يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّا ۖ لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًا
Pada hari ketika Ruh dan malaikat berdiri bersaf-saf. Mereka tidak berbicara, kecuali yang diizinkan oleh Ar-Rahman dan dia mengatakan yang benar.
Terjemahan bertahap (2 jeda)
- يَوْمَ يَقُومُ الرُّوحُ وَالْمَلَائِكَةُ صَفًّاyawma yaquumu r-ruuhu wa-l-malaa'ikatu shaffanpada hari ketika Ruh dan malaikat berdiri bersaf-saf
- لَا يَتَكَلَّمُونَ إِلَّا مَنْ أَذِنَ لَهُ الرَّحْمَٰنُ وَقَالَ صَوَابًاlaa yatakallamuuna illaa man adzina lahu r-rahmaanu wa-qaala shawaabanmereka tidak berbicara, kecuali yang diizinkan oleh Ar-Rahman dan dia mengatakan yang benar
Terjemahan per kata (14 kata)
- يَوْمَyawmahari
- يَقُومُyaquumubangkit
- الرُّوحُr-ruuhuruh
- وَالْمَلَائِكَةُwa-l-malaa'ikatudan para malaikat
- صَفًّاshaffanberbaris
- لَاlaatidak
- يَتَكَلَّمُونَyatakallamuunamereka berbicara
- إِلَّاillaakecuali
- مَنْmanorang yang
- أَذِنَadzinamengizinkan
- لَهُlahubaginya
- الرَّحْمَٰنُr-rahmaanuAr-Rahman
- وَقَالَwa-qaaladan berkata
- صَوَابًاshawaabanyang benar
Inti bacaan
Tatanan disiplin bahkan bagi makhluk spiritual tertinggi: 'pada hari ketika Ruh dan malaikat berdiri bersaf-saf. Mereka tidak berbicara, kecuali yang diizinkan oleh Ar-Rahman dan dia mengatakan yang benar', model ketertiban dan kejujuran yang berlaku universal, bahkan entitas paling mulia sekalipun tunduk pada aturan berbicara hanya dengan izin dan hanya menyampaikan kebenaran.
Penjelasan pilihan kata
Ayat ini menggambarkan sebuah keheningan, dan yang membuatnya berat adalah siapa yang diam. Keheningan yang digambarkan karena itu bukan keheningan karena takut. Yang diam adalah pihak yang paling dekat dan paling tidak punya alasan untuk takut. Kalau yang sedekat itu saja menunggu, maka keheningan yang digambarkan bukan keheningan karena takut, melainkan karena tertib.
Susunan yang menyebut kedua pihak itu tak terulang. Yang disebut lebih dahulu justru yang tunggal, baru yang jamak, dan urutan seperti itu menandai kedudukan tanpa perlu menjelaskannya.
Syaratnya pun ternyata dua, bukan satu. Izin tidak menghapus keharusan berkata benar. Syarat kedua yang ditambahkan di ujung menutup satu celah yang mungkin dibayangkan. Penambahan syarat kedua menutup kemungkinan itu, dan letaknya di paling akhir membuatnya terbaca sebagai kata terakhir tentang seluruh perkara berbicara pada hari itu. Yang diberi hak bicara pun masih dituntut isi ucapannya, sehingga kesempatan tidak dengan sendirinya menjadi pembelaan.
Kata (الرُّوحُ, ar-ruuh) dalam bentuk ini muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an: 17:85, 26:193, 70:4, 78:38, dan 97:4. Akarnya dipakai di 52 ayat.
Perhatikan bahwa 17:85 menyatakan pengetahuan tentangnya tidak diberikan kecuali sedikit. Jadi Al-Qur'an sendiri menahan keterangan tentang apa yang disebut di sini.
Kata (صَفًّا, shaffan) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 18:48, 20:64, 37:1, 61:4, 78:38, dan 89:22. Artinya berbaris rapi dalam satu jajar.
Di 18:48 kata (صَفًّا, shaffan) dipakai untuk manusia yang dihadapkan berbaris. Jadi barisan itu bukan cuma untuk yang di langit.
Kata (صَوَابًا, shawaaban) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 56 ayat, antara lain 2:156, 4:79, 9:50, dan 42:30.
Perhatikan bahwa ayat ini memuat dua syarat sekaligus untuk berbicara. Yang pertama izin, dan yang kedua kebenaran isi ucapannya.
Susunan itu menutup dua celah. Berbicara tanpa izin tidak bisa, dan berbicara dengan izin tetapi salah isi juga tidak dihitung.
