قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌ
Hati pada hari itu bergoncang ketakutan,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- قُلُوبٌ يَوْمَئِذٍ وَاجِفَةٌquluubun yawma'idzin waajifatunhati pada hari itu bergoncang ketakutan
Terjemahan per kata (3 kata)
- قُلُوبٌquluubunhati
- يَوْمَئِذٍyawma'idzinpada hari itu
- وَاجِفَةٌwaajifatunyang berdebar
Inti bacaan
Reaksi emosional universal: 'hati pada hari itu bergoncang ketakutan', deskripsi kondisi psikologis yang dialami secara luas, ketakutan yang menjadi respons kolektif terhadap peristiwa besar.
Penjelasan pilihan kata
Kata (وَاجِفَةٌ, waajifah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat: 59:6 dan 79:8.
Di 59:6 akar (وَاجِفَةٌ, waajifah) dipakai untuk kuda yang dipacu kencang. Jadi akar itu di sana melukiskan gerak cepat pada hewan tunggangan.
Di sini akar (وَاجِفَةٌ, waajifah) dipakai untuk hati yang berdebar. Satu akar yang cuma hidup di dua ayat memuat derap kuda dan detak hati.
Perbandingan itu tidak dinyatakan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa gerak cepat yang di satu tempat berupa langkah kaki di sini berupa denyut di dada.
Kata (قُلُوبٌ, quluub) berbentuk jamak dan tidak bertakrif. Jadi yang disebut sebagian hati, bukan seluruhnya, dan bilangan pastinya tidak diberikan.
Ketiadaan takrif itu penting. Kalau bertakrif, yang disebut seluruh hati manusia. Karena tidak, yang disebut sekumpulan hati tanpa batas yang jelas.
Kata (يَوْمَئِذٍ, yauma-idzin) menunjuk hari yang disebut di 79:6. Dua ayat memisahkan keduanya, dan hari itu tidak disebut ulang namanya.
Ayat ini melengkapi kalimat yang digantung sejak 79:6. Keterangan waktu diberikan lebih dulu, dan apa yang terjadi pada waktu itu baru datang di sini.
Jadi tiga ayat, yaitu 79:6 sampai 79:8, membentuk satu kalimat. Membaca satu di antaranya sendirian meninggalkan pembacanya dengan potongan.
Kata (وَاجِفَةٌ, waajifah) menyifati kata pokoknya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif. Ikatan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun.
Perhatikan bahwa yang disebut hatinya, bukan orangnya. Yang bergetar bagian di dalam dada, dan pemiliknya tidak disebut sama sekali.
Cara itu berulang di 79:9, yang menyebut pandangan mereka. Dua ayat berturut-turut melukiskan bagian tubuh, bukan manusianya.
Perhatikan pula bahwa ayat ini tidak menyebut apa yang membuat hati itu berdebar. Sebabnya sudah lewat di 79:6 dan 79:7, dan di sini cuma akibatnya yang tertinggal.
Susunan seperti itu memisahkan guncangan dari rasanya. Dua ayat melukiskan apa yang terjadi di luar, dan satu ayat melukiskan apa yang terjadi di dalam dada.
Pemisahan itu membuat pembacanya melintasi jarak dari langit ke rongga dada dalam tiga ayat. Yang bergerak bukan pemandangannya, melainkan jarak pandangnya.
Perhatikan pula bahwa (وَاجِفَةٌ, waajifah) tidak memakai satu sebutan pun tentang takut. Yang disebut cuma getarannya, dan namanya dibiarkan kosong.
Menamai sebuah rasa akan mengurungnya ke dalam satu batas. Membiarkannya tanpa nama justru membuat pembacanya mengisi dengan rasa yang paling dikenalnya sendiri, dan rasa itu berbeda-beda pada tiap orang.
Tafsiran
Ayat ini menggambarkan reaksi hati manusia pada hari itu. Ayat ini melukiskan hati yang berdebar pada hari itu. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat: 59:6 dan 79:8.
Di 59:6 akar itu dipakai untuk kuda yang dipacu kencang, sehingga di sana ia melukiskan gerak cepat pada hewan tunggangan. Di sini akar yang sama dipakai untuk hati yang berdebar, sehingga satu akar yang cuma hidup di dua ayat memuat derap kuda dan detak hati.
