يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُ

Pada hari guncangan mengguncang,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. يَوْمَ تَرْجُفُ الرَّاجِفَةُyawma tarjufu r-raajifatupada hari guncangan mengguncang

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. يَوْمَyawmahari
  2. تَرْجُفُtarjufuberguncang
  3. الرَّاجِفَةُr-raajifatuguncangan pertama

Inti bacaan

Momen guncangan pertama: 'pada hari guncangan mengguncang', penanda dimulainya rangkaian peristiwa besar, titik awal transformasi kosmik.

Penjelasan pilihan kata

Kata (الرَّاجِفَةُ, ar-raajifah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 7 ayat saja: 7:78, 7:91, 7:155, 29:37, 33:60, 79:6, dan 79:7.

Di 7:78, 7:91, 7:155, dan 29:37 akar (الرَّاجِفَةُ, ar-raajifah) dipakai untuk guncangan yang membinasakan kaum-kaum terdahulu. Jadi akar itu biasanya menamai azab yang datang di dunia.

Di sini (الرَّاجِفَةُ, ar-raajifah) dipakai untuk guncangan yang membuka hari kiamat. Satu akar yang cuma hidup di tujuh ayat memuat guncangan yang menutup satu kaum dan guncangan yang menutup seluruh dunia.

Dua tempat dari tujuh itu ada di surah ini, yaitu 79:6 dan 79:7. Jadi hampir sepertiga pemakaian akar itu berkumpul di dua ayat yang berurutan.

Kata (تَرْجُفُ, tarjufu) dan (الرَّاجِفَةُ, ar-raajifah) berasal dari akar yang sama dan berdiri di satu ayat. Susunan seperti itu menegaskan kadarnya lewat pengulangan bunyi, bukan lewat kata sifat.

Cara penegasan itu berbeda dari yang dipakai di empat sumpah pertama. Di sana penegasnya kata benda yang berdiri sendiri; di sini penegasnya kata kerja dan pelakunya dari satu akar.

Kata (يَوْمَ, yauma) menyatakan waktu, dan ia berdiri tanpa kata kerja utama di ayat ini. Kalimatnya karena itu belum lengkap, dan kelengkapannya baru datang di ayat-ayat sesudahnya.

Susunan yang menggantung seperti itu jarang. Pembacanya diberi keterangan waktu lebih dulu, dan apa yang terjadi pada waktu itu baru menyusul.

Kata (الرَّاجِفَةُ, ar-raajifah) memakai kata sandang, sehingga yang disebut sesuatu yang dianggap sudah dikenali. Tetapi karena kata ini tidak pernah dipakai lagi, tidak ada satu ayat pun yang memperkenalkannya lebih dulu.

Keadaan yang sama berulang di 79:7 dan 79:34. Tiga kali di surah ini sebuah nama bagi hari kiamat diperkenalkan seolah pembacanya sudah tahu, padahal namanya baru muncul di situ.

Kata (تَرْجُفُ, tarjufu) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata sesudahnya. Bentuknya ditentukan pelakunya, bukan letaknya di dalam kalimat.

Ayat ini membuka gambaran hari kiamat yang berjalan sampai 79:14. Sembilan ayat itu tidak memuat satu nama pun, dan tidak satu pun menyebut siapa yang mengguncang.

Perhatikan pula bahwa peralihan dari sumpah ke hari kiamat terjadi tanpa satu kalimat pun. Ayat sebelumnya menutup sumpah, dan ayat ini langsung menyebut hari itu.

Lompatan itu membuat kedua bagian terasa disatukan oleh sesuatu yang tidak dituliskan. Pembacanya sendiri yang harus menyambungnya.

Yang bisa dibaca cuma bahwa lima perbuatan tadi dan hari yang mengguncang ditaruh berdampingan. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan di antara keduanya.

Tafsiran

Ayat ini membuka gambaran kedahsyatan Hari Kiamat dengan guncangan besar. Ayat ini beralih ke hari ketika guncangan pertama datang. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 7 ayat saja: 7:78, 7:91, 7:155, 29:37, 33:60, 79:6, dan 79:7.

Di 7:78, 7:91, 7:155, dan 29:37 akar itu dipakai untuk guncangan yang membinasakan kaum-kaum terdahulu, sehingga ia biasanya menamai azab yang datang di dunia. Di sini ia dipakai untuk guncangan yang membuka hari kiamat, dan dua dari tujuh pemakaiannya ada di surah ini.

