أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌ
Pandangannya tertunduk.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَبْصَارُهَا خَاشِعَةٌabshaaruhaa khaasyi'atunpandangannya tertunduk
Terjemahan per kata (2 kata)
- أَبْصَارُهَاabshaaruhaapandangannya
- خَاشِعَةٌkhaasyi'atuntertunduk
Inti bacaan
Manifestasi fisik ketakutan: 'pandangannya tertunduk', ekspresi tubuh yang menyertai kondisi batin, kerendahan yang dipaksakan oleh situasi yang luar biasa.
Penjelasan pilihan kata
Kata (خَاشِعَةٌ, khaasyi'ah) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:9 dan 88:2. Di 88:2 kata itu menyifati wajah, dan di sini menyifati pandangan.
Bandingkan dua tempat itu. Di 88:2 yang tunduk seluruh wajah; di sini yang tunduk cuma pandangannya. Satu kata yang cuma hidup di dua tempat dipakai untuk dua bagian yang berbeda luasnya.
Akar (خَاشِعَةٌ, khaasyi'ah) dipakai di 16 ayat, antara lain 2:45, 20:108, 23:2, 33:35, dan 57:16. Di 23:2 akar itu dipakai untuk orang beriman yang khusyuk di dalam salatnya.
Perbandingan itu patut dicatat. Di 23:2 ketundukan adalah pilihan yang dipuji. Di sini ia keadaan yang datang tanpa dipilih. Satu akar memuat tunduk yang diusahakan dan tunduk yang dipaksakan.
Kata (أَبْصَارُهَا, abshaaruhaa) memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk hati di 79:8. Jadi pandangan itu disebut sebagai milik hati, bukan milik orangnya.
Susunan seperti itu ganjil kalau dibaca harfiah. Pandangan biasanya milik mata, dan mata milik orang. Di sini ia diikat langsung kepada hati yang berdebar.
Ikatan itu membuat dua ayatnya menyatu. Yang bergetar di dalam dan yang tertunduk di luar dinyatakan berasal dari satu sumber.
Kata (أَبْصَارُهَا, abshaaruhaa) berbentuk jamak, sama seperti kata pokok di 79:8. Dua ayat berurutan memakai bentuk jamak untuk melukiskan keadaan banyak orang tanpa menyebut satu pun.
Ayat ini menutup gambaran keadaan batin. Sesudahnya, 79:10 berpindah kepada ucapan mereka, dan peralihan itu tidak diberi kalimat pengantar.
Perhatikan urutannya. Yang disebut lebih dulu hati, lalu pandangan, baru ucapan. Gambarannya bergerak dari yang paling dalam ke yang paling terlihat.
Urutan itu tidak diterangkan Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa tiga ayat berturut-turut bergerak keluar dari dada ke mata lalu ke lidah.
Kata (خَاشِعَةٌ, khaasyi'ah) berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata pokoknya walau kata itu berbentuk jamak. Bentuknya ditentukan aturan, bukan jumlahnya.
Perhatikan pula bahwa dua ayat ini tidak menyebut siapa pemilik hati dan pandangan itu. Baru di 79:10 muncul kata kerja yang menunjuk mereka.
Urutan seperti itu menunda pengenalan. Pembacanya melihat keadaan lebih dulu, dan baru mengetahui siapa yang mengalaminya sesudah dua ayat berlalu.
Cara itu berulang di seluruh surahnya. Empat belas ayat pertamanya tidak memuat satu nama pun, dan yang disebut selalu keadaan atau perbuatan.
Perhatikan pula bahwa ketundukan pandangan biasanya tanda malu atau kalah. Di sini tandanya tidak dinamai, dan Al-Qur'an membiarkan pembacanya menakarnya sendiri.
Tafsiran
Ayat ini melengkapi gambaran ketakutan dengan pandangan yang tertunduk. Ayat ini melanjutkan gambaran dengan pandangan yang tertunduk. Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:9 dan 88:2. Di 88:2 kata itu menyifati wajah, sedangkan di sini menyifati pandangan.
Jadi satu kata yang cuma hidup di dua tempat dipakai untuk dua bagian yang berbeda luasnya. Akarnya dipakai di 16 ayat, antara lain 2:45, 20:108, 23:2, 33:35, dan 57:16.