Al-Qur'an tidak menerangkan susunan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua syarat disebut berurutan dalam satu ayat.
Nama (الرَّحْمَٰنُ, ar-rahmaan) muncul untuk kedua kalinya di surah ini. Yang pertama di 78:37, dan keduanya berdiri di dua ayat berurutan.
Perhatikan bahwa di 78:37 nama itu berdiri di ayat yang menyangkal hak bicara. Di sini nama yang sama berdiri di ayat yang memberi izin bicara.
Jadi satu nama muncul di penyangkalan dan di pemberian izin. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan kedudukan itu.
Ayat ini juga menyebut hari itu untuk kesekian kalinya di surah ini. Penyebutan hari sudah muncul di 78:17, 78:18, dan 78:39.
Perhatikan pula bahwa ayat ini melukiskan satu pemandangan yang utuh. Ada yang berdiri, ada barisan, dan ada mulut yang tidak bersuara.
Kelengkapan itu berbeda dari ayat-ayat sebelumnya. Ayat-ayat pendek di daftarnya cuma menyebut satu hal, dan ayat ini menyusun beberapa hal sekaligus.
Perhatikan pula bahwa yang berdiri disebut lebih dulu daripada barisannya. Urutan itu menyebut siapa, baru menyebut bagaimana.
Al-Qur'an tidak menerangkan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pemandangannya disusun bertahap, bukan sekaligus.
Perhatikan pula bahwa barisan menandakan keteraturan, bukan kerumunan. Yang dilukiskan bukan orang berdesakan, melainkan jajaran yang rapi.
Pilihan itu berlawanan dengan 78:18. Di sana yang datang disebut berbondong-bondong, dan di sini yang berdiri disebut berbaris.
Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu surah memuat kedatangan yang berbondong dan berdirinya yang berjajar.
Perhatikan pula bahwa izin disebut sebagai syarat, bukan sebagai kemurahan. Yang tidak mendapatkannya tidak berbicara sama sekali.
Susunan itu sejalan dengan 78:37. Di sana disebut tidak ada yang punya kedudukan bicara, dan di sini disebut pengecualiannya.
Jadi dua ayat berurutan menyusun aturan yang sama dari dua sisi. Yang pertama menutup, dan yang kedua membuka satu celah sempit.
Perhatikan pula bahwa syarat keduanya menyangkut isi ucapan. Izin saja tidak cukup kalau yang diucapkan tidak benar.
Dua syarat itu berlapis. Yang pertama menyangkut hak berbicara, dan yang kedua menyangkut mutu apa yang dibicarakan.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan keheningan yang berat pada hari itu. Yang membuat gambaran itu berat bukan keheningannya, melainkan siapa yang diam. Kalau mereka pun menunggu izin, maka yang digambarkan bukan ketakutan melainkan tertib. Perbedaan itu menentukan nada seluruh ayat. Sebuah gambaran tentang ketakutan mengajak pembacanya merasa ngeri; sebuah gambaran tentang tertib mengajaknya menimbang kedudukannya sendiri. Dua pihak yang kedudukannya sangat berjauhan digambarkan berdiri dengan cara yang sama, dan kesamaan itu menyiratkan sesuatu tentang hari tersebut: perbedaan kedudukan yang berlaku di tempat lain tidak menghasilkan perbedaan sikap berdiri di sana. Penyebutan syarat kedua menutup kemungkinan bahwa kesempatan berbicara dipakai untuk membela diri dengan cara yang tidak benar. Ayat ini melukiskan hari itu sebagai hari yang seluruh mulutnya terkunci kecuali dua syarat terpenuhi. Kata ketiganya dalam bentuk ini muncul 5 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 17:85, 26:193, 70:4, 78:38, dan 97:4, dan akarnya dipakai di 52 ayat.
Perhatikan bahwa 17:85 menyatakan pengetahuan tentangnya tidak diberikan kecuali sedikit, sehingga Al-Qur'an sendiri menahan keterangan tentang apa yang disebut di sini. Kata kelimanya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 18:48, 20:64, 37:1, 61:4, 78:38, dan 89:22, dan artinya berbaris rapi dalam satu jajar.
Di 18:48 kata itu dipakai untuk manusia yang dihadapkan berbaris, sehingga barisan itu bukan cuma untuk yang di langit. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 56 ayat, antara lain 2:156, 4:79, 9:50, dan 42:30.
