فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَىٰ
Maka Allah menghukumnya dengan azab akhir dan yang pertama.
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- فَأَخَذَهُ اللَّهُ نَكَالَ الْآخِرَةِ وَالْأُولَىٰfa-akhadzahu llaahu nakaala l-aakhirati wa-l-uulaamaka Allah menghukumnya dengan azab akhir dan yang pertama
Terjemahan per kata (5 kata)
- فَأَخَذَهُfa-akhadzahumaka menimpanya
- اللَّهُllaahuAllah
- نَكَالَnakaalahukuman
- الْآخِرَةِl-aakhiratiakhirat
- وَالْأُولَىٰwa-l-uulaadan dunia
Inti bacaan
Konsekuensi menyeluruh yang mencakup dua dimensi: 'maka Allah menghukumnya dengan azab akhir dan yang pertama', hukuman yang komprehensif mencakup baik konsekuensi duniawi maupun akhirat, keadilan yang tidak parsial.
Penjelasan pilihan kata
Kata (نَكَالَ, nakaala) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akarnya dipakai di 5 ayat saja: 2:66, 4:84, 5:38, 73:12, dan 79:25.
Di 2:66 dan 5:38 akar (نَكَالَ, nakaala) dipakai untuk hukuman yang dijadikan pelajaran bagi yang menyaksikannya. Jadi akar itu menamai hukuman yang tidak berhenti pada yang dihukum.
Bacaan itu menerangkan ayat berikutnya. Di 79:26 disebut bahwa di dalamnya ada pelajaran, dan pelajaran itu justru arti yang sudah terbawa di dalam kata di ayat ini.
Rangkaian (الْآخِرَةِ وَالْأُولَىٰ, al-aakhirati wa al-uulaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an. Akar kata pertamanya dipakai di 242 ayat, dan akar kata keduanya di 158 ayat.
Jadi dua akar yang sangat sering dipakai berpasangan cuma sekali di (الْآخِرَةِ وَالْأُولَىٰ, al-aakhirati wa al-uulaa). Dua kata yang biasa dipakai terpisah dipertemukan dalam satu rangkaian.
Perhatikan urutannya. Yang disebut lebih dulu yang akhir, lalu yang awal. Urutan itu kebalikan dari urutan waktu yang sebenarnya.
Susunan terbalik seperti itu menonjolkan yang disebut lebih dulu. Yang ditekankan hukuman di akhirat, dan hukuman di dunia disebut menyusul.
Kata (فَأَخَذَهُ, fa akhadzahu) dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat. Jadi hukuman itu datang tanpa jeda sesudah ucapannya di 79:24.
Ketiadaan jeda itu patut dicatat. Antara pengakuan dan hukumannya tidak ada satu ayat pun, dan tidak ada satu kata pun tentang peringatan yang menyusul.
Kata (اللَّهُ, Allaah) adalah nama Allah pertama yang disebut di surah ini. Dua puluh empat ayat berjalan tanpa nama itu, dan ia muncul tepat di ayat tentang hukuman.
Perbandingan itu patut dicatat. Lima sumpah tidak menyebut-Nya, dua guncangan tidak, satu hardikan tidak, dan panggilan di 79:16 cuma menyebut-Nya sebagai Tuhannya Musa.
Nama itu baru muncul ketika seseorang mengaku mengambil kedudukan-Nya. Al-Qur'an tidak menandai letak itu dengan satu kalimat pun.
Perhatikan pula bahwa hukuman ini disebut dengan satu ayat, sedangkan perbuatan yang mendahuluinya diberi empat ayat di 79:21 sampai 79:24. Yang panjang perbuatannya, dan yang pendek akibatnya.
Perbandingan itu berulang di surah ini. Di 79:10 sampai 79:13 bantahan tiga ayat dijawab dua ayat, dan di sini empat ayat perbuatan ditutup satu ayat hukuman.
Susunan seperti itu menaruh bobot pada bagian yang bisa dipilih manusia. Yang diberi ruang panjang justru yang masih berada di tangannya.
Yang tidak diberi ruang adalah bagian yang tidak lagi bisa diubah. Hukumannya cukup disebut, dan tidak diurai satu langkah pun.
Tafsiran
Ayat ini menegaskan bahwa Allah menghukum Fir'aun sebagai balasan atas seluruh kesombongannya. Ayat ini menyebut hukuman yang menimpa Firaun. Kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai di 5 ayat saja: 2:66, 4:84, 5:38, 73:12, dan 79:25.
Di 2:66 dan 5:38 akar itu dipakai untuk hukuman yang dijadikan pelajaran bagi yang menyaksikannya, sehingga ia menamai hukuman yang tidak berhenti pada yang dihukum. Bacaan itu menerangkan ayat berikutnya, karena di 79:26 disebut bahwa di dalamnya ada pelajaran.
Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, padahal akar kata pertamanya dipakai di 242 ayat dan akar kata keduanya di 158 ayat. Jadi dua akar yang sangat sering dipakai berpasangan cuma sekali.
Urutannya juga terbalik: yang disebut lebih dulu yang akhir, lalu yang awal. Susunan terbalik itu menonjolkan hukuman di akhirat.
Kata keduanya juga nama Allah pertama yang disebut di surah ini, dan dua puluh empat ayat berjalan tanpa nama itu. Perbandingan panjang itu berulang di surah ini, karena bantahan tiga ayat di 79:10 sampai 79:12 juga dijawab dua ayat saja. Hukuman ini disebut dengan satu ayat, sedangkan perbuatan yang mendahuluinya diberi empat ayat. Susunan seperti itu menaruh bobot pada bagian yang masih berada di tangan manusia, dan bagian yang tidak lagi bisa diubah cukup disebut tanpa diurai satu langkah pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata ketiganya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya dipakai Allah di 5 ayat saja: 2:66, 4:84, 5:38, 73:12, dan 79:25. Di 2:66 dan 5:38 akar itu dipakai untuk hukuman yang dijadikan pelajaran bagi yang menyaksikannya. Jadi arti pelajaran yang disebut di 79:26 sudah terbawa lebih dulu di dalam kata di ayat ini. Sebuah hukuman yang dinamai dengan kata yang berarti pelajaran tidak berhenti pada yang dihukum. Artinya sudah bekerja sebelum ayat berikutnya menyebutnya. Sebuah kata bisa membawa pelajaran sebelum pelajarannya diucapkan.
- Rangkaian dua kata terakhirnya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, padahal akar kata pertamanya dipakai Allah di 242 ayat dan akar kata keduanya di 158 ayat. Jadi dua akar yang sangat sering dipakai berpasangan cuma sekali, dan pasangannya ada di sini. Dua kata yang biasa dipakai terpisah dipertemukan dalam satu rangkaian yang tidak pernah diulang. Dua akar yang sangat sering dipakai dan cuma sekali berpasangan menandai susunan yang tidak diulang. Kelangkaan itu tidak diberi satu penunjuk pun. Kelangkaan sebuah pasangan kata menandai bahwa pasangannya memang tidak biasa.
- Yang disebut lebih dulu yang akhir, lalu yang awal, sehingga urutannya kebalikan dari urutan waktu yang sebenarnya. Susunan terbalik seperti itu menonjolkan yang disebut lebih dulu, yaitu hukuman di akhirat, dan hukuman di dunia disebut menyusul. Allah tidak menerangkan pembalikan itu dengan satu kata pun. Membalik urutan waktu menaruh tekanan pada yang disebut lebih dulu. Pembacanya menerima tekanan itu tanpa merasa sedang diarahkan. Urutan penyebutan adalah alat penekan yang bekerja tanpa terlihat menekan.
- Kata pertamanya dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat, sehingga hukuman itu datang tanpa jeda sesudah ucapannya di 79:24. Antara pengakuan dan hukumannya tidak ada satu ayat pun, dan Allah tidak menyisipkan satu kata pun tentang peringatan yang menyusul. Kecepatan itu sendiri sudah menjadi bagian dari gambarannya. Ketiadaan jeda antara pengakuan dan hukuman menutup ruang untuk menawar. Yang tidak diberi waktu tidak sempat menyusun pembelaan. Kecepatan datangnya akibat menyatakan bahwa perkaranya memang sudah selesai.
- Kata keduanya nama Allah pertama yang disebut di surah ini, dan dua puluh empat ayat berjalan tanpa nama itu. Lima sumpah tidak menyebut-Nya, dua guncangan tidak, satu hardikan tidak, dan panggilan di 79:16 cuma menyebut-Nya sebagai Tuhannya Musa. Nama itu baru muncul tepat di ayat tentang hukuman. Nama yang ditahan selama dua puluh empat ayat dilepaskan tepat di titik yang paling menentukan. Letaknya sendiri sudah menjadi pernyataan. Menahan lalu melepaskan di titik tertentu adalah cara menulis yang menuntut pembacanya jeli.
- Al-Qur'an tidak menandai letak nama itu dengan satu kalimat pun. Yang bisa dibaca cuma bahwa nama Allah muncul pertama kali persis ketika seseorang mengaku mengambil kedudukan-Nya. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika nama yang ditahan selama dua puluh empat ayat dilepaskan tepat di titik itu? Yang tidak ditandai bukan berarti tidak disengaja, dan yang disengaja tidak selalu diumumkan. Yang disengaja tanpa diumumkan menuntut pembacanya membaca dua kali.