فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًا

Dan yang mendahului dengan cepat,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَالسَّابِقَاتِ سَبْقًاfa-s-saabiqaati sabqandan yang mendahului dengan cepat

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَالسَّابِقَاتِfa-s-saabiqaatidan demi yang mendahului
  2. سَبْقًاsabqanmendahului

Inti bacaan

Kecepatan sebagai sumpah keempat: 'dan (malaikat) yang mendahului dengan cepat', penekanan pada efisiensi dan kesigapan dalam menjalankan tugas, kualitas yang dihargai dalam pelaksanaan perintah.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(malaikat)' tidak dipakai.

Kata (فَالسَّابِقَاتِ, fa as-saabiqaat) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 35 ayat, antara lain 2:148, 21:27, 23:61, 35:32, dan 57:21.

Di 21:27 akar (فَالسَّابِقَاتِ, fa as-saabiqaat) dipakai untuk hamba yang tidak mendahului Allah dengan perkataan. Di 23:61 dan 35:32 ia dipakai untuk orang yang bersegera dalam kebaikan.

Jadi akar (فَالسَّابِقَاتِ, fa as-saabiqaat) memuat dua sisi: mendahului yang tercela dan bersegera yang terpuji. Yang menentukan bukan geraknya, melainkan ke arah mana ia mendahului.

Kata (سَبْقًا, sabqan) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Ia berdiri sebagai penegas bagi kata sebelumnya, sama seperti tiga ayat sebelumnya.

Empat ayat berturut-turut memakai susunan penegas yang sama persis. Keseragaman selama empat ayat itu membangun irama yang kuat, dan irama itu diputus di 79:5.

Kata (فَالسَّابِقَاتِ, fa as-saabiqaat) dibuka huruf yang menyatakan urutan, berbeda dari tiga ayat sebelumnya yang memakai huruf sambung. Jadi sumpah ini dinyatakan menyusul, bukan sekadar ditambahkan.

Perbedaan itu berakibat pada bacaannya. Tiga sumpah pertama berdiri sejajar, dan dua terakhir dinyatakan datang sesudahnya. Susunannya berubah dari deretan menjadi rangkaian.

Perhatikan gerak yang dilukiskan di sini. Sesudah menarik, menarik dengan ringan, dan melayang, yang disebut mendahului. Gerak itu menuntut adanya yang didahului.

Jadi sumpah keempat memperkenalkan pihak lain tanpa menyebutnya. Ada yang tertinggal di belakang, dan Al-Qur'an tidak menyebut siapa.

Kata (فَالسَّابِقَاتِ, fa as-saabiqaat) berbentuk perempuan jamak, sama seperti empat sumpah lainnya. Bentuk yang sama dipakai untuk gerak yang berbeda-beda, dan itu berlaku di seluruh lima sumpahnya.

Ayat ini yang keempat dari lima sumpah pembuka. Sesudah 79:5 sumpahnya berhenti, dan Al-Qur'an tidak pernah menyebutkan apa yang disumpahkan.

Ketiadaan jawaban sumpah itu berlaku di seluruh surahnya. Lima sumpah diucapkan, dan tidak ada satu kalimat pun yang menyatakan demi apa semuanya itu disumpahkan.

Perhatikan pula bahwa empat sumpah pertama makin lama makin bergerak ke depan. Menarik ke bawah, melepaskan, melayang, lalu mendahului. Empat kata kerja itu tidak satu pun menyebut bendanya.

Gerak itu berjalan dari bawah ke atas lalu ke depan. Al-Qur'an tidak menandai arahnya, dan yang bisa dibaca cuma urutan kata kerjanya sendiri.

Susunan yang bergerak satu arah seperti itu membangun rasa maju. Pembacanya sampai di sumpah keempat sudah membawa dorongan dari tiga yang mendahuluinya.

Tafsiran

Ayat ini menyambung rangkaian sumpah tersebut. Ayat ini melanjutkan sumpah dengan sesuatu yang mendahului dengan cepat. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 35 ayat, antara lain 2:148, 21:27, 23:61, 35:32, dan 57:21.

Di 21:27 akar itu dipakai untuk hamba yang tidak mendahului Allah dengan perkataan, sedangkan di 23:61 dan 35:32 untuk orang yang bersegera dalam kebaikan. Jadi akar itu memuat dua sisi: mendahului yang tercela dan bersegera yang terpuji, dan yang menentukan bukan geraknya melainkan arahnya.

Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an dan berdiri sebagai penegas, sama seperti tiga ayat sebelumnya. Empat ayat berturut-turut memakai susunan yang sama persis, dan irama itu baru diputus di 79:5.

Kata pertamanya dibuka huruf yang menyatakan urutan, berbeda dari tiga ayat sebelumnya yang memakai huruf sambung. Jadi sumpah ini dinyatakan menyusul, bukan sekadar ditambahkan.

Gerak yang dilukiskan di sini juga menuntut adanya yang didahului, dan Al-Qur'an tidak menyebut siapa yang tertinggal di belakang. Empat sumpah pertama makin lama makin bergerak ke depan: menarik ke bawah, melepaskan, melayang, lalu mendahului. Al-Qur'an tidak menandai arahnya, dan susunan yang bergerak satu arah itu membangun rasa maju pada pembacanya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 35 ayat, antara lain 2:148, 21:27, 23:61, 35:32, dan 57:21. Di 21:27 akar itu dipakai untuk hamba yang tidak mendahului Allah dengan perkataan, dan di 23:61 serta 35:32 untuk orang yang bersegera dalam kebaikan. Jadi satu akar memuat dua sisi, dan yang menentukan bukan geraknya melainkan ke arah mana ia mendahului. Sebuah gerak dinilai dari arahnya, dan arah tidak pernah terbawa di dalam kata kerjanya sendiri. Bersegera bisa berarti kebaikan atau kelancangan, tergantung siapa yang didahului.
  • Kata keduanya berdiri sebagai penegas, sama seperti tiga ayat sebelumnya, sehingga empat ayat berturut-turut memakai susunan yang sama persis. Keseragaman selama empat ayat itu membangun irama yang kuat, dan Allah memutusnya di 79:5. Sebuah irama yang sudah terbangun empat kali membuat pemutusnya terasa, walau tidak satu kata pun menandainya. Irama yang dibangun berulang kali menyiapkan pembacanya untuk merasakan pemutusnya. Pemutusan pola di ujung deretan menandai bahwa yang terakhir memang bukan sejenis.
  • Kata pertamanya dibuka huruf yang menyatakan urutan, berbeda dari tiga ayat sebelumnya yang memakai huruf sambung. Jadi sumpah ini dinyatakan Allah menyusul, bukan sekadar ditambahkan. Susunannya berubah dari deretan menjadi rangkaian, dan perubahan sebesar itu dibawa cuma oleh satu huruf. Perubahan dari deretan ke rangkaian mengubah cara lima hal itu berhubungan satu sama lain. Hubungan antar lima hal berubah seluruhnya ketika satu huruf ditukar.
  • Gerak yang dilukiskan di sini menuntut adanya yang didahului, sehingga sumpah keempat memperkenalkan pihak lain tanpa menyebutnya. Ada yang tertinggal di belakang, dan Allah tidak menyebut siapa. Sebuah gerak yang menyiratkan pihak kedua tetapi tidak menamainya meninggalkan pembacanya dengan satu bayangan yang tidak bisa diisi. Bayangan tentang pihak yang tertinggal tidak bisa diisi, dan justru itu yang membuatnya lekat. Bayangan yang tidak bisa diisi justru yang paling lama tinggal pada pembacanya.
  • Kata pertamanya berbentuk perempuan jamak, sama seperti empat sumpah lainnya. Bentuk yang sama dipakai Allah untuk gerak yang berbeda-beda, dan itu berlaku di seluruh lima sumpahnya. Yang seragam cuma cara menyebutnya, sedangkan apa yang disebut berlainan seluruhnya. Keseragaman itu menahan kelima sumpahnya tetap terbaca sebagai satu kesatuan. Keseragaman bentuk menahan lima perbuatan berbeda tetap berdiri di dalam satu kalimat panjang. Satu kalimat panjang yang menampung lima perbuatan menuntut dibaca dalam satu tarikan.
  • Ayat ini yang keempat dari lima sumpah pembuka, dan sesudah 79:5 sumpahnya berhenti. Allah tidak pernah menyebutkan apa yang disumpahkan, dan ketiadaan jawaban itu berlaku di seluruh surahnya. Apa yang dinyatakan lima sumpah berturut-turut ketika tidak satu kalimat pun menyatakan demi apa semuanya itu diucapkan? Sumpah yang tidak dijawab meninggalkan pembacanya dengan nada, bukan dengan pernyataan. Nada yang tertinggal sesudah sumpah tanpa jawaban tetap bekerja tanpa pernah dinyatakan.