أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةً
Apakah demikian juga apabila kita telah menjadi tulang-belulang yang hancur?”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- أَإِذَا كُنَّا عِظَامًا نَخِرَةًa-idzaa kunnaa 'izhaaman nakhiratanapakah demikian juga apabila kita telah menjadi tulang-belulang yang hancur
Terjemahan per kata (4 kata)
- أَإِذَاa-idzaaapakah apabila
- كُنَّاkunnaakami adalah
- عِظَامًا'izhaamantulang-belulang
- نَخِرَةًnakhiratanyang hancur
Inti bacaan
Perluasan keraguan dengan detail fisik: 'apabila kita telah menjadi tulang-belulang yang hancur, apakah kita (akan dibangkitkan juga)?', penambahan detail tentang kondisi fisik yang tampak mustahil untuk dipulihkan, memperkuat nada skeptis pertanyaan sebelumnya.
Penjelasan pilihan kata
Lanjutan pertanyaan ini dilesapkan dalam Arab, mengulang struktur pertanyaan 79:10 ('a-innaa...'): 'demikian juga' menambahkan elipsis gramatikal tersebut tanpa menambah makna baru, bukan tambahan interpretif seperti bracket draf '(akan dibangkitkan juga)'. Kutip ditutup di akhir ayat ini.
Kata (نَخِرَةً, nakhirah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar tunggal kedua di surah ini, sesudah akar di 79:2.
Tujuh akar semacam (نَخِرَةً, nakhirah) berkumpul di surah ini, yaitu di 79:2, 79:11, 79:14, 79:28, 79:29, 79:30, dan 79:34. Tiga di antaranya, yaitu 79:11 dan dua berikutnya, berada di bagian tentang bantahan dan kebangkitan.
Kata (عِظَامًا, 'izhaaman) tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya. Yang mereka bayangkan bukan tulang tertentu, melainkan tulang secara umum.
Kata (نَخِرَةً, nakhirah) menyifati tulang itu dengan keadaan yang paling jauh dari hidup: lapuk dan berongga. Jadi bantahan mereka dibangun atas gambaran yang paling ekstrem.
Cara berbantah seperti itu patut dicatat. Mereka tidak menyebut tulang yang baru, melainkan yang sudah hancur. Yang dipilih keadaan yang paling sulit dibayangkan bisa kembali.
Kata (أَإِذَا, a-idzaa) memuat huruf tanya, sama seperti pembuka di 79:10. Dua ayat berturut-turut dibuka dengan cara yang sama.
Kata (كُنَّا, kunnaa) berbentuk lampau, sehingga keadaan menjadi tulang lapuk dinyatakan sudah terjadi. Padahal peristiwanya belum, dan mereka yang mengucapkannya masih hidup.
Susunan itu memperlihatkan cara mereka berpikir. Mereka membayangkan diri sudah hancur, lalu bertanya dari titik itu. Bantahannya dibangun dari sudut pandang yang belum mereka alami.
Ayat ini dan 79:10 membentuk satu bantahan yang bersambung. Yang pertama menolak pengembalian, yang kedua menyebut alasannya.
Alasannya berupa keadaan tubuh, bukan berupa dalil. Yang mereka jadikan pegangan cuma apa yang bisa mereka bayangkan, dan Al-Qur'an tidak menambahkan bantahan atasnya di ayat ini.
Bantahan atasnya baru datang di 79:13, dan bentuknya bukan penjelasan melainkan pernyataan tentang betapa mudahnya. Dua ayat mereka pakai untuk menolak, dan satu ayat cukup untuk menjawab.
Perbandingan panjang itu tidak ditandai Al-Qur'an. Yang bisa dibaca cuma bahwa jawabannya lebih pendek daripada bantahannya.
Perhatikan pula bahwa bantahan ini bersandar pada apa yang bisa dilihat. Tulang yang lapuk adalah hal yang pernah mereka saksikan sendiri.
Sebuah penolakan yang bersandar pada pengalaman terasa kuat bagi yang mengucapkannya. Tetapi ia juga terbatas pada pengalaman itu, dan tidak bisa melampauinya.
Jawaban yang datang di 79:13 tidak menyanggah pengalaman mereka. Ia cuma menyebut sesuatu yang tidak pernah masuk ke dalam pengalaman siapa pun.
Perhatikan pula bahwa dua ayat bantahan ini seluruhnya berupa pertanyaan. Tidak ada satu pernyataan pun di dalamnya, dan penolakannya dibungkus rapat.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan keraguan tersebut dengan menyoroti kehancuran total tulang-belulang sebagai alasan ketidakpercayaan. Ayat ini melanjutkan bantahan mereka dengan menyebut keadaan tulang yang lapuk. Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga ini akar tunggal kedua di surah ini sesudah akar di 79:2.