Kata pertamanya berbentuk jamak dan tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebagian hati dan bukan seluruhnya. Kalau bertakrif, yang disebut akan menjadi seluruh hati manusia.
Kata keduanya menunjuk hari yang disebut di 79:6, dan dua ayat memisahkan keduanya tanpa hari itu disebut ulang. Ayat ini juga melengkapi kalimat yang digantung sejak 79:6, sehingga tiga ayat membentuk satu kalimat.
Yang disebut di sini hatinya, bukan orangnya, dan cara itu berulang di 79:9 yang menyebut pandangan mereka. Ayat ini tidak menyebut apa yang membuat hati itu berdebar, karena sebabnya sudah lewat di 79:6 dan 79:7. Susunan itu memisahkan guncangan dari rasanya, sehingga pembacanya melintasi jarak dari langit ke rongga dada dalam tiga ayat. Gambarannya juga tidak memakai satu kata pun tentang takut; yang disebut cuma getarannya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai Allah di 2 ayat: 59:6 dan 79:8. Di 59:6 akar itu dipakai untuk kuda yang dipacu kencang, dan di sini untuk hati yang berdebar. Satu akar yang cuma hidup di dua ayat memuat derap kaki kuda dan denyut di dalam dada, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun. Sebuah gambaran yang dipinjam dari kuda yang dipacu membawa kecepatan itu ke dalam dada pembacanya. Yang dipinjam bukan artinya, melainkan rasanya.
- Kata pertamanya berbentuk jamak dan tidak bertakrif, sehingga yang disebut sebagian hati dan bukan seluruhnya. Kalau bertakrif, yang disebut Allah akan menjadi seluruh hati manusia tanpa kecuali. Karena tidak, yang disebut sekumpulan hati tanpa batas yang jelas, dan pembacanya tidak bisa memastikan apakah dirinya termasuk. Ketidakpastian tentang siapa yang termasuk membuat pembacanya memeriksa dirinya, bukan menghitung orang lain. Sebuah batas yang kabur justru mengikat lebih banyak orang daripada batas yang tegas.
- Kata keduanya menunjuk hari yang disebut di 79:6, dan dua ayat memisahkan keduanya tanpa hari itu disebut ulang. Ayat ini melengkapi kalimat yang digantung Allah sejak 79:6, sehingga tiga ayat membentuk satu kalimat utuh. Membaca satu di antaranya sendirian meninggalkan pembacanya dengan potongan yang tidak berdiri. Tiga ayat yang membentuk satu kalimat menolak dipetik satu-satu, dan penolakan itu bagian dari cara membacanya. Yang dirangkai serapat itu memang dimaksudkan dibaca dalam satu tarikan.
- Kata terakhirnya menyifati kata pokoknya, dan keduanya sama-sama tidak bertakrif. Ikatan itu tidak ditandai satu kata penghubung pun, sehingga benda dan sifatnya terbaca sebagai satu hal. Allah memakai cara yang sama di seluruh surah ini, dan kerapatan itu membuat gambarannya masuk tanpa jeda. Benda dan sifat yang dirapatkan tanpa penghubung masuk sebagai satu gambaran, bukan dua keterangan. Kerapatan seperti itu mempercepat bacaan tanpa mengurangi bobotnya.
- Yang disebut di ayat ini hatinya, bukan orangnya. Yang bergetar bagian di dalam dada, dan Allah tidak menyebut pemiliknya sama sekali. Cara itu berulang di 79:9 yang menyebut pandangan mereka, sehingga dua ayat berturut-turut melukiskan bagian tubuh dan bukan manusianya. Menyebut bagian tubuh dan bukan orangnya membuat gambarannya berlaku bagi siapa saja yang punya bagian itu. Tidak seorang pun bisa berkata bahwa gambaran itu tentang orang lain.
- Hati dan pandangan sama-sama bagian yang tidak bisa diatur pemiliknya pada saat genting. Allah memilih dua hal itu untuk melukiskan keadaan pada hari tersebut, bukan ucapan atau perbuatan. Apa yang dinyatakan sebuah gambaran ketika yang dipakai untuk menandai keadaan seseorang justru bagian yang paling tidak bisa dikendalikannya? Hari yang menakutkan tidak dilukiskan lewat apa yang dikatakan orang, melainkan lewat apa yang tidak bisa mereka sembunyikan. Yang tak terkendali selalu lebih jujur daripada yang terucap.