وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَا
Dan Dia menjadikan malamnya gelap dan mengeluarkan siangnya,
Terjemahan bertahap (1 jeda)
- وَأَغْطَشَ لَيْلَهَا وَأَخْرَجَ ضُحَاهَاwa-aghthasya laylahaa wa-akhraja dhuhaahaadan Dia menjadikan malamnya gelap dan mengeluarkan siangnya
Terjemahan per kata (4 kata)
- وَأَغْطَشَwa-aghthasyadan Dia menggelapkan
- لَيْلَهَاlaylahaamalamnya
- وَأَخْرَجَwa-akhrajadan Dia mengeluarkan
- ضُحَاهَاdhuhaahaasiangnya
Inti bacaan
Siklus siang-malam yang terkendali: 'dan Dia menjadikan malamnya gelap dan mengeluarkan siangnya (terang)', pengaturan yang konsisten dan dapat diprediksi, bagian dari desain yang teratur.
Penjelasan pilihan kata
Tambahan kurung '(terang)' tidak dipakai.
Kata (وَأَغْطَشَ, wa aghthasya) muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat. Ini akar tunggal kelima di surah ini, sesudah akar di 79:2, 79:11, 79:14, dan 79:28.
Kata (ضُحَاهَا, dhuhaahaa) muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:29, 79:46, dan 91:1. Akarnya dipakai di 7 ayat saja.
Dua dari tiga pemakaian (ضُحَاهَا, dhuhaahaa) ada di surah ini, yaitu di 79:29 dan 79:46. Yang ketiga membuka surah 91 dengan sumpah atas waktu duha.
Bandingkan ketiganya. Di sini (ضُحَاهَا, dhuhaahaa) menyebut terang yang dikeluarkan Allah dari langit. Di 79:46 ia menyebut ukuran waktu yang terasa singkat. Di 91:1 ia menjadi yang disumpahkan.
Jadi (ضُحَاهَا, dhuhaahaa) yang cuma hidup di tiga tempat memuat terang, ukuran waktu, dan sumpah. Al-Qur'an tidak menghubungkan ketiganya dengan satu kalimat pun.
Kata (وَأَخْرَجَ, wa akhraja) muncul di 18 ayat, dan dua di antaranya ada di surah ini: 79:29 dan 79:31. Akarnya dipakai di 157 ayat.
Di 79:29 yang dikeluarkan terang dari langit, dan di 79:31 yang dikeluarkan air dan padang rumput dari bumi. Dua ayat memakai satu kata untuk mengeluarkan dari dua tempat yang berlawanan arah.
Perhatikan susunan ayat ini. Yang disebut lebih dulu gelapnya, baru terangnya. Malam mendahului siang, dan urutan itu berulang di beberapa tempat lain di Al-Qur'an.
Kata (لَيْلَهَا, lailahaa) dan (ضُحَاهَا, dhuhaahaa) sama-sama memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk langit di 79:27. Jadi malam dan terang disebut sebagai milik langit.
Susunan itu ganjil kalau ditimbang biasa. Malam dan siang biasanya dianggap milik bumi tempat manusia tinggal. Di sini keduanya diikat kepada langit.
Dua perbuatan di ayat ini berlawanan arah: yang satu menggelapkan, yang lain mengeluarkan terang. Susunan itu sama dengan pola di 79:28 dan 79:30, yang juga menyebut dua perbuatan.
Ayat ini menutup dua ayat tentang langit. Sesudahnya, 79:30 berpindah ke bumi, dan peralihan itu ditandai satu kata penghubung saja.
Perhatikan pula bahwa dua ayat tentang langit ini tidak menyebut satu ukuran pun. Tidak ada jarak, tidak ada lama, dan tidak ada bilangan.
Ketiadaan ukuran itu berlaku juga bagi tiga ayat tentang bumi. Lima ayat melukiskan pekerjaan sebesar itu tanpa satu angka pun.
Susunan seperti itu menutup jalan bagi perdebatan tentang caranya. Yang disodorkan bukan keterangan, melainkan daftar yang bisa dipandang setiap hari.
Pandangan itulah yang diminta di 79:27. Pertanyaannya menyuruh membandingkan, dan bahan pembandingnya diberikan tanpa satu ukuran pun.
Tafsiran
Ayat ini melanjutkan rincian penciptaan dengan pergantian malam dan siang. Ayat ini melukiskan malam yang digelapkan dan pagi yang dikeluarkan. Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai di 1 ayat, sehingga ini akar tunggal kelima di surah ini.
Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:29, 79:46, dan 91:1, dan akarnya dipakai di 7 ayat saja. Dua dari tiga pemakaiannya ada di surah ini, dan yang ketiga membuka surah 91 dengan sumpah. Jadi satu kata yang cuma hidup di tiga tempat memuat terang, ukuran waktu, dan sumpah.
