بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Dengan nama Allah, Ar-Rahman, Sang Pengasih.

وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًا

Demi yang mencabut dengan keras,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالنَّازِعَاتِ غَرْقًاwa-n-naazi'aati gharqandemi yang mencabut dengan keras

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَالنَّازِعَاتِwa-n-naazi'aatidemi yang mencabut
  2. غَرْقًاgharqandengan keras

Inti bacaan

Pembukaan An-Nazi'at dengan citra kontras kekuatan: 'demi (malaikat) yang mencabut dengan keras', sumpah pertama yang menggambarkan proses pencabutan nyawa yang intens, bagian dari rangkaian citra yang membangun momentum retoris.

Penjelasan pilihan kata

Basmalah pada arab ayat pertama mengikuti konvensi baku proyek, tidak dijadikan segmen terjemahan bertahap tersendiri. Tambahan kurung '(malaikat)' tidak dipakai: identitas 'an-naazi'aat' tidak dirinci eksplisit dalam Arab.

Surah ini dibuka dengan sumpah, dan yang disumpahkan tidak dinamai. Yang disebut cuma sifat perbuatannya: mencabut dengan keras.

Kata (وَالنَّازِعَاتِ, wa an-naazi'aat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 20 ayat, antara lain 3:26, 7:27, 22:67, 54:20, dan 70:16.

Di 54:20 dan 70:16 akar (وَالنَّازِعَاتِ, wa an-naazi'aat) dipakai untuk angin yang mencabut manusia dan untuk api yang mengelupas kulit kepala. Jadi akar itu memuat tarikan yang keras, bukan tarikan biasa.

Di 3:26 akar (وَالنَّازِعَاتِ, wa an-naazi'aat) dipakai untuk Allah yang mencabut kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki. Jadi satu akar dipakai untuk mencabut nyawa, mencabut kulit, dan mencabut kekuasaan.

Tiga pemakaian itu tidak dihubungkan Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Yang menyatukan ketiganya cuma satu gambaran: sesuatu yang lekat, lalu dilepaskan paksa.

Kata (وَالنَّازِعَاتِ, wa an-naazi'aat) berbentuk perempuan jamak. Bentuk itu tidak menyebut siapa pelakunya, dan Al-Qur'an tidak menerangkannya di ayat mana pun di surah ini.

Ketiadaan nama itu berlaku bagi lima ayat pertama seluruhnya. Lima sumpah berturut-turut menyebut lima sifat perbuatan, dan tidak satu pun pelakunya disebut.

Kata (غَرْقًا, gharqan) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 23 ayat, antara lain 2:50, 7:136, 10:90, 26:66, dan 71:25.

Di hampir seluruh tempat itu akar (غَرْقًا, gharqan) dipakai untuk orang yang ditenggelamkan di laut. Di sini ia dipakai untuk menerangkan kadar tarikannya, bukan untuk air.

Perpindahan itu patut dicatat. Sebutan (غَرْقًا, gharqan) yang biasanya melukiskan tenggelam dipakai untuk tarikan yang mencapai dasar. Al-Qur'an tidak menerangkan pemilihan itu.

Kata (غَرْقًا, gharqan) berdiri sebagai penegas bagi kata sebelumnya. Susunan seperti itu menyatakan kadar, sehingga tarikannya dinyatakan sungguh-sungguh dan bukan sekadar terjadi.

Susunan penegas yang sama dipakai lagi di 79:2, 79:3, dan 79:4. Empat sumpah pertama seluruhnya memakai cara penegasan yang sama persis, dan yang kelima tidak.

Perbedaan itu tidak ditandai apa pun. Yang bisa dibaca cuma bahwa empat sumpah pertama sejajar susunannya sampai (غَرْقًا, gharqan) dan tiga penegas sesudahnya, sedangkan yang kelima keluar dari pola.

Perhatikan pula bahwa sumpah biasanya disusul pernyataan yang disumpahkan. Di surah ini pernyataan itu tidak pernah datang, dan lima sumpahnya berdiri tanpa jawaban.

Ketiadaan jawaban itu tidak menghapus dayanya. Sebuah sumpah yang tidak dilengkapi meninggalkan pembacanya dengan keteguhan nada, bukan dengan kalimat yang bisa dikutip.

Susunan seperti itu memaksa perhatian berpindah kepada yang disumpahkan. Karena tidak ada isi yang menunggu, yang tersisa untuk direnungkan cuma lima sifat perbuatan tadi.

Tafsiran

Ayat ini membuka surah dengan rangkaian sumpah demi hal-hal yang mencabut dengan keras. Ayat ini membuka surah dengan sumpah atas sesuatu yang mencabut dengan keras. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 20 ayat, antara lain 3:26, 7:27, 22:67, 54:20, dan 70:16.

Di 54:20 dan 70:16 akar itu dipakai untuk angin yang mencabut manusia dan untuk api yang mengelupas kulit kepala, sedangkan di 3:26 untuk Allah yang mencabut kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki. Jadi satu akar memuat tarikan yang keras dalam tiga bentuk yang berjauhan, dan yang menyatukannya cuma satu gambaran: sesuatu yang lekat, lalu dilepaskan paksa.