Ayat ini memuat dua syarat sekaligus untuk berbicara, yaitu izin dan kebenaran isi ucapannya, sehingga berbicara tanpa izin tidak bisa dan berbicara dengan izin tetapi salah isi juga tidak dihitung.
Nama yang berarti pengasih muncul untuk kedua kalinya di surah ini sesudah 78:37, dan di sana ia berdiri di ayat yang menyangkal hak bicara sedangkan di sini ia memberi izin bicara. Ayat ini melukiskan satu pemandangan yang utuh, karena ada yang berdiri, ada barisan, dan ada mulut yang tidak bersuara. Barisan menandakan keteraturan dan bukan kerumunan, sehingga ia berlawanan dengan 78:18 yang menyebut kedatangan berbondong-bondong. Izin disebut sebagai syarat dan bukan sebagai kemurahan, sejalan dengan 78:37 yang menutup hak bicara, sehingga dua ayat berurutan menyusun aturan yang sama dari dua sisi.
Renungan dan Hikmah
- Kata ketiganya dipakai Allah dalam bentuk ini cuma di 17:85, 26:193, 70:4, 78:38, dan 97:4, dan akarnya dipakai di 52 ayat. Di 17:85 Allah menyatakan pengetahuan tentangnya tidak diberikan kecuali sedikit. Al-Qur'an sendiri menahan keterangan tentang apa yang disebut di sini, sehingga menambahkannya berarti melampaui apa yang diberikan. Al-Qur'an sendiri menahan keterangan tentang apa yang disebut di sini. Menambahkan keterangan yang tidak diberikan berarti melangkahi batas yang dipasang oleh teksnya sendiri di 17:85, dan batas itu dipasang bukan oleh penafsirnya.
- Kata kelimanya dipakai Allah cuma di 18:48, 20:64, 37:1, 61:4, 78:38, dan 89:22, dan artinya berbaris rapi dalam satu jajar. Di 18:48 ia dipakai untuk manusia yang dihadapkan berbaris. Barisan itu bukan cuma untuk yang di langit, dan pembacanya termasuk di dalam gambarannya. Barisan itu bukan cuma untuk yang di langit, dan pembacanya termasuk di dalam gambarannya. Yang membaca ayat ini sedang membaca tentang tempatnya sendiri berdiri nanti, bukan tentang pemandangan jauh yang menimpa orang lain.
- Allah menyebut dua syarat sekaligus di sini, yaitu izin dan kebenaran isi ucapannya. Berbicara tanpa izin tidak bisa, dan berbicara dengan izin tetapi salah isi juga tidak dihitung. Dua syarat yang disebut berurutan menutup dua celah yang berbeda, dan menyisakan satu jalan yang sangat sempit. Dua syarat yang disebut berurutan menutup dua celah yang berbeda. Jalan yang tersisa sangat sempit, dan kesempitan itu dibangun cuma dengan beberapa patah tanpa satu ancaman pun.
- Nama yang berarti pengasih dipakai Allah di 78:37 dan 78:38. Di 78:37 ia berdiri di ayat yang menyangkal hak bicara, dan di sini ia berdiri di ayat yang memberi izin bicara. Satu nama muncul di penyangkalan dan di pemberian izin, dan Al-Qur'an tidak menandai perbedaan kedudukan itu. Satu nama muncul di penyangkalan dan di pemberian izin. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan kedudukan itu, dan keduanya berdiri di dua ayat yang langsung bersebelahan.
- Allah menyebut hari itu berulang kali di surah ini, yaitu di 78:17, 78:18, 78:38, dan 78:39. Penyebutan yang berulang membuat harinya menjadi poros seluruh surahnya. Yang disebut berkali-kali dengan kata yang sama jauh lebih sulit dilewatkan daripada yang disebut sekali dengan kata yang indah. Yang disebut berkali-kali dengan kata yang sama jauh lebih sulit dilewatkan. Pengulangan membuat harinya menjadi poros yang menahan seluruh bagian surahnya tetap pada satu pokok, meskipun isinya berpindah-pindah.
- Kata terakhirnya dipakai Allah 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 56 ayat, antara lain 2:156, 4:79, 9:50, dan 42:30. Kalau berkata benar saja tidak cukup tanpa izin lebih dulu, apa yang sebenarnya diperlukan sebelum kebenaran sebuah ucapan mulai dihitung? Barisan menandakan keteraturan, bukan kerumunan, sehingga ia berlawanan dengan kedatangan di 78:18. Satu surah memuat yang berbondong di 78:18 dan yang berjajar di sini tanpa pernah menyandingkan keduanya.