ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ ۖ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ مَآبًا

Itulah hari yang hak; maka siapa yang menghendaki, ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ذَٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ ۖ فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ مَآبًاdzaalika l-yawmu l-haqqu fa-man syaa'a ttakhadza ilaa rabbihi ma'aabanitulah hari yang hak, maka siapa yang menghendaki, ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya

Terjemahan per kata (9 kata)

  1. ذَٰلِكَdzaalikaitu
  2. الْيَوْمُl-yawmuhari
  3. الْحَقُّl-haqqukebenaran
  4. فَمَنْfa-manmaka orang yang
  5. شَاءَsyaa'amenghendaki
  6. اتَّخَذَttakhadzamengambil
  7. إِلَىٰilaakepada
  8. رَبِّهِrabbihiTuhannya
  9. مَآبًاma'aabantempat kembali

Inti bacaan

Kebebasan memilih arah hidup: 'itulah hari yang hak; maka siapa yang menghendaki, ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya', penegasan bahwa meski kepastian hari tersebut mutlak, jalan menuju persiapan menghadapinya tetap merupakan pilihan bebas setiap individu.

Penjelasan pilihan kata

'Dzaalika' (ذَٰلِكَ, dzaalika) menunjuk yang jauh, dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'itulah' sesuai kaidah baku dzaalika+kata benda: draf sudah tepat.

Rangkaian (الْيَوْمُ الْحَقُّ, al-yaumu al-haqq) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Kata keduanya sendiri muncul 48 kali, antara lain 2:26, 10:32, 22:6, dan 31:30.

Jadi rangkaiannya khas meskipun kedua katanya sering dipakai. Al-Qur'an tidak memakai gabungan itu di tempat lain mana pun.

Kata (مَآبًا, ma-aaban) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 78:22 dan 78:39. Keduanya ada di surah ini, dan tidak ada di surah lain mana pun.

Perhatikan bahwa di 78:22 kata (مَآبًا, ma-aaban) menamai tempat kembali bagi yang melampaui batas. Di sini ia menamai kembali kepada Tuhannya.

Jadi (مَآبًا, ma-aaban) memuat kembali yang ditakuti dan kembali yang diinginkan. Jarak antara keduanya tujuh belas ayat, dan tidak ada kalimat yang menghubungkannya.

Perhatikan bahwa ayat ini menawarkan pilihan. Sesudah tiga puluh delapan ayat pernyataan, di sini muncul kata siapa yang mau.

Al-Qur'an tidak menandai perubahan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa satu-satunya tawaran di surah ini berdiri di ayat kedua dari akhir.

Perhatikan bahwa tawaran itu datang sesudah dua ayat tentang mulut yang terkunci. Di hari itu bicara dibatasi, dan sebelum hari itu masih ada pilihan.

Al-Qur'an tidak menyatakan urutan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa pilihan disebut tepat sesudah pembatasan bicara pada hari itu.

Kata (ذَٰلِكَ, dzaalika) menunjuk kepada yang jauh. Yang ditunjuk adalah hari yang baru saja dilukiskan di 78:38.

Penunjukan itu mengikat ayat ini kepada ayat sebelumnya. Tanpa 78:38, tidak jelas hari mana yang sedang ditunjuk.

Perhatikan bahwa ayat ini menyebut hari itu dengan (الْحَقُّ, al-haqq). Seluruh surah ini menjawab perselisihan di 78:1 sampai 78:3, dan di sini jawabannya dinyatakan dalam satu sebutan saja.

Perhatikan pula bahwa (ذَٰلِكَ, dzaalika) menunjuk kepada yang jauh, bukan kepada yang dekat. Hari itu ditunjuk seolah-olah ia berdiri di kejauhan.

Pilihan itu berlawanan dengan 78:40. Di sana hukumannya disebut dekat, dan di sini harinya ditunjuk sebagai yang jauh.

Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua ayat berurutan memakai jarak yang berbeda untuk satu hari yang sama.

Perhatikan pula bahwa tawaran di ayat ini tidak memuat ancaman. Tidak ada peringatan tentang apa yang terjadi kalau tawarannya tidak diambil.

Ketiadaan ancaman itu berhenti di ayat berikutnya. Di 78:40 peringatan datang, dan di sini yang ada cuma tawaran.

Perhatikan pula bahwa tawarannya tidak menyebut syarat. Yang disebut cuma kemauan, dan tidak ada satu pun ketentuan lain yang dipasang.

Kesederhanaan itu mencolok. Sesudah tiga puluh delapan ayat yang padat, pintunya dibuka dengan satu kata saja.

Perhatikan pula bahwa yang ditawarkan berupa jalan kembali, bukan berupa hadiah. Yang dijanjikan adalah arah, dan bukan benda.

Pilihan itu berbeda dari daftar di 78:32 sampai 78:35. Di sana yang disebut benda dan keadaan, dan di sini yang disebut arah perjalanan.

Perhatikan pula bahwa ayat ini menyebut Tuhannya dengan sandaran kepada orang yang kembali. Hubungan itu disebut milik yang menuju, bukan milik yang menyampaikan.

Cara itu berbeda dari 78:36. Di sana sandarannya kepada orang yang disapa, dan di sini kepada orang yang memilih kembali.

Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa dua penyebutan yang berdekatan memakai sandaran yang berbeda.

