ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰ

Kemudian dia berpaling seraya berusaha,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰtsumma adbara yas'aakemudian dia berpaling seraya berusaha

Terjemahan per kata (3 kata)

  1. ثُمَّtsummakemudian
  2. أَدْبَرَadbaraia berpaling
  3. يَسْعَىٰyas'aabersegera

Inti bacaan

Eskalasi penolakan menjadi perlawanan aktif: 'kemudian dia berpaling seraya berusaha (menentang)', peningkatan dari sekadar penolakan pasif menjadi upaya aktif melawan kebenaran yang telah diperlihatkan.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(menentang)' tidak dipakai.

Kata (أَدْبَرَ, adbara) muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22. Akarnya dipakai di 44 ayat.

Di 74:23 kata (أَدْبَرَ, adbara) dipakai untuk orang yang berpaling dan menyombongkan diri sesudah memikirkan wahyu. Di 70:17 ia dipakai untuk neraka yang memanggil orang yang berpaling.

Jadi tiga dari empat pemakaiannya menyebut berpaling dari kebenaran. Yang keempat, di 74:33, dipakai untuk malam yang berlalu, dan itu satu-satunya yang bukan tentang manusia.

Kata (يَسْعَىٰ, yas'aa) muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 28:20, 36:20, 57:12, 66:8, 79:22, dan 80:8. Akarnya dipakai di 28 ayat.

Di 28:20 dan 36:20 kata (يَسْعَىٰ, yas'aa) dipakai untuk orang yang datang bergegas dari ujung kota untuk memberi peringatan. Di 80:8 ia dipakai untuk orang buta yang datang bergegas mencari kebenaran.

Bandingkan dengan ayat ini. Di sini gerak cepat yang sama dipakai untuk menjauh, bukan mendekat. Satu kata memuat bergegas menuju dan bergegas meninggalkan.

Perbandingan itu makin tajam karena 80:8 berada di surah tepat sesudah ini. Dua surah bersebelahan memakai satu kata untuk dua arah yang berlawanan.

Kata (أَدْبَرَ, adbara) dan (يَسْعَىٰ, yas'aa) berdiri berdampingan tanpa kata penghubung. Susunan seperti itu menyatakan keduanya berlangsung bersama, bukan berurutan.

Jadi yang dilukiskan bukan berpaling lalu bergegas, melainkan berpaling sambil bergegas. Kecepatan itu bagian dari cara ia meninggalkan.

Kata (ثُمَّ, tsumma) menyatakan urutan yang berjarak. Jadi antara penolakan di 79:21 dan kepergian di sini ada selang yang tidak disebut lamanya.

Selang itu satu-satunya jeda di dalam rangkaian ini. Ayat sebelum dan sesudahnya seluruhnya dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat.

Jadi kisahnya berjalan cepat, kecuali satu titik di sini. Al-Qur'an tidak menerangkan mengapa jeda itu ditaruh tepat di antara penolakan dan kepergian.

Perhatikan pula bahwa kisah ini tidak menyebut ke mana ia pergi, dan tidak pula menyebut berapa lama ia berjalan. Yang disebut cuma bahwa ia berpaling dan bergegas, dan tujuannya dibiarkan kosong sampai akhir surahnya.

Kekosongan itu berulang di ayat berikutnya, yang menyebut ia mengumpulkan tanpa menyebut siapa. Dua ayat berturut-turut melukiskan perbuatan tanpa sasaran.

Susunan seperti itu mempercepat kisahnya. Yang disebut cuma yang bergerak, dan sekelilingnya dibiarkan tidak diisi.

Kecepatan itu sejalan dengan isi yang dilukiskan. Sebuah kepergian yang tergesa memang tidak menyisakan waktu untuk memandang sekeliling.

Tafsiran

Ayat ini melanjutkan gambaran penolakan Fir'aun yang aktif berusaha melawan. Ayat ini melukiskan Firaun yang berpaling sambil bergegas. Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22, dan akarnya dipakai di 44 ayat.

Di 74:23 kata itu dipakai untuk orang yang berpaling dan menyombongkan diri sesudah memikirkan wahyu, dan di 70:17 untuk neraka yang memanggil orang yang berpaling. Jadi tiga dari empat pemakaiannya menyebut berpaling dari kebenaran.

