فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

Dia berkata, “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi.”

Terjemahan bertahap (1 jeda)

  1. فَقَالَ أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰfa-qaala anaa rabbukumu l-a'laadia berkata, akulah Tuhanmu yang paling tinggi

Terjemahan per kata (4 kata)

  1. فَقَالَfa-qaalamaka ia berkata
  2. أَنَاanaaaku
  3. رَبُّكُمُrabbukumuTuhan kalian
  4. الْأَعْلَىٰl-a'laaYang Mahatinggi

Inti bacaan

Puncak kesombongan dalam klaim ilahi palsu: 'dia berkata: akulah Tuhanmu yang paling tinggi', deklarasi arogan yang menunjukkan tingkat kesombongan ekstrem, klaim otoritas ilahi yang sepenuhnya tidak berdasar.

Penjelasan pilihan kata

Kutip dibuka dan ditutup dalam ayat ini sendiri, dikonfirmasi verba 'qaala' (akar q-w-l) via morfologi. 'Al-a'laa' (elatif) adalah ucapan bohong Fir'aun yang dikutip, bukan atribut Allah: tidak kena disiplin larangan superlatif terlarang. Yang tertulis (فَقَالَ, fa qaala) di awal ayatnya.

Kata (الْأَعْلَىٰ, al-a'laa) muncul 9 kali di 9 surah: 16:60, 20:68, 30:27, 37:8, 38:69, 53:7, 79:24, 87:1, dan 92:20. Akarnya dipakai di 68 ayat.

Di 16:60, 30:27, dan 92:20 kata (الْأَعْلَىٰ, al-a'laa) dipakai untuk Allah dan sifat-Nya yang tertinggi. Di 20:68 ia dipakai untuk Musa yang dinyatakan lebih unggul.

Jadi di delapan tempat lain (الْأَعْلَىٰ, al-a'laa) menyebut ketinggian yang sah. Cuma di sini ia diucapkan oleh seseorang tentang dirinya sendiri.

Perbandingan itu tajam. Sebuah sebutan yang di tempat lain milik Allah di sini diambil oleh manusia lewat satu kalimat pendek.

Kata (أَنَا, anaa) adalah kata ganti orang pertama yang berdiri sendiri. Susunan seperti itu menonjolkan pembicaranya, dan penonjolan itu bagian dari isi pengakuannya.

Kata (رَبُّكُمُ, rabbukum) memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua jamak. Jadi ia tidak berkata bahwa dirinya tuhan, melainkan tuhan bagi mereka.

Perbedaan itu patut dicatat. Yang diakuinya bukan kedudukan yang berdiri sendiri, melainkan hubungan atas orang banyak. Ia butuh mereka untuk pengakuannya berlaku.

Bandingkan dengan 79:16 dan 79:19, yang menyebut Tuhan lewat hubungan-Nya dengan seseorang. Tiga kali di surah ini kata yang sama dipakai dengan kata ganti kepemilikan.

Dua kali di antaranya menyebut Allah, dan satu kali menyebut pengakuan manusia. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu dengan satu kata pun.

Ayat ini satu-satunya di surah ini yang mengutip ucapan seorang yang dinamai. Ucapan lain di surah ini, yaitu di 79:10 sampai 79:12, diucapkan golongan yang tidak dinamai.

Kata (فَقَالَ, fa qaala) dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat, sama seperti dua ayat sebelumnya. Tiga perbuatan berturut-turut menyusul tanpa jeda.

Perhatikan bahwa ucapannya datang paling akhir. Berpaling, mengumpulkan, menyeru, baru berkata. Yang paling ringan dilakukan justru yang paling akhir disebut.

Perhatikan pula bahwa pengakuan ini diucapkan sesudah orang banyak dikumpulkan di 79:23, bukan pada saat ia berhadapan dengan yang mengajaknya. Ia tidak mengucapkannya sendirian, melainkan di hadapan mereka.

Susunan itu menerangkan mengapa dua ayat sebelumnya diperlukan. Sebuah pengakuan yang butuh saksi memang harus didahului pengumpulan.

Yang diakuinya pun berupa hubungan atas mereka, bukan kedudukan yang berdiri sendiri. Jadi kehadiran mereka bukan pelengkap, melainkan syarat.

Al-Qur'an tidak menyatakan kelemahan itu. Yang bisa dibaca cuma susunan (أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ, anaa rabbukumu al-a'laa), yang menaruh mereka di dalam pengakuan itu sendiri.

Tafsiran

Ayat ini mencatat klaim ketuhanan Fir'aun sebagai puncak kesombongannya. Ayat ini mengutip ucapan Firaun yang mengaku sebagai tuhan tertinggi. Kata terakhirnya muncul 9 kali di 9 surah: 16:60, 20:68, 30:27, 37:8, 38:69, 53:7, 79:24, 87:1, dan 92:20, dan akarnya dipakai di 68 ayat.

Di 16:60, 30:27, dan 92:20 kata itu dipakai untuk Allah dan sifat-Nya yang tertinggi, sedangkan di 20:68 untuk Musa yang dinyatakan lebih unggul. Jadi di delapan tempat lain kata itu menyebut ketinggian yang sah, dan cuma di sini ia diucapkan oleh seseorang tentang dirinya sendiri.