Kata ketiganya muncul di 18 ayat, dan dua di antaranya ada di surah ini: 79:29 dan 79:31. Di sini yang dikeluarkan terang dari langit, dan di 79:31 air dan padang rumput dari bumi.
Susunan ayat ini menyebut gelapnya lebih dulu, baru terangnya. Dua katanya juga memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk langit di 79:27, sehingga malam dan terang disebut sebagai milik langit.
Dua perbuatan di ayat ini berlawanan arah, dan pola dua perbuatan per ayat itu sama dengan 79:28 dan 79:30. Dua ayat tentang langit ini tidak menyebut satu ukuran pun: tidak ada jarak, tidak ada lama, dan tidak ada bilangan. Ketiadaan ukuran itu berlaku juga bagi tiga ayat tentang bumi, sehingga lima ayat melukiskan pekerjaan sebesar itu tanpa satu angka pun.
Renungan dan Hikmah
- Kata pertamanya muncul 1 kali di seluruh Al-Qur'an, dan akarnya juga cuma dipakai Allah di 1 ayat. Ini akar tunggal kelima di surah ini, sesudah akar di 79:2, 79:11, 79:14, dan 79:28. Lima akar yang tidak muncul di 6235 ayat lain sudah terkumpul sebelum surah ini mencapai dua pertiganya, dan Al-Qur'an tidak menandai satu pun. Lima akar tunggal sebelum satu surah selesai dua pertiganya sudah cukup untuk disebut tidak lazim. Yang tidak lazim selalu patut ditanyakan sebabnya. Kekhasan yang tidak diumumkan menuntut pembacanya menghitung sendiri.
- Kata terakhirnya muncul 3 kali di seluruh Al-Qur'an: 79:29, 79:46, dan 91:1, dan akarnya dipakai Allah di 7 ayat saja. Di sini ia menyebut terang yang dikeluarkan dari langit, di 79:46 ukuran waktu yang terasa singkat, dan di 91:1 yang disumpahkan. Jadi satu kata yang cuma hidup di tiga tempat memuat tiga hal yang berjauhan. Satu kata yang menampung tiga hal berjauhan menuntut pembacanya memeriksa ketiganya. Yang tidak diperiksa akan terbaca sebagai satu arti saja. Satu arti saja tidak pernah cukup untuk kata yang hidup di tiga tempat berjauhan.
- Kata ketiganya muncul di 18 ayat, dan dua di antaranya ada di surah ini: 79:29 dan 79:31. Di sini yang dikeluarkan Allah terang dari langit, dan di 79:31 air dan padang rumput dari bumi. Dua ayat memakai satu kata untuk mengeluarkan dari dua tempat yang berlawanan arah, dan Al-Qur'an tidak menandai kesejajaran itu. Mengeluarkan dari atas dan mengeluarkan dari bawah dinamai sama, dan arahnya tidak terbawa di dalam katanya. Susunan kalimatnya yang menentukan. Arah sebuah perbuatan tidak pernah ada di dalam kata kerjanya sendiri.
- Susunan ayat ini menyebut gelapnya lebih dulu, baru terangnya, sehingga malam mendahului siang. Allah memakai urutan itu di beberapa tempat lain juga. Sebuah urutan yang menaruh gelap di depan membuat terangnya terasa sebagai yang datang, bukan sebagai keadaan yang memang selalu ada. Menaruh gelap sebelum terang membuat terang terbaca sebagai pemberian, bukan sebagai keadaan bawaan. Urutan bisa menilai tanpa satu kata penilaian. Menaruh sesuatu di depan atau di belakang sudah cukup untuk menilainya.
- Dua katanya memakai kata ganti kepemilikan yang menunjuk langit di 79:27, sehingga malam dan terang disebut Allah sebagai milik langit. Susunan itu ganjil kalau ditimbang biasa, karena malam dan siang biasanya dianggap milik bumi tempat manusia tinggal. Di sini keduanya diikat kepada langit yang baru saja disebut ditinggikan. Mengikat malam kepada langit dan bukan kepada bumi memindahkan sudut pandangnya ke atas. Perpindahan itu terbawa cuma di dalam kata ganti. Sudut pandang yang berpindah mengubah apa yang terlihat besar dan apa yang terlihat kecil.
- Dua perbuatan di ayat ini berlawanan arah: yang satu menggelapkan, dan yang lain mengeluarkan terang. Susunan itu sama dengan pola di 79:28 dan 79:30, yang juga menyebut dua perbuatan per ayat. Apa yang dinyatakan sebuah susunan ketika Allah menaruh menggelapkan dan menerangi sebagai dua pekerjaan yang setara, bukan sebagai satu yang menghapus yang lain? Dua pekerjaan yang berlawanan disebut setara, dan tidak satu pun dinyatakan menghapus yang lain. Keduanya bagian dari satu susunan yang sama. Gelap bukan lawan dari kerja Allah; ia salah satu hasilnya.