Tafsiran

Ayat ini menutup rangkaian panjang dengan satu tawaran. Rangkaian dua kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan kata keduanya sendiri muncul 48 kali, antara lain 2:26, 10:32, 22:6, dan 31:30.

Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an, yaitu 78:22 dan 78:39, dan keduanya ada di surah ini serta tidak ada di surah lain mana pun. Di 78:22 ia menamai tempat kembali bagi yang melampaui batas, sedangkan di sini ia menamai kembali kepada Tuhannya.

Jadi satu kata memuat kembali yang ditakuti dan kembali yang diinginkan, dengan jarak tujuh belas ayat dan tanpa satu kalimat penghubung. Al-Qur'an tidak menandai pasangan itu.

Ayat ini menawarkan pilihan sesudah tiga puluh delapan ayat pernyataan, sehingga satu-satunya tawaran di surah ini berdiri di ayat kedua dari akhir. Tawaran itu datang tepat sesudah dua ayat tentang mulut yang terkunci pada hari itu.

Kata pertamanya menunjuk kepada yang jauh, yaitu hari yang baru dilukiskan di 78:38, sehingga ayat ini terikat kepada ayat sebelumnya. Ayat ini memakai kata penunjuk untuk yang jauh, berlawanan dengan 78:40 yang menyebut hukumannya dekat, dan Al-Qur'an tidak menerangkan perbedaan jarak itu. Tawarannya tidak memuat ancaman dan tidak menyebut satu syarat pun selain kemauan, sehingga sesudah tiga puluh delapan ayat yang padat pintunya dibuka dengan satu kata saja. Yang ditawarkan berupa jalan kembali dan bukan berupa hadiah, berbeda dari daftar di 78:32 sampai 78:35 yang menyebut benda dan keadaan.

Renungan dan Hikmah

  • Allah memakai gabungan dua kata pertamanya 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan kata keduanya sendiri dipakai 48 kali, antara lain 2:26, 10:32, 22:6, dan 31:30. Jadi rangkaiannya khas meskipun kedua katanya sering dipakai. Dua kata biasa yang digabungkan sekali saja menghasilkan sebutan yang tidak tertukar dengan apa pun. Dua kata biasa yang digabungkan sekali saja menghasilkan sebutan yang tidak tertukar. Yang jarang bukan katanya, melainkan keputusan menaruh keduanya berdampingan tepat di ayat kedua dari akhir surahnya.
  • Kata terakhirnya dipakai Allah cuma di 78:22 dan 78:39, dan keduanya ada di surah ini. Di 78:22 ia menamai tempat kembali bagi yang melampaui batas, dan di sini ia menamai kembali kepada Tuhannya. Satu kata memuat kembali yang ditakuti dan kembali yang diinginkan, dan yang menentukan arahnya adalah siapa yang kembali. Satu kata memuat kembali yang ditakuti dan kembali yang diinginkan. Yang menentukan arahnya adalah siapa yang kembali, dan bunyinya sendiri tidak memihak salah satu di antara dua kemungkinan itu.
  • Sesudah tiga puluh delapan ayat pernyataan, Allah menaruh satu tawaran di ayat kedua dari akhir. Satu-satunya kata pilihan di surah ini berdiri di tempat itu. Sebuah tawaran yang datang di ujung terasa berbeda dari tawaran yang dipasang di awal, karena pembacanya sudah tahu apa yang dipertaruhkan. Sebuah tawaran yang datang di ujung terasa berbeda dari tawaran yang dipasang di awal. Pembacanya sudah tahu apa yang dipertaruhkan sebelum pintunya dibuka, karena dua bagian panjang sebelumnya sudah melukiskan kedua ujung yang mungkin.
  • Tawaran ini datang tepat sesudah dua ayat tentang mulut yang terkunci pada hari itu. Di hari itu bicara dibatasi, dan sebelum hari itu masih ada pilihan. Allah tidak menyatakan urutan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berdiri berurutan. Allah tidak menyatakan urutan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa keduanya berdiri berurutan. Di hari itu bicara dibatasi seperti disebut di 78:37 dan 78:38, sedangkan sebelum hari itu pilihannya masih terbuka lebar bagi siapa pun.
  • Kata pertamanya menunjuk kepada yang jauh, yaitu hari yang baru dilukiskan Allah di 78:38. Tanpa ayat sebelumnya, tidak jelas hari mana yang sedang ditunjuk. Penunjukan seperti itu memaksa dua ayat dibaca sebagai satu tarikan yang tidak boleh dipenggal. Penunjukan seperti itu memaksa dua ayat dibaca sebagai satu tarikan. Memenggalnya membuat penunjuknya menggantung tanpa ada yang ditunjuk, dan ayatnya kehilangan hari yang sedang dibicarakannya.
  • Seluruh surah ini menjawab perselisihan yang dibuka Allah di 78:1 sampai 78:3, dan di sini hari itu disebut dengan kata benar. Kalau seluruh perdebatan bisa ditutup dengan satu kata sifat, apa yang sebenarnya tersisa untuk diperselisihkan? Tawarannya tidak menyebut satu syarat pun selain kemauan. Tidak ada ketentuan lain yang dipasang, dan tidak ada satu ancaman pun yang menyertainya di dalam ayat ini.