Kata keduanya kata ganti orang pertama yang berdiri sendiri, sehingga susunannya menonjolkan pembicaranya. Kata ketiganya memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua jamak, sehingga ia tidak berkata bahwa dirinya tuhan melainkan tuhan bagi mereka.

Bandingkan dengan 79:16 dan 79:19 yang menyebut Tuhan lewat hubungan-Nya dengan seseorang. Tiga kali di surah ini kata yang sama dipakai dengan kata ganti kepemilikan, dua di antaranya untuk Allah.

Ayat ini juga satu-satunya di surah ini yang mengutip ucapan seorang yang dinamai. Pengakuan ini diucapkan sesudah orang banyak dikumpulkan, sehingga ia tidak mengucapkannya sendirian melainkan di hadapan mereka. Susunan itu menerangkan mengapa dua ayat sebelumnya diperlukan, karena sebuah pengakuan yang butuh saksi memang harus didahului pengumpulan.

Renungan dan Hikmah

  • Kata terakhirnya muncul 9 kali di 9 surah: 16:60, 20:68, 30:27, 37:8, 38:69, 53:7, 79:24, 87:1, dan 92:20. Di 16:60, 30:27, dan 92:20 Allah memakainya untuk diri-Nya dan sifat-Nya yang tertinggi. Jadi di delapan tempat lain kata itu menyebut ketinggian yang sah, dan cuma di sini ia diucapkan seseorang tentang dirinya sendiri lewat satu kalimat pendek. Sebutan yang di tempat lain milik Allah diambil lewat satu kalimat pendek. Panjangnya tidak sebanding dengan besarnya yang diakui. Panjang sebuah kalimat tidak pernah menakar besarnya apa yang dikatakannya.
  • Kata ketiganya memakai kata ganti kepemilikan berorang kedua jamak, sehingga ia tidak berkata bahwa dirinya tuhan melainkan tuhan bagi mereka. Yang diakuinya bukan kedudukan yang berdiri sendiri, melainkan hubungan atas orang banyak. Ia butuh mereka supaya pengakuannya berlaku, dan Allah membiarkan kelemahan itu terbaca dari susunan katanya. Sebuah pengakuan yang bersandar pada orang lain runtuh ketika orang itu tidak lagi ada. Kelemahan itu terbawa di dalam kata gantinya sendiri. Sebuah pengakuan yang butuh saksi sudah kalah sebelum saksinya pergi.
  • Bandingkan dengan 79:16 dan 79:19 yang menyebut Tuhan lewat hubungan-Nya dengan seseorang. Tiga kali di surah ini kata yang sama dipakai dengan kata ganti kepemilikan: dua kali menyebut Allah, dan satu kali menyebut pengakuan manusia. Al-Qur'an tidak menandai perbedaan itu dengan satu kata pun, dan pembacanya yang harus melihatnya. Tiga pemakaian kata ganti kepemilikan di satu surah menuntut pembacanya membandingkan ketiganya. Dua di antaranya sah, dan satu tidak. Membandingkan tiga pemakaian di satu surah adalah pekerjaan yang tidak diminta tetapi tersedia.
  • Kata keduanya kata ganti orang pertama yang berdiri sendiri, dan susunan seperti itu menonjolkan pembicaranya. Penonjolan itu bagian dari isi pengakuannya, bukan hiasan di luarnya. Allah mengutip ucapannya utuh, sehingga bentuk kalimatnya sendiri ikut memperlihatkan sikap yang mengucapkannya. Bentuk kalimat ikut memperlihatkan sikap yang mengucapkannya. Susunan yang menonjolkan diri tidak bisa disembunyikan oleh isi yang diucapkan. Nada seseorang sering lebih jujur daripada kalimat yang disusunnya.
  • Ayat ini satu-satunya di surah ini yang mengutip ucapan seorang yang dinamai. Ucapan lain di surah ini, yaitu di 79:10 sampai 79:12, diucapkan golongan yang tidak dinamai Allah. Jadi satu-satunya suara yang punya nama di seluruh surah ini justru suara yang mengaku sebagai yang tertinggi. Satu-satunya suara bernama di surah ini justru suara yang paling salah. Al-Qur'an tidak menandai keganjilan itu dengan satu kata pun. Keganjilan yang dibiarkan berdiri lebih menusuk daripada keganjilan yang ditunjukkan.
  • Kata pertamanya dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat, sama seperti dua ayat sebelumnya, sehingga tiga perbuatan berturut-turut menyusul tanpa jeda. Perhatikan bahwa ucapannya datang paling akhir: berpaling, mengumpulkan, menyeru, baru berkata. Apa yang dinyatakan sebuah urutan ketika yang paling ringan dilakukan justru yang paling akhir disebut? Urutan perbuatan sering menyatakan apa yang paling menentukan, dan yang menentukan tidak selalu yang paling berat dikerjakan. Sebuah kalimat bisa menghapus seluruh kedudukan yang dibangun bertahun-tahun.