Kata terakhirnya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 28:20, 36:20, 57:12, 66:8, 79:22, dan 80:8. Di 28:20 dan 36:20 kata itu dipakai untuk orang yang datang bergegas memberi peringatan, dan di 80:8 untuk orang buta yang datang bergegas mencari kebenaran. Di sini gerak cepat yang sama dipakai untuk menjauh, dan 80:8 berada di surah tepat sesudah ini.

Dua kata terakhirnya berdiri berdampingan tanpa kata penghubung, sehingga keduanya berlangsung bersama dan bukan berurutan.

Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, dan itu satu-satunya jeda di dalam rangkaian ini. Kisah ini tidak menyebut ke mana ia pergi: yang disebut cuma bahwa ia berpaling dan bergegas, dan tujuannya dibiarkan kosong. Kekosongan itu berulang di ayat berikutnya yang menyebut ia mengumpulkan tanpa menyebut siapa, sehingga dua ayat berturut-turut melukiskan perbuatan tanpa sasaran.

Renungan dan Hikmah

  • Kata keduanya muncul 4 kali di seluruh Al-Qur'an: 70:17, 74:23, 74:33, dan 79:22. Di 74:23 Allah memakainya untuk orang yang berpaling dan menyombongkan diri sesudah memikirkan wahyu, dan di 70:17 untuk neraka yang memanggil orang yang berpaling. Jadi tiga dari empat pemakaiannya menyebut berpaling dari kebenaran, dan yang keempat dipakai untuk malam yang berlalu. Sebuah kata yang tiga perempat pemakaiannya menyangkut satu hal sudah membawa muatannya sendiri. Yang keempat justru menerangkan artinya yang paling dasar.
  • Kata terakhirnya muncul 6 kali di seluruh Al-Qur'an: 28:20, 36:20, 57:12, 66:8, 79:22, dan 80:8. Di 28:20 dan 36:20 Allah memakainya untuk orang yang datang bergegas memberi peringatan, dan di 80:8 untuk orang buta yang bergegas mencari kebenaran. Di sini gerak cepat yang sama dipakai untuk menjauh, sehingga satu kata memuat bergegas menuju dan bergegas meninggalkan. Arah menentukan nilai sebuah gerak, dan kecepatan tidak pernah menentukan apa-apa. Yang cepat ke arah yang salah cuma sampai lebih awal.
  • Pemakaian di 80:8 berada di surah tepat sesudah ini, dan di sana kata yang sama menamai orang buta yang datang bergegas mencari kebenaran. Dua surah bersebelahan memakai satu kata untuk dua arah yang berlawanan, dan Al-Qur'an tidak menandai hubungan itu dengan satu kalimat pun. Pembaca yang membaca berurutan bisa melewatinya tanpa sadar. Dua surah bertetangga yang memakai satu kata untuk dua arah berlawanan menuntut dibaca berdampingan. Urutan mushaf sendiri yang menaruh keduanya berdekatan.
  • Dua kata terakhirnya berdiri berdampingan tanpa kata penghubung, dan susunan seperti itu menyatakan keduanya berlangsung bersama. Jadi yang dilukiskan Allah bukan berpaling lalu bergegas, melainkan berpaling sambil bergegas. Kecepatan itu bagian dari cara ia meninggalkan, dan bukan tahap yang menyusul sesudahnya. Dua kata kerja tanpa penghubung menyatakan satu perbuatan, bukan dua tahap. Perbedaan itu terbawa cuma di dalam ketiadaan satu huruf.
  • Kata pertamanya menyatakan urutan yang berjarak, sehingga antara penolakan di 79:21 dan kepergian di sini ada selang yang tidak disebut lamanya. Selang itu satu-satunya jeda di dalam rangkaian ini, karena ayat sebelum dan sesudahnya seluruhnya dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat. Allah tidak menerangkan mengapa jeda itu ditaruh tepat di titik ini. Jeda yang ditaruh di satu titik saja menandai bahwa titik itu memang berbeda dari yang lain. Yang berbeda selalu patut ditanyakan sebabnya.
  • Akar kata terakhirnya dipakai Allah di 28 ayat, dan di beberapa tempat ia menandai kesungguhan yang terpuji. Di sini kesungguhan yang sama dipakai untuk menjauh dari yang baru saja ditawarkan. Apa yang dinyatakan sebuah gambaran ketika tenaga yang dipakai untuk lari sama besarnya dengan tenaga yang dipakai orang lain untuk datang? Tenaga yang sama besarnya bisa dipakai untuk dua arah yang berlawanan. Yang membedakan bukan besarnya, melainkan ke mana ia diarahkan.