Kata pertamanya berbentuk perempuan jamak dan tidak menyebut siapa pelakunya. Ketiadaan nama itu berlaku bagi lima ayat pertama seluruhnya.

Kata keduanya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 23 ayat, antara lain 2:50, 7:136, 10:90, 26:66, dan 71:25. Di hampir seluruh tempat itu akar tersebut dipakai untuk orang yang ditenggelamkan di laut, sedangkan di sini ia menerangkan kadar tarikannya.

Kata keduanya berdiri sebagai penegas, dan susunan yang sama dipakai lagi di 79:2, 79:3, dan 79:4. Sumpah biasanya disusul pernyataan yang disumpahkan, tetapi di surah ini pernyataan itu tidak pernah datang dan lima sumpahnya berdiri tanpa jawaban. Karena tidak ada isi yang menunggu, yang tersisa untuk direnungkan cuma lima sifat perbuatan tadi.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 20 ayat, antara lain 3:26, 7:27, 22:67, 54:20, dan 70:16. Di 54:20 akar itu dipakai untuk angin yang mencabut manusia, di 70:16 untuk api yang mengelupas kulit kepala, dan di 3:26 untuk Allah yang mencabut kekuasaan dari siapa yang Dia kehendaki. Jadi satu akar memuat tiga tarikan yang berjauhan, dan yang menyatukannya cuma satu gambaran: sesuatu yang lekat, lalu dilepaskan paksa. Satu gambaran yang menampung tiga hal berjauhan biasanya lebih tua daripada ketiganya. Kesamaan bunyi di tiga tempat itu bukan bukti kesamaan makna, melainkan undangan memeriksa.
  • Kata pertamanya berbentuk perempuan jamak, dan bentuk itu tidak menyebut siapa pelakunya. Allah tidak menerangkannya di ayat mana pun di surah ini, dan ketiadaan nama itu berlaku bagi lima ayat pertama seluruhnya. Lima sumpah berturut-turut menyebut lima sifat perbuatan, dan tidak satu pun pelakunya disebut. Yang disumpahkan karena itu dikenali lewat apa yang dikerjakannya, bukan lewat siapa dirinya. Yang tidak dinamai tidak bisa dibatasi, dan yang tidak terbatas berlaku lebih luas. Sumpah yang berlaku luas menuntut pembacanya berhenti menebak batasnya.
  • Kata keduanya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 23 ayat, antara lain 2:50, 7:136, 10:90, 26:66, dan 71:25. Di hampir seluruh tempat itu akar tersebut dipakai untuk orang yang ditenggelamkan di laut. Di sini ia dipakai untuk menerangkan kadar tarikannya, bukan untuk air. Sebuah kata yang biasanya melukiskan tenggelam dipinjamkan kepada tarikan yang mencapai dasar. Peminjaman sebutan dari satu bidang ke bidang lain memindahkan seluruh muatannya sekaligus. Muatan yang ikut berpindah itulah yang membuat pilihan katanya terasa disengaja.
  • Kata keduanya berdiri sebagai penegas bagi kata sebelumnya, dan susunan seperti itu menyatakan kadar. Tarikannya dinyatakan Allah sungguh-sungguh, bukan sekadar terjadi. Kadar itu masuk lewat susunan katanya, tanpa satu kata sifat pun yang menyebut seberapa keras. Pembacanya merasakan beratnya sebelum ia sempat menimbang artinya. Rasa berat yang datang sebelum penalaran lebih sulit ditolak daripada kesimpulan yang diurai. Bacaan yang masuk lewat rasa lebih dulu biasanya bertahan lebih lama di ingatan.
  • Susunan penegas yang sama dipakai Allah lagi di 79:2, 79:3, dan 79:4, sehingga empat sumpah pertama seluruhnya memakai cara penegasan yang sama persis. Yang kelima, di 79:5, tidak memakainya. Perbedaan itu tidak ditandai satu kata pun, dan yang bisa dibaca cuma bahwa satu sumpah keluar dari pola yang sudah dibangun empat kali berturut-turut. Sebuah pola dibangun justru supaya pemutusnya terasa, dan itulah gunanya keempat sumpah pertama. Tanpa empat ayat yang seragam itu, kekhususan sumpah kelima tidak akan terasa sama sekali.
  • Surah ini dibuka dengan sumpah, dan yang disumpahkan tidak dinamai Allah. Yang disebut cuma sifat perbuatannya. Apa yang berubah pada sebuah sumpah ketika yang disumpahkan dikenali lewat apa yang dikerjakannya, dan bukan lewat namanya? Yang tidak dinamai tidak bisa dibatasi pada satu jenis makhluk, dan sumpahnya tetap berdiri walau pembacanya tidak tahu siapa yang dimaksud. Sumpah yang tidak dilengkapi jawabannya tetap bekerja, dan kerjanya justru pada nada, bukan isi. Nada yang tersisa sesudah sumpah tanpa jawaban tetap mengikat, walau tak bisa dikutip.