رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا
Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَاrafa'a samkahaa fa-sawwaahaaDia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya
Terjemahan per kata (3 kata)
- رَفَعَrafa'ameninggikan
- سَمْكَهَاsamkahaabangunannya
- فَسَوَّاهَاfa-sawwaahaalalu Dia menyempurnakannya
Inti bacaan
Kualitas bentuk yang sempurna: 'Dia meninggikan bangunannya, lalu menyempurnakannya', penekanan pada proses yang teliti dan terselesaikan dengan baik, bukan pekerjaan setengah jadi.
Penjelasan pilihan kata
Kata (سَمْكَهَا, samkahaa) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar tunggal keempat di surah ini, sesudah akar di 79:2, 79:11, dan 79:14.
Empat akar tunggal seperti (سَمْكَهَا, samkahaa) muncul sampai ayat ini, dan tiga lagi menyusul di 79:29, 79:30, dan 79:34. Tujuh seluruhnya, dan tidak satu pun ditandai Al-Qur'an.
Kata (فَسَوَّاهَا, fa sawwaahaa) muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:28 dan 91:14. Akarnya dipakai di 80 ayat.
Di 91:14 kata (فَسَوَّاهَا, fa sawwaahaa) dipakai untuk kaum yang diratakan Tuhan mereka karena dosa mereka. Jadi satu kata memuat menyempurnakan bentuk langit dan meratakan sebuah kaum.
Perbandingan itu tajam. Yang satu membangun sampai sempurna; yang lain meratakan sampai habis. Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya dengan satu kalimat pun.
Kesejajaran dengan surah 91 juga patut dicatat. Kata di 79:27 berpasangan dengan 91:5, dan (فَسَوَّاهَا, fa sawwaahaa) dengan 91:14. Dua pasangan di dua ayat berurutan.
Kata (رَفَعَ, rafa'a) muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an: 2:253, 4:158, 6:165, 12:100, 13:2, 55:7, dan 79:28. Di 13:2 dan 55:7 kata itu juga dipakai untuk langit yang ditinggikan.
Jadi tiga tempat memakai (رَفَعَ, rafa'a) untuk perbuatan yang sama atas benda yang sama. Di empat tempat lain kata itu dipakai untuk meninggikan derajat manusia.
Perbandingan itu menarik. Sebutan (رَفَعَ, rafa'a) dipakai untuk meninggikan langit dan meninggikan kedudukan orang. Yang menyatukannya cuma arah geraknya.
Kata (فَسَوَّاهَا, fa sawwaahaa) dibuka huruf yang menyatakan urutan rapat. Jadi penyempurnaan menyusul peninggian tanpa jeda.
Ayat ini menyebut dua perbuatan atas langit: meninggikan dan menyempurnakan. Dua perbuatan itu berbeda sifatnya, yang pertama tentang ukuran dan yang kedua tentang keadaan.
Susunan itu berulang di 79:29 dan 79:30, yang juga menyebut dua perbuatan per ayat. Tiga ayat berturut-turut memakai pola yang sama.
Perhatikan pula bahwa empat ayat tentang langit dan bumi ini tidak memuat satu pertanyaan pun. Pertanyaannya sudah diajukan di 79:27, dan sesudahnya cuma pernyataan.
Susunan itu membiarkan jawabannya tersusun sendiri. Pembacanya membaca enam perbuatan berturut-turut, dan perbandingan yang ditanyakan tadi terjawab tanpa satu kalimat jawaban.
Cara seperti itu lebih sulit ditolak daripada jawaban yang diucapkan. Yang disodorkan bukan pendapat, melainkan daftar yang bisa dilihat sendiri.
Al-Qur'an tidak menyatakan bahwa daftar itu adalah jawabannya. Letaknya sendiri yang menyatakan, dan pembacanya yang menyimpulkan.
Tafsiran
Ayat ini merinci tahap penciptaan langit: ditinggikan dan disempurnakan. Ayat ini melukiskan langit yang ditinggikan lalu disempurnakan. Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga ini akar tunggal keempat di surah ini sesudah akar di 79:2, 79:11, dan 79:14.
Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:28 dan 91:14, dan akarnya dipakai di 80 ayat. Di 91:14 kata itu dipakai untuk kaum yang diratakan Tuhan mereka karena dosa mereka, sehingga satu kata memuat menyempurnakan bentuk langit dan meratakan sebuah kaum.
Kesejajaran dengan surah 91 juga patut dicatat: kata di 79:27 berpasangan dengan 91:5, dan kata di ayat ini dengan 91:14, sehingga ada dua pasangan di dua ayat berurutan.