Tujuh akar semacam itu berkumpul di surah ini, yaitu di 79:2, 79:11, 79:14, 79:28, 79:29, 79:30, dan 79:34.
Kata ketiganya tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya dan bukan tulang tertentu. Kata terakhirnya menyifatinya dengan keadaan yang paling jauh dari hidup, yaitu lapuk dan berongga, sehingga bantahan mereka dibangun atas gambaran yang paling ekstrem.
Kata keduanya berbentuk lampau, sehingga keadaan menjadi tulang lapuk dinyatakan sudah terjadi, padahal peristiwanya belum dan mereka yang mengucapkannya masih hidup. Mereka membayangkan diri sudah hancur, lalu bertanya dari titik itu.
Ayat ini dan 79:10 membentuk satu bantahan yang bersambung, dan jawabannya baru datang di 79:13 dengan satu ayat saja. Bantahan ini bersandar pada apa yang bisa dilihat, yaitu tulang lapuk yang pernah mereka saksikan sendiri. Sebuah penolakan yang bersandar pada pengalaman terasa kuat bagi yang mengucapkannya, tetapi ia juga terbatas pada pengalaman itu dan tidak bisa melampauinya.
Renungan dan Hikmah
- Kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Ini akar tunggal kedua di surah ini sesudah akar di 79:2, dan tujuh akar semacam itu berkumpul di surah yang sama, yaitu di 79:2, 79:11, 79:14, 79:28, 79:29, 79:30, dan 79:34. Kepadatan sebesar itu tidak ditandai Al-Qur'an dengan satu kalimat pun. Tujuh akar tunggal di satu surah pendek adalah kepadatan yang menuntut diperiksa. Yang tidak ditandai bukan berarti tidak ada, dan yang menemukannya cuma pembaca yang menghitung sendiri.
- Kata terakhirnya menyifati tulang dengan keadaan yang paling jauh dari hidup, yaitu lapuk dan berongga. Jadi bantahan mereka dibangun atas gambaran yang paling ekstrem. Mereka tidak menyebut tulang yang baru, melainkan yang sudah hancur, dan yang dipilih keadaan yang paling sulit dibayangkan bisa dikembalikan Allah. Memilih gambaran yang paling ekstrem membuat bantahannya terasa paling kuat. Tetapi ia juga membuat jawabannya terasa paling ringan ketika datang, karena yang dijawab justru keadaan yang paling mereka anggap mustahil.
- Kata keduanya berbentuk lampau, sehingga keadaan menjadi tulang lapuk dinyatakan sudah terjadi. Padahal peristiwanya belum, dan mereka yang mengucapkannya masih hidup. Susunan itu memperlihatkan cara mereka berpikir: mereka membayangkan diri sudah hancur, lalu bertanya dari titik itu. Bantahannya dibangun dari sudut pandang yang belum mereka alami sendiri. Membayangkan diri sudah hancur lalu bertanya dari titik itu adalah cara berpikir yang meminjam masa depan. Yang dipinjam justru bagian yang paling tidak mereka kuasai.
- Kata ketiganya tidak bertakrif, sehingga yang disebut jenisnya dan bukan tulang tertentu. Yang mereka bayangkan tulang secara umum, dan Allah membiarkan gambaran itu seluas mungkin. Sebuah bantahan yang dibangun atas jenis, bukan atas satu benda, terdengar lebih kokoh bagi yang mengucapkannya. Sebuah bantahan yang dibangun atas jenis terdengar lebih kokoh daripada yang dibangun atas satu benda. Keluasan itu menyembunyikan kelemahannya sendiri.
- Alasan yang mereka pakai berupa keadaan tubuh, bukan berupa dalil. Yang mereka jadikan pegangan cuma apa yang bisa mereka bayangkan, dan Allah tidak menambahkan bantahan atasnya di ayat ini. Sebuah penolakan yang bersandar pada daya bayang berhenti tepat di batas daya bayang itu sendiri. Penolakan yang bersandar pada daya bayang berhenti tepat di batas daya bayang itu. Yang di luar bayangan tidak pernah masuk ke dalam pertimbangannya.
- Ayat ini dan 79:10 membentuk satu bantahan yang bersambung, dan jawaban Allah baru datang di 79:13 dengan satu ayat saja. Bentuknya pun bukan penjelasan, melainkan pernyataan tentang betapa mudahnya. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika dua ayat penolakan cukup dijawab satu ayat yang bahkan tidak menerangkan caranya? Jawaban yang lebih pendek daripada bantahannya menyatakan bahwa perkaranya memang tidak seberat yang disangka. Panjangnya sendiri sudah menjadi keterangan.