قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌ

Mereka berkata, “Kalau begitu, itu suatu pengembalian yang merugikan.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. قَالُوا تِلْكَ إِذًا كَرَّةٌ خَاسِرَةٌqaaluu tilka idzan karratun khaasiratunmereka berkata, kalau begitu, itu suatu pengembalian yang merugikan

Terjemahan per kata (5 kata)

  1. قَالُواqaaluumereka berkata
  2. تِلْكَtilkaitulah
  3. إِذًاidzanjika demikian
  4. كَرَّةٌkarratunkembali
  5. خَاسِرَةٌkhaasiratunyang merugi

Inti bacaan

Kesimpulan sinis terhadap kemungkinan kebangkitan: 'mereka berkata: kalau begitu, itu suatu pengembalian yang merugikan', penutup dialog skeptis dengan nada mengejek, menganggap konsep kebangkitan sebagai sesuatu yang tidak menguntungkan atau tidak masuk akal.

Penjelasan pilihan kata

'Tilka' (jauh, feminin) dikonfirmasi morfologi, diterjemahkan 'itu': draf sudah tepat. Kutip ini terpisah (sekuensial, bukan bersarang) dari kutip 79:10-11, ditandai verba perfek 'qaaluu' (peristiwa ucapan baru), dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri.

Kata (كَرَّةٌ, karrah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 6 ayat: 2:167, 17:6, 26:102, 39:58, 79:12, dan 89:22.

Di 2:167 dan 26:102 akar (كَرَّةٌ, karrah) dipakai untuk keinginan orang yang sudah menyaksikan azab agar dikembalikan sekali lagi ke dunia. Jadi akar itu di sana menyebut kembali yang diminta.

Di sini akar (كَرَّةٌ, karrah) dipakai untuk kembali yang justru mereka tolak. Satu akar yang cuma hidup di enam ayat memuat kembali yang dimohon dan kembali yang dibantah.

Perbandingan itu tajam. Yang mereka tolak sekarang adalah persis yang akan mereka mohon nanti. Al-Qur'an tidak menyandingkan dua tempat itu dengan satu kalimat pun.

Kata (خَاسِرَةٌ, khaasirah) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 18:103, 39:15, dan 103:2.

Bentuk (خَاسِرَةٌ, khaasirah) menyifati kembalinya, bukan orangnya. Jadi yang disebut merugi bukan mereka, melainkan pengembalian itu sendiri.

Susunan itu patut dicatat. Mereka menaruh kerugian pada peristiwanya, bukan pada diri mereka. Cara bicara seperti itu menjauhkan tanggung jawab dari yang mengucapkannya.

Kata (قَالُوا, qaaluu) berbentuk lampau, sedangkan kata kerja di 79:10 berbentuk sekarang. Dua ucapan itu berbeda bentuk waktunya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan sebabnya.

Perbedaan itu bisa dibaca dari susunannya. Yang berbentuk sekarang dinyatakan berulang; yang berbentuk lampau dinyatakan sebagai putusan yang sudah diambil.

Kata (تِلْكَ, tilka) adalah kata penunjuk jauh. Mereka menunjuk kembalinya sebagai sesuatu yang berjarak, bukan sebagai sesuatu yang dekat dengan mereka.

Penunjuk jauh itu sejalan dengan bantahan mereka. Yang dianggap tidak akan terjadi memang wajar ditunjuk dari kejauhan.

Ayat ini menutup tiga ayat ucapan mereka. Sesudahnya, 79:13 menjawab dengan satu kalimat, dan jawabannya tidak menyanggah satu kata pun dari yang mereka katakan.

Perhatikan pula bahwa ucapan mereka berakhir dengan penilaian, bukan dengan pertanyaan. Dua ayat pertama berupa tanya, dan yang ketiga berupa putusan.

Perpindahan itu memperlihatkan bahwa mereka tidak sedang bertanya. Pertanyaannya cuma jalan menuju kesimpulan yang sudah mereka siapkan.

Susunan seperti itu jarang ditandai. Al-Qur'an mengutipnya utuh, dan pembacanya sendiri yang melihat bahwa tanya di awal ternyata bukan tanya.

Perhatikan pula bahwa mereka menyebut kembalinya merugi, bukan mustahil. Sebutan (خَاسِرَةٌ, khaasirah) yang mereka pilih menyiratkan kemungkinan, walau nada mereka menolaknya.

Tafsiran

Ayat ini mencatat kesimpulan sinis mereka bahwa kebangkitan, jika benar terjadi, hanyalah kerugian. Ayat ini menutup ucapan mereka dengan menyebut kembalinya sebagai kerugian. Kata keempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 6 ayat: 2:167, 17:6, 26:102, 39:58, 79:12, dan 89:22.

