang disebut adalah pihak ketiga jamak yang tidak diterangkan siapa.

Ketiadaan keterangan itu membuat cakupannya luas. Tidak ada satu pun yang disebut dikecualikan dari penyangkalan itu.

Perhatikan pula bahwa ayat ini jauh lebih panjang daripada ayat-ayat sebelumnya. Sepuluh ayat sebelumnya rata-rata dua atau tiga patah, dan ayat ini sebelas patah.

Perubahan itu menandai bagian baru. Tiga ayat terakhir surah ini sama-sama panjang, dan ketiganya berbicara tentang hari itu.

Perhatikan pula bahwa surah ini menutup dengan ayat-ayat panjang sesudah puluhan ayat pendek. Iramanya melambat justru menjelang akhir.

Al-Qur'an tidak menyatakan perubahan irama itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa panjangnya berubah tepat di bagian penutup.

Tafsiran

Ayat ini menegaskan keagungan Tuhan pemilik langit dan bumi, yang tak seorang pun berkuasa berbicara kepada-Nya tanpa izin. Ayat ini menyebut pemilik seluruh ruang lalu menyangkal hak bicara di hadapannya. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 12 ayat, antara lain 2:235, 20:95, 25:63, dan 38:20.

Di 38:20 akar itu dipakai untuk kemampuan memutuskan perkara lewat perkataan, sehingga ia menamai bicara yang punya kedudukan dan bukan bicara biasa. Yang disangkal di sini bukan kemampuan bersuara, melainkan kemampuan mengajukan perkataan yang diperhitungkan.

Rangkaian ketiganya muncul 21 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 5:17, 20:6, 26:24, 44:7, dan 50:38, dan ia menutup penyebutan langit dan bumi sehingga tidak ada ruang yang tersisa di luar ketiganya. Cakupan mutlak seperti itu sejalan dengan 78:29 yang menyebut segala sesuatu.

Nama yang berarti pengasih disebut 2 kali di surah ini, yaitu di ayat ini dan di 78:38, dan tidak ada penyebutannya di tiga puluh enam ayat lainnya. Kedua penyebutan itu berdiri di dua ayat berurutan yang sama-sama menyebut pembatasan bicara.

Ayat ini juga ayat pertama surah ini yang panjang, karena sepuluh ayat sebelumnya rata-rata cuma dua atau tiga patah. Ayat ini menerangkan siapa yang disebut di 78:36, bergerak dari hubungan dengan satu orang ke kepemilikan atas seluruh ruang. Penyebutannya memakai tiga bagian, yaitu langit, bumi, dan apa yang di antara keduanya, sehingga tidak ada tempat yang bisa dibayangkan berada di luar ketiganya. Penyangkalannya menyebut pihak ketiga jamak yang tidak diterangkan siapa, sehingga tidak ada satu pun yang dikecualikan darinya. Tiga ayat terakhir surah ini sama-sama panjang sesudah puluhan ayat pendek, dan iramanya melambat justru menjelang akhir.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 12 ayat, antara lain 2:235, 20:95, 25:63, dan 38:20. Di 38:20 akar itu menamai kemampuan memutuskan perkara lewat perkataan. Yang disangkal di sini bukan kemampuan bersuara, melainkan kemampuan mengajukan perkataan yang diperhitungkan. Yang disangkal bukan kemampuan bersuara, melainkan kemampuan mengajukan perkataan yang diperhitungkan. Dua hal itu terdengar mirip, tetapi yang hilang adalah kedudukan dan bukan suara, dan kehilangan kedudukan jauh lebih dalam daripada kehilangan suara.
  • Rangkaian ketiganya dipakai Allah 21 kali di seluruh Al-Qur'an, antara lain 5:17, 20:6, 26:24, 44:7, dan 50:38, dan ia menutup penyebutan langit dan bumi. Tidak ada ruang yang tersisa di luar ketiganya. Cakupan mutlak itu sejalan dengan 78:29 yang menyebut segala sesuatu, sehingga surah ini dua kali menutup semua celah. Cakupan mutlak itu sejalan dengan 78:29 yang menyebut segala sesuatu. Surah ini dua kali menutup semua celah, sekali atas perbuatan di 78:29 dan sekali atas ruang di sini, sehingga tidak ada apa pun yang tersisa di luar hitungan.
  • Allah menyebut nama yang berarti pengasih 2 kali di surah ini, yaitu di 78:37 dan 78:38, dan tidak sekali pun di tiga puluh enam ayat lainnya. Kedua penyebutan itu berdiri di dua ayat yang sama-sama menyebut pembatasan bicara. Nama yang paling lembut muncul tepat di tempat mulut terkunci. Nama yang paling lembut muncul tepat di tempat mulut terkunci. Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya memang sengaja atau tidak berdiri berdampingan.
  • Ayat ini adalah ayat pertama surah ini yang panjang, karena sepuluh ayat sebelumnya rata-rata cuma dua atau tiga patah. Perubahan panjang itu terjadi tepat di bagian penutup. Irama yang berubah di ujung membuat pembacanya melambat justru ketika isinya paling berat. Irama yang berubah di ujung membuat pembacanya melambat justru ketika isinya paling berat. Perubahan panjang itu bekerja tanpa satu kalimat pun yang mengumumkannya, dan pembacanya melambat tanpa sadar mengapa.
  • Allah menyebut kepemilikan atas seluruh ruang lebih dulu, baru menyangkal hak bicara. Urutan itu menaruh alasannya sebelum akibatnya. Yang tidak memiliki apa pun di dalam sebuah wilayah memang tidak punya kedudukan untuk berbicara di dalamnya. Yang tidak memiliki apa pun di dalam sebuah wilayah memang tidak punya kedudukan untuk berbicara di dalamnya. Alasan itu tidak diucapkan, tetapi urutan kalimatnya sudah menyusunnya sebelum penyangkalannya sampai.
  • Kata terakhirnya menyangkal kedudukan bicara, bukan kemampuan bersuara. Kalau seseorang masih bisa bersuara tetapi suaranya tidak lagi diperhitungkan, apa sebenarnya yang hilang darinya pada saat itu? Penyangkalannya menyebut pihak ketiga jamak yang tidak diterangkan siapa. Ketiadaan keterangan itu membuat tidak ada satu pun yang bisa merasa dirinya dikecualikan, karena tidak ada satu golongan pun yang disebut namanya.