فَحَشَرَ فَنَادَىٰ

Lalu dia mengumpulkan, kemudian berseru,

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَحَشَرَ فَنَادَىٰfa-hasyara fa-naadaalalu dia mengumpulkan, kemudian berseru

Terjemahan per kata (2 kata)

  1. فَحَشَرَfa-hasyaralalu ia mengumpulkan
  2. فَنَادَىٰfa-naadaalalu ia menyeru

Inti bacaan

Mobilisasi kekuatan untuk melawan: 'lalu dia mengumpulkan (kaumnya), kemudian berseru', strategi menggalang dukungan massa untuk memperkuat posisi penolakan, bukan sekadar reaksi individual.

Penjelasan pilihan kata

Tambahan kurung '(kaumnya)' tidak dipakai.

Kata (فَحَشَرَ, fa hasyara) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 43 ayat, antara lain 6:22, 17:97, 20:59, 34:40, dan 81:5.

Di hampir seluruh tempat itu akar (فَحَشَرَ, fa hasyara) dipakai untuk pengumpulan yang dikerjakan Allah pada hari kiamat. Di sini ia dipakai untuk pengumpulan yang dikerjakan seorang manusia.

Perpindahan itu tajam. Akar (فَحَشَرَ, fa hasyara) yang biasanya menamai perbuatan Allah pada hari terakhir dipakai untuk perbuatan orang yang mengaku sebagai tuhan.

Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu. Yang bisa dibaca cuma bahwa apa yang ia kerjakan dinamai dengan kata yang di puluhan tempat lain milik Allah.

Kata (فَنَادَىٰ, fa naadaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 21:87 dan 79:23. Di 21:87 kata itu dipakai untuk Yunus yang berseru di dalam kegelapan.

Bandingkan dua tempat itu. Di 21:87 seruan datang dari orang yang mengakui kesalahannya; di sini seruan datang dari orang yang mengaku sebagai yang tertinggi. Satu kata memuat seruan merendah dan seruan meninggi.

Akar (فَنَادَىٰ, fa naadaa) juga muncul di dua ayat di surah ini: 79:16 dan 79:23. Di 79:16 yang memanggil Allah, dan di sini yang memanggil manusia.

Jadi akar (فَنَادَىٰ, fa naadaa) dipakai untuk panggilan yang mengutus dan panggilan yang mengumpulkan. Dua panggilan itu berjarak tujuh ayat, dan Al-Qur'an tidak menyandingkannya.

Kata (فَحَشَرَ, fa hasyara) dan (فَنَادَىٰ, fa naadaa) sama-sama dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat. Jadi dua perbuatan itu menyusul tanpa jeda.

Rangkaian (فَحَشَرَ فَنَادَىٰ, fa hasyara fa naadaa) seluruhnya terdiri dari dua kata kerja, dan tidak menyebut siapa yang dikumpulkan. Sasaran perbuatannya dibiarkan kosong.

Kekosongan itu berulang di ayat berikutnya, yang mengutip ucapannya tanpa menyebut kepada siapa ia berbicara. Dua ayat berturut-turut melukiskan perbuatan tanpa menyebut sasarannya.

Susunan seperti itu memusatkan gambarannya pada satu orang saja. Yang ada di dalam ayatnya cuma dia, dan sekelilingnya dibiarkan kabur.

Perhatikan pula bahwa dua perbuatan di ayat ini berupa persiapan, bukan penolakan. Ia tidak membantah, tidak berdebat, dan tidak mengusir.

Yang dikerjakannya justru menyusun kekuatan. Mengumpulkan lalu menyeru adalah langkah orang yang hendak menyatakan sesuatu di hadapan banyak orang.

Susunan itu memperlihatkan bahwa penolakan di 79:21 bukan akhir perkaranya. Sesudah menolak, ia bergerak untuk menyusun pengakuan tandingannya.

Al-Qur'an tidak menyatakan hal itu dengan satu kalimat pun. Yang bisa dibaca cuma urutan perbuatannya, dan urutan itu berjalan dari menolak ke menyusun.

Tafsiran

Ayat ini mencatat mobilisasi Fir'aun untuk melawan dakwah Musa. Ayat ini menyebut dua perbuatannya: mengumpulkan lalu menyeru. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 43 ayat, antara lain 6:22, 17:97, 20:59, 34:40, dan 81:5.

Di hampir seluruh tempat itu akar tersebut dipakai untuk pengumpulan yang dikerjakan Allah pada hari kiamat. Di sini ia dipakai untuk pengumpulan yang dikerjakan seorang manusia, sehingga sebuah akar yang biasanya menamai perbuatan Allah dipakai untuk perbuatan orang yang mengaku sebagai tuhan.