Di 2:167 dan 26:102 akar itu dipakai untuk keinginan orang yang sudah menyaksikan azab agar dikembalikan sekali lagi ke dunia. Di sini akar yang sama dipakai untuk kembali yang justru mereka tolak, sehingga yang mereka tolak sekarang adalah persis yang akan mereka mohon nanti.

Kata terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 18:103, 39:15, dan 103:2. Bentuknya menyifati kembalinya, bukan orangnya, sehingga yang disebut merugi bukan mereka melainkan pengembalian itu sendiri.

Kata pertamanya berbentuk lampau, sedangkan kata kerja di 79:10 berbentuk sekarang, dan Al-Qur'an tidak menerangkan sebab perbedaan itu.

Kata keduanya adalah kata penunjuk jauh, sehingga mereka menunjuk kembalinya sebagai sesuatu yang berjarak. Ucapan mereka berakhir dengan penilaian, bukan dengan pertanyaan: dua ayat pertama berupa tanya, dan yang ketiga berupa putusan. Perpindahan itu memperlihatkan bahwa mereka tidak sedang bertanya, dan pertanyaannya cuma jalan menuju kesimpulan yang sudah disiapkan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keempatnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 6 ayat: 2:167, 17:6, 26:102, 39:58, 79:12, dan 89:22. Di 2:167 dan 26:102 akar itu dipakai untuk keinginan orang yang sudah menyaksikan azab agar dikembalikan ke dunia. Di sini ia dipakai untuk kembali yang justru mereka tolak, sehingga yang ditolak sekarang persis yang akan dimohon nanti. Menolak sekarang apa yang akan dimohon nanti adalah kebalikan yang tidak pernah dinyatakan Al-Qur'an. Yang menyandingkan keduanya cuma satu akar yang hidup di enam ayat.
  • Bentuk kata terakhirnya menyifati kembalinya, bukan orangnya, sehingga yang disebut merugi bukan mereka melainkan pengembalian itu sendiri. Mereka menaruh kerugian pada peristiwanya, dan cara bicara seperti itu menjauhkan tanggung jawab dari yang mengucapkannya. Allah mengutip ucapan mereka apa adanya, tanpa satu kata pun yang meluruskannya. Menaruh kerugian pada peristiwa dan bukan pada diri sendiri adalah cara halus menghindar. Susunan katanya membiarkan penghindaran itu terbaca apa adanya.
  • Kata pertamanya berbentuk lampau, sedangkan kata kerja di 79:10 berbentuk sekarang. Dua ucapan itu berbeda bentuk waktunya, dan Al-Qur'an tidak menerangkan sebabnya. Yang bisa dibaca dari susunannya: yang berbentuk sekarang dinyatakan berulang, dan yang berbentuk lampau dinyatakan sebagai putusan yang sudah diambil. Dua bentuk waktu di dua ucapan menyatakan dua tahap sikap: yang berulang dan yang sudah diputuskan. Perbedaannya tidak diterangkan, dan cuma bentuknya yang menandai.
  • Kata keduanya adalah kata penunjuk jauh, sehingga mereka menunjuk kembalinya sebagai sesuatu yang berjarak dan bukan sesuatu yang dekat. Penunjuk jauh itu sejalan dengan bantahan mereka, karena yang dianggap tidak akan terjadi memang wajar ditunjuk dari kejauhan. Allah membiarkan sikap itu terbaca lewat satu kata saja. Menunjuk sesuatu dari kejauhan menyatakan sikap sebelum satu alasan diucapkan. Sebuah kata penunjuk bisa membawa penilaian tanpa terlihat menilai.
  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 60 ayat, antara lain 2:27, 7:23, 18:103, 39:15, dan 103:2. Jadi kerugian salah satu pokok yang sering disebut, dan hampir selalu ia dikenakan kepada orang. Di sini mereka justru mengenakannya kepada peristiwa, dan perpindahan sasaran itu tidak ditandai satu kata pun. Kerugian yang biasanya dikenakan kepada orang di sini dipindahkan kepada peristiwa. Perpindahan sasaran itu berjalan tanpa satu penanda pun.
  • Ayat ini menutup tiga ayat ucapan mereka, dan 79:13 menjawab dengan satu kalimat yang tidak menyanggah satu kata pun dari yang mereka katakan. Apa yang dinyatakan sebuah jawaban ketika ia tidak membantah satu pun alasan yang diajukan, melainkan cuma menyebut betapa ringannya perkara yang mereka anggap mustahil? Sebuah jawaban yang tidak membantah alasan lawannya memilih jalan lain: ia mengubah ukuran perkaranya. Yang tadinya mustahil disebut cukup satu hardikan.