Kata pertamanya muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an: 2:253, 4:158, 6:165, 12:100, 13:2, 55:7, dan 79:28. Di 13:2 dan 55:7 kata itu juga dipakai untuk langit yang ditinggikan, sedangkan di empat tempat lain untuk meninggikan derajat manusia.
Ayat ini menyebut dua perbuatan atas langit, dan susunan itu berulang di 79:29 dan 79:30. Empat ayat tentang langit dan bumi ini tidak memuat satu pertanyaan pun, karena pertanyaannya sudah diajukan di 79:27. Susunan itu membiarkan jawabannya tersusun sendiri, dan cara seperti itu lebih sulit ditolak daripada jawaban yang diucapkan.
Renungan dan Hikmah
- Kata keduanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Ini akar tunggal keempat di surah ini sesudah akar di 79:2, 79:11, dan 79:14, dan tiga lagi menyusul di 79:29, 79:30, dan 79:34. Tujuh seluruhnya, dan tidak satu pun ditandai Al-Qur'an dengan satu kalimat. Empat akar tunggal sebelum satu surah selesai setengahnya menandai kosakata yang memang khas. Kekhasan itu tidak diberi satu penunjuk pun. Yang tidak ditandai memang tidak dimaksudkan mudah ditemukan.
- Kata terakhirnya muncul 2 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:28 dan 91:14. Di 91:14 Allah memakainya untuk kaum yang diratakan Tuhan mereka karena dosa mereka. Jadi satu kata memuat menyempurnakan bentuk langit dan meratakan sebuah kaum sampai habis. Yang satu membangun, dan yang lain meruntuhkan, dan Al-Qur'an tidak menyandingkan keduanya. Membangun sampai sempurna dan meratakan sampai habis dinamai satu kata. Yang menentukan arahnya bukan katanya, melainkan siapa yang dikenainya. Sebuah kata bisa membangun dan meruntuhkan tanpa berubah bentuknya sama sekali.
- Kata di 79:27 berpasangan dengan 91:5, dan kata terakhir di ayat ini berpasangan dengan 91:14. Jadi dua ayat berurutan di surah ini berpasangan dengan dua ayat di surah 91. Kesejajaran serapat itu tidak ditandai Allah dengan satu kata pun, dan cuma pembaca yang membandingkan keduanya yang bisa menemukannya. Dua ayat berurutan yang berpasangan dengan dua ayat di surah lain menandai susunan yang dirancang. Pembacanya yang harus menaruh keduanya berdampingan. Kesejajaran serapat itu menuntut pembacanya membuka dua surah sekaligus.
- Kata pertamanya muncul 7 kali di seluruh Al-Qur'an: 2:253, 4:158, 6:165, 12:100, 13:2, 55:7, dan 79:28. Di 13:2 dan 55:7 Allah juga memakainya untuk langit yang ditinggikan, sedangkan di empat tempat lain untuk meninggikan derajat manusia. Satu kata dipakai untuk dua hal itu, dan yang menyatukannya cuma arah geraknya. Meninggikan benda dan meninggikan kedudukan orang dinamai sama, dan yang menyatukannya cuma arah. Bahasa sering menyimpan hubungan yang tidak pernah diucapkan. Naik adalah satu-satunya kesamaan antara benda langit dan kedudukan seseorang.
- Ayat ini menyebut dua perbuatan atas langit: meninggikan dan menyempurnakan. Dua perbuatan itu berbeda sifatnya, karena yang pertama tentang ukuran dan yang kedua tentang keadaan. Allah tidak berhenti pada membuat sesuatu menjadi besar, dan penyempurnaan disebut menyusul tanpa jeda. Membuat sesuatu besar belum berarti membuatnya utuh. Penyempurnaan disebut sebagai perbuatan tersendiri, bukan sebagai akibat yang otomatis. Besar tanpa utuh belum selesai, dan penyempurnaan disebut sebagai pekerjaan tersendiri.
- Susunan dua perbuatan per ayat berulang di 79:29 dan 79:30, sehingga tiga ayat berturut-turut memakai pola yang sama. Apa yang dikerjakan sebuah pola seperti itu pada pembacanya, ketika enam perbuatan besar disusun berpasang-pasangan dan tidak satu pun diberi keterangan tentang caranya? Pola yang berulang tiga ayat membangun irama, dan irama membuat daftarnya terbaca sebagai satu kesatuan. Enam perbuatan yang disusun berpasangan terbaca lebih cepat daripada enam yang berdiri sendiri.