وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا

Demi yang mencabut dengan lembut,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًاwa-n-naasyithaati nasythandemi yang mencabut dengan lembut

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. وَالنَّاشِطَاتِwa-n-naasyithaatidan demi yang mencabut dengan lembut
  2. نَشْطًاnasythandengan lembut

Inti bacaan

Kontras kelembutan sebagai sumpah kedua: 'demi (malaikat) yang mencabut dengan lembut', perbandingan langsung dengan sumpah pertama, menunjukkan variasi proses berdasarkan kondisi jiwa yang dicabut, keadilan yang memperhitungkan perbedaan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(malaikat)' tidak dipakai.

Kata (وَالنَّاشِطَاتِ, wa an-naasyithaat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Jadi bukan cuma bentuknya yang tunggal; seluruh akarnya tidak pernah dipakai di tempat lain.

Surah ini memuat tujuh akar semacam (وَالنَّاشِطَاتِ, wa an-naasyithaat), yaitu di 79:2, 79:11, 79:14, 79:28, 79:29, 79:30, dan 79:34. Tujuh akar yang tidak muncul di 6235 ayat lain berkumpul di satu surah.

Jumlah itu luar biasa untuk surah sependek ini. Al-Qur'an tidak menandainya dengan satu kalimat pun, dan yang bisa menghitungnya cuma pembaca yang memeriksa satu per satu.

Kata (نَشْطًا, nasythan) juga muncul 1 kali, dan ia berasal dari akar yang sama dengan kata sebelumnya. Jadi ayat ini seluruhnya tersusun dari satu akar yang tidak punya tempat lain.

Keadaan itu jarang sekali. Ayat (وَالنَّاشِطَاتِ نَشْطًا, wa an-naasyithaat nasythan) dibangun dari akar yang tidak bisa diterangi oleh satu pemakaian lain pun di seluruh kitab.

Kata (وَالنَّاشِطَاتِ, wa an-naasyithaat) berbentuk perempuan jamak, sama seperti kata pertama di 79:1. Empat sumpah pertama seluruhnya memakai bentuk yang sama.

Kata (نَشْطًا, nasythan) berdiri sebagai penegas bagi kata sebelumnya, sama seperti susunan di 79:1. Dua ayat berurutan memakai cara penegasan yang sama persis.

Perhatikan perbedaan antara dua sumpah itu. Yang pertama melukiskan tarikan yang keras sampai ke dasar. Yang kedua melukiskan tarikan yang ringan dan lepas.

Dua kadar yang berlawanan disandingkan tanpa pembanding. Yang menaruh (نَشْطًا, nasythan) di sebelah kadar di 79:1 cuma letak keduanya, berdampingan di dua ayat yang berurutan.

Susunan itu punya akibat pada bacaannya. Pembacanya diberi dua ujung sekaligus, dan tidak diberi tahu mana yang berlaku untuk siapa.

Kata (وَالنَّاشِطَاتِ, wa an-naasyithaat) dibuka huruf sambung, sama seperti 79:1 dan 79:3. Tiga sumpah pertama dirangkai, dan dua berikutnya memakai huruf yang berbeda.

Perbedaan huruf itu muncul di 79:4 dan 79:5, yang memakai huruf urutan. Jadi lima sumpahnya terbagi dua: tiga dirangkai, dua diurutkan.

Perhatikan pula bahwa dua sumpah pertama sama-sama tentang mencabut, tetapi kadarnya berlawanan. Yang satu sampai ke dasar, yang lain lepas dengan ringan.

Al-Qur'an tidak menyebut apa yang dicabut di kedua ayat itu. Yang dicabut dibiarkan kosong, dan pembacanya tidak diberi satu keterangan pun untuk mengisinya.

Kekosongan itu membuat kedua sumpah tetap berlaku atas apa saja yang bisa dicabut. Sebuah gambaran yang tidak menyebut sasarannya tidak bisa dipersempit oleh siapa pun.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan rangkaian sumpah. Ayat ini melanjutkan sumpah dengan sesuatu yang mencabut dengan lembut. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga bukan cuma bentuknya yang tunggal melainkan seluruh akarnya.

Surah ini memuat tujuh akar semacam itu, yaitu di 79:2, 79:11, 79:14, 79:28, 79:29, 79:30, dan 79:34. Tujuh akar yang tidak muncul di 6235 ayat lain berkumpul di satu surah, dan Al-Qur'an tidak menandai hal itu dengan satu kalimat pun.