Kata keduanya dan kata terakhirnya berasal dari akar yang sama dan berdiri di satu ayat. Susunan seperti itu menegaskan kadarnya lewat pengulangan bunyi, bukan lewat kata sifat, dan caranya berbeda dari empat sumpah pertama.

Kata pertamanya menyatakan waktu dan berdiri tanpa kata kerja utama, sehingga kalimatnya belum lengkap dan kelengkapannya baru datang di ayat-ayat sesudahnya.

Kata terakhirnya memakai kata sandang, tetapi karena kata ini tidak pernah dipakai lagi tidak ada satu ayat pun yang memperkenalkannya lebih dulu. Peralihan dari sumpah ke hari kiamat terjadi tanpa satu kalimat pun, sehingga kedua bagian terasa disatukan oleh sesuatu yang tidak dituliskan. Yang bisa dibaca cuma bahwa lima perbuatan tadi dan hari yang mengguncang ditaruh berdampingan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 7 ayat saja: 7:78, 7:91, 7:155, 29:37, 33:60, 79:6, dan 79:7. Di empat tempat pertama akar itu dipakai untuk guncangan yang membinasakan kaum-kaum terdahulu. Jadi satu akar yang cuma hidup di tujuh ayat memuat guncangan yang menutup satu kaum dan guncangan yang menutup seluruh dunia. Satu akar yang menampung azab satu kaum dan akhir seluruh dunia menyamakan skalanya. Menyamakan skala dua peristiwa lewat satu akar adalah cara menyampaikan tanpa menjelaskan.
  • Dua tempat dari tujuh pemakaian akar itu ada di surah ini, yaitu 79:6 dan 79:7, sehingga hampir sepertiga pemakaiannya berkumpul di dua ayat berurutan. Allah menumpuk akar yang jarang itu di satu tempat, dan Al-Qur'an tidak menandai penumpukan itu. Kepadatan sebesar itu di dua ayat menandai bahwa keduanya memang dirancang berpasangan. Penumpukan akar langka di dua ayat berurutan menandai rancangan, bukan kebetulan. Kepadatan yang tidak lazim di satu tempat selalu patut diperiksa sebelum dilewati.
  • Kata keduanya dan kata terakhirnya berasal dari akar yang sama dan berdiri di satu ayat. Susunan seperti itu menegaskan kadarnya lewat pengulangan bunyi, bukan lewat kata sifat. Cara Allah menegaskan di sini berbeda dari empat sumpah pertama: di sana penegasnya kata benda yang berdiri sendiri, dan di sini kata kerja dan pelakunya berasal dari satu akar. Penegasan lewat satu akar bekerja pada telinga sebelum ia bekerja pada pikiran. Yang bekerja pada telinga lebih dulu tidak butuh persetujuan pikiran untuk masuk.
  • Kata pertamanya menyatakan waktu dan berdiri tanpa kata kerja utama di ayat ini, sehingga kalimatnya belum lengkap. Kelengkapannya baru datang di ayat-ayat sesudahnya, dan Allah membiarkan pembacanya menahan satu keterangan waktu tanpa tahu apa yang terjadi padanya. Susunan yang menggantung seperti itu memaksa ayatnya dibaca berlanjut. Keterangan waktu yang berdiri tanpa kejadiannya memaksa pembacanya terus membaca. Kalimat yang belum lengkap menahan pembacanya, dan penahanan itu bagian dari maksudnya.
  • Kata terakhirnya memakai kata sandang, sehingga yang disebut sesuatu yang dianggap sudah dikenali. Tetapi karena kata ini tidak pernah dipakai lagi, tidak ada satu ayat pun yang memperkenalkannya lebih dulu. Keadaan yang sama berulang di 79:7 dan 79:34, sehingga tiga kali di surah ini Allah menamai hari kiamat dengan sebutan yang baru muncul di situ. Nama yang dianggap dikenali tanpa pernah diperkenalkan menaruh pembacanya di tempat tidak nyaman. Ketidaknyamanan yang ditimbulkan susunan itu bukan kecelakaan, melainkan bagian dari kerjanya.
  • Ayat ini membuka gambaran hari kiamat yang berjalan sampai 79:14. Sembilan ayat itu tidak memuat satu nama pun, dan tidak satu pun menyebut siapa yang mengguncang. Apa yang dinyatakan sebuah gambaran sepanjang itu ketika pelakunya sengaja tidak disebut, sehingga yang tersisa cuma guncangan dan akibatnya pada manusia? Gambaran tanpa pelaku memusatkan seluruh perhatian pada akibatnya, bukan pada penyebabnya. Memusatkan perhatian pada akibat membuat pembacanya berhenti mencari siapa yang harus disalahkan.