وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰ
Dan aku menunjukimu ke jalan Tuhanmu, agar engkau takut?’”
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَىٰwa-ahdiyaka ilaa rabbika fa-takhsyaadan aku menunjukimu ke jalan Tuhanmu, agar engkau takut
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَأَهْدِيَكَwa-ahdiyakadan aku menunjukkanmu
- إِلَىٰilaakepada
- رَبِّكَrabbikaTuhanmu
- فَتَخْشَىٰfa-takhsyaamaka engkau takut
Inti bacaan
Kelengkapan tawaran dengan hasil yang jelas: 'dan aku menunjukimu ke jalan Tuhanmu, agar engkau takut (kepada-Nya)', tujuan akhir dari petunjuk adalah kesadaran yang produktif (rasa takut yang mendorong perubahan), bukan sekadar informasi tanpa dampak.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(kepada-Nya)' tidak dipakai. Kutip tunggal (Musa ke Fir'aun) dan kutip ganda pembungkus (Allah ke Musa) sama-sama ditutup di akhir ayat ini.
Kata (وَأَهْدِيَكَ, wa ahdiyaka) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 268 ayat, sehingga petunjuk salah satu pokok yang paling sering muncul.
Perbandingan itu patut dicatat. Akar (وَأَهْدِيَكَ, wa ahdiyaka) dipakai ratusan kali, dan di sini ia muncul dengan bentuk yang tidak pernah diulang. Bentuknya tunggal, dan akarnya termasuk yang paling sering.
Kata (فَتَخْشَىٰ, fa takhsyaa) juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 40 ayat, antara lain 2:150, 5:3, 9:18, 35:28, dan 79:45.
Akar (فَتَخْشَىٰ, fa takhsyaa) muncul di dua ayat di surah ini: 79:19 dan 79:45. Di 79:19 ia menjadi tujuan yang diharapkan dari satu orang; di 79:45 ia menandai orang yang diberi peringatan.
Jadi akar (فَتَخْشَىٰ, fa takhsyaa) mengikat harapan atas satu orang di masa lalu dan tanda bagi siapa saja di masa kemudian. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan itu.
Kata (فَتَخْشَىٰ, fa takhsyaa) didahului huruf yang menyatakan akibat. Jadi takut itu dinyatakan sebagai hasil dari petunjuk, bukan sebagai syarat sebelumnya.
Urutan itu patut dicatat. Bukan takut dulu lalu diberi petunjuk, melainkan diberi petunjuk dulu lalu takut. Susunannya membalik urutan yang biasa dibayangkan orang.
Kata (رَبِّكَ, rabbika) memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua tunggal. Jadi yang disebut Tuhan orang yang diajak, bukan Tuhan yang mengutus.
Pilihan itu sejalan dengan susunan di 79:16, yang menyebut Tuhannya Musa. Dua kali di kisah ini Allah disebut lewat hubungan-Nya dengan orang yang bersangkutan.
Susunan seperti itu menutup satu jalan penolakan. Yang diajak tidak bisa berkata bahwa Tuhan itu milik orang lain, karena yang disebut Tuhannya sendiri.
Ayat ini menutup dua ayat isi perkataan. Seluruh yang harus disampaikan cuma dua ayat, dan keduanya berupa tawaran dan bimbingan.
Bandingkan dengan akibatnya di 79:21. Dua ayat tawaran dijawab satu ayat penolakan, dan penolakannya cuma dua kata.
Perhatikan pula bahwa dua ayat perkataan ini seluruhnya berupa kalimat orang pertama. Yang diutus berbicara sebagai dirinya sendiri, bukan mengutip perintah yang diterimanya.
Susunan itu membuat perkataannya terasa dekat. Ia tidak berkata bahwa Tuhannya menyuruh begini, melainkan menawarkan langsung dari mulutnya sendiri.
Cara seperti itu menghilangkan jarak antara pengutus dan yang dituju. Yang mendengar berhadapan dengan seorang manusia, bukan dengan pesan yang dibacakan.
Al-Qur'an tidak menerangkan pilihan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa perintah di 79:17 berbentuk suruhan, dan pelaksanaannya di dua ayat ini berbentuk percakapan.
Tafsiran
Ayat ini menutup instruksi Allah dengan tujuan akhir dakwah: agar Fir'aun mengenal jalan Tuhan dan menjadi takut. Ayat ini melengkapi perkataan itu dengan bimbingan menuju Tuhannya. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai di 268 ayat, sehingga petunjuk salah satu pokok yang paling sering muncul.
Kata terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 40 ayat, antara lain 2:150, 5:3, 9:18, 35:28, dan 79:45. Akar itu muncul di dua ayat di surah ini: 79:19 dan 79:45, sehingga ia mengikat harapan atas satu orang di masa lalu dan tanda bagi siapa saja di masa kemudian.
Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan akibat, sehingga takut dinyatakan sebagai hasil dari petunjuk dan bukan sebagai syarat sebelumnya. Susunannya membalik urutan yang biasa dibayangkan orang.
Kata keduanya memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua tunggal, sehingga yang disebut Tuhan orang yang diajak dan bukan Tuhan yang mengutus. Pilihan itu sejalan dengan susunan di 79:16.
Ayat ini menutup dua ayat isi perkataan, dan seluruh yang harus disampaikan cuma dua ayat. Dua ayat perkataan ini seluruhnya berupa kalimat orang pertama, sehingga yang diutus berbicara sebagai dirinya sendiri dan bukan mengutip perintah yang diterimanya. Cara itu menghilangkan jarak, karena yang mendengar berhadapan dengan seorang manusia dan bukan dengan pesan yang dibacakan.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, sedangkan akarnya dipakai Allah di 268 ayat. Jadi akar yang dipakai ratusan kali di sini muncul dengan bentuk yang tidak pernah diulang. Bentuk yang tunggal untuk akar yang sesering itu menandai bahwa susunan di ayat ini memang tidak ada bandingnya di tempat lain. Bentuk yang tunggal untuk akar yang paling sering dipakai menandai susunan yang tidak ada bandingnya. Kelangkaan itu tidak diberi satu penunjuk pun. Kelangkaan bentuk di tengah akar yang sering dipakai selalu patut diperiksa.
- Kata terakhirnya juga muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 40 ayat, antara lain 2:150, 5:3, 9:18, 35:28, dan 79:45. Akar itu muncul di dua ayat di surah ini: di 79:19 sebagai harapan atas satu orang, dan di 79:45 sebagai tanda bagi siapa saja yang diberi peringatan. Al-Qur'an tidak menyatakan hubungan di antara keduanya. Satu akar yang mengikat harapan atas satu orang dan tanda bagi semua orang menyambungkan dua ujung surahnya. Yang menyambungkan cuma bunyi katanya. Dua ujung surah yang disambungkan satu akar mengikat seluruh isinya jadi satu.
- Kata terakhirnya didahului huruf yang menyatakan akibat, sehingga takut dinyatakan Allah sebagai hasil dari petunjuk dan bukan sebagai syarat sebelumnya. Bukan takut dulu lalu diberi petunjuk, melainkan diberi petunjuk dulu lalu takut. Susunannya membalik urutan yang biasa dibayangkan orang, dan pembalikan itu dibawa cuma oleh satu huruf. Petunjuk yang mendahului rasa takut membalik urutan yang biasa dibayangkan. Yang takut lebih dulu belum tentu tahu apa yang ditakutinya. Takut tanpa petunjuk mudah salah arah, dan petunjuk tanpa takut mudah dilewati.
- Kata keduanya memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua tunggal, sehingga yang disebut Tuhan orang yang diajak dan bukan Tuhan yang mengutus. Pilihan itu sejalan dengan susunan di 79:16 yang menyebut Tuhannya Musa. Dua kali di kisah ini Allah disebut lewat hubungan-Nya dengan orang yang bersangkutan, dan susunan itu menutup satu jalan penolakan. Menyebut Tuhan sebagai milik yang diajak menutup jalan untuk berkata bahwa Dia urusan orang lain. Satu kata ganti mengunci seluruh penolakan itu. Kata ganti kepemilikan menutup jarak yang tidak bisa ditutup penjelasan panjang.
- Ayat ini menutup dua ayat isi perkataan, dan seluruh yang harus disampaikan berupa tawaran dan bimbingan. Bandingkan dengan akibatnya di 79:21: dua ayat tawaran dijawab satu ayat penolakan, dan penolakannya cuma dua kata. Apa yang dinyatakan perbandingan itu, ketika ajakan yang disusun hati-hati dijawab sesingkat mungkin? Ajakan yang panjang dijawab dua kata memperlihatkan bahwa panjangnya usaha tidak menentukan hasilnya. Yang menentukan tetap keputusan yang mendengarnya. Usaha yang panjang dan hasil yang pendek adalah kenyataan yang harus diterima setiap penyampai.
- Kata pertamanya menyatakan membimbing kepada jalan, bukan memaksa menempuhnya. Allah menyusun perkataan itu sebagai penunjukan arah, dan arah masih menyisakan langkah bagi yang ditunjuki. Dua ayat perkataan ini seluruhnya berupa tawaran dan bimbingan, dan tidak satu kata pun di dalamnya berupa paksaan. Membimbing masih menyisakan langkah bagi yang dibimbing, sedangkan memaksa tidak. Perbedaan itu terbawa di dalam pilihan katanya sendiri. Menyisakan langkah bagi orang lain adalah bentuk penghormatan yang jarang disebut.