يَقُولُونَ أَإِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِ
Mereka berkata, “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada keadaan semula,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- يَقُولُونَ أَإِنَّا لَمَرْدُودُونَ فِي الْحَافِرَةِyaquuluuna a-innaa la-marduuduuna fii l-haafiratimereka berkata, apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada keadaan semula
Terjemahan per kata (5 kata)
- يَقُولُونَyaquuluunamereka berkata
- أَإِنَّاa-innaaapakah sesungguhnya kami
- لَمَرْدُودُونَla-marduuduunabenar-benar akan dikembalikan
- فِيfiipada
- الْحَافِرَةِl-haafiratikeadaan semula
Inti bacaan
Keraguan yang diungkapkan terbuka: 'mereka berkata: apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada keadaan semula?', pertanyaan skeptis yang mencerminkan kesulitan menerima konsep kebangkitan, keraguan yang diungkapkan secara eksplisit.
Penjelasan pilihan kata
Kutip dibuka di sini, dikonfirmasi verba 'yaquuluuna' (akar q-w-l) via morfologi, berlanjut ke 79:11. Yang tertulis (يَقُولُونَ, yaquuluuna) di awal ayatnya.
Kata (الْحَافِرَةِ, al-haafirah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya cuma dipakai di 2 ayat: 3:103 dan 79:10.
Di 3:103 akar (الْحَافِرَةِ, al-haafirah) dipakai untuk tepi jurang api yang hampir mereka jatuhi, lalu Allah menyelamatkan mereka darinya. Jadi akar itu di sana melukiskan lubang yang menganga.
Di sini akar (الْحَافِرَةِ, al-haafirah) dipakai untuk keadaan semula yang mereka tolak kembalinya. Satu akar yang cuma hidup di dua ayat memuat jurang yang hampir menelan dan keadaan awal yang tidak dipercaya.
Kata (لَمَرْدُودُونَ, la-marduuduun) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 57 ayat, antara lain 2:109, 4:83, 6:28, 21:40, dan 30:43.
Bentuk (لَمَرْدُودُونَ, la-marduuduun) menyatakan orang yang dikembalikan, bukan yang kembali sendiri. Jadi yang mereka tolak bukan kepulangan yang mereka pilih, melainkan pengembalian yang dikenakan atas mereka.
Perbedaan itu menentukan. Kembali sendiri masih menyisakan pilihan; dikembalikan tidak menyisakan apa pun. Bentuk katanya yang menyatakannya, bukan satu kata tambahan.
Kata (أَإِنَّا, a-innaa) memuat huruf tanya dan huruf penegas sekaligus. Susunan itu bukan pertanyaan yang mencari keterangan, melainkan bantahan yang dibungkus pertanyaan.
Susunan yang sama diulang di 79:11 dengan huruf tanya lagi. Dua ayat berturut-turut membuka bantahan dengan cara yang sama persis.
Kata (يَقُولُونَ, yaquuluuna) berbentuk sekarang, sehingga ucapan itu dinyatakan berulang, bukan diucapkan sekali. Bantahan mereka dilukiskan sebagai kebiasaan.
Perhatikan letak ucapan itu. Ia disebut sesudah gambaran hati yang berdebar dan pandangan yang tertunduk pada hari itu. Jadi susunannya melompat mundur dari hari kiamat ke ucapan mereka sekarang.
Lompatan mundur itu tidak ditandai apa pun. Kata (يَقُولُونَ, yaquuluuna) membawa pembacanya dari pemandangan hari itu kembali ke bantahan yang mereka ucapkan sebelum harinya tiba.
Susunan seperti itu membuat bantahan mereka terbaca berhadapan dengan akibatnya. Ucapan dan hasilnya diletakkan berdampingan, dan tidak satu kalimat pun menyatakan hubungannya.
Perhatikan pula bahwa bantahan mereka dikutip apa adanya. Al-Qur'an tidak menyisipkan satu kata pun yang menandai bahwa ucapan itu keliru.
Susunan seperti itu jarang di dalam perdebatan. Biasanya sebuah pendapat yang salah langsung diberi tanda. Di sini ia dibiarkan berdiri utuh selama tiga ayat.
Yang membantahnya bukan kalimat sanggahan, melainkan letaknya sendiri. Ucapan mereka ditaruh tepat sesudah gambaran hari itu, dan sesudahnya disusul jawaban yang pendek.
Perhatikan pula bahwa mereka tidak menyebut Allah sama sekali di dalam bantahan mereka. Yang dipersoalkan cuma kemungkinan peristiwanya, bukan siapa yang mengerjakannya.
Tafsiran
Ayat ini mencatat keraguan orang-orang tentang kebangkitan setelah kematian. Ayat ini mengutip bantahan mereka atas kebangkitan. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai di 2 ayat: 3:103 dan 79:10.