Kata keduanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 21:87 dan 79:23. Di 21:87 kata itu dipakai untuk Yunus yang berseru di dalam kegelapan, sehingga satu kata memuat seruan merendah dan seruan meninggi.

Akarnya juga muncul di dua ayat di surah ini: di 79:16 yang memanggil Allah, dan di sini yang memanggil manusia.

Ayat ini seluruhnya terdiri dari dua kata kerja dan tidak menyebut siapa yang dikumpulkan. Susunannya memusatkan gambaran pada satu orang saja, dan sekelilingnya dibiarkan kabur. Dua perbuatan di ayat ini berupa persiapan, bukan penolakan: ia tidak membantah, tidak berdebat, dan tidak mengusir. Yang dikerjakannya justru menyusun kekuatan, sehingga penolakan di 79:21 bukan akhir perkaranya melainkan awal dari langkah berikutnya.

Renungan dan Hikmah

  • Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 43 ayat, antara lain 6:22, 17:97, 20:59, 34:40, dan 81:5. Di hampir seluruh tempat itu akar tersebut dipakai untuk pengumpulan yang dikerjakan Allah pada hari kiamat. Di sini ia dipakai untuk perbuatan seorang manusia, dan Al-Qur'an tidak menyatakan perbandingan itu. Sebuah kata yang di puluhan tempat menamai perbuatan Allah dipinjam untuk perbuatan manusia. Peminjaman itu sendiri sudah menjadi keterangan tentang sikapnya. Yang meminjam sebutan biasanya sedang meminjam kedudukan juga.
  • Kata keduanya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 21:87 dan 79:23. Di 21:87 Allah memakainya untuk Yunus yang berseru di dalam kegelapan dan mengakui kesalahannya. Di sini seruan datang dari orang yang mengaku sebagai yang tertinggi. Satu kata yang cuma hidup di dua tempat memuat seruan merendah dan seruan meninggi. Seruan yang sama bisa keluar dari orang yang merendah dan yang meninggi. Yang menentukan bukan seruannya, melainkan apa yang diserukan. Isi seruan menentukan kedudukan yang menyerukan, bukan sebaliknya.
  • Akar kata keduanya muncul di dua ayat di surah ini: 79:16 dan 79:23. Di 79:16 yang memanggil Allah, dan di sini yang memanggil manusia. Jadi satu akar dipakai untuk panggilan yang mengutus dan panggilan yang mengumpulkan. Dua panggilan itu berjarak tujuh ayat, dan Al-Qur'an tidak menyandingkannya dengan satu kalimat pun. Dua panggilan di satu surah berjarak tujuh ayat dan tidak pernah dipertemukan. Pembacanya yang harus menaruh keduanya berdampingan. Jarak tujuh ayat cukup jauh untuk membuat kesejajarannya mudah terlewat.
  • Kata pertama dan kata keduanya sama-sama dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat, sehingga dua perbuatan itu menyusul tanpa jeda. Allah melukiskan keduanya berjalan cepat, sama seperti seluruh rangkaian di bagian ini. Kecepatan susunannya meniru kecepatan orang yang sedang bergerak menjauh. Perbuatan yang menyusul tanpa jeda meniru langkah orang yang tidak berhenti berpikir. Bentuk susunannya ikut menceritakan isinya. Susunan yang cepat tidak menyediakan tempat bagi pembacanya untuk berhenti menimbang.
  • Ayat ini seluruhnya terdiri dari dua kata kerja dan tidak menyebut siapa yang dikumpulkan. Allah membiarkan sasaran perbuatannya kosong, dan kekosongan itu berulang di ayat berikutnya yang mengutip ucapannya tanpa menyebut kepada siapa ia berbicara. Dua ayat berturut-turut melukiskan perbuatan tanpa menyebut sasarannya. Sasaran yang dibiarkan kosong membuat perbuatannya terbaca lebih besar daripada yang sebenarnya. Yang tidak dibatasi selalu terasa lebih luas. Angka membatasi bayangan, dan ketiadaan angka membiarkannya tumbuh sendiri.
  • Susunan itu memusatkan gambarannya pada satu orang saja. Yang ada di dalam ayatnya cuma dia, dan Allah membiarkan sekelilingnya kabur. Apa yang dikerjakan sebuah gambaran ketika orang banyak yang dikumpulkan tidak diberi satu kata pun, sehingga yang tersisa cuma seorang yang berseru sendirian? Latar yang dibiarkan kabur memusatkan cahaya pada satu tokoh saja. Cara itu dipakai berulang di seluruh kisah ini. Memilih apa yang disorot berarti memilih apa yang dibiarkan gelap.