Di 23:2 akar itu dipakai untuk orang beriman yang khusyuk di dalam salatnya, sehingga ketundukan di sana adalah pilihan yang dipuji. Di sini ia keadaan yang datang tanpa dipilih, dan satu akar memuat tunduk yang diusahakan dan tunduk yang dipaksakan.
Kata pertamanya memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk hati di 79:8, sehingga pandangan itu disebut sebagai milik hati dan bukan milik orangnya. Ikatan itu membuat dua ayatnya menyatu.
Ayat ini menutup gambaran keadaan batin, dan 79:10 berpindah kepada ucapan mereka tanpa satu kalimat pengantar. Dua ayat ini tidak menyebut siapa pemilik hati dan pandangan itu, dan baru di 79:10 muncul kata kerja yang menunjuk mereka. Urutan seperti itu menunda pengenalan, sehingga pembacanya melihat keadaan lebih dulu dan baru mengetahui siapa yang mengalaminya sesudah dua ayat berlalu.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:9 dan 88:2. Di 88:2 Allah memakainya untuk menyifati wajah, dan di sini untuk menyifati pandangan. Satu kata yang cuma hidup di dua tempat dipakai untuk dua bagian yang berbeda luasnya, dan Al-Qur'an tidak menghubungkan keduanya dengan satu kalimat pun. Satu kata yang menyifati wajah di satu tempat dan pandangan di tempat lain menyempit dan meluas mengikuti kalimatnya. Luas sebuah sifat ditentukan bendanya, bukan katanya sendiri.
- Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 16 ayat, antara lain 2:45, 20:108, 23:2, 33:35, dan 57:16. Di 23:2 akar itu dipakai untuk orang beriman yang khusyuk di dalam salatnya, sehingga ketundukan di sana adalah pilihan yang dipuji. Di sini ia keadaan yang datang tanpa dipilih, sehingga satu akar memuat tunduk yang diusahakan dan tunduk yang dipaksakan. Ketundukan yang diusahakan dan yang dipaksakan dinamai sama, dan yang membedakan cuma kapan ia datang. Yang datang terlambat tidak lagi dihitung sebagai pilihan.
- Kata pertamanya memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk hati di 79:8, sehingga pandangan itu disebut Allah sebagai milik hati dan bukan milik orangnya. Susunan seperti itu ganjil kalau dibaca harfiah, karena pandangan biasanya milik mata. Ikatan itu menyatakan bahwa yang bergetar di dalam dan yang tertunduk di luar berasal dari satu sumber. Mengikat pandangan kepada hati menyatakan bahwa yang tampak di mata berasal dari yang bergetar di dalam. Susunan itu menutup kemungkinan membaca keduanya sebagai dua hal terpisah.
- Urutan tiga ayat ini bergerak dari yang paling dalam ke yang paling terlihat: hati, lalu pandangan, lalu ucapan di 79:10. Allah tidak menerangkan urutan itu, dan yang bisa dibaca cuma bahwa gambarannya bergerak keluar dari dada ke mata lalu ke lidah. Apa yang bertambah pada sebuah gambaran ketika ia disusun dari dalam ke luar, bukan sebaliknya? Sebuah gambaran yang bergerak dari dalam ke luar membuat pembacanya menyusuri sendiri jalannya. Yang disusuri sendiri lebih lekat daripada yang disodorkan jadi.
- Kata pertamanya berbentuk jamak, sama seperti kata pokok di 79:8, sehingga dua ayat berurutan memakai bentuk jamak untuk melukiskan keadaan banyak orang. Allah tidak menyebut satu pun di antara mereka. Yang banyak tetapi tidak dinamai tidak bisa dikurung pada satu golongan, dan setiap pembacanya bisa berada di dalamnya. Yang banyak tetapi tidak dinamai tidak bisa dikurung pada satu golongan tertentu. Setiap pembacanya bisa berada di dalamnya tanpa pernah disebut namanya.
- Kata terakhirnya berbentuk perempuan tunggal, mengikuti kata pokoknya walau kata itu berbentuk jamak. Bentuknya ditentukan aturan bahasa, bukan jumlah yang dimaksud. Allah memakai cara yang sama di beberapa tempat di surah ini, dan pembacanya menerima gambaran banyak walau bentuk katanya tunggal. Bentuk yang ditentukan aturan bahasa tetap menyampaikan jumlah yang dimaksud. Pembacanya menerima gambaran banyak walau kata sifatnya berbentuk tunggal.