Kata keduanya juga muncul 1 kali dan berasal dari akar yang sama, sehingga ayat ini seluruhnya tersusun dari satu akar yang tidak punya tempat lain. Sebuah ayat penuh dibangun dari akar yang tidak bisa diterangi oleh satu pemakaian lain pun di seluruh kitab.

Kata keduanya berdiri sebagai penegas, sama seperti susunan di 79:1, sehingga dua ayat berurutan memakai cara yang sama persis. Yang berbeda cuma kadarnya: yang pertama tarikan keras sampai ke dasar, yang kedua tarikan yang ringan dan lepas.

Dua kadar yang berlawanan itu disandingkan tanpa satu kata pembanding. Dua sumpah pertama sama-sama tentang mencabut, tetapi kadarnya berlawanan, dan Al-Qur'an tidak menyebut apa yang dicabut di kedua ayat itu. Kekosongan itu membuat keduanya tetap berlaku atas apa saja yang bisa dicabut, dan tidak bisa dipersempit oleh siapa pun.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Surah ini memuat tujuh akar semacam itu, yaitu di 79:2, 79:11, 79:14, 79:28, 79:29, 79:30, dan 79:34. Tujuh akar yang tidak muncul di 6235 ayat lain berkumpul di satu surah, dan jumlah itu luar biasa untuk surah sependek ini. Al-Qur'an tidak menandainya, dan yang bisa menghitungnya cuma pembaca yang memeriksa satu per satu. Kepadatan sebesar itu di satu surah pendek adalah tanda yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Tanda sebesar itu tidak diberi penunjuk, dan yang menemukannya cuma pembaca yang menghitung.
  • Kata keduanya juga muncul 1 kali dan berasal dari akar yang sama dengan kata sebelumnya. Jadi ayat ini seluruhnya tersusun dari satu akar yang tidak punya tempat lain di seluruh kitab. Keadaan itu jarang sekali, karena sebuah ayat penuh dibangun Allah dari akar yang tidak bisa diterangi oleh satu pemakaian lain pun. Pembacanya tidak punya pembanding, dan harus menerima batas itu. Ketiadaan pembanding memaksa pembacanya berhenti menebak dan menerima batas pengetahuannya. Menerima batas pengetahuan sendiri adalah bagian dari cara membaca ayat semacam ini.
  • Kata keduanya berdiri sebagai penegas, sama seperti susunan di 79:1. Yang berbeda cuma kadarnya: yang pertama tarikan keras sampai ke dasar, yang kedua tarikan yang ringan dan lepas. Allah menyandingkan dua ujung itu tanpa satu kata pembanding, dan yang menyandingkannya cuma letak keduanya di dua ayat berurutan. Pembacanya diberi dua ujung sekaligus, dan tidak diberi tahu mana yang berlaku untuk siapa. Dua ujung yang disandingkan tanpa penilaian menyerahkan penimbangannya kepada pembacanya. Penimbangan yang diserahkan kepada pembacanya lebih sulit dilupakan daripada yang disodorkan.
  • Kata pertamanya berbentuk perempuan jamak, sama seperti kata pertama di 79:1, dan empat sumpah pertama seluruhnya memakai bentuk yang sama. Keseragaman itu membuat empat ayat terbaca sebagai satu deretan. Allah tidak memisahkan satu pun dari deretan itu dengan penanda, dan pembacanya melintasinya dengan irama yang tetap. Irama yang tetap membuat empat ayat terbaca sebagai satu tarikan, bukan empat potongan. Satu tarikan yang tidak terputus meninggalkan kesan utuh, bukan kesan berpotong-potong.
  • Kata pertamanya dibuka huruf sambung, sama seperti 79:1 dan 79:3, sedangkan 79:4 dan 79:5 memakai huruf urutan. Jadi lima sumpahnya terbagi dua: tiga dirangkai, dua diurutkan. Allah tidak menerangkan pembagian itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa dua sumpah terakhir dinyatakan menyusul, bukan sekadar ditambahkan. Satu huruf cukup untuk mengubah deretan menjadi rangkaian yang berurutan. Perubahan sekecil satu huruf bisa mengubah hubungan antarayat seluruhnya.
  • Dua sumpah pertama melukiskan dua tarikan yang paling berjauhan kadarnya, dan keduanya sama-sama disumpahkan Allah. Tidak satu pun dinyatakan lebih baik atau lebih buruk. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika yang paling keras dan yang paling lembut ditaruh berdampingan, dan pembacanya tidak diberi satu kata pun untuk memilih di antara keduanya? Yang paling keras dan yang paling lembut sama-sama disumpahkan, dan tidak satu pun dilebihkan. Kesetaraan dua ujung itu menutup pintu bagi siapa pun yang ingin memilih salah satunya.