Di 3:103 akar itu dipakai untuk tepi jurang api yang hampir mereka jatuhi lalu Allah menyelamatkan mereka darinya, sehingga di sana ia melukiskan lubang yang menganga. Di sini akar yang sama dipakai untuk keadaan semula yang mereka tolak kembalinya.
Kata keempatnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 57 ayat, antara lain 2:109, 4:83, 6:28, 21:40, dan 30:43. Bentuknya menyatakan orang yang dikembalikan, bukan yang kembali sendiri, sehingga yang mereka tolak adalah pengembalian yang dikenakan atas mereka.
Kata keduanya memuat huruf tanya dan huruf penegas sekaligus, sehingga susunannya bukan pertanyaan yang mencari keterangan melainkan bantahan yang dibungkus pertanyaan.
Kata pertamanya berbentuk sekarang, sehingga ucapan itu dinyatakan berulang dan bukan diucapkan sekali. Bantahan mereka dikutip apa adanya, dan Al-Qur'an tidak menyisipkan satu kata pun yang menandai bahwa ucapan itu keliru. Yang membantahnya bukan kalimat sanggahan melainkan letaknya sendiri, karena ucapan itu ditaruh tepat sesudah gambaran hari tersebut.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya cuma dipakai Allah di 2 ayat: 3:103 dan 79:10. Di 3:103 akar itu dipakai untuk tepi jurang api yang hampir mereka jatuhi lalu Dia menyelamatkan mereka darinya. Di sini akar yang sama dipakai untuk keadaan semula yang mereka tolak kembalinya, sehingga satu akar memuat jurang yang menganga dan keadaan awal yang tidak dipercaya. Dua pemakaian akar yang cuma hidup di dua ayat sama-sama menyangkut sesuatu yang menganga. Yang satu jurang di depan kaki, yang lain keadaan awal yang tidak dipercaya.
- Bentuk kata keempatnya menyatakan orang yang dikembalikan, bukan yang kembali sendiri. Jadi yang mereka tolak bukan kepulangan yang mereka pilih, melainkan pengembalian yang dikenakan atas mereka oleh Allah. Kembali sendiri masih menyisakan pilihan; dikembalikan tidak menyisakan apa pun, dan bentuk katanya sendiri yang menyatakannya. Perbedaan antara memilih kembali dan dikembalikan menentukan siapa yang memegang perkaranya. Bentuk katanya menutup pintu bagi bacaan yang menyisakan pilihan.
- Kata keduanya memuat huruf tanya dan huruf penegas sekaligus, sehingga susunannya bukan pertanyaan yang mencari keterangan. Yang dinyatakan bantahan yang dibungkus pertanyaan, dan susunan yang sama diulang Allah di 79:11. Dua ayat berturut-turut membuka bantahan dengan cara yang sama persis, dan pengulangan itu memperlihatkan betapa kerasnya penolakan mereka. Sebuah pertanyaan yang tidak menunggu jawaban dipakai untuk menutup, bukan untuk membuka. Pengulangannya di ayat berikutnya memperlihatkan betapa kerasnya penolakan itu.
- Kata pertamanya berbentuk sekarang, sehingga ucapan itu dinyatakan berulang dan bukan diucapkan sekali. Allah melukiskan bantahan mereka sebagai kebiasaan, bukan sebagai satu kejadian. Sesuatu yang diucapkan berulang-ulang lebih sulit ditinggalkan daripada sesuatu yang terlanjur terucap satu kali. Sesuatu yang diucapkan berulang menjadi kebiasaan, dan kebiasaan lebih sulit ditinggalkan daripada ucapan sekali. Bentuk waktunya yang menyatakan hal itu, bukan satu kata tambahan.
- Ucapan ini disebut sesudah gambaran hati yang berdebar dan pandangan yang tertunduk pada hari itu, sehingga susunannya melompat mundur dari hari kiamat ke ucapan mereka sekarang. Allah tidak menandai lompatan itu dengan satu kata pun, dan pembacanya dibawa kembali ke bantahan yang diucapkan sebelum harinya tiba. Lompatan dari hari itu ke ucapan mereka sekarang menaruh dua waktu berdampingan. Pembacanya melihat sebab dan akibat dalam satu tarikan, tanpa satu penghubung.
- Susunan itu membuat bantahan mereka terbaca berhadapan langsung dengan akibatnya. Ucapan dan hasilnya diletakkan Allah berdampingan, dan tidak satu kalimat pun menyatakan hubungan di antara keduanya. Apa yang dikerjakan sebuah susunan ketika ia menaruh penolakan seseorang tepat di sebelah gambaran hari yang ditolaknya? Penolakan yang ditaruh tepat di sebelah gambaran yang ditolaknya membantah dirinya sendiri. Tidak diperlukan satu kalimat sanggahan pun untuk itu.